Adila Dimitri... Kesucian yang sudah terenggut, tidak mengubahnya menjadi wanita lemah. Mandiri, kuat, berani dan tidak takut dengan apapun, sudah menjadi slogan dalam hidupnya.
"Hidup ini pilihan, apapun yang membuatmu sedih, tinggalkan...!!!
Apapun yang membuatmu tersenyum, pertahankan...!!!"
Aditya Putra Wiriaatmaja... kehilangan cinta karena kondisi yang membuatnya tidak bisa bertahan.
"Aku bukannya tak mau merelakan kepergianmu, aku hanya menyesali kelemahanku memperjuangkanmu untuk tetap disisiku. Aku belajar tulus untuk mencintai meski tak harus memiliki, belajar ikhlas merelakan meski harus kehilangan...!!"
Pertemuan yang diawali dengan drama settingan yang Adila ciptakan, membuat mereka terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, hingga akhirnya takdir mempertemukan mereka kembali dalam kondisi yang jauh berbeda.
Akankah sifat absurd Adila mampu meluluhkan hati Aditya yang menyukai wanita sederhana dan anggun seperti mantan kekasihnya dulu???
Sequel dari ❤Cinta Yang Hilang❤...
Pantengin terus di semua partnya👌👌
Happy reading💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HeniNurr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Adila memegang degup jantungnya yang sudah tak beraturan. Air minum yang dibawanya pun habis tak bersisa. Dunia memang tak selebar daun kelor, sangat sempit. Si Tuan One Night Standnya itu, aaah... wajahnya, pandangan matanya, gerak-geriknya, semuanya berputar-putar dikepala Adila.
Tanpa permisi Adila membuka pintu dan menerobos masuk sebuah ruangan rawat inap. Namun langkahnya langsung terhenti tatkala bukannya Radit yang terbaring diranjang, melainkan perempuan yang sekarang sedang balik menatapnya.
Adila menutup wajah, balik badan untuk kembali keluar.
"Adila..."
Adila menurunkan tangan, dia tidak mungkin salah dengar saat namanya disebut perempuan yang sedang terbaring disana. Apa mungkin orang itu mengenalnya?
Adila balik menoleh, memperhatikan dengan seksama siapa perempuan itu sebenarnya.
"Adila kan..?" Serunya lagi.
Adila berjalan mendekat melangkah ragu-ragu, sepertinya dia pun mulai mengenalinya.
"Mbak Arini..." Seru Adila dengan berhambur mendekati Arini.
"Senengnya bisa ketemu Mbak lagi... gue eh maksudnya aku salah masuk kamar... aku kira tadi siapa, tapi untung ini kamarnya Mbak cantik jadi nggak terlalu malu...," Ujarnya sambil cengegesan,".... tapi bentar-bentar, kok Mbak disini, Mbak kenapa.... pasti karena sakit yang kemarin kan... Mbak pendarahan ya... tapi kandungan Mbak nggak papa kan?" Cerocosnya.
Wanita bernama Arini itu tersenyum, sama seperti pertemuan di awal dengannya kemarin, selalu memberikan pertanyaan yang berderet.
Adila menggeret kursi dan mendudukinya," Kebanyakan ya Mbak... kebiasaan ini mulut kalau ngomong nggak bisa ngerem, bawaannya blong mulu."
Arini tertawa kecil, setiap bertemu dengan Adila gurauannya selalu membuatnya tertawa.
"Mbak cantik baik-baik aja kan?"
"Baik... cuma jangan banyak bergerak dulu."
Adila manggut-manggut, kemudian menyusuri ruangan yang baru dia sadari tampak berbeda dari ruangan rawat lainnya. Kemudian ia mengangguk dan tersenyum setelah mendapati seorang Bapak tua sedang duduk di sebuah sofa.
"Ini disebut ruangan apa sih Mbak...?" Balik melihat Arini,".... VVIP juga bukan deh kayaknya.... adik aku yang dulu dirawat di ruang VVIP nggak kayak gini... Triple V kali ya Mbak?" Ujarnya polos.
Arini tersenyum lagi, Adila yang ceplas ceplos berbicara apa adanya membuat Arini seperti mendapatkan hiburan tersendiri.
"Bukan... tapi ini..."
Belum Arini menyelesaikan ucapannya, seorang laki-laki keluar dari dalam kamar mandi. Sontak Adila pun menoleh kearah pintu kamar mandi yang terbuka.
"Kak Radit."
"Adila."
Dengan berjalan pincang Radit mendekati Adila.
"Adila kok bisa ada disini?" Tanyanya terheran-heran.
"Kak Radit kok ada disini juga... udah nggak jadi Dokter bedah lagi ya sekarang?" Adila malah balik bertanya.
Radit mengeryit dengan pertanyaan yang Adila lontarkan
"Kak Radit pindah jadi Dokter kandungan ya sekarang?" Tanyanya lagi.
"Kakak masih tetap Dokter bedah kok." Seraya duduk ditepi ranjang dengan menarik tangan Arini dalam gengamannya.
Mata Adila ikut tertarik melihat pergerakan tangan Radit.
Apa sebenarnya mereka itu...???
Sekarang ia mulai menebak, dan itu pasti benar, seratus persen yakin.
Adila memutari tempat tidur," Atau jangan-jangan Mbak cantik ini istrinya Kak Radit?" Menunjukan kedua telunjuk kearah mereka berdua.
Arini dan Radit saling bertukar pandang dan balas tersenyum.
Adila menepuk jidatnya," Ya ampun.... ternyata dunia ini memang sempit... pantesan Kak Radit buru-buru nikah, kalau ternyata dapet cewek secantik Mbak Arini."
"Itu tahu..." Jawab Radit sambil mengusap-usap tangan Arini.
Adila menurunkan pantatnya, duduk ditepi ranjang Arini.
"Takut keburu disamber orang tuh Mbak."
Radit tergelak mendengar tuduhan yang Adila lontarkan.
"Sebentar... bagaimana awalnya kalian bisa saling kenal?" Tanya Radit menatap mereka bergantian.
"Adila membantu aku waktu kesakitan saat mengantar makanan buat Mas waktu itu."
Adila mempertemukan jari telunjuk dan jempolnya hingga berbentuk lingkaran, membenarkan perkataan Arini.
Radit melihat Arini," Maaf ya sayang, aku baru tahu kalau kejadiannya sampai seperti itu " Sambil mengelus kening Arini.
"Ehem... ehem... ada aku loh Kak. Jangan mesra-mesraan, aku cemburu nih." Seloroh Adila.
Hancur lebur nih hati gue kak... pantes aja orang bininya sempurna kek gini. Lah gue... haah...takdir gue emang cuma jadi pemuja rahasia
Radit dan Arini tertawa mendengar celotehan Adila.
"Jadi Dila mau jenguk siapa sampai salah masuk kamar?" Tanya Arini.
"Mau jenguk Kak Radit.... kebetulan tadi ketemu sama Tante Rania didepan, trus nunjukin kamar ini... ya aku langsung kemari, eh...eh ternyata." Adila menaik turunkan alisnya.
"Ya udah kalian lanjutin lagi ngobrolnya, Mas mau nerusin dipijit." Radit beranjak dari duduk dan menghampiri tukang urut yang sudah menunggunya dari tadi.
Arini dan Adila kembali melanjutkan obrolannya, sesekali Arini tergelak saat mendengar cerita Adila yang terus merepet seperti petasan, tidak ada hentinya.
Ceklek... pintu kamar Arini terbuka lebar.
Arini dan Adila langsung menoleh, melihat siapa yang masuk kekamarnya.
"Bundaaaa..."
"Sayaaang...."
Seorang anak kecil berlari menghampiri Arini, dan yang membuat ia tercengang adalah sosok laki-laki yang saat ini sedang menutup pintu.
Laki-laki itu berbalik, berdiri tak bergeming, menatap lurus kearahnya. Adila terpaku, syok dengan keadaan yang tiba-tiba saja membuat mulutnya membisu seketika.
Dia... Ya Tuhan....
Adila langsung berdiri, membuang wajahnya.
"Mau kemana Dil?"
"Aku... aku pulang dulu ya Mbak, aku lupa harus bawa obat di apotek, aku permisi ya Mbak." Ucap Adila dengan sangat buru-buru.
"Iya... hati-hati Dil." Jawabnya.
Mudah-mudahan dia lupa sama gue... please...please... Mohon Adila dalam hati.
Detak jantung terpecah-pecah porak poranda saat bola mata itu terus menatapnya. Adila mulai berjalan dan Aditya pun mulai melangkahkan kakinya masuk lebih dalam.
Berpapasan ditengah, Adila menurunkan wajah lebih rendah, menyembunyikannya dibawah sana, dan segera keluar, hilang dibalik pintu.
"Adira Dimitri... Adira Dimitri..." Seru seorang kasir apoteker.
"Neng...neng...."
Adila terhenyak," Iya Pak?"
"Neng, Adira Dimitri bukan, itu dipanggil kasir."
Adila langsung berdiri menghampiri meja kasir," Iya saya Mbak."
"Ini obat untuk Adira Dimitri."
"Iya Mbak itu adik saya, terima kasih."
"Sama-sama."
Adila berjalan dengan langkah lebar, ia tak ingin kembali bertemu dengan laki-laki itu, tidak akan pernah mau.
Dengan hati berkecamuk Adila menjalankan mobilnya.
Cekiiiitttt.....
Dengan keras Adila menginjak remnya sekaligus, hampir saja ia menabrak kucing yang berlari melintas didepan mobilnya.
Shiiit...
Pikiran Adila meracau kemana-mana, menjalankan mobil saja dia tidak fokus.
Fokus Adila fokus... itu hanya pertemuan pertama dan terakhir lu, semuanya udah End, ok... fokus
Sampai dirumah hari sudah merangkak gelap. Adila membanting badannya di sofa. Memijit kepala yang terasa pening.
"Non..."
Adila membuka mata, melihat Mbok Karni sudah berdiri didepannya dengan sebaskom air dan handuk kecil ditangannya.
"Itu buat apa Mbok?"
"Buat Non Dira, tadi pulang badannya panas."
Adila langsung berlari menaiki tangga, membuka kamar Adira yang ternyata sedang terbaring dengan pakaian yang masih sama dengan yang tadi pagi dia pakai.
"Dir lu kenapa lagi?" Adila menyentuh kening Adira dengan punggung tangannya, ternyata benar panas.
"Aku nggak papa." Beringsut duduk.
"Lu pasti kecapean kan, ayo kita ke Dokter."
"Nggak usah, minum obat juga pasti sembuh. Kamu bawa kan obatnya?"
Adila buru-buru melepaskan tas ransel yang masih dia gendong, kemudian mengeluarkan obat yang tadi dia beli di Rumah Sakit."
"Kamu udah makan?"
"Udah tadi dibikinin bubur sama Simbok."
Adila mengeluarkan satu butir obat dan memberikannya kepada Adira. Setelah meminumnya, Adira kembali berbaring.
"Besok kamu jangan dulu masuk, biar aku mintai izin nanti."
"Tapi Dil..."
"Nggak usah bantah, pikirin kondisi kamu...itu jauh lebih penting."
Adila mengambil kompresan yang dibawa Simbok. Memerasnya dan menempelkannya di kening Adira.
"Mbok, Papah mana?"
"Pergi sama Nyonya Non."
"Dia tahu Dira sakit?"
Mbok Karni diam, menunduk, segan untuk kembali menjawab. Adila menghela nafasnya, tanpa dijawab pun dia tahu apa jawabannya.
"Dil Papah ada acara penting, tapi dia kesini kok lihat kondisi aku."
"Nggak udah bela dia, kalau dia sayang sama lu, dia nggak akan tinggalin lu dengan kondisi kayak gini."
"Dil udah jangan marah."
Adila beranjak dari duduknya, ingin rasanya dia banting semua barang yang ada disini.
"Dil...."
Adila berjalan menuju pintu kamarnya.
"Dil Kamu mau kemana?"
"Mandi, lu istirahat... Mbok tolong jagain dulu Dira."
"Iya Non."
Sampai dikamarnya, Adila masuk kedalam kamar mandi, tanpa melepas baju ya g dia pakai, ia mengguyur tubuh dengan kucuran shower yang merembes turun menyamarkan air mata yang ikut turun membasahi wajah yang penuh kesedihan bercampur kemarahan.
Gue pengen hidup normal kayak yang lain....