NovelToon NovelToon
Long Hand

Long Hand

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:249
Nilai: 5
Nama Author: Kaelits

Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.

​Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.

​Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.

​Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setara

1497, Kota Optherra.

Optherra. Namanya terasa seperti lempung basah dan kotor di lidah—sebuah kota yang terlempar begitu saja di ujung paling kotor dari peta kerajaan Cirland. Jaraknya dari Citywon bukan hanya hitungan mil, melainkan ukuran peradaban yang menganga lebar.

Di sini, udara yang terhirup terasa berminyak dan berat di paru-paru, terdiri dari campuran jelaga pahit yang keluar dari cerobong-cerobong pabrik liar dan bau anyir lumpur hitam yang tak pernah benar-benar kering.

Bangunan-bangunan kayu yang reyot berdiri saling bersandar satu sama lain, miring-miring dan merosot ke dalam tanah yang lembek. Jalan utama dipenuhi spanduk iklan compang-camping yang menguning dan melapuk dimakan usia.

Lampu gas berkedip-kedip lemah di setiap sudut jalan, memancarkan cahaya kuning yang sakit-sakitan dan membuat bayangan-bayangan menari dengan gerakan yang tak sehat.

"Lepaskan, brengsek!"

Teriakan bocah berambut perak itu serak oleh kepanikan yang mengikis habis suaranya, hampir tenggelam dalam riuh rendah malam. Ia diseret dengan paksa oleh sekelompok lelaki berjaket kulit yang kasar, kakinya yang kecil dan kurus tersandung-sandung di atas pecahan batu dan puing-puing bangunan saat mereka membelok tajam masuk ke labirin gang sempit.

Dinding bata setinggi dua meter di kedua sisi berlumut hijau tua dan basah, terasa licin dan lembap, dingin yang langsung meresap ke tulang dan membuatnya menggigil lebih hebat.

Air kotor berwarna hitam kehijauan mengalir pelan melalui selokan terbuka di tengah gang, membawa serta bau alkohol murahan yang basi, kotoran hewan yang membusuk, dan kebusukan tajam yang menusuk lubang hidung.

Di atas, kabel-kabel listrik yang terkelupas dan menjuntai menjalin seperti jaring laba-laba raksasa yang kusut, dan hanya seiris cahaya bulan pucat atau pantulan redup dari lampu gas yang pecah yang berhasil menembus, membuat genangan air kotor di bawah berkilauan basah dan berminyak seperti permukaan minyak tanah.

Bocah itu dilempar kasar ke atas tumpukan sampah yang berbau busuk menyengat. Ia terkapar, punggungnya yang ringkih mengenai sesuatu yang lunak dan basah dan menjijikkan, terengah-engah.

"Kalian brengsek! Kalian tak tahu siapa aku?!" teriaknya, mengusap wajah kotor yang berlumuran ingus dan air mata dengan punggung tangannya yang gemetar hebat.

"Diam!" salah satu lelaki menegas, suaranya kasar dan berat. Dari dalam jaket kulitnya yang lusuh, ia mengeluarkan pisau saku bermata tumpul yang masih memantulkan cahaya samar dari lampu gas di ujung gang. "Ini akan cepat."

"A-apa yang mau kalian lakukan?!" Bocah itu berusaha merangkak mundur, tangan-tangan kecilnya yang gemetar mencengkeram tanah becek di sampingnya.

Mereka mendekat perlahan, langkah kaki mereka berderak di atas kerikil dan pecahan kaca botol.

"Diam, nak. Ini tidak akan lama," desis lelaki itu. "Cuma sedikit sakit, lalu semuanya selesai."

Bocah itu langsung berusaha bangkit, otot-otot kecilnya yang kurus menegang, mencoba lari, tapi lengannya yang ringkih terjepit dalam cengkeraman. Remasan itu membuatnya mengerang kesakitan.

"Sial! Lepaskan! Kenapa kalian mengejarku?! Apa yang kuperbuat?!" Air mata panas mulai mengalir deras. Seluruh tubuhnya yang kecil menggigil hebat.

"Kami harus membunuhmu, nak. Atau kami... Atau kami yang akan mati!"

"TOLOOONG!!!" Rintihannya.

"Tak ada yang bisa mendengar—"

Tep... Tep... Tep...

Tiba-tiba, tepukan tangan yang tenang memenggal kalimat itu tepat di tengah udara. Suaranya kering dan renyah. Semua mata seketika menoleh ke belakang, ke arah kegelapan yang lebih pekat di ujung gang, dari mana suara itu berasal.

Saat sosok itu melangkah maju dari selubung bayangan, siluetnya memanjang mengerikan sejenak sebelum cahaya lampu gas yang pecah akhirnya menangkapnya sepenuhnya.

Seorang pemuda. Rambutnya hitam legam terbelah rapi di tengah, jatuh lurus hingga ke alisnya. Ia mengenakan mantel abu-abu yang terlihat jauh terlalu bersih untuk tempat seperti Optherra. Sebuah senyuman tipis terukir di wajahnya, namun tidak sampai ke mata.

"Siapa kau?!" tanya salah satu lelaki, nadanya berubah dari kasar menjadi waspada dalam sekejap.

"Tahukah kau," kata pemuda itu, "bahwa kata 'setara' hanyalah permen belaka?"

"Maksudmu apa?! Apa maumu di sini?!" geram lelaki lain.

"Tapi kalau 'kesetaraan' itu permen," lanjut pemuda itu, seolah berbicara pada dirinya sendiri, "lalu siapa yang boleh menjilatnya?"

Makin kesal dan gelisah, mereka mendekati pemuda itu, langkahnya ragu-ragu namun masih berusaha mengancam, mencoba mengintimidasi dengan massa tubuh mereka yang lebih besar.

"Kau... Jangan cari masalah di sini, dengar?! Ini bukan urusanmu! Pergi sebelum kau menyesal!"

Pemuda itu diam sejenak, menatap mereka satu per satu. Lalu ia terkekeh pelan. Suaranya ringan, hampir lucu. "Haha, santai saja, kawan-kawan. Jangan terlalu serius. Aku hanya lewat."

Kelompok lelaki dewasa itu berhenti bergerak dan saling bertukar pandang sejenak. Ekspresi mereka bercampur antara marah dan kebingungan yang mendalam.

"Apa kau teman bocah sialan ini?" tanya salah satu mereka.

"Bukan, bukan." Pemuda itu menggeleng pelan, santai, tangannya masuk dengan tenang ke saku mantelnya. "Bocah bodoh seperti itu mustahil jadi temanku. Lihat saja, ia bahkan tak bisa melawan kalian."

Bocah berambut perak masih terbaring di atas tumpukan sampah, terengah-engah, napasnya tersengal-sengal.

"Lalu, urusanmu apa di sini? Siapa kau sebenarnya?" tanya lelaki lain, yang sedari tadi memegang pisau.

"Aku Iago. Hanya mencari udara segar karena tak bisa tidur." Senyum tenangnya tak goyah sedikit pun. "Malam yang indah, bukan?"

Salah satu preman itu menoleh melihat bocah itu lagi, seolah mengingatkan dirinya pada tujuan awal.

"Kalau tak ada urusan, pergi dari sini! Kami tak punya waktu untuk orang bodoh."

"Kalian tidak akan membunuhku juga?" tanya Iago. "Bukankah biasanya kalian akan membungkam saksi?"

Mereka saling pandang lagi, ragu, tidak yakin. Ada sesuatu yang sangat, sangat salah dengan orang ini, tapi mereka tidak bisa menunjukkannya, tidak bisa meletakkan jari pada apa yang membuat bulu kuduk mereka berdiri.

"Tidak," ucap salah satu lelaki setelah hening yang terasa lama. "Kami terlalu sibuk sekarang. Pergilah, bocah sombong! Lupakan apa yang kau lihat!"

Mereka kembali menoleh, mencoba memfokuskan kembali perhatian pada bocah yang ketakutan. Mereka masing-masing memegang satu lengan kurus bocah itu, mengangkatnya kembali ke posisi berdiri yang goyah, kakinya hampir tak menyentuh tanah, sementara lelaki yang berambut pirang kusut berdiri tepat di depannya, mengangkat pisau yang sama.

"Baiklah, kita selesaikan ini."

"T-tolong... Jangan bunuh aku..." Suara bocah itu pecah.

Iago masih berdiri di tempat yang sama.

"Baik sekali kau, Richard," kata Iago tiba-tiba. "Memberikan kesempatan padaku untuk pergi."

Lelaki berambut pirang itu menoleh ke Iago dengan gerakan refleks yang kasar dan terkejut. Matanya yang sayu membelalak lebar, mulutnya menganga. Ekspresinya berubah dari kemarahan menjadi syok mendalam dalam sekejap. "Kau... Apa? Siapa kau sebenarnya?!"

"Kau memberi kesempatan orang lain bicara, kau mendengarkannya, dan kau bahkan membiarkannya hidup beberapa menit lebih lama." Iago berhenti sebentar, membiarkan kata-katanya menggantung berat di udara. "Istrimu dan anak perempuan kecilmu, mereka akan senang mendengar itu. Sangat senang melihatmu sedikit membaik. Bukan begitu?"

Tangan Richard yang memegang pisau mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya kini menyipit tajam, urat-urat di pelipis dan dahinya yang berkeringat menonjol dan berdenyut pelan. "Maksudmu apa, hah?!"

"Maksudku?" Iago mengangkat bahu. "Sudah jelas, kan? Istri dan anakmu, mereka akan senang. Mereka mungkin bisa hidup lebih bahagia... kalau saja kau tak ada. Kalau saja kau menghilang dari hidup mereka."

"Kau... Jaga mulutmu, bocah sombong! Kau tidak tahu apa-apa tentang aku, tentang mereka!"

"Kenapa?" Iago melangkah sedikit lebih dekat. "Apa aku salah? Tunjukkan kesalahannya."

"Diam."

"Mereka orang baik, Richard. Wanita yang selalu menjagamu dan anak yang tampaknya mengagumimu." Iago diam sejenak, menurunkan suaranya. "Tapi kenapa? Kenapa tak pernah bisa kau balas kebaikan mereka?"

Tangan Richard yang terkepal kini gemetar hebat, pisaunya bergoyang tak menentu di genggaman. Kepalanya tertunduk dalam-dalam, pandangannya tertancap ke tanah yang kotor di bawah kakinya.

Mulutnya terbuka beberapa kali seakan ingin membantah, ingin menjerit, ingin berteriak bahwa semua ini salah, tapi tak ada kata yang keluar, hanya desisan napas yang tersendat-sendat.

Teman-temannya saling bertukar pandang, kebingungan mereka berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih penuh pertanyaan, lebih berbahaya.

"Kasus pembunuhan karena 'kehilangan kendali', ya?" Iago melanjutkan. "Membosankan sekali. Apa itu cuma kebohongan yang kau ciptakan untuk menghindari hukuman mati?" Iago mendekat satu langkah lagi, suaranya sekarang lebih rendah. "Katakan, Richard: Bagaimana rasanya mematahkan leher wanita yang benar-benar mencintaimu?"

"Aku bilang diam!" Tubuh Richard bergemetar lebih keras sekarang. Tangannya kini bukan mengepal, tapi menggenggam rambutnya sendiri yang kusut, menariknya kuat-kuat. "Diam... diam... kau tidak tahu apa-apa..."

"Richard?" suara salah satu temannya sekarang berubah drastis. "Benarkah? Kau tidak pernah bilang itu pada kami. Kau bilang mereka pergi, pindah kota, memulai hidup baru tanpa kau."

"Kau... kau benar-benar membunuh mereka? Istrimu sendiri? Dan anakmu?" Suara teman yang bertubuh gemuk terdengar hampa dan tercabik.

"T-tidak! Bukan seperti itu, Hanz! Edmund! Kau harus percaya padaku! Dia hanya berbohong!" Richard mengangkat wajahnya yang basah oleh keringat dan air mata yang mulai mengalir. "Dia hanya—!"

Iago mengulurkan tangan kanannya ke arah Richard, telapak tangan terbuka. Richard menatap tangan itu, bingung, seperti anak kecil yang ditawari permen beracun oleh orang asing yang tersenyum manis di depan gerbang sekolah.

"Bukankah temanmu cukup kejam?" tanya Iago, sekarang menoleh ke Hanz dan Edmund.

"Kami kecewa padamu, Richard." Hanz mendekat dengan langkah lambat dan berat. "Sophie... wanita yang baik dan cantik itu. Aku... aku gagal mendapatkannya dulu, dan kau... kau buang dia?" Dari balik jaket kulitnya yang kasar dan usang, ia mengeluarkan pisau yang lebih panjang. "Kau buang begitu saja?!"

Richard kaget melihat perubahan drastis di wajah Hanz dan segera mundur dua langkah cepat. Pisaunya sendiri terangkat dalam posisi bertahan, tapi matanya masih penuh dengan kebingungan yang melumpuhkan dan rasa bersalah yang menghancurkan.

Edmund, yang selama ini tampak paling waras di antara mereka, mencoba melangkah di antara Hanz dan Richard, tangannya terangkat dan wajahnya pucat.

"Hentikan, Hanz! Ini gila! Itu bukan tujuan kita di sini malam ini—"

"Minggir, Edmund!" teriak Hanz, dan dengan gerakan cepat yang tak terduga, pisau panjang itu bukan menyambar ke arah Richard, tapi menusuk ke perut Edmund yang mencoba menahan jalannya.

"ARGHHH...!" Edmund akhirnya menjerit. Tangannya langsung memegangi perutnya yang tertusuk. Matanya membelalak tak percaya, menatap Hanz, lalu ke pisau yang sekarang tertancap di tubuhnya sendiri. Darah mulai merembes cepat melalui jari-jarinya yang mencengkeram erat luka itu.

"Rasakan! Sudah kubilang minggir!"

"Sial... kau..." Edmund roboh ke tanah dengan suara berat dan basah, masih memegangi perutnya yang kini mengucurkan darah yang dengan cepat membasahi jaket, baju dalam, dan tanah di bawahnya. Napasnya pendek, tersengal-sengal dan matanya yang mulai kehilangan fokus melihat ke arah langit gelap di atas, di antara kabel-kabel yang menjuntai.

Hanz, dengan pisau yang sekarang berlumuran darah merah tua segar yang menetes dari ujungnya, kini menargetkan Richard yang untuk sesaat terpana melihat tubuh Edmund yang mulai berkedut-kedut lemah.

Tapi Richard cepat sadar dan melangkah mundur.

"Apa yang kau lakukan, Hanz?!" tanya Richard, suaranya tertahan oleh campuran kemarahan yang meluap.

"Aku yang harusnya bertanya kepadamu!" Hanz meludah ke tanah. "Kenapa? Kenapa kau bunuh Sophie? Kenapa kau sembunyikan itu dari kami selama bertahun-tahun?!"

Di tengah keributan yang dengan cepat berubah menjadi perkelahian yang tak terkendali, Iago dengan tenang berjalan melewati mereka. Ia mendekati bocah berambut perak yang masih terkapar ketakutan di atas tumpukan sampah, tubuhnya menggigil hebat.

Ekspresi bocah itu adalah campuran kebingungan yang mendalam, ketakutan yang mencapai puncaknya, dan kelegaan yang nyaris tak bisa ia pahami.

"Ayo," kata Iago, mengulurkan tangannya.

Setelah beberapa detik tertegun yang terasa seperti berjam-jam, bocah itu, dengan tangan yang masih gemetar hebat, meletakkan tangannya yang kecil dan kotor ke dalam genggaman Iago. Iago menariknya dengan lembut tapi pasti lalu mengangkatnya ke posisi berdiri yang goyah.

Bocah itu hanya bisa mengangguk lemah. Matanya masih lebar, menatap Iago dengan campuran rasa takut dan rasa ingin tahu yang membingungkan.

Saat mereka berjalan pergi bersama, meninggalkan adegan kekerasan yang masih berkecamuk di belakang, anak itu tak sengaja menoleh ke belakang, ingin melihat. Iago, dengan gerakan yang cepat, menutupi pandangannya dengan telapak tangannya.

Mereka berbelok di tikungan, meninggalkan gang itu selamanya, suara perkelahian semakin sayup-sayup, akhirnya benar-benar ditelan oleh labirin Optherra yang sunyi. Saat mereka mencapai ujung gang dan memasuki jalan yang sedikit lebih terang, Iago melihat ke arah anak itu, yang masih tampak shock, tubuhnya masih bergetar.

"Mau es krim?" tanya Iago sambil tersenyum. "Ngomong-omong, namamu siapa?"

Anak itu diam sesaat, masih terengah-engah, menelan ludah beberapa kali. "Otto," jawabnya akhirnya, ragu-ragu. "Otto Valen."

Iago tersenyum lebih lebar. "Otto Valen. Nama yang bagus."

Mereka pun berjalan berdampingan dan menghilang perlahan ke dalam malam Optherra yang masih panjang dan tak pasti, meninggalkan kegelapan dan darah di belakang.

...****************...

1500, Citywon.

Langit di timur mulai memudar dari biru pekat tengah malam menjadi cairan emas dan merah muda yang hangat. Udara malam yang dingin dan menusuk mulai perlahan digantikan oleh kelembapan pagi yang segar, bersih, dan menjanjikan, membawa aroma tanah yang baru saja dibasahi embun, rerumputan, dan bunga-bunga liar yang mulai mekar.

Burung-burung pipit di atap-atap rumah mulai berkicau dengan suara yang masih lemah dan tertatih-tatih. Dengan setiap langkah yang menjauh dari batas kota, rasa sesak yang selama ini mengikat erat dada Iago perlahan-lahan mulai mengendur.

Ia terbaring di suatu tempat yang lembut. Jauh lebih lembut dari tanah beku atau lantai kayu losmen yang keras.

Matanya terbuka perlahan-lahan, kelopaknya terasa berat dan lengket. Ia butuh beberapa detik untuk menyesuaikan diri dengan cahaya samar yang merembes lembut melalui sebuah jendela kecil di depannya.

Kepalanya terasa berat dan berdenyut pelan, masih menyisakan gema dari rasa sakit yang tiba-tiba dan menusuk tadi malam. Lalu ia menyadari sesuatu yang membuat napasnya terhenti—kepalanya tidak berbaring di atas bantal kasar, melainkan bersandar dengan lembut di pangkuan seseorang. Ia bisa mencium aroma yang lembut, bersih, dan alami.

Dengan hati-hati, ia mengangkat pandangannya ke atas.

Yuki.

Gadis berambut merah itu tertidur lelap dalam posisi duduk, bersandar dengan nyaman ke dinding kayu yang dicat putih pudar. Wajahnya dalam tidur begitu tenang dan polos.

Satu tangannya terlipat rapi di pangkuannya sendiri, sementara yang satunya lagi terulur dengan lembut di samping tubuh Iago, jari-jarinya yang lentik hampir menyentuh lengan bajunya. Napasnya teratur, tenang, dan dalam.

Apa yang terjadi? pikir Iago. Apa ini... di rumahnya? Bagaimana bisa?

Kenangan mulai kembali berkelip-kelip, potongan-potongan gambar yang tak utuh dan kacau: Taman Sylvan saat senja, Eliana dengan mata merah menyala dan belati hitam obsidiannya, Otto yang tiba-tiba berlutut dengan topeng kelinci putih porselennya, lalu ledakan rasa sakit yang memutihkan segalanya di kepalanya, seperti petir yang menyambar di dalam tengkorak... dan setelah itu, hanya kegelapan total.

Dunia di luar jendela perlahan-lahan mulai bangun—suara gerobak kayu pertama yang berderit berat di jalan batu, ayam jantan yang berkokok, bisikan percakapan pertama dari tetangga yang mulai beraktivitas—tapi di dalam ruangan kecil dan sederhana ini, waktu seolah berhenti. Untuk saat ini, hanya ada keheningan yang nyaman, kehangatan pangkuan Yuki, dan cahaya pagi yang perlahan-lahan mengisi setiap sudut ruangan.

1
Panda%Sya🐼
Benci? kerana apa itu, btw tadi aku bacanya Lego pas di baca lagi ternyata Lago 😭
Panda%Sya🐼: Astaga iyakah maaf ya Mungkin kerana huruf I L aku kira Lago /Pray//Facepalm/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!