Laila adalah seorang wanita cantik dan sederhana yang bekerja di sebuah perusahaan terbesar di kota, sang CEO yang memimpin perusahaan tersebut begitu menyukai nya.
Dia sering membelikan perhiasan dan tentu nya memberikan perhatian, dan yang pasti yang membuat Laila suka adalah perhatian nya.
Dia pun selalu berusaha untuk menjadikan Laila milik nya, tapi sayang nya di saat Laila sudah jatuh cinta pada nya bahkan sudah menyerahkan kehormatan nya, kedua orang tua sang CEO tak menyetujui nya.
Laila pun di ancam, akhirnya dia pun pergi dan menghindar dari pujaan hati nya.
Yuk, bantu baca karya ku si penulis yang masih amatiran ini.. Mohon dukungan nya ya..
IG @suliani_cucu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kagum
Laila masuk ke ruangan Adam dengan membawa nampan berisi dua gelas es lemon dan juga camilan, Laila sempat terpaku saat Adam dan Devano saling memeluk .
Ada rasa haru yang menyeruak di dalam dada nya,Laila jadi merasa bersalah karena Adam tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, bahkan bertemu dengan Ayah nya pun belum pernah.
Seharusnya dia mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang tuanya, jika seorang gadis itu tidak boleh terlalu dekat dengan pacarnya. Apalagi sampai menyerahkan mahkotanya, apalagi sampai hamil diluar nikah.
Jika saja pria yang menghamilinya bisa langsung menikahi dirinya, mungkin itu tidak jadi masalah. Namun, jika pria itu tidak bisa menikahinya karena pertentangan, itu tentunya merugikan pihak wanita.
"Ehm!"
Laila pun pun berdehem, dia mencoba menstabilkan perasaannya. Sungguh perasaannya saat ini tiba-tiba saja kacau, Laila merasa jika dirinya dulu terlalu gegabah.
Namun, satu hal yang pastinya dia tidak pernah sesali, memiliki Adam adalah anugerah terbesar dari Tuhan. Walaupun memang Adam terlahir dari sebuah kesalahan.
Adam pun langsung melepaskan pelukan nya dan segera menghampiri Laila, Laila pun berusaha untuk menampilkan senyum terbaik nya, walaupun hati nya kini sedang bersedih.
"Ibu bawa apa saja?"
"Ibu bawa pesanan Adam, dua buah es lemon dan juga camilan kesukaan Adam. Ibu taro meja ya sayang," ucap Laila seraya menyimpan pesanan Adam di atas meja.
Devano pun menghampiri Ibu dan anak itu, dia merasa jika Laila adalah seorang ibu idaman. Dia selalu bisa bersikap manis dan membuat Adam senang, bahkan dia mampu membesar kan Adam sendirian.
"Terima kasih, Nyonya." Devano tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.
"Sama-sama," jawab Laila.
"Oiya, Nyonya. Bolehkah kalau saya panggil anda Laila?" tanya Devano sopan, Laila pun mengernyit heran.
Pasal nya, Laila tidak merasa dekat dengan Lelaki yang baru satu minggu dia temui itu. Kalau untuk memanggil nama rasanya mereka benar-benar tidak sedekat Itu.
"Seperti nya saya akan jadi pelanggan tetap Adam, lagian bukan kah kamu lebih muda dari saya?Jadi ,boleh kan' kalau kita saling memanggil nama?" tanya Devano lagi, sedangkan Laila hanya mengangguk kan kepala nya tanda setuju.
Dia merasa kalau pria itu juga lumayan baik, dia tidak mungkin menolak permintaan dari pria itu. Lagi pula pria itu tidak meminta yang macam-macam, hanya ingin memanggil nama dirinya saja.
"Bagus, kalau begitu mari kita berkenalan ulang. Nama saya Devano Alkahfi, saya hanya anak angkat yang mencoba peruntungan dengan bekerja di ibu kota."
Laila pun langsung tersenyum, pria itu memperkenalkan dirinya dengan komplit sekali. Sampai identitas aslinya pun disebutkan.
"Saya, Laila, saya hanya seorang ibu yang mempunyai anak jenius bernama Adam Pratama Putra."
Dia menyebutkan nama Adam dengan begitu bangga, karena anak itu membawa perubahan di dalam hidupnya.
"Kalian lucu," ucap Adam.
Devano dan Laila pun langsung tertawa, begitu pun dengan Adam .Mereka kini tertawa bersama, mereka sudah seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Baiklah, apa Om boleh duduk Sayang?" tanya Devano, Adam pun mempersilakan.
"Jangan sungkan, Om."
Devano sampai tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh Adam, karena anak kecil itu benar-benar terlihat begitu lucu. Badan boleh kecil, tetapi kelakuannya benar-benar seperti orang dewasa.
"Om sangat suka desain dan miniatur yang kamu bikin ,untuk selanjut nya Om mau memesan beberapa furniture sama kamu. Bisa? "
"Bisa Om," jawab Adam dengan cepat.
"Boleh Om kasih saran?"
"Boleh banget Om, apa lagi itu buat kemajuan Adam dalam meningkatkan kualitas kerja Adam. Adam mau," ucap Adam semangat.
Adam masih sangat kecil, wawasannya masih sangat sedikit. Jika ada orang baik yang mau memberikan saran yang baik, tentu saja Adam akan menerima saran tersebut.
"Begini Sayang, bagaiman kalau mulai sekarang kamu mulai mempekerjakan beberapa orang? Belilah kayu atau bahan bahan yang berkualitas, karena semakin bagus kualitas nya akan semakin tinggi harga nya. Bagaimana?"
Adam mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju, karena apa yang diusulkan oleh pria itu sangatlah luar biasa. Kalau hal yang bagus, pasti harganya juga akan bagus. Karena seperti apa yang dikatakan oleh pepatah, ada harga ada kualitas.
"Waah, ide Om sangat bagus. Adam setuju," ucap Adam lagi.
Laila pun tersenyum, ternyata pertemuan Adam dengan Devano membawa hal yang baik. Adam bisa mendapatkan pesanan yang banyak, Adam bisa mendapatkan uang yang banyak.
Adam juga bisa mendapatkan wawasan yang luas, pria itu tidak pelit memberikan saran yang bagus. Laila sangat berterima kasih kepada pria itu.
"Baiklah, besok Om akan membantu kamu dalam mencarikan tempat nya," usul Devano.
"Emmm kak, seperti nya tak usah mencari tempat. Kita pakai garasi saja sebagai tempat para pekerja, kalau untuk kayu nya biar di simpan di belakang rumah saja. Lagian tempat nya masih kosong dan tak terpakai," usul Laila.
Rumah mereka bagi Laila sangatlah besar, jika untuk menampung beberapa pekerja masih bisa muat. Untuk menyimpan bahan-bahan juga masih sangat muat.
"Boleh boleh, itu lebih menghemat biaya. Tapi tunggu dulu, kenapa kamu memanggil ku kakak? "
Devano merasa aneh karena Laila malah memanggil dirinya dengan sebutan kakak, Laila yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Devano langsung tersenyum.
"Kan kakak sendiri yang bilang, kalau aku terlihat lebih muda. Jadi, rasa nya tak sopan kalau aku memanggil Kakak hanya dengan nama Kakak."
Devano menganggukan kepalanya tanda setuju, dia merasa memang kalau Laila lebih muda usianya daripada dirinya.
"Baiklah, saya setuju. Memang nya berapa usia kamu?"
"Dua puluh sembilan tahun, memang nya kenapa?"
"Tebakan ku ternyata benar, kamu lebih muda satu tahun dari ku. Baiklah, tak apa bila kamu ingin memanggil ku kakak. "
Saat Devano dan Laila asik berbicara, Adam pun menyela.
"Bu, bukan kah garasi nya mau di pakai buat toko?"
Laila pun tersenyum, dia memang sudah berencana akan membuat toko di garasi.
"Tak usah Sayang, untuk kerja para tukang saja. Lagian kamu juga pasti sibuk bukan?"
Adam pun menganggukan kepalanya tanda setuju, jika dia membuka pesanan, pasti pekerjaan pun akan banyak. Jika membuka toko, Laila pasti akan sangat sibuk sekali.
"Ibu benar, lagian aku pasti akan sangat sibuk dengan desain dan pekerjaan ku nanti. Tapi kalau ada waktu, aku akan tetap membuat karya seni dari barang bekas. Karena selain menghasilkan, juga membantu pemerintah dalam menyelsaikan sampah pelastik."
Devano pun terlihat bangga bisa mengenal Adam, walau bagaimana pun Adam tak terlihat seperti anak kecil. Dari ucapan nya terlihat seperti orang dewasa, tapi kelakuan nya tetap menggemaskan seperti anak seusia nya.
"Adam, Bulan depan Om ada kerja sama dengan perusahaan milik Ayah angkat Om. Kami sepakat akan membuat apartemen mewah di kawasan pusat di kota K, kamu bisa kan membuat kan Om desain nya?"
Adam terlihat begitu senang mendengar Devano akan memesan kembali, dengan seperti itu dia akan menghasilkan uang lebih banyak lagi. Dia bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah untuk membahagiakan ibunya.
"Insya Allah bisa Om, kapan Om akan mengambil desain nya?"
"Bulan depan Sayang, sebelum Om pergi ke kota K, Om akan kemari untuk mengambil desain yang telah kamu buat."
Adam tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, bahagia sekali rasanya bisa bertemu dengan orang baik seperti Devano. Orang yang terus menyanjung dirinya dan terus memberikan support kepada dirinya.
"Siap Om," jawab Adam.
"Anak pintar, tapi kalau Om rindu sama kamu. Boleh kan Om datang ke sini?"
"Boleh dong Om, kapan pun Om boleh datang ke sini."
Devano pun terlihat sangat senang, dia melihat Laila yang nampak asik memperhatikan interaksi antara diri nya dengan Adam.
"Laila," panggil Devano.
"Apa Kak? "
"No rekening nya berapa? Aku mau bayar desain yang sudah jadi," tanya Devano.
Laila pun langsung pergi, dan Devano nampak mengernyit heran.
"Boy," panggil Devano pada Adam.
"Apa Om? "
"Ibu kamu kenapa? Om minta nomor rekening nya kok malah di tinggal?!"
"Hahahahah, Om lucu. Ibu tak hapal nomor rekening nya, dia pasti sedang mengambil ponsel nya."
Devano pun nampak manggut manggut, dia sempat berpikir kalau Laila meninggalkan dirinya karena tidak suka terhadap dirinya yang terlalu banyak bertanya-tanya.
"Seperti itu?"
"Helm," jawab Adam.
Adam dan Devano pun mengobrol sambil menunggu Laila kembali, terus terang Devano masih terlihat penasaran tentang bagaimana cara Adam bekerja.
Devano juga masih sering bertanya dalam pikiran nya, bagaimana bisa anak berusia lima tahun bisa mengerjakan tugas orang dewasa dengan mudah?
Bahkan Adam terlihat lebih pandai dari seorang insinyur, dia seakan tak menemui kesulitan saat menghadapi permintaan pesanan dari pelanggan.
Kerjaan yang biasa nya membutuh kan waktu satu bulan pun bisa di kerjakan hanya dalam waktu satu minggu oleh Adam, sungguh ini sangat menakjubkan.
Tak lama Laila pun kembali menghampiri Devano dengan membawa ponsel nya, Devano pun langsung tersenyum. Ternyata apa yang di katakan oleh Adam ,Laila pergi untuk mengambil ponsel nya.
"Ini kak, kirim ke sini," ucap Laila seraya menyerah kan ponsel nya .
"Berapa? "
Laila pun memicing kan mata nya, dia tidak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Devano. Pria itu malah menanyakan berapa, apanya yang berapa, pikir Laila.
"Apa nya yang berapa? "
"Harga untuk desain yang Adam buat, kamu tarif berapa? "
"Oooh, kami tak pernah menarif nya. Karna menurut kami, seorang pengusaha pasti sudah tahu harga yang harus di bayar untuk sebuah desain pesanan nya,"
Devano pun nampak manggut manggut, dia pun segera menekan beberapa tombol angka di ponsel nya. Tak lama terdengar lah bunyi dentingan dari ponsel Laila, hal itu menandakan jika uang Devano sudah beralih ke rekening Laila.
Laila pun tersenyum, tak lupa dia pun mengucap kan banyak terimakasih. Devano pun sama dengan Laila, mengucap kan banyak terimakasih karna sangat suka dengan desain nya.
Selsai dengan urusan nya, Devano pun langsung berpamitan dengan membawa desain di tangan nya. Adam dan Laila sangat senang, karna Devano sangat ramah dan mau membayar mahal untuk pekerjaan Adam.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih atas rezeki yang selalu engkau berikan kepada hamba. Sehatkan anakku, sehatkan aku dan meluaskan rezeki aku serta putraku. Semoga Adam nanti nggak bisa menjadi anak yang sukses, anak yang bisa menggapai impiannya dengan kemampuannya. Aamiin," ujar Laila.