Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membungkam Raziel Dengan Fakta
Sorot mata Raziel yang ditujukan pada Alina seketika berubah menjadi tajam, seolah ia bisa membunuh gadis itu hanya dengan tatapannya.
“Kau~, pasti kau yang telah mengambil surat kepemilikan milikku!” tuduh Raziel.
Mendengar itu Alina menunjuk dirinya sendiri, “aku yang mengambilnya?” ujarnya. “Bagaimana mungkin aku mengambil sesuatu, sedangkan aku baru tina di tempat ini?~”
“Bukan hanya baru tiba, tapi aku bahkan berjarak sejauh ini denganmu. Jadi, bagaimana mungkin aku mengambil milikmu?!" lanjutnya.
Mendengar itu Raziel mendengus marah. “Buktinya kau memiliki bukti-bukti kepemilikan ladang dan rumah kayu, sementara seharusnya barang bukti itu ada di tanganku, yang mana sebelumnya semua itu diserahkan oleh adikku sendiri ke tanganku ini!”
Adik yang dimaksud Raziel tentu saja Elena, anak yang pernah tertukar dengan Alina.
“Tuan Raziel yang terhormat, barang bukti yang ada di tangku, sejak awal semua itu sudah ada di tanganku, dan aku mendapatkannya sejak tiba di tempat ini, bukannya mengambil apa yang sebelumnya milik Tuan~”
“Lagipula bukti-bukti berupa surat yang ada di tanganku, semua surat kepemilikan tempat ini atas namaku, bukan atas nama orang lain, dan itu semakin membuktikan kalau semua ini memang milikku, bukan milik Tuan!” tegas Alina tak gentar dengan tatapan tajam Raziel.
“Jelas-jelas tanah dan rumah ini milik adikku, warisan yang diberikan padanya. Jadi sebaiknya kau jangan mengakui apa yang bukan milikmu!” bentak Raziel.
“Hah, jadi Tuan tetap menginginkan semua ini?” ujar Alina.
Melihat sosok Alina yang melunak, Raziel semakin angkuh. “Ya, aku menginginkan apa yang diwariskan pada adikku!” tegasnya.
“Kalau begitu aku juga menginginkan semua yang diwariskan oleh nenek padaku! Rumah, perusahaan, mobil mewah, tabungan, juga beberapa tanah yang ada di ibukota! Semua itu jelas diwariskan padaku, dan kalau Tuan menginginkan tempat ini dengan alasan warisan, aku juga menginginkan warisanku, itu baru adil!”
Alina bukan orang bodoh, dan dia juga bukan orang yang begitu saja mau tunduk pada sembarangan orang, apalagi pada orang yang salah.
Suaranya barusan begitu jelas terdengar, dan ia hampir menertawakan ekspresi Raziel yang tampak sangat terkejut, tak menyangka kalau ia tau tentang semua warisan itu.
“Tuan Raziel, pengacara nenek sendiri yang menyampaikan tentang warisan itu padaku, dan kalau aku ingin, sebenarnya aku bisa saja mengambil semuanya, sebab nenek sejak awal sudah tau kalau aku bukanlah cucu kandungnya, tapi ia tetap mewariskan semua itu padaku, dengan alasan sebagai bekal jika sewaktu-waktu aku terusir dari rumah. Bukti itu ada, dan bukan sekedar lewat kata-kata, melainkan ada video nenek yang menyampaikan pesan terakhirnya, pesan tentang pembagian harta benda miliknya!”
Ucapan Alina begitu jelas, berhasil membungkam Raziel yang kini hanya sanggup berdiri mematung di tempatnya.
Awalnya ia ingin mendapatkan sebanyak-banyaknya keuntungan dari tanah luas yang diwariskan ke adiknya, walau sebenarnya ia sedikit ragu dengan barang bukti yang saat itu ditunjukkan Elina padanya.
Tetapi setelah dengan berbagai cara Elina meyakinkannya, akhirnya ia percaya dengan keaslian bukti-bukti itu, dan hari ini ia datang untuk mengambil warisan adiknya.
Sayangnya fakta berkata lain. Bukannya untuk, yang ada ia justru dikuliti oleh Alina, bahkan barang bukti itu hilang secara misterius, dan sebenarnya ia tau pasti barang bukti tidak pernah diambil oleh Alina ataupun oleh penduduk Desa.
Tak lagi sanggup berdebat, Raziel memilih pergi, dan soal harta yang diwariskan oleh neneknya pada Alina, ia ingin cepat-cepat membicarakan semuanya dengan keluarga di rumah, supaya mereka bisa mencegah Alina mendapatkan warisan miliknya.
Pengawal segera membukakan jalan untuk mobil yang membawa Raziel.
Sebenarnya penduduk Desa ingin melemparkan kotoran ke mobil mega Raziel, tapi Raka yang datang telat waktu, cepat ia menghentikan aksi penduduk Desa, dengan begitu tidak ada permasalahan yang terjadi antara penduduk Desa dengan keluarga Kalingga.
Setelahnya, penduduk Desa yang memastikan Alina tidak apa-apa bahkan ikut senang karena gadis itu kini memiliki kendaraan untuk bepergian, satu per satu penduduk Desa mulai membubarkan diri, menyisakan Raka, Pak Leman, Pak Wira, Bu Ratna, dan Bu Azizah, istri Pak Leman.
“Nak Alina, sebenarnya barang bukti yang dibawa oleh putri keluarga Kalingga itu bukti palsu, sama sekali tidak memiliki nilai kekuatan hukum! Kalaupun tidak hilang, bukti-bukti itu tidak akan sah di mata hukum, berbeda dengan bukti di tangan Nak Alina yang seratus persen asli, dikarenakan sejak awal tempat ini memang milik keluarga Nak Alina, dan tentunya sekarang jatuh ke tangan keturunan mereka, bukannya jatuh ke tangan orang lain!” jelas Pak Leman.
“Oh iya, kenapa barang bukti di tangan wanita itu bisa berupa bukti palsu? Apa Bapak sejak awal sudah tau kalau dia itu bukan anak kandung ayah dan ibu saya?” tanya Alina penasaran.
“Nak Alina, waktu kamu lahir, aku ini salah satu orang yang pernah memandikanmu, dan aku pernah melihat tanda lahir di bahu tangan kirimu, dimana tanda lahir itu tidak terlihat di tempatnya seminggu sebelum kami tau kalau di memang bukan kamu,” ucap Bu Azizah, dimana ia adalah salah satu orang yang membesarkan Elina saat masih tinggal di desa.
Dikarenakan banyaknya wanita desa yang merawatnya, Elina bahkan jarang pulang ke rumah, apalagi merawat ladang.
Jadi, wajar Alina mendapati rumah kayu dan ladang tidak terawat saat ia baru tiba di Desa.
“Nah, sejak hari dimana aku yakin dia bukan putri dari dua orang yang sangat berjasa pada Desa ini, di malam itu juga aku mengambil surat-surat yang asli, menyimpannya di tempat aman, dan cepat menggantinya dengan surat-surat palsu yang hampir mirip, tapi sama sekali tidak memiliki kekuatan hukum,” jelas Pak Leman, dan ia juga menjelaskan kalau surat asli dikembalikan ke tempat asalnya, dimana akhirnya Alina menemukan surat-surat asli itu di lemari tua rumah kayu.
Mendengar penjelasan yang begitu detail, Alina sekarang mengerti apa yang sebenarnya terjadi, dan ia sangat-sangat berterimakasih pada keluarga Kepala Desa yang telah mengambil tindakan sangat cepat.
Kalau saja mereka memilih tidak peduli pada apa yang terjadi. Sudah pasti Alina akan kehilangan warisan kecil orangtuanya.
Dikarenakan hari semakin sore dan hujan mulai turun. Mereka yang sebelumnya masih tinggal di rumah Alina, mereka pamit pulang termasuk Raka, yang mana sebenarnya rumah Raka bisa terlihat jelas dari ujung ladang Alina, sebuah rumah tiga lantai yang tersembunyi di balik pepohonan, dimana itu bisa dikatakan sebagai rumah terbesar di Desa.
Setelah semua orang pergi, Alina memasukkan motornya ke dalam rumah, lalu ia mengunci pintu rapat-rapat, memastikan tidak ada orang asing memasuki rumahnya, apalagi ia tinggal sendirian di ujung Desa, dekat dengan perbatasan Desa lain, tapi ada ladang milik Desa lain yang membuat rumah kayu mungil itu terasa jauh dari rumah lainnya.
“Sepertinya aku tidak akan pernah lepas dengan segala yang berhubungan dengan keluarga itu, keluarga Kalingga!” gumam Alina, bertepatan dengan itu hujan di luar turun semakin deras, membuatnya justru merasa tenang di tengah cuaca hujan.