NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Seragam SMA

Rahasia Dibalik Seragam SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Anak Genius
Popularitas:44
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Naura "gadis ideal". Ia memiliki senyum cerah yang tampak tulus, suara yang riang, dan kemampuan luar biasa untuk mencairkan suasana. Di SMA Pelita Bangsa, ia dikenal sebagai siswi yang ramah, sedikit ceroboh agar tidak terlihat mengancam, dan sangat mudah disukai.
Di balik binar matanya, Naura adalah seorang pengamat yang sangat dingin.

Arkan adalah sosok yang dijuluki "Cowok Kulkas". Ia pendiam, sinis, dan selalu menjaga jarak dengan siapapun. Ia lebih sering terlihat dengan buku sketsa atau headphone yang melingkar di lehernya. Arkan tidak peduli pada hierarki sosial sekolah dan tidak ragu untuk bersikap kasar jika merasa privasinya terganggu.
Arkan bukan sekadar remaja yang membenci dunia. Ia memiliki kecerdasan arsitektural dan teknis yang melampaui usianya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Keesokan harinya, suasana di SMA Pelita Bangsa terasa semakin berat bagi Naura.

 Harapannya agar masalah tisu berisi silet itu terlupakan sirna seketika saat Nadira menghampirinya dengan mata berbinar-binar di koridor.

"Naura! Kabar gembira!" seru Nadira sambil merangkul bahu Naura. "Gue udah lapor ke komite sekolah. Karena kalian berdua adalah murid paling menonjol tahun ini, gue ajuin kalian buat jadi penanggung jawab konsep panggung Pentas Seni bulan depan. Dan... disetujui!"

Naura hampir tersedak ludahnya sendiri. "Kalian? Maksud lo, gue sama..."

"Sama Arkan, dong!" Nadira menunjuk ke arah Arkan yang berdiri tidak jauh di belakang mereka, tampak sama tidak senangnya.

 "Kalian kan pinter-pinter, pasti panggungnya bakal mewah banget. Jangan nolak ya, ini demi reputasi kelas kita!"

Nadira pergi dengan riang sebelum Naura sempat melayangkan protes. Kini, Naura dan Arkan berdiri berhadapan di koridor yang mulai sepi.

"Ikut gue ke ruang seni. Sekarang," ucap Arkan singkat, suaranya dingin namun ada nada mendesak.

Tanpa pilihan, Naura mengikuti langkah lebar Arkan. Begitu sampai di ruang seni yang kosong, Arkan langsung mengunci pintu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah bungkusan tisu yang sudah sangat dikenal Naura.

"Lo menjatuhkan ini di gudang," Arkan meletakkannya di atas meja kayu. "Silet laboratorium. Berkarat, dan ada bekas zat kimia biru di ujungnya. Lo mau bunuh orang atau mau jadi detektif amatir?"

Naura terdiam sesaat, lalu seringai tipis muncul di wajahnya. "Dan lo? Murid teladan yang ternyata hobi banget mungut sampah di gudang tua? Apa itu bagian dari sketsa 'labirin' lo?"

Arkan mendekat, menatap Naura tepat di mata. "Gue nggak peduli lo siapa, Naura. Tapi kalau lo ganggu rencana gue di sekolah ini, silet ini bakal jadi bukti pertama yang gue laporin ke kepsek."

"Coba aja," tantang Naura, melangkah maju hingga jarak mereka hanya beberapa senti. "Tapi sebelum lo lapor, pikirin ini: kenapa seorang Arkan punya denah detail ruang bawah tanah yang bahkan nggak ada di arsip resmi sekolah? Kita berdua punya rahasia, 'Kulkas'. Jadi, mending lo simpen silet itu, dan kita kerjain panggung sialan ini supaya Nadira nggak curiga."

Arkan terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu Naura benar. Mereka berada di posisi yang sama-sama terancam.

"Oke," desis Arkan. "Kita bagi tugas. Gue urus struktur teknis panggung, lo urus estetika sampah lo itu. Tapi jangan harap gue bakal dengerin ide-ide menye-menye dari lo."

"Dan jangan harap gue bakal setuju sama desain panggung lo yang kaku kayak nisan makam!" balas Naura tajam.

Mereka pun mulai membentangkan kertas kalkir besar di atas meja. Perdebatan langsung pecah dalam hitungan detik.

"Gue mau lighting-nya pakai sensor gerak di sisi kiri," ujar Arkan sambil menggaris kasar.

"Hah? Lo mau bikin pentas seni atau sistem keamanan Bank Indonesia?!" protes Naura.

 "Harusnya pakai aksen bunga gantung dengan lampu warm white supaya auranya dapet."

"Bunga itu menghambat jalur evakuasi kalau ada korsleting kabel di atas," potong Arkan sinis.

"Lo itu terlalu paranoid! Ini panggung buat nari dan nyanyi, Arkan, bukan buat simulasi bencana alam!" Naura merebut pensil dari tangan Arkan dan mencoret desain pria itu.

"Balikin pensil gue, Gadis Ceria Gadungan," Arkan mencoba merebutnya kembali, namun Naura menghindar dengan lincah.

"Ambil kalau bisa, Cowok Manekin!"

Di tengah aksi tarik-menarik dan adu mulut itu, keduanya tidak menyadari bahwa meski mulut mereka saling menghina, tangan mereka mulai membentuk sebuah skema panggung yang sangat efisien namun indah sebuah kolaborasi antara logika tajam Arkan dan insting tajam Naura.

"Lo tahu nggak," gumam Arkan tiba-tiba saat mereka sedang menatap hasil coretan sementara, "posisi lampu yang lo mau itu... sebenernya menutupi blind spot CCTV di sayap kanan panggung."

Naura tersenyum penuh arti. "Memang itu tujuannya, Arkan. Supaya kalau ada 'tamu tak diundang' lewat, mereka nggak bakal kelihatan di monitor keamanan."

Arkan menatap Naura lama, ada secercah rasa kagum yang ia sembunyikan dengan dengusan. "Ternyata otak lo nggak cuma isinya bedak sama cokelat."

"Dan ternyata lo punya kegunaan selain jadi pendingin ruangan," balas Naura sambil mengedipkan sebelah mata, kembali ke mode "gadis ceria" nya yang membuat Arkan merasa sangat frustrasi sekaligus penasaran.

......................

Setelah sesi perdebatan yang menguras energi dengan Arkan di ruang seni, Naura melangkah keluar dari gerbang SMA Pelita Bangsa dengan bahu yang terasa berat.

 Langit sudah berubah warna menjadi jingga kemerahan. Topeng "gadis ceria" miliknya sudah retak karena lelah; yang tersisa hanyalah Naura yang dingin dan waspada.

Ia memutuskan untuk berjalan kaki sedikit lebih jauh menuju halte bus yang lebih sepi untuk menghindari kerumunan anak sekolah lainnya. Namun, saat ia melewati jembatan penyeberangan yang melintasi sungai besar di dekat batas perumahan elite, langkahnya terhenti.

Di atas pagar pembatas jembatan, seorang siswi dengan seragam yang sama dengannya sedang berdiri mematung. Angin sore memainkan rambutnya yang terurai, dan tubuhnya condong ke depan, menatap kosong ke arah aliran air yang deras di bawah sana.

Sial, bukan sekarang waktunya, batin Naura. Namun, instingnya bergerak lebih cepat daripada rasa lelahnya.

Naura tidak berlari. Ia tahu gerakan tiba-tiba bisa memicu kepanikan. Ia berjalan santai, mendekat dengan tangan yang dimasukkan ke saku jaketnya, pura-pura sedang menikmati pemandangan.

"Sungainya lagi kotor banget sore ini. Kalau lo terjun sekarang, yang ada malah badan lo gatal-gatal kena limbah sebelum sempat mati," ucap Naura datar, suaranya dingin namun jelas.

Gadis itu tersentak hebat, hampir kehilangan keseimbangan. Ia menoleh dengan mata sembab dan wajah pucat pasi. "Na-Naura? Pergi! Jangan peduliin gue!"

Naura mengenali wajah itu. Maya, siswi kelas X yang sering menjadi sasaran perundungan karena masuk lewat jalur beasiswa.

"Gue mau balik rumah, tapi pemandangan lo ganggu estetika jalanan gue," sahut Naura sambil bersandar di pagar jembatan, hanya berjarak dua meter dari Maya. "Lo tahu nggak? Keluarga Abraham yang punya sekolah kita itu nggak bakal peduli kalau lo hilang. Besok, kursi lo cuma bakal diganti sama anak orang kaya lainnya. Lo mau mati cuma buat jadi statistik yang dilupain dalam dua hari?"

"Lo nggak ngerti!" teriak Maya histeris. "Lo punya segalanya! Lo cantik, populer, temennya Nadira! Lo nggak tahu rasanya diinjak-injak!"

Naura terdiam sejenak. Ia menatap Maya dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan yang belum pernah dilihat oleh siapapun di sekolah. "Gue tahu rasanya pakai topeng setiap hari sampai lo lupa muka asli lo kayak gimana. Gue tahu rasanya pengen hilang supaya nggak perlu pura-pura lagi."

Naura mengulurkan tangannya perlahan.

 "Tapi kalau lo mati sekarang, orang-orang yang injak lo itu menang. Mereka bakal tertawa karena berhasil nyingkirin lo. Lo mau mereka menang?"

Maya mulai terisak, bahunya berguncang hebat.

"Turun, Maya. Sini. Gue nggak bakal bawa lo ke guru atau lapor ke sekolah. Kita cari makan yang enak, gue yang bayar. Lo bisa maki-maki semua orang di sekolah sepuasnya sama gue," bisik Naura, kali ini dengan nada yang tulus.

Perlahan, Maya menyambut tangan Naura. Begitu kaki Maya menyentuh aspal jalanan, ia langsung ambruk dan menangis di pelukan Naura. Naura hanya diam, membiarkan seragamnya basah oleh air mata, sambil matanya tetap waspada memperhatikan sekitar.

Tanpa Naura sadari, di ujung jembatan, sebuah motor sport hitam berhenti.

 Pengendaranya, yang tak lain adalah Arkan, menurunkan kaca helmnya sedikit. Ia telah mengikuti Naura karena merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik gadis itu saat pulang sekolah.

Arkan melihat semuanya. Ia melihat Naura yang manipulatif bisa berubah menjadi pelindung yang begitu tenang. Ia melihat "sisi manusia" dari Naura Amira yang selama ini ia curigai sebagai robot tanpa perasaan.

Arkan memutar kunci motornya, memilih untuk pergi sebelum Naura menyadari keberadaannya. "Gadis ini... benar-benar penuh kejutan," gumam Arkan di balik helmnya, sambil menyimpan rahasia baru tentang Naura di dalam kepalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!