Faris baru saja menyelesaikan pendidikan S1. Ia direkrut untuk bekerja diperusahaan milik sepupunya dikota.
Karena belum memiliki cukup uang untuk mengontrak Rumah, Faris tinggal bersama Sepupunya Rizal Pangkubowo dan istrinya Vannesa.
Tinggal bersama sepupu dan iparnya membuat Faris merasakan dilema, bagaimana tidak? jika dirumah Faris tergoda dengan kecantikan Vanes sementara dikantor Faris mengetahui perselingkuhan Rizal.
Entah benar atau salah, Faris ingin menyelamatkan Vanes dari rumah tangga toxicnya.
Akankah Faris bisa menyelamatkan Vanes? atau malah Faris terjebak dalam rumah tangga sepupunya selamanya?
Update setiap hari, kalau suka jangan lupa like vote dan komen yaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
Faris keluar dari mobil bersama dengan Rizal. Setelah libur kerja satu hari kini mereka mulai berakfitifas kembali dikantor.
Seperti biasa, setiap pagi Nisa yang menjadi asisten Faris, selalu menunggu kedatangan Faris.
"Selamat pagi Pak Faris yang paling ganteng sendiri sekantor." sapa Nisa membuat Faris mengerutkan keningnya heran.
"Kesambet apa kamu Nis?"
"Kok kesambet sih pak, saya ini mencoba bersikap baik lho sama atasan."
Faris tertawa lalu menoyor dahi Nisa, "Nggak usah lebay, pakai bicara formal. Biasa aja Nis."
Nisa menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa pak, karena kemarin Bapak masih training jadi saya berbicara tidak formal namun karena sekarang Bapak sudah resmi jadi manager, saya harus mulai formal dari sekarang."
Faris menggelengkan kepalanya, "Terserah kamu deh Nis, pusing kepalaku lihat kelakuan aneh kamu."
Nisa tertawa, "Bapak mau dibuatkan kopi?"
Faris mengangguk, minum kopi sebelum bekerja juga ide yang bagus, "Boleh deh, kopi pahit aja."
"Siap pak, nanti kalau pas minum sambil lihatin saya biar kopinya jadi manis." kata Nisa lalu tertawa dan segera keluar pergi ke dapur.
Faris menggelengkan kepalanya tak percaya, bisa bisanya Nisa memiliki kepercayaan tingkat tinggi seperti itu padaha posisi mereka saat ini masih dibasement kantor.
Tanpa disadari, Rizal melihat keakraban antara Faris dan Nisa. Rizal yang masih merokok tampak menghampiri Faris, "Cocok kok Ris." celetuk Rizal mengejutkan Faris yang juga sedang merokok.
"Maksudnya apa mas?"
"Kamu sama Si Nisa cocok juga."
Sontak Faris tertawa, "Apa sih mas, masih belum kepikiran."
Rizal berdecak, "Dia cantik, pinter, seksi lagi. Kurang apa Ris?"
Faris tersenyum, "Kadang perasaan nggak bisa diukur sama penampilan mas."
Giliran Rizal yang tertawa, "Bener juga kamu Ris, kayak aku sama si Mira." ucap Rizal membuang rokoknya lalu menepuk bahu Faris sebelum akhirnya masuk ke dalam kantor.
"Gila, dia juga percaya diri banget banggain selingkuhannya!" kesal Faris ikut membuang rokoknya dan masuk ke dalam kantor.
Faris masuk keruangan, melihat sudah ada secangkir kopi hangat dimejanya namun tidak ada Nisa disana.
Sebelum memulai pekerjaan, Faris menyeruput kopi pahit buatan Nisa.
"Bener bener nikmat." celetuk Faris meletakan cangkir kopinya bersamaan dengan Nisa yang baru saja masuk keruangan.
"Dari mana Nis?" tanya Faris keheranan melihat raut wajah Nisa yang pucat padahal tadi Nisa terlihat sangat ceria.
"Perut saya sakit pak, lagi Pms." ungkap Nisa langsung berbaring disofa yang ada diruangan itu.
"Kenapa nggak ke klinik kantor aja, istirahat disana nggak apa apa biar kerjaan kamu, aku yang handle." Kata Faris.
Nisa menggelengkan kepalanya lemah, "Dokter sama Susternya lagi cuti pak, jadi percuma nggak dikasih obat."
"Biasanya kamu kalau lagi Pms minum obat apa? aku belikan di apotik."
Bukannya menjawab, Nisa malah tersenyum nakal ke arah Faris, "Bapak khawatir banget sama saya."
Faris menepuk jidatnya, "Ini bukan waktunya untuk bercanda Nis!"
Nisa masih tersenyum namun seketika Ia kembali meringgis kesakitan, "Saya biasanya minum kiranti pak."
"Oke sama belikan diapotik sekarang." kata Faris segera beranjak dari duduknya.
"Tunggu pak." teriak Nisa menghentikan langkah Faris.
"Ada apa?"
"Belinya ditoko sejuta umat saja pak, sama minta tolong belikan..." Nisa terlihat ragu untuk mengucapkan.
"Belikan apa?"
"Pampers wanita pak." kata Nisa dengan suara pelan lalu menunduk.
Faris melongo tak percaya, "Pembalut maksud kamu?"
Nisa mengangguk,
"Gila, malu lah!" kata Faris.
"Saya nggak ada ganti pak, nanti kalau darahnya merembes trus-"
"Oke oke, aku belikan!" potong Faris lalu keluar dari ruangan.
Faris terlihat frustasi saat sudah berada ditoko sejuta umat. Sejujurnya Ia malu untuk membelikan pembalut namun jika mengingat Nisa sangat baik padanya, Ia berusaha menghilangkan rasa malunya.
Faris mengambil asal satu bungkus pembalut lalu segera Ia bawa ke kasir. Beruntung keadaan toko sepi pembeli jadi Ia tidak terlalu malu meskipun kasir wanita tampak tersenyum geli melihatnya, Faris mencoba tidak memperdulikan.
Setelah membayar Faris membawa keluar barang yang dibeli. Ia sempat mendengar pujian dari kasir wanita itu, "Sweet banget cowoknya mau beliin pembalut."
Faris akhirnya tersenyum, Ia tak lagi malu namun bangga dengan dirinya sendiri.
Sampai dikantor, Faris memberikan barang yang Ia beli pada Nisa.
Bukannya mendapat pujian, Nisa malah protes pada Faris.
"Lah kok beli pembalut enggak ada sayapnya pak, harusnya yang bersayap dong!"
Faris mengerutkan keningnya bingung, "Kalau bersayap bisa terbang dong Nis?"
Nilam malah melongo, "Bukan sayap itu pak tapi sayap... Ah sudahlah paling Bapak juga nggak ngerti!" kesal Nisa.
"Udah pakai itu saja Nis, aku juga bingung tadi yang mana jadi asal ngambilnya."
"Iya deh pak, makasih sebelumnya." kata Nisa akhirnya.
Setelah minum obatnya, Nisa jadi lebih baik dan sudah bisa bekerja.
"Nanti pukul 2 siang ada pertemuan dengan Pak Wira." kata Nisa pada Faris.
"Siapa Pak Wira?"
"Penanam saham terbesar diperusahaan ini Pak dan juga... Eh tunggu masa Bapak nggak tahu siapa Pak Wira." heran Nisa.
Faris mencoba mengingat, nama Wira terdengar tak asing untuknya.
"Saya jadi curiga, jangan jangan Bapak ini bukan saudaranya Pak Bos!" tebak Nisa membuat Faris semakin penasaran.
"Sudah, tinggal bilang siapa Pak Wira itu!" sentak Faris.
Nisa tersenyum geli, merasa berhasil mengerjai Faris, "Pak Wira kan mertuanya Pak Rizal. Kadang saya mikir gimana kalau Pak Wira sampai tahu perselingkuhan Pak Rizal, mau jadi ada perusahaan ini tanpa saham dari Pak Wira."
Mendengar penjelasan Nisa, Faris baru ingat mertua Rizal juga bernama Wira namun Faris tak menyangka jika Wira penanam saham terbanyak diperusahaan ini.
Benar benar semakin membuat Faris kesal. Keluarga Vanes bahkan memperlakukan Rizal dengan baik namun Rizal malah berperilaku brengsek.
Setelah jam istirahat, Faris dan Nisa segera menuju ke ruang pertemuan dimana para manager sudah berada disana bersama Rizal dan tentu saja Mira yang tak akan jauh dari Rizal.
Pak Wira baru saja memasuki ruangan, kini Faris benar benar ingat sewaktu pesta pernikahan, Pak Wira lah yang mendampingi Vanes.
Pertemuan para petinggi akhirnya dimulai mereka terlihat membahas saham.
Faris hanya menyimak saja, sesekali Ia melirik ke arah Mira yang terlihat profesional tidak manja sama sekali pada Rizal, seperti yang biasa Mira lakukan saat diruang meeting.
Faris tersenyum sinis, Ia malah berharap Pak Wira tahu tentang hubungan Mira dan Rizal agar berhenti jadi penanam saham lalu Rizal bangkrut dan pasti Mira akan meninggalkan Rizal pikir Faris.
Dan sepertinya harapan Faris didengar oleh Tuhan, karena Pak Wira mengajukan permintaan yang membuat Faris tersenyum lebar,
"Kalau bisa kamu cari asisten pria saja, jangan wanita biar nggak jadi gosip negatif yang bisa merusak citra perusahaan."
Rizal tak menjawab, tampak mengangguk dan Mira yang ada disebelah Faris langsung menatap Wira dengan tatapan kesal.
Bersambung....