Naila tak pernah menyangka hidupnya akan hancur dalam sekejap. Dihujani fitnah dan kebencian dari keluarga mantan suaminya, ia menjadi orang asing di rumah yang dulu dianggap tempat pulang. Difitnah suami dan dikhianati adik sendiri. Luka batin bertubi-tubi dan pengkhianatan yang mendalam memaksanya bangkit menjadi sosok baru yang tegas, penuh perhitungan, dan siap membalas setiap luka yang pernah diterimanya.
Lima tahun berlalu, Naila kembali dengan wajah dan tekad yang berubah. Bukan lagi wanita lemah, ia kini hadir sebagai ancaman nyata yang mengguncang rumah tangga mantan suaminya. Dalam perjalanan membalas dendamnya, ia akan menguak rahasia-rahasia kelam dan menetapkan aturan baru, tidak ada yang boleh melecehkannya lagi.
Siapakah yang akan bertahan saat permainan balas dendam dimulai?
Bersiaplah menyelami kisah penuh emosi, intrik, dan kekuatan wanita yang tak tergoyahkan dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wida_Ast Jcy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. KEMBALI KERUMAH NAUFAL
Sepanjang perjalanan pulang menuju rumah yang pernah ia tinggali sebagai seorang istri, pikiran Naila terus bergelayut pada ucapan ibunya. Kata-kata itu bagaikan belati yang menusuk perlahan, tetapi dalam.
Naila menggigit bibir bawahnya, menahan segala rasa sakit yang kembali menguar di dadanya. Bukan hanya sakit hati, tetapi juga perih fisik di perutnya pasca kuretase.
“Nai, kamu tidak apa-apa?” tanya Olivia dengan nada khawatir sambil tetap fokus menyetir.
Tanpa menoleh, ia meraih sebelah tangan Naila, mengelusnya lembut dan erat. Itu adalah bentuk dukungan sahabat yang tidak pernah surut. Naila menoleh, memaksakan sebuah senyum kecil.
“Aku baik-baik saja, Liv. Aku hanya… harus menyelesaikan ini semua malam ini.”
Tak ada lagi waktu untuk menunda. Di perjalanan tadi, Naila sudah menghubungi Julian, meminta pria itu membawa saksi penting yang mungkin akan menjadi kunci dari semua tuduhan terhadapnya. Ia akan membuktikan, dengan cara apa pun, bahwa dirinya tidak bersalah.
“Julian bilang ia tahu keberadaan pria asing itu. Dan mereka sudah bertemu. Dan mereka memiliki rekaman CCTV sebagai bukti. Dan pria itu juga setuju untuk datang dan menjelaskan semuanya dengan jujur. Aku berani membayarnya mahal asalkan ia mau membersihkan namaku,” ucap Naila.
Ia sangat berharap pada Julian dan pria asing itu. Entah siapa sebenarnya dalang di balik semua ini, yang diinginkan Naila hanyalah sebuah keadilan. Naila siap memberikan berapa pun yang diminta pria itu, asalkan nama baiknya kembali bersih.
Setelah itu, ia akan menyerahkan segalanya kepada Naufal. Apakah pria itu akan melanjutkan rumah tangganya dengan Nadia atau kembali padanya, semua akan Naila pasrahkan. Sebab Naila yakin, Naufal masih sangat mencintainya. Pria itu hanya sedang emosi. Masih ada kesempatan bagi mereka untuk rujuk kembali.
Mobil Olivia melambat saat mereka memasuki pekarangan rumah mewah itu. Tepat pukul sebelas malam. Di halaman rumah, beberapa mobil mewah sudah terparkir rapi. Sepertinya Naufal dan kedua orang tuanya baru saja kembali dari hotel usai resepsi pernikahan.
Mereka tidak menginap lagi di hotel, dan itu kabar baik bagi Naila, karena ia bisa membuktikan dirinya tidak bersalah bahkan di hadapan kedua orang tua Naufal.
Olivia mematikan mesin mobil.
“Nai, biar aku temani kamu ke dalam, ya?”
Naila terdiam sejenak, memandangi sahabatnya itu. Olivia jelas khawatir padanya, terlebih Naila belum sepenuhnya pulih. Akhirnya, Naila mengangguk pelan.
“Ok.... Terima kasih, Liv.”
Olivia mengangguk. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia seolah memiliki firasat buruk. Apalagi sahabat-sahabat Naila yang lain, seperti Renata dan Remon yang saat ini berada di luar negeri, mereka berdua meminta tetap menjaga Naila.
Karena mereka punya first dan tampak tidak percaya pada ucapan Julian, meskipun pria itu sangat meyakinkan bahwa ia dapat membantu Naila malam ini.
Keduanya turun dari mobil. Langkah Naila sedikit tertatih, rasa nyeri di perutnya kembali muncul, tetapi ia menahannya. Tidak, ini bukan waktunya untuk tampak lemah. Ia berjalan dengan kepala tegak, penuh tekad. Meski setiap langkahnya terasa berat.
Saat memasuki rumah itu, pemandangan yang menyambutnya langsung membuat dada Naila kembali sesak. Di ruang tamu, Nyonya Linda dan Nadia tengah duduk santai sambil membuka satu per satu hadiah mewah dari resepsi pernikahan siang tadi.
Hampir tidak tampak sedikit pun raut lelah di wajah keduanya, seolah tidak ada beban dan tidak ada masalah besar yang menimpa. Bahkan Nadia, ia tidak terlihat sedikit pun bersedih padahal baru saja kehilangan ayahnya.
Nyonya Linda tampak berseri-seri, sesekali tertawa kecil ketika menemukan hadiah yang menurutnya menarik. Sementara itu, Nadia terlihat sibuk memuji setiap pemberian yang mereka buka.
Tuan Hendra tampak sedang berbicara melalui telepon di sudut ruangan. Seperti biasa, pengusaha ternama itu selalu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan Naufal sama sekali tidak terlihat di mana pun. Mungkin ia sudah masuk ke kamarnya.
Naila menarik napas panjang sebelum melangkah lebih dalam.
“Assalamualaikum,” ucapnya dengan suara yang terdengar jelas namun tenang.
Serempak, kepala Nadia, Nyonya Linda, dan Tuan Hendra menoleh ke arahnya. Ekspresi mereka seketika berubah tajam.
“Kau masih berani datang ke sini?” sergah Nyonya Linda dengan nada sinis yang sulit disembunyikan.
Tatapannya menusuk tajam, seperti bara api yang siap membakar.
“Apa kau benar-benar tidak tahu malu hah?”
Nadia ikut menimpali dengan nada angkuh.
“Mbak Naila, mau apa lagi datang ke sini malam-malam? Mbak sudah bukan istri Mas Naufal. Kamu sudah tidak punya urusan lagi dengan rumah ini! "
Naila tetap berdiri tegak, meski hatinya kembali mencelos mendengar perkataan itu. Nada, adik yang dulu ia percaya, kini berubah menjadi orang yang paling lantang memojokkannya.
“Memangnya salah kalau aku datang ke rumah ini?” suara Naila terdengar tenang, namun cukup menusuk.
“Aku hanya ingin menyelesaikan sesuatu.”
“Tidak ada yang perlu diselesaikan!” sergah Nyonya Linda lagi.
“Kamu sudah jelas-jelas bersalah! Atau kamu mau membuat drama lagi di sini?”
Olivia yang berdiri di sisi Naila akhirnya angkat bicara.
“Nyonya, apakah tidak sebaiknya mendengarkan dulu penjelasan Naila? Setidaknya beri dia kesempatan untuk berbicara.”
Nyonya Linda memandangi Olivia dengan tatapan menghina.
“Dan kamu siapa? Orang asing yang ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain?”
Olivia tampak geram. Dengan tangan terkepal, ia hampir saja melayangkan umpatan kasarnya. Namun, Naila memberi kode halus agar sahabatnya itu menahan emosi.
“Saya hanya ingin kebenaran terungkap,” potong Naila tegas.
“Dan kebetulan, malam ini saya sudah membawa seseorang yang bisa menjelaskan semuanya.”
Perkataan Naila membuat Nadia dan Nyonya Linda terlihat sedikit terkejut. Namun, keangkuhan mereka tidak luntur begitu saja.
“Apa maksudmu?” tanya Nadia dengan nada sinis.
Naila tidak menjawab. Matanya menatap ke arah pintu utama rumah.
“Julian pasti sudah sampai…” gumamnya pelan.
Secara kebetulan, suara ketukan pintu menggema di ruangan itu. Seluruh ruangan mendadak hening. Olivia segera berbalik dan membuka pintu. Tak lama kemudian, Julian muncul bersama seorang pria asing.
Pria itu tampak gugup, dengan wajah pucat pasi. Langkahnya sedikit ragu ketika mengikuti Julian masuk ke dalam rumah. Ya, pria asing berwajah blasteran itu adalah orang yang ditemukan bersama Naila di kamar hotel.
Pria suruhan yang menjadi penyebab retaknya rumah tangga Naila, serta meninggalnya Pak Hasan karena serangan jantung. Semua mata tertuju pada pria tersebut. Bahkan Tuan Hendra, yang sebelumnya sibuk menelepon, kini menghentikan obrolannya dan berdiri mendekat.
“Di-dia…” Nadia terlihat panik, wajahnya tampak tegang.
“Inilah orangnya,” ucap Naila sambil menunjuk ke arah pria itu.
“Pria ini yang menjebak dan memfitnahku. Dan aku memiliki bukti bahwa kejadian itu tidak pernah terjadi seperti yang kalian tuduhkan padaku. Pria ini akan memberikan kesaksiannya!” tegas Naila dengan lantang.
Suaranya bahkan terdengar hingga lantai atas, tempat Naufal sedang termenung dalam kemelut, sontak ia terkejut saat mendengar suara Naila.
“Naila…” Naufal beranjak, seolah ada dorongan kuat untuk segera bergegas menuju ke lantai bawah.
Sejujurnya, ia sangat merindukan Naila. Ia berharap ada keajaiban yang bisa mengembalikan rumah tangga mereka. Dan harapan itu tampaknya akan segera terwujud karena Naufal yakin Naila datang untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
Jika itu benar, Naufal tak akan ragu untuk menarik ucapannya dan mengajak Naila untuk rujuk kembali. Ia pun tidak akan ragu menceraikan Nadia, lalu meresmikan kembali pernikahannya dengan Naila, sebagaimana yang selama ini ia harapkan.
Ruang itu tiba-tiba hening. Wajah Nyonya Linda tampak menegang, sementara Nadia terlihat semakin gelisah. Nadia sesekali melirik ke arah pria asing itu, lalu ke arah Julian secara bergantian.
“Bohong! Mana ada maling mengaku. Kalau sudah tertangkap, ya sudah terima saja, Mbak,” ucap Nadia angkuh, menutupi kegelisahannya.
“Aku punya buktinya,” sahut Naila melanjutkan dengan tenang namun tegas.
“Julian, mana rekaman CCTV yang kau bawa itu?! Tunjukkan pada mereka!” titah Naila.
BERSAMBUNG...
🤣🤣 dodol si Nadia.
sebenernya naila anak kandung nya atau bukan sih kok bisa gitu seorang ibu ngomong gitu..
aku jadi kesel sama nadia dia kan adik nya masa setega itu, atau jangan jangan mereka adik kakak tiri