Sepucuk surat mengundang Syaheera untuk kembali ke kota kelahirannya. Dalam perjalanan ke kota tersebut, dia bertemu Gulzar Xavier, pria baik hati yang menolongnya dari pria mesum di kereta.
Kedatangan Syaheera disambut baik oleh ayahnya dan keluarga barunya. Namun, siapa sangka, ternyata sang ayah berniat menjodohkan dirinya dengan Kivandra Alistair, Tuan Muda lumpuh dari keluarga Alistair.
Cinta Syaheera pada ayahnya membuat gadis ini tak ingin membuatnya kecewa. Namun, pada malam pertemuannya dengan Kivandra, takdir kembali mempertemukan dirinya dengan Xavier, dan sejak itu benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.
Xavier yang hangat, atau Kivandra yang dingin, akan kepada siapa Syaheera menjatuhkan pilihan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Be___Mei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syaheera part 10
...Ternyata Kita Cinta 🥀...
..._Cinta sejati juga berawal dari obsesi....
...Obsesi bahwa apa yang diberikan padanya hanya akan menjadi miliknya ......
...Termasuk tangis dan tawanya_...
...***...
Menyodorkan semangkuk mie pangsit pada Syaheera, yang Kiv dapatkan hanya tatapan hampa. Gadis itu diam menatap laut lepas, tanpa suara, tanpa pergerakan, ia terlihat lemas tanpa emosi.
"Syaheera, aku lapar."
Seolah sengaja memancing lonjakan emosi dalam diri Syaheera, perkataan Kiv membuat calon istrinya melempar tatapan bak sebilah belati.
"Makanan di depan mata, kenapa kau sodorkan padaku jika kau lapar."
"Aku tidak suka makan sendiri."
Sebelah alis Syaheera terangkat naik, menatap Kiv dengan tatapan aneh. "Makan tinggal makan saja. Aku tidak lapar."
"Aku tahu kau lapar."
"Tidak!"
"Pembohong!"
Lagi, Syaheera menatap tajam pada Kiv. "Gosipnya kau tidak suka banyak bicara, tapi kenyataannya kau berisik sekali!"
Entah mengapa Kiv mengabaikan ocehan Syaheera yang menyakitkan ini. "Kau boleh resah, tapi kau tidak boleh egois pada dirimu sendiri. Cobalah berkaca, kau seperti mayat hidup, lusuh, pucat, kumal, jelek pastinya. Makanlah mie ini agar kau terlihat sedikit baik."
"Kau menghiburku atau menghinaku?" kedua mata gadis ini memicing.
Kiv mengalihkan pandangan dari Syaheera. "Tidak keduanya. Hanya saja penampilanmu menyakiti mataku."
"Kivandra!"
"Ash! Berani sekali kau meninggikan suara padaku! Kali ini kau kumaafkan, tapi sikapmu membuat selera makanku hilang." Kiv meminta pada Alvin untuk membawanya pergi, meninggalkan dua mangkuk mie pangsit di samping Syaheera.
Aroma mie pangsit menguar berbaur bersama aroma laut, begitu menggiurkan hingga membuat komplotan cacing-cacing di perut Syaheera meronta.
"Baik dari mana? Dia bahkan tidak tahu cara menghibur wanita yang sedang sedih!"
Mencoba menolak makanan yang dibawakan Kiv dengan mengingat setiap tingkah dan kata menyebalkan pria itu, pada akhirnya dua mangkuk mie pangsit telah mendarat dalam perut Syaheera, kurang dari 30 menit.
Kiv terkekeh, sejak tadi ia mengamati Syaheera dari balik mobilnya yang terparkir. "Tidak lapar katanya. Sayangnya mangkuk itu tidak bisa dimakan."
Alvin juga terkekeh, namun, tawa kecilnya seketika sirna, sebab Kiv melayangkan tatapan bak sebilah belati padanya.
"Hanya aku yang boleh mentertawakannya!"
"Maaf, Tuan."
"Aku ingin menemui Nyonya Kansya," titah Kiv.
Segera Alvin membawa sang Tuan Muda memasuki kediaman Kansya, dengan sangat hati-hati mendorong Kiv sampai ke hadapan wanita tua itu.
Masih ada Celia di sana, memijat kaki Kansya. Dia terlihat begitu baik melayani ibu mertua suaminya. Saat Kiv datang ada pergerakan pada jemari Kansya.
"Cepat panggil Tuan," perintah Celia pada Nena dan Raina.
"Ibu, bagaimana perasaanmu? Apa kau pusing? Mual? Atau tubuhmu terasa sakit?" Rentetan pertanyaan Celia mengerutkan kening Kansya.
"Pergi!" lirih Kansya pelan namun dengan tatapan mengintimidasi.
Celia terdiam, bahkan hingga seluruh tubuh terasa kaku.
"Pergi dari sini!" desis Kansya lagi.
Betapa rasa malu seketika mengekang diri Celia, terlebih tatapan Kiv seolah menghakiminya tanpa ampun. Harga diri seorang Celia merosot hingga inti bumi, andai ia bisa menghilang detik ini juga!
"Nenek!" Suara Syaheera disertai suara langkah cepat, bagaikan denting jam yang membuka tuas pada diri Celia. Ia menarik napas seolah baru saja menyelam dalam sumur gelap gulita.
Kedatangan Syaheera disusul Peter dan Raffan, kemudian para penghuni kediaman itu.
Suasana mengharu biru, dan dalam suasana itu Celia membawa kaki untuk pergi.
Celia, dia terlahir dalam keluarga konglomerat pada masanya. Namun, kejayaan tak berpihak lama dalam keluarganya. Sang ayah terjerat kasus yang menguras habis kekayaan mereka. Ibu yang depresi meregang nyawa setelah satu tahun hidup dalam kemiskinan. Tak ingin melanjutkan hidup dengan status rendah, Celia merayu Peter pada acara reuni sekolah. Kebetulan Peter adalah seniornya ketika masih menjadi mahasiswa.
Celia bukan tidak tahu Peter telah memiliki istri. Kedudukan dan kekuasaan yang Peter miliki membutakan mata hati Celia. Setelah berhasil menjadi Nyonya kedua dalam rumah tangga, Celia semakin haus akan kekuasaan. Apa pun halangan akan dia hadapi, apa pun akan dia lakukan demi mempertahankan posisinya.
"Perempuan tua bangka, kau seharusnya sadar kesabaranku ada batasnya!" decih Celia. Tempat Syaheera termangu kini diduduki olehnya.
Gejolak ombak tak jauh berbeda dengan keadaan hati Celia saat ini. Di balik senyum dan keceriaan yang selalu dia pamerkan pada Kansya, sejujurnya dia lelah. Dia hanya ingin pengakuan dan sedikit sikap baik dari wanita tua itu. Namun, alih-alih sebuah pengakuan, seulas senyum untuknya saja seperti mencari jarum di bawah timbunan jerami.
To be continued ...
Nangis aja Xavier, lagian aneh2 aja Syaheera malah ditinggal di vill. Keadaan lg genting jg ah. Ngomel kan jdinya 😂🤣
Mana Xavier sama Syaheera juga belum tentu berhasil kabur..