Sebuah perjalanan hidup anggota keluarga black economy.
Ranum Anatoly anak ketiga dari keluarga Loshad. Ranum adalah pria yang selalu fokus dalam setiap misinya. Dia tidak pernah melibatkan orang banyak untuk membantu misinya.
Misi pertama yang diberikan untuk Ranum saat usianya 18 tahun adalah bertemu dengan pembeli senjata terbesar di Australia yaitu Master Wu.
Tapi dari pertemuan itu, Ranum melihat banyak sekali kejanggalan yang merujuk pada hilangnya truk keluarga Loshad yang berhasil dicuri oleh orang tak dikenal disekitar Cowwabie.
Setelah berhasil menemukan fakta tentang truk keluarga Loshad yang hilang, Ranum segera menyerang Krowned Towers milik Master Wu. Setelah penyerangan Krowned Towers, Ranum menghilang bertahun - tahun.
Kemanakah Ranum menghilang? Apakah dia tewas saat penyerangan?
Ikuti terus novel Ranum untuk mengetahui perjalanan hidup Ranum Anatoly yang semakin penuh rintangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khebeleteee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI TENGAH JALAN
Dua hari berlalu, tiba saatnya untuk Ranum membebaskan kurir yang sedang di pindahkan ke lapas Nusakambangan. Ranum melihat jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat.
“Apa kamu siap Ranum?” Pak Suseno bertanya ke Ranum.
“Aku selalu siap.” Ranum menjawab datar.
VW scirocco R berwarna hitam itu melesat dengan cepat di jalan Daendels. Mobil tahanan melewati SPBU di daerah Kentengrejo di kawal dua mobil dan dua motor polisi. Ranum memacu mobilnya lebih cepat untuk menyusul mobil tahanan itu.
“Apa yang harus aku lakukan Ranum?” Pak Suseno bertanya.
“Jaga mobil ini.” Ranum menjawab singkat.
Ranum menyeimbangkan kecepatan mobilnya disebelah mobil tahanan. Ranum meraih pelontar granat yang ada dikursi belakang. Ranum menembakkan pelontar granat RG-6 itu ke arah depan mobil tahanan. Supir mobil tahanan itu membanting stir ke kanan, membuat mobil tahanan itu menabrak pagar sekolah dasar di tepi jalan itu. Dua mobil polisi dibelakang mulai menyalakan sirine dan dua motor polisi yang berada di depan mulai berputar balik. Ranum memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dia turun dari mobil sambil memegang senapan serbu HK416. Ranum menembak ke arah mobil polisi, empat polisi langsung tewas seketika di dalam mobil. Tidak butuh waktu lama Ranum langsung membalikkan badannya dan menembak ke arah dua motor polisi yang sedang melaju ke arahnya, dua polisi itu terpental dari motornya, dua motor polisi itu tergelincir di jalanan. Ranum berjalan ke arah mobil tahanan yang sedang menabrak pagar sekolah. Ranum mengambil bom IED di sakunya, lalu menempelkan bom itu di pintu kiri mobil tahanan. Ranum bersembunyi di bagian belakang mobil tahanan.
Bom itu meledak, tidak menghasilkan ledakan yang luar biasa tetapi cukup untuk menghancurkan pintu kiri mobil tahanan itu. Ranum langsung berjalan menuju pintu bagian tahanan. Belum tiba di pintu tersebut, polisi keluar dari pintu depan sebelah kiri, menembak ke arah Ranum. Peluru polisi itu berhasil mengenai dada kiri dan pinggang kiri Ranum.
“Maaf pak, aku memakai jas anti peluru.” Ranum tersenyum lalu menembak kepala polisi itu dengan HK416 miliknya.
“Keluarlah.” Ranum berbicara ke kurir yang berada didalam mobil tahanan dari pintu.
Di mobil tahanan itu terdapat empat napi lainnya.
“Apa kasus kalian?” Ranum bertanya ke empat orang tersebut.
“Pembunuhan.” Napi pertama menjawab.
“Perampokan.” Napi kedua menjawab.
“Pemerkosaan dan pembunuhan.” Napi ketiga menjawab.
Ranum menembak kepala Napi ketiga.
“Bagaimana denganmu?” Ranum bertanya ke Napi keempat.
“A,Aku-“ Napi keempat menjawab terbata – bata.
Ranum langsung menembak napi keempat itu tepat dikepala, Ranum menaruh satu bom C4 di pangkuan napi pertama.
“Jika kamu bergerak, nasibmu akan lebih buruk dari pintu itu.” Ranum tersenyum ke napi pertama.
"Tapi tuan, Dia susah menyelesaikan kalimatnya dengan baik, orang itu gagap. Dan dia hanya kurir narkoba kecil." Napi pertama menunjuk napi keempat dengan tubuh gemetar.
Ranum menelan ludah.
“Lepas borgol kalian sendiri.” Lanjut Ranum berbicara sambil berjalan ke arah mobilnya. “Dan kamu, kamu dibebas tugaskan. Aku akan mengirim sejumlah uang untuk kamu mencari pekerjaan baru dan jika kamu membuka mulut soal keluargaku, akan banyak peluru bersarang di kepalamu.” Lanjut Ranum berbicara ke kurir keluarga Loshad, tetap membelakangi dua napi itu.
“Baik tuan.” Kurir itu menjawab.
“Aku bisa membantumu pak.” Napi kedua berteriak ke arah Ranum.
“Bantu lah orang itu mencari pekerjaan.” Ranum membuka pintu mobilnya. “Dan satu lagi, segera menyingkir dari mobil tahanan itu.” Lanjut Ranum tersenyum.
Tiga detik kemudian mobil tahanan itu meledak. Dari kejauhan terlihat beberapa mobil polisi yang sedang melaju ke arah mereka.
“Selamatkan diri kalian dari polisi – polisi itu.” Ranum melambaikan tangannya dari dalam mobil.
“Terima kasih tuan.” Kurir itu berteriak.
Ranum menginjak pedal gasnya dalam – dalam.
“Ini pertama kali aku melihatmu beraksi, kamu benar – benar gila anak muda.” Pak Suseno tertawa. “Bagaimana bekas tembakmu?” Lanjut pak Suseno bertanya.
“Paling hanya memar.” Jawab Ranum singkat.
“Saat aku sesusiamu, aku masih luntang – lantung dijalanan. Sedangkan kamu sudah melakukan aksi – aksi gila.” Pak suseno tertawa kecil. “Aku sangat iri denganmu.” Lanjut pak Suseno.
“Nikmati saja hidupmu saat ini orang tua, tidak perlu menyesalkan masa lalu, terkadang untuk hidup saja adalah sebuah bentuk keberanian.” Ranum berbicara datar. “Starting point setiap orang juga berbeda – beda. Jangan pernah bandingkan dirimu dengan siapapun pak, kecuali dengan dirimu sebelumnya.” Lanjut Ranum.
“Andai aku terlahir dari keluarga yang memiliki harta kekayaan yang tidak bisa habis seperti keluargamu.” Pak Suseno tertawa.
“Jangan pernah mengkhawatirkan hal yang tidak dapat kamu rubah atau perbaiki orang tua.” Ranum berbicara sambil menambah kecepatan mobil menjadi 140km/jam.
“Tapi kamu bisa merubah kecepatanmu anak muda.” Pak Suseno gemetar, tangannya memegang handle pintu dengan kuat.
“Maksudmu seperti ini?” Ranum menambah kecepatannya lagi menjadi 160km/jam.
VW scirocco R itu melaju sangat cepat di jalan Kejayan. Mereka mengambil jalan memutar lewat Kebumen untuk menghindari polisi.
“Sekarang kita mau kemana?” Pak Suseno bertanya.
“Kita langsung ke bandara pak.” Ranum menjawab.
“Kamu akan membawaku ke Malaysia?” Pak Suseno kembali bertanya.
Ranum mengangguk. “Kabari Muhammad untuk memindahkan pesawat ke bandara internasional Yogyakarta pak dan sampaikan bahwa kita akan tiba di bandara itu dalam 1 jam 45 menit lagi.”
“Oke Tuan Muda.”
Tepat 1 jam 25 menit Ranum sudah tiba di bandara internasional Yogyakarta. Ranum menyimpan mobilnya di salah satu hanggar pesawat. Ranum dan pak Suseno memasuki pesawat airbus ACJ319 milik keluarga Loshad. Baru duduk di kursi pesawat, ponsel Ranum berdering, Ranum langsung mengaktifkan earpodsnya.
“Hai Ranum, bagaimana kabarmu?” Terdengar suara wanita menyapa Ranum dengan riang dari earpods.
“Ada apa?” Ranum menjawab singkat.
“Jangan terlalu galak adikku sayang.” Wanita itu menggoda Ranum. “Aku membutuhkan bantuanmu di Denmark.” Lanjut wanita itu. Wanita yang sedang menghubungi Ranum adalah kakak perempuan Ranum yang bernama Dayana Putri Anatoly, Dayana lebih tua tujuh tahun dari Ranum.
“Kita kemana Ranum?” Muhammad bertanya ke Ranum.
“Pulau pinang.” Ranum menjawab Muhammad singkat.
Muhammad mengangguk langsung menuju ruang pilot.
“Aku sedang ada urusan di Malaysia kak.” Ranum menjawab Dayana.
“Tapi aku membutuhkan bantuanmu Ranum.” Dayana membujuk Ranum dengan nada manja.
“Apa yang kamu butuhkan?” Ranum bertanya.
“Aku akan menjelaskannya saat kamu sudah di Denmark.”
“Aku tidak janji.” Jawab Ranum singkat.
“Aku memiliki satu botol Russell’s Reserve 1998 Bourbon.”
“Aku janji akan ke Denmark.” Ranum menjawab dengan cepat. “Jangan minum whiskey itu.” Lanjut Ranum.
“Sangat mudah memancing anak kecil.” Dayana tertawa.
“Akan aku selesaikan dulu urusanku di Malaysia, setelah itu aku langsung terbang ke Denmark.”
“Aku menunggumu adikku sayang.” Dayana dengan nada nakal.
Ranum langsung memutus jaringannya.
“Nona Dayana?” Pak Suseno bertanya ke Ranum.
Ranum mengangguk.
“Aku sangat rindu dengan kakakmu itu. Dia wanita yang sangat periang, berbanding terbalik denganmu.” Pak Suseno tertawa.
Ranum langsung merebahkan tubuhnya dan beristirahat.
“Lihatkan betapa dinginnya kamu ini.” Pak Suseno tetap tertawa.
Ranum mengacungkan jari tengahnya ke arah pak Suseno yang membuat pak Suseno semakin tertawa.