NovelToon NovelToon
Perjalanan Alma Mencari Ibu

Perjalanan Alma Mencari Ibu

Status: tamat
Genre:Komedi / Petualangan / Peningkatan diri -peningkatan kemmapuan / Murid Genius / Chicklit / Tamat
Popularitas:769.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rudi Hendrik

Alma Fatara memiliki kisah masa bayi nan kelam. Kelam karena ia dibuang ke laut luas dan kelam karena belum diketahui ia anak siapa. Anak manusia atau anak ikan.

Setelah menuntaskan masa bergurunya di bawah asuhan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit, Alma Fatara memulai perjalanan keduanya, yaitu pergi mencari orangtua kandungnya dengan hanya bermodal sebuah gelang emas.

Pusaka legenda Bola Hitam yang menjadi miliknya, justru memancing kedatangan orang-orang sakti untuk merebutnya, menciptakan ancaman kematian berkali-kali di dalam perjalanannya.

Kali ini, Alma yang dijuluki Dewi Dua Gigi, didampingi oleh lima sahabatnya yang setia dan kocak. Meski perjalanan mereka penuh bahaya dan maut, tetapi tawa dan bahagia melimpah dalam hidup mereka.

Kejutan besar menanti Alma saat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Siapkan diri Anda untuk terkejut dan tertawa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pete Emas 6: Melawan Siluman Ikan

*Petaka Telaga Emas (Pete Emas)*

 

“Benar-benar istana alam yang begitu indah,” ucap Juling Jitu, mengagumi keindahan Telaga Emas.

“Aku baru tahu jika matamu itu bisa melihat keindahan dengan benar, Juling,” kata Anjengan.

“Kau jangan memandang rendah kekurangan seseorang. Bahkan kelebihan justru terkadang menjadi kekurangan seseorang,” balas Juling Jitu.

“Apa itu?” tanya Alma tiba-tiba sambil serius memandang ke tengah telaga yang jauh.

Keempat rekannya juga jadi serius memandang ke tengah telaga.

Yang mereka lihat adalah munculnya gelombang-gelombang dan gejolak air di tengah-tengah telaga, tapi tidak begitu tengah.

“Siluman Ikan dataaang …!” teriak pemuda desa yang berada di atas sebatang pohon waru lain.

“Siluman Ikan datang! Siluman Ikan datang!” teriak warga desa yang lain.

Mendengar itu, Ragas dan Tergat cepat berdiri dan turut memandang ke tengah telaga. Mereka kemudian cepat berlari pergi. Mereka juga tidak peduli lagi dengan keberadaan Alma Fatara dkk.

Para lelaki desa berhamburan meninggalkan pekerjaannya masing-masing. Mereka cepat menjauhi pantai.

“Ayah! Prajurit Siluman Ikan sudah muncul!” teriak seorang pemuda di depan rumah Ketua Desa. Lelaki gondrong itu adalah putra Ki Jolos yang bernama Sinjor.

Dari dalam rumah panggung sederhana itu Ki Jolos segera keluar dengan membawa sebatang tombak besi dan golok di pinggang.

“Hati-hati, Kakang,” pesan Yumini khawatir.

“Mana Jalu Segoro?” tanya Ki Jolos.

“Sedang mengambil panahnya, Ayah,” jawab Sinjor.

Dari samping, datang beberapa lelaki desa yang dipimpin oleh Jalu Segoro.

“Kalian semua langsung mengambil posisi mengepung di pantai. Pemegang panah ambil posisi di luar dan atas pohon!” perintah Ki Jolos berapi-api.

Mereka semua dilanda ketegangan. Pasalnya, baru kali ini mereka akan melawan prajurit Siluman Ikan.

Para lelaki desa kembali datang ke pantai dengan beramai-ramai. Jumlah mereka kurang dari seratus lelaki.

“Rupanya telaga ini ada penghuni,” kata Iwak Ngasin setelah mereka melihat kemunculan tiga makhluk dari dalam air yang mengeluarkan gelembung-gelembung.

Jauhnya jarak membuat mereka belum begitu jelas melihat seperti apa tampang ketiga makhluk itu.

“Se-se-sepertinya ketiga penghuni te-te-te ….”

“Telur?” tanya Iwak Ngasin menebak calon kata yang akan Gagap Ayu sebut.

“Pe-pe-penghuni telaga itu mu-mu-musuh warga de-de-desa ini,” kata Gagap Ayu.

Hebatnya, ketiga makhluk yang keluar dari dalam air telaga itu bisa berjalan di atas permukaan air, seperti pragawati yang berjalan di atas catwalk. Kian dekat jaraknya, maka kian jelas pula rupa dari wujud mereka.

Ketika makhluk itu memiliki rupa dan bentuk fisik yang sama. Ketiganya bertubuh seperti manusia, tapi seluruhnya ditutupi oleh sisik-sisik tebal berwarna perak, sehingga tampak indah berkilau diterpa sinar matahari. Mereka hanya bercawat yang terbuat dari tumbuhan air. Wajah mereka mirip kepala ikan tanpa rambut. Semua ikan sepertinya belum ada yang memiliki rambut. Kedua telapak kakinya berselaput seperti kaki bebek, demikian pula jari-jari tangannya. Di lengannya ada sirip, di punggungnya pun ada sirip besar dan panjang. Merekalah Siluman Ikan, tetapi tingkat prajurit.

“Mereka siluman ikan,” kata Alma Fatara.

Sementara di pantai yang terdekat dengan desa, para lelaki dewasa telah menunggu, siap menanggung segala risiko dari keputusan yang akan diambil. Mereka berdiri renggang-renggang membentuk setengah lingkaran. Di beberapa pohon waru yang tumbuh di sekitar pantai, bertengger sejumlah lelaki pula, di antaranya Jalu Segoro dan Ragas. Keduanya adalah jawaranya Desa Rangitan.

Sementara di depan sana, berdiri Ki Jolos dan putranya, Sinjor.

Ketiga Siluman Ikan kian dekat, membuat jantung para lelaki itu kian berdebar. Ini adalah nekat campur takut. Para wanita yang bersembunyi di dalam rumah kian khawatir, takut terjadi apa-apa dengan para lelaki mereka, apakah itu suami atau anak mereka.

“Kalian semua tunggu perintahku!” kata Ki Jolos yang dijawab dengan anggukan dari warganya.

Dan akhirnya, ketiga Siluman Ikan menginjakkan kakinya di pasir pantai. Mereka berjalan kian mendekat, sorot mata mereka tajam.

“Siluman melawan warga desa, sepertinya tidak sepadan,” kata Iwak Ngasin mengomentari dari kejauhan.

“Tapi warga ada pendekarnya juga,” timpal Juling Jitu.

Siluman Ikan dan para warga telah saling berhadapan.

“Apa yang kau lakukan, Ki Jolos?” tanya Siluman Ikan yang tengah. Ialah pemimpin dari kedua rekannya.

“Kami tidak akan memberikan persembahan lagi! Lebih baik kalian cari di desa lain!” tegas Ki Jolos lantang.

“Hahaha …!” Ketiga Siluman Ikan tertawa keras lagi sumbang.

Sejenak para siluman memandangi warga satu per satu, memberi tekanan mental yang tinggi.

“Kami datang untuk memberi tahu bahwa junjungan kami sudah saatnya memerlukan seorang gadis!” ujar Siluman Ikan.

“Dan aku pun memberi tahu bahwa mulai hari ini, kami tidak akan memberi persembahan. Jika kami menuruti kalian, maka dalam dua belas purnama, gadis desa kami akan habis!” tentang Ki Jolos, sorot matanya memerah menunjukkan permusuhan.

“Itu bukan urusan kami!” teriak Siluman Ikan membentak. “Urusan kami hanya membawa gadis persembahan nanti malam. Jika tidak, sepuluh lelaki desa ini akan dijadikan bangkai untuk ikan-ikan telaga!”

“Kami tidak akan memberi!” teriak Ki Jolos pula, wajahnya kian memerah menahan amarah yang memuncak.

“Hahaha …!” Ketiga Siluman Ikan kembali tertawa. Lalu teriaknya, “Kami beri waktu kepada kalian untuk berubah pikiran hingga nanti malam. Apa hebatnya senjata-senjata kalian itu, hah?! Kalian jangan bodoh! Dalam sesaat, kami bisa menghabisi seluruh penduduk desa ini. Mengerti?!”

Bentakan terakhir yang bertenaga besar itu seketika membuat warga terkejut dan terdiam.

“Ayo kita kembali!” ajak pemimpin Siluman Ikan.

Ketiga Siluman Ikan berbalik.

Set! Tek!

Ragas yang posisinya di atas pohon, tanpa perintah melepaskan satu anak panahnya dan mengenai punggung pemimpin Siluman Ikan. Namun, para penduduk desa itu harus terkejut kecewa, pasalnya panah Ragas tidak mampu menembus tebalnya sisik perak siluman itu.

“Aaarrk!” teriak keras pemimpin Siluman Ikan sambil berbalik dan menatap tajam kepada para pemanah yang posisinya agak jauh di belakang.

“Kubunuh kau, Siluman Keparat!” teriak Ragas sambil berkelebat di udara dengan golok panjang telah terhunus, lalu mendarat di hadapan Siluman Ikan.

Tang!

Siluman Ikan membiarkan pundaknya dibacok oleh golok tajam Ragas. Namun, Ragas seperti membacok sosok besi, tidak mempan.

Tek! Tang tang tang!

Ragas mencoba lagi dengan menusuk dan merobek perut Siluman Ikan berulang-ulang. Hasilnya nihil. Justru mata golok Ragas rompal besar.

Krek!

Dengan mudahnya Siluman Ikan mencengkeram leher Ragas dan mengangkatnya, sampai-sampai kedua kaki Ragas tidak menyentuh tanah pasir.

Tang tang tang!

Ragas berusaha berontak dengan membacok-bacok kepala, pundak dan lengan Siluman Ikan.

“Seraaang!” teriak Ki Jolos yang sudah tidak tahan melihat ketidakberdayaan Ragas.

“Hiaaat …!” teriak barisan warga terdepan beramai-ramai menyerang.

Namun, dua Siluman Ikan lainnya segera maju menghalau para penduduk itu.

Wuss!

Sekali Siluman Ikan mengibaskan tangannya, angin keras melemparkan penduduk yang menyerang.

“Hiaat!” kelit Ki Jolos sambil melemparkan tombak besinya.

Sayang, tombak itu dengan mudah ditangkap oleh Siluman Ikan. Melihat Ki Jolos pun gagal, Jalu Segoro dan Sinjor turut bertindak pula.

Set! Tek! Tang tang tang!

Jalu Segoro melesatkan anak panah yang mengincar daerah wajah, tetapi mengenai kepala yang sama kerasnya. Anak panah itu gugur ke pasir. Sementara Sinjor membacok-bacok Siluman Ikan yang lain. Hasilnya sia-sia belaka.

“Hiaaat!” Para warga yang tadi sempat diterbangkan dan berjatuhan di tanah berpasir, kembali menyerang ramai-ramai.

“Aaak …!” jerit Ragas panjang saat tubuhnya dicakar pajang dan dalam oleh Siluman Ikan yang masih mencekik lehernya.

“Ragaaas!” teriak Ki Jolos.

“Hahaha …!”

Sambil tertawa-tawa, ketiga Siluman Ikan mementaljatuhkan para penyerangnya. Senjata yang datang dibiarkan saja, toh mereka kebal.

Krek!

Sekali cengkeram, dua leher warga remuk yang membuatnya mati.

“Serang lehernya!” teriak Jalu Segoro dari atas pohon.

Set! Seset!

Para pemanah cepat memanah mengincar leher para Siluman Ikan.

Namun sayang, mereka warga desa, bukan prajurit panah. Mereka tidak ahli memanah sehingga jauh dari target. Hanya anak panah Jalu Segoro yang tepat sasaran ke leher, tetapi panah itu dihadang oleh tangan Siluman Ikan.

Jalu Segoro akhirnya melompat turun dari atas pohon. Ia berlari dengan golok panjang terhunus. Ia langsung menyerang ke pemimpin Siluman Ikan.

Jalu Segoro dan warga desa berusaha menyerang bagian leher ketiga Siluman Ikan, karena bagian itu memiliki sisik yang lebih tipis dibanding anggota tubuh yang lain. Namun, Siluman Ikan tidak membiarkan area leher mereka jadi sasaran.

Bak bak!

Dua pukulan Siluman Ikan kembali merenggut nyawa dua penduduk.

Dengan mudahnya pemimpin Siluman Ikan menangkap leher Jalu Segoro, setelah serangan goloknya yang bertubi-tubi tanpa guna.

“Rupanya kau jagoan di desa ini, hah?!” kata pemimpin Siluman Ikan yang sudah mengangkat leher Jalu Segoro, hingga kedua kakinya tidak berpijak lagi.

Di saat kacau seperti itu, di saat ketiga Siluman Ikan sedang memanen nyawa orang desa, tiba-tiba ….

“Minggir minggir minggir!”

Tiba-tiba terdengar teriakan keras yang mengejutkan mereka semua, bahkan menghentikan mereka dari kerusuhan. Mereka kompak menengok memandang ke sumber suara.

Dengan lagak yang begitu pongah, wajah dibengis-bengiskan dengan dagu terangkat lebih tinggi dari leher, Iwak Ngasin dan Juling Jitu berjalan masuk ke dalam keramaiah dan kekacauan. Mereka bahkan mendorong pelan badan warga yang kebetulan menghalangi jalan mereka.

Keduanya bekerja membersihkan jalan agar gadis cantik jelita bisa lewat tanpa aral rintangan. Gadis itu berjalan anggun tapi gagah dengan senyum rapat ditebar ke mana-mana. Gadis itu adalah Alma Fatara yang dikawal oleh Anjengan dan Gagap Ayu, yang dagunya juga dinaikkan lebih tinggi dari leher.

Semuanya terdiam, demikian pula tiga Siluman Ikan yang juga terdiam. Ki Jolos dan warga desanya terdiam karena heran tidak habis pikir. Sementara Siluman Ikan terdiam karena terpesona melihat kecantikan Alma Fatara.

Pemimpin Siluman Ikan bahkan melempar tubuh Jalu Segoro begitu saja ke pasir. Ia tidak berpikir lagi untuk membunuh Jalu Segoro.

“Minggir! Dewi Dua Gigi mau lewat, harap tenang!” teriak Juling Jitu. (RH)

1
MARQUES
temennya gagap malah di ketawain dsr temen lucknut🤣
Umar Muhdhar
1
asta guna
sejauh ini. ini yg paling jauh dan seimbang jika berperang dg sanggana kecil. bahkan bisa mengalahkan pasukan sanggana meskipun ada 8 Dewi bunga, karena Alma selalu ngasih senjata2 level pro kepada abdi2nya yg nota benenya jg udah sakti
asta guna
ha-ha-ha bar bar sekali kau om rudi
asta guna
ha-ha-ha setan kau om author, pake menjelaskan lubang hidung segala. rusak dong imaginasiku
Om Rudi: jiahahahaha sabar Kang Mas
total 1 replies
asta guna
visualisasine koyok Hulk
Om Rudi: hulk nenek nenek
total 1 replies
asta guna
wuih sadis coek... lanjutkan kesadisanmu om rud
asta guna
ha-ha-ha lowbat, anjay
Om Rudi: jiahahahaha
total 1 replies
Dida Madu Pati
/Facepalm/
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
anjengan itu ya lucu udah tau kalah Mulu pke ngajak berantem
❀∂я 𝙆𝙄𝙉𝙂 𝘾𝙝𝙖𝙣
kedua saudara kalau bertengkar itu hal biasa tp kalau udah adu fisik ngeri juga
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
wah, alma. klu mau main yg bener, jangan kayak orang ngajk berkelahi. kasihan juling jitu, namanya jd melekat gitu sbb matanya mmg juling
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️: kalo ngikutin ceritanya seru banget... kocak parah... 😅😅
total 1 replies
❤️⃟WᵃfB∆rokah99 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
selamet lara, merupakan nama berdasarkan kisah hidupnya. namanya ortu, pasti berharap anaknya selamat ketika hadir diduni, namun krn sering sakit jd loro, alias lara
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
Alma seperti ketua geng deh, berkomando segala🤭🤣
🍁𝐌𝐚𝐡𝐞𝐬𝐰𝐚𝐫𝐢💃❣️: kelak jd seorang Ratu tanpa istana 😅😅😅
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
Alma ada2 aja tingkahnya
🍒⃞⃟🦅🦁ᵃʳᵗʰᵃanvarouv🍉🔥
ah kok bisa ada bayi, ibunya tega sekali
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
alma buat nama nya wkwkwk, sungguh terlalu
🏡s⃝ᴿ 🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
repot denger orang gagap
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
wehh keren ini pendekat desa iwakleket
❤️⃟WᵃfMita◌ᷟ⑅⃝ͩ●⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ℘ℯ𝓃𝓪
😂😂🤣😂🤣terimakasih om sudah menghibur kami
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!