Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.
Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.
Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lima Setan Gembel Gunung Asem
Si Kundu yang berdiri di belakang Jenar Karana membekap mulutnya berusaha keras agar tidak tertawa mendengar cara bicara Rakryan Pu Tungu yang lucu. Bahula yang sudah menaruh dendam sejak keributan awal tadi, melihat ini sebagai kesempatan untuk mencelakai kelompok Jenar Karana. Dia pura-pura kehilangan keseimbangan hingga menabrak tubuh Si Muga anak buahnya yang berdiri di samping Si Kundu. Akibatnya Si Kundu yang tertabrak Si Muga, lepas kendali dan tertawa keras.
Hahahahahaha....
Tawa kera Si Kundu langsung membuat Rakryan Pu Tungu yang sering ditertawakan orang karena cara bicara nya, tersinggung hingga dongkol setengah mati. Dia langsung menghardik Si Kundu.
"Baj-baj-bajingan teng eh tengikk!!!
K-k-kau be-be-berani me-me-menertawakan ku?!! M-m-mau mampus ya hah?!! "
Mendengar hardik keras Rakryan Pu Tungu ini, Jenar Karana langsung sadar bahwa mereka sudah menyinggung perasaan pimpinan pengawal ini. Dia dengan cepat membekap mulut Si Kundu.
Sedangkan Wanapati buru-buru membungkuk hormat pada Rakryan Pu Tungu.
"Jangan salah sangka, Rakryan...
Teman ku tersedak karena mulutnya kemasukan serangga hingga tenggorokannya gatal. Mohon Rakryan Pu Tungu tidak salah mengartikan", ucap Wanapati segera.
Rakryan Pu Tungu yang tahu siapa Wanapati, berusaha keras untuk meredam emosi. Jika Wanapati bicara, maka sudah pasti Senopati Wanaraja akan ada di belakang sebagai dukungan. Dia takut menyinggung Senopati Wanaraja karena bagaimanapun orang itu memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan Kadipaten Bhagawanta.
Belum sempat Rakryan Pu Tungu bicara, Bahula sudah lebih dulu bersuara.
"Tersedak serangga? Alasan yang sungguh dibuat-buat.. ", gumam Bahula lirih namun masih terdengar di telinga semua orang.
" Apa maksud Kisanak bicara seperti itu? Apa Kisanak pikir aku orang yang suka mengada-ada?!", tanya Wanapati dengan nada geram.
Bahula hampir menyahut omongan Wanapati andai Si Muga tidak menyikutnya dan berbisik di telinga murid Padepokan Genta Bumi itu.
"Sebaiknya Kakang Bahula berhati-hati dengan orang ini. Si Wanapati ini adalah putra Senopati Wanaraja.. "
Mendengar bisikan Si Muga, Bahula mendengus dingin sebelum raut muka nya berubah dengan sebuah senyuman yang dipaksakan terukir di wajahnya.
"Salah paham, Gusti Wanapati...
Itu hanya salah paham. Gusti Wanapati pasti salah dengar omongan saya hehehehe", ucap Bahula segera.
" Su-sudah ja-ja-jangan r-r-ribut sendiri...
Sek-sek-sekarang sil-silahkan k-k-kalian bersiap s-siap. B-b-besok k-k-kita berkumpul d-di s-sini sebelum be-berangkat", tengah Rakryan Pu Tungu yang membuat kelompok Jenar Karena dan Bahula segera menghormat pada nya.
"Sendiko dawuh Rakryan.. "
Usai pertemuan itu rampung, Patih Mpu Malurung dan Dyah Rangga segera meninggalkan tempat itu. Wanapati pun segera mengajak Jenar Karana dan kelompoknya untuk meninggalkan Kepatihan, menyisakan Rakryan Pu Tungu dan kelompok Bahula. Setelah mereka tak lagi terlihat, Bahula segera mendekati Rakryan Pu Tungu. Dia yang pintar membaca situasi tahu bahwa Rakryan Pu Tungu masih menyimpan amarah pada Jenar Karana dan kelompoknya.
"Mereka benar-benar meremehkan mu, Rakryan. Kau tak boleh membiarkan nya begitu saja", bisik Bahula yang bisa diibaratkan seperti menyiram minyak pada bara yang masih panas.
" T-tentu saja!!
D-d-disini a-aku t-t-tidak bisa berbuat apa-apa, tapi di perjalanan nanti huhhh a-a-aku pasti ak-akan memberi m-m-mereka pelajaran!! ", geram Rakryan Pu Tungu sambil mengepalkan tangannya erat-erat.
Melihat itu, Bahula tersenyum penuh kemenangan sambil berkata dalam hati, "Kalian pasti akan celaka. Tunggu saja.. "
Sementara itu, Wanapati bersama dengan Jenar Karana dan yang lainnya segera bergegas pulang ke arah kediaman Senopati Wanaraja. Sepanjang jalan mereka berbincang-bincang santai mengenai hal yang terjadi di Kepatihan pagi ini. Wanapati yang juga tergabung dalam kelompok pengawal Dyah Rangga ke Galuh Pakuan memperingatkan Jenar Karana, Limbu Jati dan Si Kundu untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan bertindak apalagi jika berurusan dengan Rakryan Pu Tungu. Sekalipun terkenal tidak cakap dalam olah keprajuritan, namun Pu Tungu juga kondang sangat licik. Selain memanfaatkan pengaruh ayahnya, dia juga kerap menggunakan segala cara demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kami mengerti Gusti... ", jawab Jenar Karana yang disambung anggukan kepala oleh Limbu Jati dan Si Kundu.
Di tengah perjalanan pulang ke rumah Senopati Wanaraja, di dekat Istana Bhagawanta mata Jenar Karana terpaku pada sesosok pengemis muda yang duduk di sudut jalan. Dalam penglihatannya, ada sesuatu yang salah dengan pengemis ini.
Wajah nya terlihat bersih, meskipun penuh dengan jelaga yang kotor. Rambutnya juga terlihat seperti disisir, tidak kumal seperti kebanyakan pengemis umumnya. Tapi bukan itu yang membuat Jenar Karana menaruh perhatian pada pengemis tua ini. Tatapan matanya nampak tajam seperti seorang pemburu yang sedang mengincar mangsa.
"Ada apa Jenar? Ku perhatikan kau sedari tadi memperhatikan gembel itu.. ", bisik Limbu Jati lirih namun terdengar jelas di telinga Jenar Karana.
" Dia bukan pengemis biasa, Kakang Limbu..
Sedari tadi aku lihat dia terus menatap liar ke arah Istana Kadipaten Bhagawanta. Aku hanya khawatir ia sedang merencanakan sesuatu yang buruk", jawab Jenar Karana segera.
"Mau menerobos Istana Kadipaten? Huhh itu hanya pikiran orang gila saja yang berani memikirkannya Jenar...
Di dalam Istana Kadipaten Bhagawanta, ada ratusan prajurit yang berjaga. Jika ada yang bilang menerobos penjagaan belum tentu bisa keluar lagi. Sudahlah, jangan terlalu banyak berpikir ", nasehat Limbu Jati sambil menepuk-nepuk pundak Jenar Karana.
" Aku mengerti Kakang.. "
Mereka terus meninggalkan tempat itu menuju ke arah kediaman Senopati Wanaraja.
Sosok pengemis yang diperhatikan oleh Jenar Karana, segera berbalik arah meninggalkan depan Istana Kadipaten Bhagawanta. Dia segera menuju ke sudut pasar besar yang sepi. Tak seorangpun terlihat di sekitar tempat itu.
Dhhuuuggg dhhuuuggg!!
Dua orang muncul dari tumpukan barang barang bekas dan sampah pasar yang berbau tidak sedap. Dua orang lagi menampakkan diri dari balik gubuk reyot yang memang menjadi tempat tinggal para gembel yang mencari makan di sekitar pasar besar Kota Bhagawanta itu. Rupa-rupanya dua ketukan tongkat kayu di tanah tadi adalah isyarat bagi para pengemis itu untuk berkumpul.
"Aku sudah mengetahui kapan waktu pergantian jaga di pintu gerbang Istana Kadipaten Bhagawanta, Kakang Dangiran..
Kapan kita akan bertindak? ", tanya pengemis muda itu sembari menatap ke arah pengemis yang lebih tua.
" Malam ini, Randu, malam ini...
Dyah Saladu berani merampas Parwati, calon istri ku, sebagai selirnya. Aku akan memberinya sebuah pelajaran berharga yang tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya ", ucap si pengemis yang disebut sebagai Dangiran itu berapi-api.
Ya, mereka bukanlah pengemis sembarangan tetapi merupakan sebuah kelompok pendekar yang disebut sebagai Lima Setan Gembel Gunung Asem. Mereka selalu bergerak secara berkelompok dan merupakan kelompok pendekar yang disegani pada kawasan timur Kadipaten Kalingga.
Pimpinan mereka adalah Dangiran, murid tertua Pengemis Tapak Darah yang merupakan tokoh sesat yang sangat ditakuti karena ketinggian ilmu beladiri nya. Dangiran sangat membenci Dyah Saladu karena menikahi pujaan hatinya Parwati putri Mpu Supa yang merupakan kembang desa dari Wanua Galang. Berpuluh tahun berlalu, Dangiran mempelajari ilmu kanuragan yang diajarkan oleh Pengemis Tapak Darah hingga menjadi pendekar yang sakti.
Setelah merasa cukup menuntut ilmu, Dangiran membentuk kelompok pengemis yang terdiri dari dua adik seperguruannya Randu dan Brastawa serta dua pendekar kembar Citraksa dan Citraksi. Kelompok yang kemudian dikenal sebagai Lima Setan Gembel Gunung Asem mampu berkembang menjadi kelompok pendekar paling ditakuti di kawasan timur Kadipaten Kalingga bahkan oleh Adipati Kalingga sendiri.
Ketika senja mulai menghilang di ufuk barat, digantikan oleh gelap malam hari, lima pengemis itu bergerak menuju ke arah pintu gerbang istana. Tepat saat pergantian penjaga gerbang utama Istana Kadipaten Bhagawanta, mereka menyelinap masuk.
Tepat saat mereka berlima memasuki bagian utama istana, seorang prajurit penjaga memergoki mereka dan langsung berteriak lantang,
"Ada penyusup masuk istana..!!! "
👍
mf lom bs ksih kopi🙏