Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bayangan yang Semakin Nyata
Evelyn menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi markas mereka. Pupil matanya sedikit membesar saat dia mencoba mencerna semua yang terjadi dalam 24 jam terakhir. Klon dirinya—versi dirinya yang lebih kuat, lebih cepat, dan mungkin lebih berbahaya—berdiri di hadapannya tadi malam.
Apa artinya semua ini?
Dia menyentuh wajahnya, mencoba mencari perbedaan sekecil apa pun yang bisa memberinya petunjuk. Tetapi yang dia lihat hanyalah dirinya sendiri. Wanita yang selama ini bekerja tanpa lelah, menjadi sekertaris sempurna bagi Liam, hingga dia hampir melupakan siapa dirinya yang sebenarnya.
Liam.
Dia menghela napas panjang, mengingat ekspresi Liam saat mereka lolos dari laboratorium yang hancur. Lelaki itu jelas masih kesakitan, tetapi bukan hanya lengannya yang patah yang membuatnya terlihat tegang. Ada sesuatu di matanya—kekhawatiran yang tidak bisa dia sembunyikan.
Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke wastafel, lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Dia tidak bisa membiarkan pikirannya terlalu larut dalam ketakutan. Ada sesuatu yang harus dia lakukan.
Saat dia keluar dari kamar mandi, Sophia sudah menunggunya di lorong.
“Kita harus bicara,” kata Sophia dengan nada serius.
Evelyn mengangguk. Tanpa kata, dia mengikuti Sophia ke ruang rapat kecil di dalam markas.
Di dalam ruangan, Liam sudah duduk dengan lengan yang masih diperban. Wajahnya tampak lebih baik daripada tadi malam, meskipun masih ada bekas ketegangan di sana.
“Kita harus tahu apa yang sebenarnya terjadi,” Sophia memulai. “Klon itu bukan hal biasa. Itu bukan sekadar eksperimen genetika. Mereka jelas sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar.”
Evelyn menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Aku tahu. Dan aku curiga Leonard ada di balik semua ini.”
“Leonard?” Liam menyipitkan mata. “Kau yakin?”
Evelyn mengangguk. “Aku tidak punya bukti kuat, tapi firasatku mengatakan ini bukan kebetulan. Dia terlalu banyak tahu tentangku. Terlalu banyak informasi yang hanya bisa dia dapatkan jika dia memiliki akses ke sesuatu yang lebih besar dari sekadar laboratorium rahasia.”
Sophia menatap layar di meja rapat dan mengetik sesuatu. Dalam hitungan detik, beberapa berkas rahasia muncul.
“Aku sudah mencoba mencari informasi tentang proyek yang melibatkan eksperimen genetika atau kloning,” kata Sophia. “Tapi hampir semua rekam jejak digitalnya dihapus. Seakan-akan proyek ini sengaja dibuat agar tidak terlacak.”
Evelyn melipat tangan di dadanya. “Lalu, apa langkah kita selanjutnya?”
Liam, yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. “Kita harus menemukan Leonard sebelum dia menemukan kita. Jika dia benar-benar ada di balik semua ini, maka dia punya rencana besar. Dan kita tidak bisa menunggu sampai dia melaksanakan rencana itu.”
Evelyn mengangguk. “Aku setuju. Tapi kita tidak bisa bergerak tanpa strategi yang jelas. Kita butuh lebih banyak informasi.”
Sophia menatap mereka berdua, lalu berkata, “Mungkin aku tahu seseorang yang bisa membantu.”
Malam itu, mereka bertemu dengan seorang informan di sebuah bar kecil di pinggiran kota. Lelaki itu mengenakan mantel panjang, wajahnya tertutup sebagian oleh syal tebal.
“Jadi, kalian ingin tahu tentang Leonard?” suara lelaki itu terdengar serak.
Evelyn menatapnya tajam. “Kami ingin tahu apa yang dia rencanakan.”
Lelaki itu tertawa kecil. “Kalian sudah tahu jawabannya, bukan? Leonard tidak pernah melakukan sesuatu tanpa tujuan. Jika dia menciptakan klonmu, itu berarti dia sedang mempersiapkan sesuatu yang besar.”
Liam mencondongkan tubuhnya. “Seberapa besar?”
Informan itu menatap mereka satu per satu sebelum akhirnya berkata, “Cukup besar untuk mengubah dunia.”
Hening.
Evelyn merasakan tengkuknya meremang. “Apa maksudmu?”
Lelaki itu menghela napas. “Leonard tidak hanya menciptakan satu klon. Dia menciptakan pasukan.”
Evelyn menahan napas.
“Pasukan?” ulangnya.
Informan itu mengangguk. “Klon seperti dirimu. Mungkin ada puluhan. Mungkin ratusan. Dan semuanya dirancang untuk satu tujuan.”
“Tujuan apa?” desak Liam.
Lelaki itu menatapnya tajam. “Menggantikan manusia.”
Di tempat lain, jauh dari bar itu, Leonard duduk di dalam laboratoriumnya, menatap sederetan tabung kaca raksasa yang berisi tubuh-tubuh yang sedang berkembang.
Senyumnya melebar.
“Tak lama lagi,” bisiknya. “Tak lama lagi dunia akan melihat siapa yang seharusnya berkuasa.”
Di hadapannya, klon Evelyn berdiri diam, menunggu instruksi berikutnya.
Dan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.
.
.
Suasana di dalam bar menjadi semakin tegang setelah informan itu mengungkapkan bahwa Leonard sedang menciptakan pasukan klon. Evelyn mencoba mencerna informasi tersebut, tetapi pikirannya terasa berputar-putar.
“Pasukan?” ulangnya dengan suara lebih pelan, seolah kata itu sendiri terlalu berat untuk diucapkan.
Informan itu mengangguk. “Mereka bukan hanya sekadar tiruan. Mereka adalah versi yang lebih sempurna. Lebih kuat, lebih cepat, lebih patuh.”
Liam menatap Evelyn sekilas sebelum kembali fokus pada informan. “Kau tahu di mana mereka?”
Lelaki itu menyesap minumannya perlahan, seolah mempertimbangkan jawabannya. “Aku punya informasi tentang salah satu fasilitas penelitian Leonard. Tidak besar, tapi cukup untuk memberikan gambaran tentang apa yang dia lakukan.”
Sophia yang sejak tadi mendengarkan dalam diam, akhirnya bersuara. “Berikan lokasinya.”
Informan itu tertawa kecil. “Kalian pikir ini sesederhana itu? Tempat itu dijaga ketat. Bahkan kalaupun kalian berhasil masuk, kemungkinan keluar hidup-hidup sangat kecil.”
Evelyn mengepalkan tangannya. “Itu urusan kami.”
Lelaki itu menghela napas sebelum merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah flash drive kecil. Dia meletakkannya di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Evelyn.
“Itu berisi koordinatnya,” katanya. “Jangan bilang aku tidak memperingatkan kalian.”
Evelyn mengambil flash drive itu dan menatapnya sejenak sebelum menyimpannya ke dalam sakunya.
“Kita harus bergerak sekarang,” katanya dengan nada penuh tekad.
Liam dan Sophia saling bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk setuju.
Mereka bangkit dari tempat duduk, meninggalkan informan itu sendirian di sudut bar yang gelap.
Di dalam mobil, Sophia segera mencolokkan flash drive itu ke laptopnya. Layar menampilkan peta dengan titik merah yang berkedip di pinggiran kota, tepat di sebuah kawasan industri yang sudah lama terbengkalai.
“Di sinilah fasilitas penelitian itu berada,” kata Sophia, mengetik beberapa perintah untuk memperbesar tampilan peta.
Liam menyipitkan mata. “Leonard benar-benar pintar. Tempat itu cukup jauh dari pemukiman, tidak ada lalu lintas mencurigakan, dan kalau terjadi sesuatu, tidak ada yang akan menyadarinya.”
Evelyn menatap layar dengan tajam. “Kita harus mencari cara untuk masuk tanpa ketahuan.”
Sophia terus mengetik, mencoba mencari informasi lebih dalam. “Sistem keamanan tempat ini cukup canggih. Ada sensor gerak di sekeliling bangunan, patroli setiap satu jam, dan satu pintu masuk utama yang dijaga ketat.”
Evelyn berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau kita tidak bisa masuk lewat depan, kita harus mencari cara lain.”
Liam menatapnya. “Aku punya ide.”
Malam itu, mereka tiba di kawasan industri yang ditunjukkan dalam peta. Bangunan tua menjulang di antara reruntuhan, seolah-olah tempat itu telah ditinggalkan bertahun-tahun yang lalu. Namun, Evelyn tahu lebih baik.
Dari kejauhan, mereka bisa melihat beberapa pria bersenjata berjaga di sekitar gedung utama. Lampu-lampu keamanan menerangi area itu, membuatnya sulit untuk mendekati tanpa ketahuan.
Liam mengambil teropong malamnya dan mengamati sekitar. “Ada enam penjaga di luar. Tapi aku yakin lebih banyak di dalam.”
Evelyn mengangguk. “Kita harus menyelinap masuk tanpa membuat kegaduhan.”
Sophia menatap peta di layar tabletnya. “Ada jalur pembuangan air di sisi barat bangunan. Jika kita bisa masuk melalui sana, kita mungkin bisa mencapai bagian dalam tanpa menarik perhatian.”
Liam mengangguk setuju. “Ayo bergerak.”
Mereka merayap di antara bayangan, bergerak cepat dan senyap. Saat mereka mencapai jalur pembuangan air, Sophia membongkar penutup besinya dengan alat yang telah dia siapkan.
Begitu jalan terbuka, mereka masuk satu per satu ke dalam lorong gelap dan lembap itu. Bau besi karatan dan air kotor menyengat hidung mereka, tetapi mereka terus melangkah.
Setelah berjalan beberapa meter, mereka menemukan sebuah pintu besi kecil di ujung lorong. Sophia meretas sistem keamanannya dalam waktu singkat, dan pintu terbuka dengan bunyi klik pelan.
Mereka masuk ke dalam fasilitas, langsung disambut oleh koridor panjang dengan lampu-lampu redup yang berkedip.
Evelyn merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
Di ujung koridor, terdengar suara langkah kaki mendekat.
Mereka segera bersembunyi di balik tumpukan peti besar yang berserakan di sepanjang dinding.
Seorang penjaga lewat, matanya menyapu area itu dengan waspada. Tetapi setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, dia berjalan pergi.
Sophia menghela napas lega. “Nyaris saja.”
Evelyn memberi isyarat agar mereka terus bergerak. Mereka berjalan lebih dalam ke dalam fasilitas, melewati beberapa ruangan kosong dan lorong-lorong sempit.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu besar dengan sistem keamanan yang lebih kompleks. Sophia menghubungkan alat peretasnya ke panel kontrol, tetapi sesuatu membuatnya terhenti.
“Ada sesuatu yang aneh,” bisiknya.
Evelyn menatap layar yang menampilkan data aneh berisi pola gelombang yang tidak biasa.
Liam mengerutkan dahi. “Apa itu?”
Sophia mencoba menganalisisnya. “Aku tidak yakin, tapi…”
Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, pintu itu terbuka sendiri.
Mereka saling berpandangan sebelum melangkah masuk.
Dan yang mereka lihat di dalam membuat mereka terdiam.
Di tengah ruangan luas itu, ada barisan tabung kaca raksasa berisi tubuh-tubuh yang tampak identik dengan Evelyn.
Evelyn merasakan darahnya berdesir.
“Ya Tuhan…” bisik Liam.
Sophia menatap layar komputer di sisi ruangan dan membaca data yang terpampang di sana. “Ini… ini adalah proyek utama Leonard.”
Evelyn melangkah mendekati salah satu tabung kaca, menatap wajah yang begitu mirip dengan dirinya.
Tiba-tiba, suara tawa menggema di dalam ruangan.
Mereka berbalik, dan di sana, di atas platform kecil, berdiri Leonard dengan senyum puas di wajahnya.
“Kalian datang lebih cepat dari yang kuduga,” katanya dengan nada santai. “Tapi tidak apa-apa. Ini akan menjadi malam yang sangat menyenangkan.”
Evelyn mengepalkan tangannya, kemarahan dan ketakutan bercampur di dalam dirinya.
Leonard menatapnya dengan penuh kemenangan. “Bagaimana rasanya melihat versi dirimu yang lebih sempurna?”
Jantung Evelyn berdegup semakin kencang. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.