NovelToon NovelToon
Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Luka Hatiku, Aku Kembalikan Padamu

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Teman lama bertemu kembali / Orang Disabilitas / Romansa pedesaan / Tamat
Popularitas:64.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

"Mumpung si tuli itu tidur, kamu harus mengambil barang berharganya." Ucap seorang wanita tua dengan dandanan menor yang sedikit menggelikan.

"Benar itu Mas, sebelum kamu beraksi pastikan alat pendengarnya sudah kamu buang." Ucap seorang gadis muda yang tidak kalah menor dari wanita yang ternyata Ibunya.

"Baiklah, kalian jaga pintu depan."

Suara dari dua wanita dan satu pria terdengar lantang untuk ukuran orang yang sedang merencanakan rencana jahat di rumah targetnya. Tapi siapa yang peduli, pikir mereka karena pemilik rumah adalah seorang wanita bodoh yang cacat.

Jika bukan karena harta kekayaannya, tidak mungkin mereka mau merendah menerima wanita tuli sebagai keluarganya.

Candira Anandini nama wanita yang sedang dibicarakan berdiri dengan tubuh bergemetar di balik tembok dapur.

Tidak menyangka jika suami dan keluarganya hanya menginginkan harta kekayaannya.

"Baiklah jika itu mau kalian, aku ikuti alur yang kalian mainkan. Kita lihat siapa pemenangnya."

UPDATE SETIAP HARI!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Yang Ditunggu

Pagi itu udaranya terlalu cerah untuk sesuatu yang akan hancur. Matahari naik perlahan, menyinari tenda yang kini sudah dihias penuh bunga melati dan kain berenda. Suara musik dangdut pelan terdengar dari pengeras suara, sekadar pemanasan sebelum para tamu undangan berdatangan.

Di halaman rumah Juragan Karsa, orang-orang mondar-mandir dengan wajah sibuk dan senyum dipaksakan.

Mirna duduk di depan cermin rias sejak subuh. Kebaya pengantin masih tergantung rapi, belum dia kenakan. Tangan kanannya gemetar saat meraih lipstik, lalu meletakkannya kembali.

"Kenapa, Mbak?" Tanya perias dengan lembut. "Dari tadi kelihatan pucat."

"Enggak apa-apa." Jawab Mirna cepat. "Hanya kurang tidur saja."

Padahal Mirna tahu, ini bukan soal kurang tidur atau kelelahan. Tapi karena sejak tiga hari yang lalu, dadanya terasa sempit. Bayanganan lama muncul tanpa diundang. Lorong rumah sakit berbau obat, suara derit pintu besi ditutup. Teriakan yang dia pikir sudah lama terkubur rapat oleh suap. Mirna menggeleng, seakan bisa mengusirnya.

Sedangkan di rumahnya, Dira berdiri di depan lemari kayu jati. Dia tidak memakai kebaya, tidak pula gaun pesta yang mewah. Dira memilih kemeja putih sederhana dan rok hitam semata kaki. Rambutnya diikat rapi, seperti orang yang akan interview pekerjaan. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang akan datang membawa badai.

Di meja rias samping lemari, dua buah USB tergeletak berdampingan. Yang pertama berisi bukti-bukti masa lalu Mirna, yang kedua kejutan inti. Adalah kartu terakhir yang akan dia keluarkan hanya jika memang benar-benar diperlukan.

Tapi...

Bukan dia sendiri yang akan memberi kejutan pada Mirna. Dira sedang menunggu tamu pentingnya.

Setelah menunggu beberapa menit, sebuah mobil putih memasuki halaman rumahnya. Sepasang suami istri paruh baya, dan seorang anak kecil yang... seperti tidak normal saat berjalan.

"Sudah datang rupanya, mari silahkan masuk. Istirahat dulu, makan dulu." Ucap Dira sambil tersenyum ramah.

"Terima kasih Mbak Dira, tidak perlu repot." Ucap Ibu itu.

"Bagaimana perjalananya, apakah mengalami kendala?" Tanya Dira memastikan tamunya nyaman.

"Tidak ada kendala apa pun, Pak Firman dan Pak Bagas sudah memberi tahu semua hal. Termasuk meminta kami memberikan kesaksian atas perbuatan buruk Mirna di masa lalu." Ucap yang Pria.

"Bukti-buktinya ada pada saya, Anda tinggal membenarkan." Ucap Dira.

Kedua orang itu bernama Pak Usman dan Bu Dinda dari Jogjakarta dan anaknya bernama Naufal.

"Mau berangkat sekarang?" Tanya Dira.

"Iya, sekarang saja. Lagipula sudah siang, kasihan Naufal kalau kelelahan." Ucap Bu Dinda menatap putranya.

Dira mengangguk kemudian memasukkan USB ke dalam tas kecil, lalu melangkah keluar rumah bersama tamunya.

Sementara tamu-tamu juga mulai berdatangan di tempat acara pernikahan. Erlangga sudah duduk di pelaminan, mengenakan beskap hitam dengan wajah datar tanpa senyuman sedikit pun. Matanya sesekali mencari-cari ke arah pintu masuk, seperti menunggu sesuatu yang akan menjadi keputusannya.

Mirna akhirnya keluar dari kamar. Kebaya putih gading membalut tubuhnya, riasan menutupi kegelisahan yang masih berusaha lolos lewat sorot matanya. Tepuk tangan meriah menyambutnya, dan kamera-kamera ponsel mulai terangkat. Semua tampak indah di permukaan.

"Alhamdulillah." Bisik Juragan Karsa bangga. "Akhirnya keponakan kita menikah juga." Ucapnya kepada Istri di sampingnya.

Namun, di antara kerumunan tamu, sebuah kehadiran membuat udara berubah.

Dira bersama ketiga tamunya sekaligus saksi kunci masa lalu Mirna, melangkah masuk tanpa suara berlebihan. Beberapa orang yang mengenalinya mulai berbisik, lebih tepatnya bertanya-tanya.

"Itu Dira, kan?"

"Yang membeli rumah Mbah Wingit?"

“Yang bangun tembok tinggi itu?”

"Tapi, dia datang dengan siapa? Apakah keluarganya yang dari kota?"

Mirna melihatnya.

Seketika, dunia seperti berhenti berputar. Wajah Mirna memucat. Tangannya mencengkeram kain kebaya sampai buku-bukunya memutih dan keringat membanjiri tubuhnya.

"Mas…" Bisiknya pada Erlangga. “Dira datang, apa kamu sengaja mengundangnya?"

Erlangga menoleh. Pandangannya bertemu dengan mata Dira. Ada sesuatu di sana bukan amarah, bukan kebencian. Tapi keyakinan yang membuatnya merinding.

Bahwa, Dira tidak mungkin datang dengan tangan kosong. Apalagi terhadap orang yang melukai harga dirinya.

"Apa kamu datang untuk membantuku?" Gumam Erlangga dalam hati kecilnya.

Sebuah keyakinan yang tiba-tiba datang di saat dia sudah mulai putus asa atas hidupnya.

Sebelum prosesi ijab kabul dilaksanakan, Dira perlahan mengayunkan langkah mendekat. Bukan ke pelaminan, melainkan menghampiri pembawa acara di samping panggung.

"Maaf." Ucap Dira sopan. "Saya ingin memberikan hadiah pernikahan secara langsung. Ada sedikit dokumentasi yang perlu ditayangkan. Tidak lama." Lanjutnya.

MC tampak menatap bingung. "Dokumentasi?"

"Iya." Jawab Dira tenang. "Atas permintaan pribadi mempelai perempuan… dulu." Suara Dira terdengar sangat meyakinkan.

Nada suaranya datar, tapi cukup untuk membuat MC ragu menolak. Apalagi beberapa tamu sudah memperhatikan.

"Baik… sebentar." Kata MC akhirnya meskipun sebenarnya masih setengah ragu.

Mirna mendengar semua ucapan Dira, membuat jantungnya berdegup sangat keras.

"Tidak!" Serunya tiba-tiba, membuat semua orang menoleh. "Tidak perlu! Hadiah bisa nanti saja!" Ucapnya.

Dira menoleh ke arah Mirna. "Kenapa, Mirna?" Tanyanya pelan, tapi mikrofon sudah terlanjur menangkap suaranya. "Bukankah kamu bilang, semua orang berhak tahu kebenaran, saat kamu mengolokku yang tidak bisa mendengar?"

Kata kebenaran menggantung di udara, berat dan mengancam jiwa Mirna.

Erlangga berdiri. "Dira katakan! Kebenaran tentang apa? Kenapa baru sekarang?"

"Kebenaran tentang siapa wanita yang akan kamu nikahi." Jawab Dira, menatap Erlangga dengan mata jujur. "Bukan karena aku ingin membantumu, atau ingin merusak kebahagiaan Mirna. Tapi ketiga orang itu berhak mendapatkan keadilan yang selama ini dibungkam oleh kekuasaan." Lanjut Dira.

Keributan mulai terdengar. Juragan Karsa bangkit dari kursinya, wajahnya merah.

"Cukup!" Bentaknya. "Saya tidak izinkan keributan ada di acara ini!"

Dira mengangguk pelan. "Saya mengerti, Pak. Karena itu, saya hanya akan memutar satu video. Lima menit. Setelah itu, saya pergi."

Dira mengeluarkan USB dari tasnya.

Mirna mundur selangkah dengan gemetar. Dunia kembali berputar terlalu cepat. Nafasnya memburu, keringat dingin keluar.

Semua yang dia kubur bertahun-tahun lalu, semua yang dia pikir sudah terbakar habis, kini berdiri tepat di depan matanya.

"Jangan…" Bisiknya, nyaris tak terdengar.

Dira menatap proyektor di samping pelaminan yang kini menyala perlahan. File pertama siap untuk diputar.

Di detik sebelum video dimulai, Dira berkata pelan, namun jelas.

"Ini bukan tentang saya. Ini tentang kebenaran yang terlalu lama dikurung dengan sebuah narasi manipulatif."

Layar besar itu menjadi terang.

Sebuah kebenaran yang kini bisa disaksikan banyak orang, tanpa punya kesempatan untuk memutar balikkan fakta.

Dan di pesta pernikahan Mirna. Dalam satu tarikan napas, berubah menjadi ruang pengadilan tanpa hakim.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Arin
/Heart/
Putrii Marfuah
menjauh Dari yang selalu membuat Luka, bukan kalah tapi agar tetap waras
Lienaa Likethisyow
semoga bahagia selalu ya kalian👍👍dan tetap semangat..makasih thor atas ceritanya🙏🙏
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
akhir yang bahagia walaupun tidak semulus jalan tol
Ita rahmawati
maksudnya selesai ini beneran tamat kah 🤔
padahal sedang suka sukanya baca kisah si mbim 😂
Ita rahmawati
pilihan yg udh bener minim,,jgn terus lari to coba bertahanlah mungkin kamu akan menemukan kebahagiaan 🤗
mbim panggilan yg manis menurutku 😂
Ita rahmawati
ayo tuan muda berjuanglah temukan arimbi
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semoga arimbi berjodoh sama tuan muda ya thor
Ita rahmawati
Arimbi 😔
Pawon Ana
yang terpenting adalah menerima diri sendiri tanpa kata" seharusnya atau tapi atau seandainya"
biarkan semua berjalan sebagai bagian dari alur yang memang harus dijalani
jangan menghindar atu menjauh, rasakan setiap rasa yang datang, marah kecewa kesal sakit hati sebagian bagian dari alur
sulit memang tapi justru itu membuat kita nyaman karena kita jujur .✌️💪
Pawon Ana
tidak ada seseorangpun yang bisa hidup sendirian,kita hanya mengira kita merasa aman jika sendiri tapi kita terkadang lupa kita butuh seseorang untuk tempat pulang,
Lienaa Likethisyow
mantap...👍👍👍👍..lanjut thor ...💪💪💪
Pawon Ana
aku juga tahu bagaimana rasanya dianggap tidak pernah cukup,terkadang memilih diam bukan karena mereka benar hanya saja terlalu lelah untuk berjalan memenuhi ekspektasi mereka
Pawon Ana
aku juga tahu bagaimana rasanya hidup dibawah tatapan orang lain dinilai disimpulkan tanpa pernah dipahami,dan dituntut menjadi sesuatu tanpa pernah ditanya.✌️ sangat tidak nyaman💪
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Setiap manusia memiliki perjalanan yang panjang dalam hidupnya. Ada awal, ada proses, dan pada akhirnya selalu ada yang disebut pulang. Kata “pulang” bukan hanya sekadar kembali ke rumah secara fisik, tetapi juga memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia dapat dimaknai sebagai perjalanan spiritual, emosional, maupun sosial. Pulang selalu identik dengan kerinduan, kenyamanan, serta pengingat bahwa ada tempat yang menerima kita dengan apa adanya.
Dalam budaya Indonesia, konsep pulang seringkali dikaitkan dengan kampung halaman, keluarga, dan akar identitas. Pulang bukan sekadar aktivitas berpindah tempat, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Pulang bisa berarti kembali pada nilai, kembali pada Tuhan, kembali pada diri sendiri, atau bahkan kembali pada tujuan hidup yang sejati.
Pulang memiliki makna universal, tetapi setiap individu menginterpretasikannya dengan cara yang berbeda. Ada yang memaknai pulang sebagai sebuah perasaan lega setelah perjalanan panjang, ada yang melihatnya sebagai jalan kembali ke akar budaya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai pertemuan kembali dengan diri yang hilang. Makna pulang selalu melekat dengan rasa aman, damai, dan penerimaan...😊👍💪
Pawon Ana
bagus ceritanya, narasinya tertata, bahasanya halus, ini lebih ke konflik psikologis ya ....
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Lienaa Likethisyow
sesak rasanya/Sob//Sob/
Pawon Ana
terkadang juga kita memilih diam karena sadar tidak mungkin menjelaskan pada semua orang untuk bisa memahami,diam atau bicara itu sebuah pilihan.
Putrii Marfuah
maaf y Thor, gak niat numpuk, tapi lagi repot ama pesanan. JD gak bisa full . pas senggang ,playing bisa 1 bab
Erchapram: Alhamdulilah rejeki memang gak kemana
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!