Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. SIASAT DINA
*Ruang Kerja Vanya.*
Aroma kopi mahal bercampur dengan bau kertas dokumen yang menumpuk. Vanya, masih sibuk mencoret-coret berkas. Jemarinya menari lincah, sementara bibirnya berkomat-kamit mengikuti alur pikirannya.
“Sexy boss, sesuai pesanan,” ucap Siska sambil mendorong kelima gadis itu masuk.
Brak! Vanya meletakkan penanya dengan sentakan keras ke atas meja. Suaranya menggema, membuat Fransiska, Heina, Azuza, dan Meyorita tersentak kaget hingga saling sikut karena ngeri. Hanya Dina yang masih mencoba memasang wajah angkuh, meski tangannya sedikit dingin.
Vanya bangkit dari kursi empuknya. Ia berjalan perlahan, langkah hak sepatunya terdengar seperti detak jam kematian di telinga para siswi itu. Ia mulai mengelilingi mereka satu per satu.
“Kenapa kalian mengganggu Maya?” tanya Vanya, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia berhenti tepat di samping Dina.
Keempatnya bungkam. Dina membuang muka dan memutar bola matanya malas, sebuah gerakan yang sangat tidak sopan di depan pemilik yayasan.
“Katakan, kenapa kalian melakukan itu pada calon adik ipar sexy boss?” gurau Siska sambil menyenggol bahu Heina, mencoba mendesak mereka.
Vanya memberikan lirikan tajam pada Siska yang membuat asistennya itu langsung menutup mulut dengan senyum paksa.
Vanya kini berdiri di depan Dina. Ia melihat gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Kamu yang bernama Dina. Anak tunggal dari pemilik Hotel SNOW WHITE, kan?”
Lagi-lagi Dina tidak menjawab. Ia berdecak pelan, menunjukkan kejengahannya.
“Dina, saya tegaskan padamu. Jangan pernah mengganggu Maya. Kalau kamu bosan, cari kegiatan lain yang lebih berguna daripada mejadi perundung di sekolah ini,” ucap Vanya dengan nada mengancam.
“Ibu tahu apa soal anak baru itu?!” bentak Dina tiba-tiba, sudah tidak tahan lagi.
“Saya tahu banyak,” jawab Vanya tenang namun mematikan. Ia tahu betul Maya adalah titipan Arkan, sahabatnya yang paling keras kepala dan berbahaya jika miliknya disentuh. Vanya tidak ingin berurusan dengan kemarahan Arkan jika sesuatu yang buruk menimpa Maya.
Dina tersenyum menyepelekan, matanya menantang Vanya. “Bu Vanya, gadis miskin itu datang ke sini bukan untuk belajar. Dia Cuma mau cari perhatian pada A... se-semua murid laki-laki!” fitnah Dina dengan suara meninggi.
Mendengar itu, Vanya tertawa keras. Siska pun ikut tertawa geli sebelum akhirnya terdiam seketika saat dipelototi Vanya.
“Fitnahmu sangat murahan, Dina. Saya sudah melihat semua bukti di CCTV. Kamulah yang mengganggu Maya, bukan sebaliknya,” Vanya berbalik badan, kembali menuju mejanya dengan anggun.
“Jika saya melihat atau mendengar kamu mengganggu Maya sekali lagi, siap-siap kedua orang tuamu akan saya hadirkan di sini. Dan kamu tahu apa yang terjadi pada bisnis hotel Papamu jika saya menarik semua kerja sama?”
Dina tersentak. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah pucat pasi. Ancaman itu nyata. Ia ingin memohon, namun harga dirinya masih terlalu tinggi untuk bersuara.
“Siska, bawa mereka keluar. Aku muak melihat wajah-wajah ini,” perintah Vanya tanpa menoleh.
Siska dengan senang hati mendorong keempat gadis itu keluar. Dina sempat menoleh sekali lagi ke arah pintu, matanya masih menyimpan dendam, namun ketakutan akan ancaman Vanya kini mulai membayanginya.
Kini, Siska menepuk-nepuk kedua telapak tangannya seolah-olah baru saja membersihkan debu kotor yang menempel di bajunya. Ia melirik Dina dengan senyum kemenangan yang mengejek.
“Sekarang, kalian berlima, hush! Kembali ke kelas,” perintah Siska.
Setelah memastikan mereka bergerak, Siska menyibakkan rambut panjangnya yang keriting gantung, lalu berjalan pergi dengan gaya berlenggak-lenggok yang elegan menuju ruangannya kembali.
Begitu sosok Siska menghilang di tikungan koridor, ketakutan mulai menjalar di antara geng Dina.
“Din, gimana ini? Kalau beneran Bu Vanya memanggil orang tua kita, bisa habis aku!” bisik Azuza dengan suara gemetar. Wajahnya sudah pucat membayangkan kemarahan ayahnya.
“Apalagi aku! Papa nggak akan segan-segan memindahkan aku ke rumah Nenek di pelosok Bogor kalau sampai ada catatan merah di sekolah ini,” sambung Heina sambil meremas ujung seragamnya.
Dina menghentikan langkahnya mendadak. Ia berbalik, menatap keempat temannya dengan tatapan tajam dan senyum miring yang menyimpan niat jahat. Ketakutan teman-temannya justru membuatnya merasa semakin berkuasa.
“Kalian pengecut banget, sih,” cibir Dina. Ia melipat tangan di dada, kaki jenjangnya berdiri tegak angkuh. “Bu Vanya cuma menggertak. Dia nggak akan berani menyentuh bisnis hotel papaku hanya karena masalah sepele antar murid.”
“Tapi Din, Bu Vanya itu tidak pernah main-main dengan ancamannya,” Fransiska mencoba mengingatkan.
Dina tidak peduli. Ia justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin di koridor yang mulai sepi. “Biarkan saja. Aku punya ide yang lebih bagus daripada sekadar melabraknya di toilet. Ide ini akan membuat si gadis miskin itu keluar dari sekolah ini dengan kemauannya sendiri, bahkan mungkin dengan rasa malu yang tidak akan pernah hilang.”
Dina mulai berjalan kembali, langkahnya terdengar mantap dan penuh percaya diri. Keempat temannya saling pandang, lalu segera menyusul di belakang seperti anak ayam.
“Apa rencananya, Din?” tanya Azuza penasaran.
Dina melirik sekilas ke arah tas sekolahnya. “Kalian tahu kan, sekolah ini sangat ketat soal barang terlarang? Bagaimana jika di dalam tas gadis suci itu tiba-tiba ditemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana? Sesuatu yang bisa membuatnya langsung keluar secara tidak hormat tanpa perlu Bu Vanya bertanya lagi.”
Dina tersenyum puas. Ia sudah membayangkan Maya menangis tersedu-sedu sambil mengemas barang-barangnya keluar dari SMA Elit ini.
****
Tatapan tajam di bawah pohon rindang.
Di bawah rindangnya pohon tanjung di taman sekolah, Maya mencoba menenangkan gemuruh di dadanya. Ia menyuap nasi dan lauk buatannya sendiri dengan pelan, namun pikirannya terbang jauh ke senyuman Leon dengan gusi merah mudanya.
Sesekali tangan kirinya meraba dadanya yang terasa sedikit sesak. Sebagai ibu susu, ada ikatan batin yang tak kasat mata antara dirinya dan Leon.
“Perasaanku tidak enak. Apa Leon baik-baik saja bersama Kak Arkan? Padahal baru beberapa jam kutinggalkan, tapi aku sudah sangat rindu pada bayi itu,” gumamnya dalam hati. Rasa hangat saat Leon menyusu padanya adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa memiliki “keluarga” di kota yang asing ini.
Ia tidak sadar, di kejauhan, para wanita iblis mulai mendekat. Dina, dan keempat temannya berjalan menyusuri selasar kelas yang menghadap langsung ke taman. Langkah mereka terhenti sejenak saat melihat sosok Maya yang tampak begitu damai dengan bekal sederhananya.
Dina melirik Maya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, antara kebencian mendalam dan kepuasan yang prematur. Ia tidak lagi berteriak atau melabrak. Kali ini, Dina hanya melempar senyum tipis yang tampak aneh, hampir seperti seringai kemenangan.
“Nikmatilah makan terakhirmu dengan tenang, May,” bisik Dina pelan, nyaris tak terdengar oleh teman-temannya sendiri.
Tanpa gangguan fisik, Dina melenggang masuk ke dalam ruang kelas XI-A yang sedang kosong karena jam istirahat. Teman-temannya menyusul dengan terburu-buru.
...❌ Bersambung ❌...