Novel ini merupakan series kedua dari Billionare Love Story. Novel pertama sudah dirilis dan sudah tamat. Tapi kehidupan Alena dengan Dave masih bisa ditemukan di novel ini.
Kali ini bercerita tentang pria kedua yang bertemu kembali cintanya yang sempat hilang karena acara pertemuan orangtuanya. Apakah Sandra dan Calvin bisa menemukan kembali cinta mereka yang sempat memudar karena perpisahan selama 13 tahun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nipi Nupu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Godaan Dean
Sandra datang terlambat ke acara yang sudah disiapkan oleh Andre itu. Ia melihat orang-orang. Banyak wajah baru disana. Ia senang komunitas yang dibuat olehnya dapat diketahui oleh orang banyak. Apalagi mereka pencinta makanan korea sama sepertinya.
Restoran Korea yang baru saja dibuka itu memang meminta Andre untuk datang meramaikan acara pembukaan disana.
"Sandra!" panggil Andre.
Pria itu mengosongkan tempat duduk disampingnya. Sandra malas. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa menolak.
"Halo!" Seru Sandra ketika memasuki ruangan itu.
"Halo.." jawab mereka serentak.
Sandra berdiri disamping Andre. Ia menatap seluruh anggota. "Banyak yang baru ya.. Kalo gitu saya perkenalkan lagi nama saya. Anneyonghaseyo.. naneun Sandra imnida. Kalo yang gak ngerti, bisa diartikan halo... nama saya Sandra." ucapnya sambil tertawa ringan.
Sandra pun duduk. Ia diberikan daftar nama peserta baru yang sudah direkap Andre. Ada beberapa peserta yang mengejutkan Sandra. Mereka masih berusia dibawah 15 tahun.
"Ini beneran umur 14 tahun?" bisik Sandra.
Andre mengangguk. "Mereka satu tempat les. Tadi aku tanya-tanya sedikit."
Sandra mengangguk-angguk mengerti.
Mereka memulai acaranya. Pertama-tama mereka memperkenalkan satu persatu, kemudian penjelasan singkat Sandra. Dan terakhir pemesanan makanan. Ketika makanan sudah tersedia di meja, ia harus menjelaskan satu persatu. Melelahkan tapi ia senang.
Sandra tengah membereskan tasnya ketika teleponnya bergetar. Dean menelponnya. Masih jam 9 malam tapi tidak masalah. Ia harus segera pergi sebelum Andre memaksanya mengantar pulang.
"Kamu dimana?" tanya Dean cepat.
"Aku masih didalem. Kamu lapar gak?"tanya Sandra.
"Mentahnya aja." jawab Dean sambil tertawa.
"Ya udah kesini dulu." ucap Sandra.
"Ngapain? Aku nunggu di mobil aja."
Sandra berdiri. "Aku duluan Dre, udah ada yang jemput."
"Siapa?" tanya Andre dingin.
"Ada pokoknya. Aku pergi ya.." jawab Sandra sambil tersenyum. Ia tahu jika Andre cemburu. Iapun berpamitan pada orang-orang yang masih bertahan disana. Iapun berjalan keluar. Ia bisa melihat mobil Calvin terparkir di halaman resto. Pintu terbuka. Dean keluar dengan menyunggingkan senyuman mautnya. Ia memang tidak setinggi Calvin, tapi wajahnya hampir serupa dengan Calvin saat ia masih sekolah menengah. Ia jadi mengingat sesuatu.
"Sandra! Cepetan!" seru Dean.
Sandra tersenyum. Dan juteknya pun sama. Iapun menghampiri Dean.
"Bisa-bisa uang bulanan ilang kalo sampe telat." serunya ketika ia mulai menjalankan mobilnya. Ia melakukan mobilnya menuju bandara.
"Kita mau kemana?" tanya Sandra bingung.
"Nanti kamu tau." jawab Dean.
Calvin menunggu di counter Starbuck yang tersedia di bandara. Ia menatap jam tangannya. Hampir satu jam ia menunggu Dean. Entah apa yang dilakukan adiknya saat ini. Ia mengeluarkan handphonenya dan menelpon Dean.
"Baru masuk. Tunggu bentar!" serunya cepat.
Calvin langsung menutup telponnya. Iapun keluar dari area Starbuck dan berjalan keluar. Dari kejauhan ia bisa melihat mobilnya tiba dengan kecepatan penuh. Jika polisi melihat ia bisa kena denda. Calvin menutup wajahnya dengan tangan kirinya.
"Dean, kita ke bandara ngapain?" tanya Sandra bingung.
"Mau ngapain lagi kalo bukan jemput Calvin. Kamu seneng kan akhirnya Calvin pulang." goda Dean.
"Apaan sih!" jawab Sandra kesal.
"Ngaku aja. Aku gak akan bilang siapa-siapa."
Sandra hanya diam. Ia melirik sekilas pada Dean.
Mobil berhenti tepat disamping Calvin. Dean membuka pintu secara otomatis.
"Surprise!" seru Dean konyol.
Sandra langsung mencubit lengan Dean. "Apaan sih Dean!" ucapnya kesal. Ia langsung turun dari mobil dan masuk kembali untuk duduk dikursi belakang.
"Kenapa harus marah sih San, aku seneng dijemput kalian." jawab Calvin jujur. Sandra langsung diam.
"Aku gak tau kalo Dean mau jemput kamu. Tau gitu aku gak minta dijemput tadi." jawab Sandra sambil menatap keluar jendela. Hatinya masih merasa dongkol. Dean membuatnya malu.
"Kalo gak aku jemput, mau gimana kamu sama laki-laki tadi yang ngejar kamu dibelakang?" tanya Dean.
"Ngejar?" tanya Sandra bingung.
"Iya, ada yang ngejar kamu tadi. Dia keliatan marah."
Calvin langsung menoleh ke belakang. "Siapa? Orang biasa?"
Sandra menatap Calvin sambil mengangguk pelan.
Calvin menghela nafas. " Udah aku kasih tau buat hati-hati. Lebih baik kamu gak usah berteman lagi sama dia."
"Cie, udah mulai overprotective nih!" goda Dean. Ia menatap Sandra dari kaca depan. "Kamu beruntung loh kalo dapet suami kayak Calvin. Duitnya banyak, cakep, mobil bagus. Siapa yang akan nolak."
Sandra tidak menjawab. Ia menoleh kembali keluar. Sedangkan Calvin tersenyum mendengar Dean menggodanya. Selama berada di Amerika, diam-diam Calvin melihat cctv kantor yang terhubung ke handphonenya. Ia dapat melihat kegiatan Sandra setiap hari di kantor. Bahkan ketika pria itu mendekati Sandra pun, ia tahu. Dan ketika Sandra menolak pria itupun ia tahu dengan pasti.
Tak lama mobil pun masuk ke halaman rumah. Rasanya Calvin ingin pergi dari rumah ini. Tapi melihat kedua orangtuanya, ia sulit sekali melepaskan diri.
Dean keluar sambil menggebrak pintu.
"Sabar woy, masih baru!" seru Calvin. Iapun membuka pintu dan turun dari mobil.
Dean berbalik ketika ia berada didepan pintu. Ia tidak melihat Sandra.
"Sandra mana?" tanya Dean.
Calvin berbalik dan melihat Sandra masih berada di mobilnya. Iapun membuka pintu mobil. Tapi karena Sandra menyandar di pintu mobil, ia ikut terbawa sehingga Calvin harus menahan tubuhnya. Ia membuka perlahan.
"Sandra, bangun." panggil Calvin. Tidak ada tanda-tanda Sandra akan bangun.
"Dean!" panggil Calvin. Tapi Dean sudah masuk kedalam rumah.
"Terpaksa aku gendong kamu! Sebenernya siapa sih yang cape?" seru Calvin kesal. Ia menatap Sandra.
Perlahan ia mulai mengangkat tubuh Sandra dengan mudahnya. Ketika masuk kedalam kamarnya, ia bisa melihat kamar Sandra penuh dengan hiasan vintage. Beberapa foto Sandra ketika masa kuliah di Korea dipajang didinding. Ada satu foto yang begitu membuatnya tertarik. Ia mendekatinya. Sebuah foto Sandra ketika jaman sekolah menengah dulu. Ia sedang duduk di kantin dengan latar belakang dirinya yang sedang berdiri sambil memegang gelas berisi minuman. Ia sendiri tidak sadar kapan mereka difoto? Tapi melihat gayanya, sepertinya mereka kelas 10. Suatu yang kebetulan tapi nyata. Ia tersenyum dan menatap Sandra yang ada digendongannya. Iapun merebahkan tubuh Sandra di ranjang.
"Sandra!!" panggil Calvin keras.
Perlahan Sandra membuka matanya. Ia terkejut ketika sedang berbaring di ranjang. Ia menatap Calvin yang sedang berkacak pinggang didepannya. Matanya membesar.
"Jadi gini cara kamu memperlakukan seseorang yang baru pulang dari luar negeri!" seru Calvin.