NovelToon NovelToon
Satu Notifikasi Seribu Luka

Satu Notifikasi Seribu Luka

Status: tamat
Genre:Idola sekolah / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.

Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.

Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Pagi di Solo selalu punya aroma khas: perpaduan udara dingin yang bersih dan wangi gurih santan dari deretan penjual sarapan di pinggir jalan. Tepat pukul tujuh, klakson motor Arkan berbunyi. Aku turun dengan setelan kasual, kaos putih yang dipadukan dengan kemeja flanel longgar—gaya yang jauh lebih santai dibanding Nara si "Gadis Es" beberapa tahun lalu.

"Pagi, Calon Apoteker. Siap buat asupan kolesterol pagi ini?" sapa Arkan. Ia menyerahkan helm padaku, matanya menyipit jenaka.

Kami berakhir di sebuah warung Nasi Liwet legendaris di daerah Solo Baru. Suasana riuh, kepulan uap nasi hangat, dan suara denting sendok menjadi latar belakang kami.

"Ra, cobain deh kumutnya. Ini yang bikin nasi liwet Solo nggak ada tandingannya," Arkan menyodorkan sesendok nasi ke arahku.

Aku tertawa, menerima suapan itu. "Enak. Jakarta nggak punya yang kayak gini, kan?"

"Jakarta punya segalanya, Ra. Tapi nggak punya ketenangan kayak gini. Dan jelas nggak punya lo di sana," jawabnya pelan, menatapku dengan binar yang membuat dadaku berdesir.

Aku menarik napas panjang, teringat percakapanku dengan Kak Pandu semalam. Aku sudah membulatkan tekad. "Kan, soal yang lo bilang di chat kemarin... soal desain apotek..."

"Eh, bentar Ra," Arkan memotong kalimatku saat ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar hebat.

Ia sedang sibuk mengunyah kerupuk rambak, jadi ia tidak langsung meraih ponselnya. Namun, layar itu menyala terang tepat di depan mataku. Sebuah notifikasi pesan muncul di bar atas.

Clarissa (Arsitektur UI): "arkana, kamu di mana? Jadi jemput aku sekarang, kan? See you ya🤍"

Jantungku seperti berhenti berdetak sedetik. Simbol hati berwarna putih itu terasa seperti jarum yang menusuk balon kebahagiaan yang baru saja kupompa tinggi-tinggi semalam. Clarissa? Arsitektur UI? Teman kuliahnya di Jakarta?

Arkan segera meraih ponselnya, raut wajahnya berubah sedikit panik saat menyadari aku sempat melihat layar itu. Ia buru-buru membalikkan ponselnya ke meja.

"Oh, itu... itu temen satu tim proyek magang gue di Jakarta, Ra. Kita emang lagi ngejar deadline buat kompetisi nasional," jelasnya cepat, suaranya terdengar sedikit gugup.

Aku terdiam. Nasi liwet yang tadinya terasa gurih mendadak hambar di lidahku. Pertahanan diriku yang baru saja kubongkar, tiba-tiba terasa ingin terpasang kembali. "Oh, temen ya? Sampai pake simbol hati segala?"

Arkan menggaruk tengkuknya. "Itu... ya lo tau lah anak-anak Jakarta, gaya bahasanya emang suka berlebihan. Gue nggak ada apa-apa sama dia, beneran."

Suasana yang tadinya hangat mendadak mendingin. Aku menunduk, memainkan sendok di piringku. Bayangan tentang Ayah dan "keluarga baru"-nya mendadak melintas lagi. Apakah Arkan juga punya "bab rahasia" yang tidak kutahu selama dia di Jakarta?

"Nara, hei..." Arkan mencoba meraih tanganku di atas meja, tapi aku menariknya perlahan untuk membetulkan letak tasku.

"Nggak apa-apa, Kan. Habisin dulu nasinya. Lo harus segera ke kantor magang, kan?" kataku datar. Suaraku kembali ke nada Nara yang dulu—dingin dan penuh jarak.

Arkan menghela napas panjang, raut wajahnya yang tadi ceria kini berubah mendung. Ia tahu, satu notifikasi itu baru saja mengguncang fondasi kepercayaan yang ia bangun dengan susah payah selama satu tahun terakhir.

Aku tidak sanggup lagi menatap piringku. Bayangan Arkan yang menjemput Clarissa setelah sarapan ini terus berputar di kepalaku, merobek paksa rasa percaya yang baru saja kusemai. Dengan gerakan kaku, aku berdiri, mengabaikan seruan Arkan yang memanggil namaku berkali-kali.

"Gue pulang sendiri," ucapku dingin, nada suara yang paling aku benci namun paling aman untuk melindungi diri. Aku segera memesan ojek daring dan meninggalkan Arkan yang terpaku di bangku kayu warung itu.

Begitu sampai di depan rumah, aku berlari masuk. Dunia seolah runtuh kembali. Aku membanting pintu kamar dan merosot di baliknya, membenamkan wajah di lutut. Tangisku pecah—tangisan yang sarat akan kekecewaan. Aku merasa bodoh karena sempat mengira asuransi Arkan adalah pengecualian dari hukum alam semesta yang selalu menagih pajak kebahagiaan dengan rasa sakit.

Tok... tok...

"Nara? Ra, buka pintunya," suara Kak Pandu terdengar cemas dari balik kayu jati pintu kamarku.

Aku tidak menjawab, hanya isakan yang semakin kencang. Tak lama, aku mendengar bunyi kunci cadangan yang diputar. Kak Pandu masuk, melihat adiknya hancur di lantai, dan tanpa banyak bicara, ia langsung duduk di sampingku. Ia menarikku ke dalam dekapannya yang kokoh, membiarkan kaos oblongnya basah oleh air mataku.

"Arkan... dia bohong, Kak," bisikku parau di sela isak tangis. "Ada Clarissa di Jakarta. Dia mau jemput cewek itu... pake simbol hati, Kak. Kenapa semua laki-laki harus punya 'sisi lain' yang disembunyiin?"

Kak Pandu tidak langsung membela Arkan. Ia hanya terus mengelus rambutku, memberikan kehangatan yang selama ini menjadi satu-satunya tempatku bersembunyi.

"Dengerin gue, Ra," suara Kak Pandu berat dan tenang. "Gue nggak akan bela Arkan kalau dia emang brengsek. Tapi gue kenal Arkan lebih dari lo tau. Dia nggak mungkin seceroboh itu biarin lo liat notif kalau dia emang selingkuh."

"Tapi simbol hati itu nyata, Kak! Kata-katanya 'jadi jemput aku kan' itu nyata!" seruku, mendongak dengan mata sembab.

"Gue tau lo trauma sama Ayah. Gue tau lo takut dikhianati lagi," Kak Pandu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, memaksa mataku menatap kejujuran di matanya. "Tapi jangan hukum Arkan atas kesalahan Ayah. Jangan robohin rumah yang kalian bangun cuma karena ada debu di jendelanya. Kasih dia kesempatan buat jelasin, atau lo bakal nyesel karena udah ngebunuh satu-satunya orang yang mau sabar sama es di hati lo selama ini."

Aku terdiam, hatiku masih berdenyut nyeri. Di luar, suara gerbang yang dibuka menandakan motor besar Arkan sudah sampai di depan rumah. Dia tidak pergi ke kantor magang; dia datang untuk memperbaiki keretakan yang baru saja tercipta.

1
Sutrisno Sutrisno
puitis banget, jadi makin penasaran
Sutrisno Sutrisno
semangat
Sutrisno Sutrisno
semangat Arkhan, semoga berhasil
falea sezi
lanjut donk g sabar liat arkan nikah ma nara
falea sezi
arkan aja goblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!