NovelToon NovelToon
Asmara Gadis Mafia × Ketua OSIS

Asmara Gadis Mafia × Ketua OSIS

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Ketos / Mafia / Tamat
Popularitas:8M
Nilai: 4.8
Nama Author: Rara Tania

Diusir dari rumah tak membuat Halley melemah. Justru sebaliknya, semenjak diangkat oleh sebuah keluarga kaya, gadis itu kini menjadi gadis lain yang sangat kuat, dingin, dan kejam apalagi sejak ia menjadi leader dari Black Devil. Dia menjadi BAD GIRL!

Lulus SMA, gadis yang mengubah nama menjadi Camilla itu malah mengulang sekolah lagi. Hingga takdir mempertemukannya dengan sahabat kecil, keluarga kandungnya, sekaligus musuhnya. Tak lepas dari itu, hadirlah seorang ketua OSIS tampan yang sangat Camilla benci nyatanya berhasil mengubah kehidupan gadis itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara Tania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Yang Paling Menyedihkan.

Keesokan harinya. Kakek Jae sedang duduk sendiri di ruang depan sambil meminum teh hangat. Nenek Agy menemani Halley di kamarnya. Sementara Papa Harchan menemani James di kamarnya.

"Permisi, Tuan. Ada kiriman surat dari Nyonya Zherra, tapi tidak ada alamatnya." Pelayan itu menaruh sebuah amplop cokelat di atas meja, lalu segera pergi. Mata Kakek Jae membulat mendengar kata 'Nyonya Zherra'.

"Menantuku!" Kakek Jae segera membuka amplop itu. Tertera selembar kertas putih yang dilipat di dalam amplop. Kakek Jae mengambil kertas itu dan membukanya.

Lagi-lagi mata Kakek Jae yang berkeriput itu membulat sempurna, ia tak percaya dengan surat di tangannya.

Surat Perceraian

Dirinya sungguh dibuat kecewa oleh menantunya tatkala melihat sebuah tanda tangan atas nama Azalya Zherra Remira. Menantunya hilang tanpa pamit, tiba-tiba mengirimkan surat perceraian. Kakek Jae benar-benar kecewa, sangat kecewa.

Ia melepas kacamatanya, mengusap sudut matanya yang basah. Lalu mengambil handphonenya dan menelepon orang suruhan Harchan untuk menghentikan tugasnya.

"Jevy!" Panggilnya pada kepala pelayan.

"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Bi Jevy.

"Panggilkan anggota keluarga!" Pinta Kakek Jae singkat. Bi Jevy menundukkan tubuhnya lalu pergi ke kamar Halley dan James untuk memanggil anggota keluarga Renaga yang ada di sana.

"Ada apa, Pa?" Tanya Harchan pada Kakek Jae. Ia duduk di sofa depan Kakek Jae. Nenek Agy duduk di sebelah Kakek Jae. Sementara Halley dan James duduk di samping Harchan.

"Baca surat itu!" Pinta Kakek Jae dengan suara lirih, membuat semua mengernyitkan dahinya kebingungan. Dengan segera Harchan mengambil dan membaca surat itu.

Deg!

Jantungnya serasa ditusuk pisau. Hancur sudah pertahanannya, ia menangis, air matanya mengalir deras. Tapi Harchan tetap berusaha tegar.

"TIDAK MUNGKIN, PA! INI TIDAK MUNGKIN! INI PASTI SURAT PALSU!!!" Demi Tuhan, Kakek Jae dan Nenek Agy baru pertama kali melihat putra semata wayangnya menangis setelah lulus SD.

Halley dan James semakin kebingungan dengan tangisan Papanya. Mereka pun membaca surat yang tadinya di pegang Harchan.

Deg!

Begitupun dengan mereka. Mereka kecewa, sangat kecewa. Selama dua hari ini mereka menangisi hilangnya Mamanya. Tapi tak disangka Mamanya justru memberi surat perceraian, berpisah dengan mereka. Mereka ikut menangis, menangis kecewa terhadap Mamanya. Begitu juga Nenek Agy setelah membaca surat itu.

Tapi bagaimana pun juga, Zherra tetaplah Mamanya. Halley dan James tetap mencintai Zherra sebagai seorang ibu. Mereka hanya kecewa saja. Begitupun yang dirasakan Harchan, Kakek Jae, dan Nenek Agy.

"Papa jangan menandatangani surat ini!" Pinta Halley dan James bersamaan.

Harchan mengangguk, "Sampai kapanpun Papa tidak akan pernah menandatangani surat ini, Mama kalian tetap istri sah Papa. Papa berani bersumpah!" Harchan memeluk kedua anaknya yang juga menangis itu.

***

"Begitu, Caitlin." Kata Halley setelah curhat kepada Caitlin. Ya, saat ini Caitlin sedang berada di kamar Halley. Vera sedang menenangkan Harchan di ruang depan.

Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu yang sangat keras membuat Halley dan Caitlin mengalihkan pandangannya. Halley membuka pintu kamarnya. Seorang pelayan dengan wajah panik itu menitikkan air mata.

Halley mengernyitkan dahinya, "Ada apa, Bi?" Tanyanya.

"Tuan Jae dan Nyonya Agy..." Halley membulatkan matanya mendengar perkataan pelayan itu. Ia segera berlari ke lift dan menuju ruang keluarga. Disusul oleh Caitlin dan pelayan itu.

Nampak di sana, pasangan tua memejamkan matanya di sofa. Dengan dua cangkir kopi yang sudah setengah diminum di atas meja. Dilihat-lihat, dada dua orang tua itu tidak bergerak, artinya..

"KAKEK! NENEK!" Halley sekuat tenaga mengguncangkan tubuh kakek neneknya itu. Tapi hal itu tidak dapat membangunkan mereka. Halley mendekatkan jarinya pada lubang hidung kakek neneknya bergantian. Tidak terasa hembusan nafas.

"PAPA! MAMA!!!" Harchan berlari ke arah orangtuanya yang sudah tak bernyawa itu. Disusul oleh James, Vera, dan Caitlin. Para pelayan pun mengerubungi mereka, turut berduka atas kematian majikannya.

***

Setelah pemakaman.

Semua orang di rumah besar keluarga Renaga berduka. Sebagian besar pelayat sudah meninggalkan rumahnya.

"Hari ini adalah hari yang paling menyedihkan !" Harchan tak henti-hentinya menangis. Hari ini ia mendapat permintaan cerai dari istri tercintanya sekaligus kehilangan orangtua tersayangnya selamanya.

"Kau harus tabah, Harchan! Orangtuamu pasti tenang di sana.." Vera terus mengelus punggung Harchan supaya cepat tenang. Sementara Halley ditenangkan oleh Caitlin di kamarnya. James hanya melamun di samping Harchan.

Vera menggenggam tangan kiri Harchan, "Kau harus kuat! Okey?" Harchan menoleh ke arahnya, ia tersenyum.

"Terimakasih kau sudah ada di saat seperti ini!" ucap Harchan.

***

Di kamar Halley.

"Halley, jangan menangis terus. Kakek nenekmu pasti tenang di sana!" Caitlin tak henti-hentinya menenangkan Halley yang terus menangis itu.

"Kau bisa alihkan perhatianmu dulu, Halley. Mungkin bisa bermain apa gitu.. Jangan terus menangis seperti ini..." Halley perlahan menghentikan tangisannya.

"Bermain ya?" Caitlin mengangguk dan tersenyum.

"Bagaimana jika kita bermain Sally's Spa di handphone milikku?" Kata Halley memberi saran.

"Tentu saja, aku tau game itu. Aku juga sering memainkannya di handphone Mama." Mendengar kata 'Mama ', Halley jadi teringat Zherra. Wanita yang pergi tanpa pamit, menghilang entah kemana, dan tiba-tiba mengirimkan surat perceraian. Ia kembali bersedih.

"Ehm, baiklah. Aku ambil handphoneku dulu." Halley beranjak dari sofa. Ia mengambil handphone miliknya di atas laci meja tempat ia menyimpan surat teror. Namun ia mengabaikannya. Zherra menghilang, bukan celaka karena orang yang meneror, tapi karena keinginannya bercerai, pikirnya.

"Ini!" Halley kembali duduk di samping Caitlin. Ia menyalakan handphone miliknya dan membuka aplikasi game yang diinginkan.

"Lin, aku ke toilet sebentar ya!" Caitlin hanya mengangguk, lalu Halley bergegas ke toilet untuk buang air kecil.

Caitlin tersenyum kecil. Ia menutup aplikasi game itu sementara, lalu mengotak-atik handphone Halley sesuai rencana. Setelah selesai, ia kembali membuka aplikasi game dan mulai memainkannya.

***

"Tuan, setelah diperiksa, ternyata ada racun dalam minuman kopi yang sempat diminum oleh almarhum. Almarhum meninggal karena meminum racun dalam kopi itu, Tuan." Jelas salah satu orang suruhan Harchan.

Harchan mengernyitkan dahinya, "Apa itu sudah pasti ada racun dalam kopi yang diminum Papa Mama?" Tanyanya memastikan.

"Iya, Tuan. Kami sudah memeriksanya berulang kali, tapi hasilnya tetap sama."

"Artinya ada orang yang memberi racun pada kopi Papa Mama?" Tanya Harchan kembali memastikan.

"Benar, Tuan."

Harchan menggenggam erat jarinya, tanda marah. "Kemungkinan besarnya pelayan yang membuat kopi itu yang melakukan semua ini."

"Benar, Tuan. Apa perlu saya membalas perbuatan yang serupa padanya?" Tanya orang itu.

Harchan berpikir. Seharusnya memang nyawa dibayar nyawa, ingin sekali ia membalas itu pada orang yang telah melakukan ini semua. Tapi ia masih punya hati, apalagi para pelayan rata-rata sudah berumur, sudah tua.

"Tidak. Pecat semua pelayan di sini. Cari yang lain lagi!"

"Semua, Tuan?" Tanya orang itu memastikan. Harchan mengangguk. "Jangan lupa beri gaji sebulan untuk semuanya!"

"Siap, Tuan." Orang-orang itu meninggalkan tempat. Lalu melaksanakan tugas sesuai perintah. Mau tidak mau, para pelayan menuruti perintah majikan, tidak dapat mengelak. Toh, gaji sebulan juga sangat banyak.

Harchan mengusap kasar wajahnya. Ia menghembuskan nafas kasar.

"Apa salahku?"

***

"APA?! Ada yang memberi racun pada kopi kakek nenek?" Teriak Halley kaget. James hanya mengangguk.

"Ya Tuhan..." Halley mengusap wajahnya kasar. Ia segera keluar rumah, hendak pergi ke pemakaman kakek neneknya.

"Halley, mau kemana?" Tanya Harchan saat Halley melewati ruang depan.

"Mau mengunjungi kakek nenek!" Halley terus berjalan, lalu ia meminta supirnya untuk membawanya ke pemakaman kakek neneknya.

Sampai di pemakaman, ia menghampiri dua gundukan yang masih basah, tandanya belum lama ini kakek neneknya dikubur. Halley bertekuk lutut, ia mengusap batu nisan.

"Ada yang berani bermain dengan Kakek! Aku tidak akan tinggal diam, Kek. Aku akan membalasnya, Kek. Aku akan cari tau orangnya. Aku berjanji akan membalasnya, Kek. Hiks.. Hiks.." Halley menangis.

"Aku curiga, Kek. Dengan orang yang menerorku waktu di rumah Kakek. Sampai sekarang tidak ada teror lagi, yang ada hanya kesedihan, Kek. Kami berduka... Hiks.. Hiks.."

Setelah cukup lama menangis dan menabur bunga yang sempat dibelinya sebelum masuk pemakaman, Halley kembali pulang.

***

"Caitlin, bisa kau menginap di sini menemaniku?" Tanya Halley.

"Ehm, tentu saja jika boleh." Jawab Caitlin tersenyum.

Setelah meminta izin pada Vera dan Harchan, Caitlin kembali ke kamar Halley.

"Harchan, bolehkah aku menginap disini semalam saja? Untuk menemani Caitlin." Tanya Vera berharap pada Harchan yang duduk di sampingnya itu.

Harchan mengangguk, "Tentu saja, di ruang tamu yang itu saja. Dekat dengan kamar Halley." Katanya.

***

Malam harinya.

"Halley, aku ke kamar Mamaku dulu ya." Kata Caitlin yang hanya dijawab anggukan oleh Halley. Caitlin bergegas ke kamar tamu tempat Mamanya tidur.

Beberapa menit kemudian, "Kenapa Caitlin lama sekali?" Halley melirik ke pintu kamarnya, menunggu kedatangan Caitlin supaya bisa tidur bersama.

Karena tidak ingin menunggu lama lagi, Halley menyusul Caitlin ke kamar tamu. Sebelum mengetuk pintu. Halley mendengar pembicaraan antara ibu dan anak itu dengan jelas, pasalnya kamar itu tidak kedap suara.

Emosi Halley bercampur aduk mendengar percakapan mereka. Antara marah, kecewa, sedih. Halley benar-benar marah.

.

.

.

maaf kalau di chapter ini kerasa agak ngebut wkwk. sengaja, biar segera masuk ke konflik awal.

1
Renjani Soraya
pertnyaan ny emng msih muat tuh sepatu thor.. author mah kadang" ya wkwkw
Shinta Dewiana
nyesal apanya nenek lampir hidup dgn penuh kemewahan...ya aaa...br minta maaf gitu langsung luluh...iyaaa...kurang greget deh ..
Shinta Dewiana
baguslah 2 nenek lampir tu emang pantas mati
Shinta Dewiana
hedeh gampang banget maafin..enggak seru....
Shinta Dewiana
welly kasihan banget lo..salah sendiri dulunya enggak serius..skrang terlambat deh..
Shinta Dewiana
dua nenek lampir masih senang aja hidupnya.
Shinta Dewiana
mafia kok lengah..asisten jg oon
Shinta Dewiana
huh siapa juga enggak emosi tiba2 nenek lampir datang main jambak aja....ya pasti hrs di balaslah
Shinta Dewiana
helley alias cammelia ..terlalu buang buang waktu bukannya balas dendam sm 2 si mak lampir...hedeh
Shinta Dewiana
halley ceroboh...tdk merekam semua biar ada bukti..
Shinta Dewiana
halley oon bisa nya surat ancaman tu di simpan doang..
Shinta Dewiana
duh...bener2 geregetan ini....huh athor hatiku di aduk aduk ini
Shinta Dewiana
gerammmmnyaaaa
Shinta Dewiana
his mulai deh oon nya..
Qaisaa Nazarudin
Maaf ya Thor di bab ceritanya JAMES dan HARCHAN terpaksa aku skip bacanya, Aku masih sakit hati dan marah atas perlakuan mereka ke Halley dan mamanya, Aku gak bisa terima sampai sekarang..
Qaisaa Nazarudin
Aman Kina,Santai aja,Tuh bocah cuman preman doang,Tapi Welly seorang Mafia,Bukan tandingan tuh bocah..
Qaisaa Nazarudin
Kenapa gak di vedioin saat digilir, hantar rakaman nya ke Harcan, biar dia liat sendiri istri nya di gilir2 wkwkwkwkk
Qaisaa Nazarudin
Bheeuuhh gila..
Qaisaa Nazarudin
Menurut ku yg pantas utk Cam adalah Welly, Wellybyg selalu ada saat suka dan dukanya Cam, Saat susah dan Senang nya Cam, Aku gak rela aja Cam sama Justin gitu,
Tapi kalo Cam sama Welly ntar judul novel nya outhor bukan Cewek bar2 sama Ketos ya, Pasti judul novelnya akan lain ya 😃😃
Qaisaa Nazarudin
Ini baru puas hati aku,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!