Namaku Khoirunnisa, aku anak dari sepasang suami istri yang sholeh dan merupakan ustad dan ustadzah. namun aku bukanlah seorang wanita yang sholehah. aku selalu membuka auratku jika bepergian. aku tak mendengarkan nasihat kedua orang tuaku. hingga malam kelam itu terjadi. aku di nodai oleh orang yang tidak ku kenal. sejak saat itu aku memilih untuk menutup auratku dan tinggal di pesantren sambil meneruskan kuliahku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingat
Alvin segera mendekati Nisa yang tak sadarkan diri. Nisa duduk di pinggir bathup dan dia bersender di tembok. Alvin segera mengangkat Nisa. dia menggendongnya keluar kamar mandi. dia merebahkan Nisa ke atas tempat tidur. Alvin masih memandang wajah yang dia rindukan.
"Apa benar kamu wanita itu? kenapa kamu sekarang berhijab? apa kamu mengingatku?" guman Alvin bertanya-tanya pada diri sendiri.
"Nis, Nisa" Alvin menepuk-nepuk pelan pipi Nisa.
"Emm" terlihat Nisa menggeliat. dia membuka kedua matanya dan menatap langit-langit kamarnya. Nisa segera menoleh ke kanan kirinya.
Di kamar? siapa yang membawaku?" batin Nisa lalu dia teringat beberapa waktu yang lalu dia masih berada di dalam kamar mandi.
Ah sial kenapa pakai ketiduran segala." batin Nisa
Memang tadi Nisa tertidur di dalam kamar mandi karena capek mondar-mandir. dia lupa bawa baju ganti dan dia malu sama Alvin jika dia keluar hanya memakai handuk. tapi apa sekarang, bahkan Alvin yang menggendongnya dari kamar mandi.
"Kamu tidak apa-apa? apa kamu pusing? mau aku panggilkan Dokter?" tanya Alvin sambil menatap lekat wajah Nisa.
"Tidak aku tidak apa-apa." jawab Nisa
Alvin menatap tubuh Nisa yang hanya terbalut handuk saja.
"Ngapain lihat-lihat?" Nisa menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.
"Ah tidak, kamu bisa pakai baju sendiri atau mau aku pakaikan?" tanya Alvin menawarkan diri.
Gila nih orang, dengan gampangnya bicara mau memakaikan baju." batin Nisa setelah mendengar perkataan Alvin.
"Aku bisa sendiri." kata Nisa sambil beranjak dari tempat tidur.
"Aku keluar dulu, kamu gantinya disini saja jangan di kamar mandi."
Nisa menatap kepergian Alvin yang semakin menjauh.
Dia memang baik apa ini hanya bagian dari sandiwara saja? Nis Nis kamu jangan sampai terpikat." gumam Nisa sambil menatap kepergian Alvin.
Alvin yang baru keluar kamar berpapasan dengan Bu Siti.
"Loh Nak Alvin, Nisa mana?"
"Lagi pakai baju Mah."
"Oh, kalau gitu Mamah bicara sama kamu saja."
"Bicara apa Mah?"
"Sepertinya untuk malam ini Mamah dan Papah akan menginap di luar."
"Kenapa?"
"Sebenarnya ada pengajian di luar kota. dan Mamah yang ngisi acara itu. pasti nanti pulangnya kemaleman jadi kita memilih untuk mengingap di tempat saudara saja yang ada di kota itu." jelas Bu Siti
"Rumah sepi dong Mah."
"Iya Nak, kamu jagain Nisa yah Mamah mau langsung pergi."
"Baik Mah"
Bu Siti segera pergi dari hadapan Alvin setelah mengatakan itu. Alvin kembali berbalik ke kamarnya.
Cklek
"Aww" Alvin dan Nisa bertabrakan. kebetulan Nisa mau keluar kamar.
"Maaf" refleks Alvin mengusap kening Nisa.
"Iya tidak apa-apa, kenapa kembali lagi?"
"Mau bicara sama kamu." ucap Alvin
"Bicara apa?"
"Mamah sana Papahmu mau ke luar kota mau ngisi acara pengajian. dan katanya akan menginap untuk malam ini."
"Mana Mamah?"
"Tadi sih katanya mau langsung otw."
Mendengar perkataan Alvin, Nisa segera berlari keluar kamar. Nisa menuruni tangga dan ingin menemui Ibunya. namun dia mendengar suara mobil yang baru saja meninggalkan halaman rumah. sudah pasti itu Bu Siti dan Pak Ahmad yang pergi.
"Yah" gumam Nisa yang menatap kepergian mobil itu.
Ternyata Alvin megikuti Nisa. dan kini dia sedang duduk di ruang keluarga.
"Nis, aku mau bicara sama kamu." Alvin menatap Nisa yang sedang menutup pintu depan.
Nisa berbalik dan langsung mendekati Alvin. dia duduk di depan Alvin.
"Apa?"
"Apa kamu tidak mengingatku?" tanya Alvin sambil menatap Nisa.
"Apa maksudnya?" Nisa tak mengerti maksud perkataan Alvin.
"Apa semudah itu kamu tak mengingat malam panas kita."
"Kamu sudah mengingatnya?"
"Maaf, aku baru menyadari jika kamu wanita itu." Alvin beranjak dari duduknya dan beralih duduk di sebelah Nisa.
"Ngapain dekat-dekat?" Nisa merasa geli saat Alvin meraih pinggangnya.
"Kita kan suami istri hm."
"Apa ini bagian dari sandiwara?" tanya Nisa dan Alvin malah mendorong Nisa sehingga Nisa tertidur di atas sofa.
Alvin langsung menindihnya sambil menatap wajah cantik Istrinya.
"Kamu mau ngapain?" Nisa merasa jika kali ini dalam bahaya.
"Mengulang kembali malam itu." ucap Alvin lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. namun suara ponsel miliknya mengganggunya.
Tring tring
"Sttt mengganggu saja." gumam Alvin lalu dia kembali membenarkan posisi duduknya.
jelas itu menjadi kesempatan baik untuk Nisa. dia langsung pergi dari sana.
"Aman" gumam Nisa sambil memegangi dadanya.
Alvin melihat layar ponselnya. ternyata itu panggilan masuk dari Selena.
"Hallo"
"Hallo sayang, kamu kemana saja sih? kenapa tidak ada kabar?" tanya Selena dari balik telfon.
"Aku sibuk"
"Nanti malam ke Apartemenku yah. aku rindu permainan p*nas kita."
Sttt, bisa-bisanya aku melupakan Selena. bisa gawat kalau Nisa tahu." batin Alvin
"Aku sibuk"
"Kamu kenapa sih? tidak biasanya seperti ini?" Selena merasa jika kali ini Alvin terlihat berbeda.
"Tidak apa-apa" setelah mengatakan itu Alvin memilih untuk mematikan panggilan telfonnya.
Alvin memilih untuk menyusul Nisa yang sudah pergi.
emng nya org hamil gmpang kn trgntung d kasih nya sm Allah swt .
nyatanya nisa hamil.. tapi... jgn" trlnjur nikah sama c nita lg hadehhhhh hncur hatiku kata nisa .. ikut sedih aku thorr mrskn hti ny nisa