"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: PERTEMUAN DENGAN IBLIS
Lantai lobi kantor Stevanus Group begitu mengilap, memantulkan bayanganku yang kini terlihat asing. Setiap ketukan sepatu hak tinggiku di atas marmer terdengar seperti detak jantung yang memburu. Wangi parfum floral-woody yang kukenakan sangat kontras dengan bau amis darah yang terakhir kali kurasakan di rumah itu.
Aku menyesuaikan letak kacamata hitamku. Di balik lensa gelap ini, mataku memindai setiap sudut ruangan. Di sana, di dinding lobi, terpampang foto besar Stevanus dengan tulisan “CEO of the Year”. Dia tampak begitu berwibawa, begitu terhormat. Perutku mual seketika. Dunia benar-benar tidak tahu bahwa pria yang mereka puja ini adalah seorang pembunuh.
"Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis dengan nada sangat sopan.
Aku menurunkan sedikit kacamataku, memberikan senyuman paling menawan yang telah kulatih bersama Aris selama berbulan-bulan. "Widya Pratama. Saya punya janji temu dengan Tuan Stevanus mengenai investasi proyek tol di Jawa Barat."
Aris telah mengatur semuanya. Dia menciptakan identitas "Widya" sebagai perwakilan dari konsorsium investasi luar negeri yang sangat kaya. Umpan yang terlalu lezat untuk dilewatkan oleh pria serakah seperti Stevanus.
"Oh, tentu, Nona Widya. Tuan Stevanus sudah menunggu Anda di lantai paling atas. Mari, saya antar ke lift khusus."
Saat pintu lift tertutup dan aku hanya sendirian, tanganku mulai bergetar hebat. Aku mencengkeram tas tanganku hingga buku jari-jariku memutih. Bayangan tangga itu, rasa sakit saat tulangku menghantam lantai, dan suara dingin Stevanus yang menyebutku 'gangguan' kembali menghujam pikiranku.
Tarik napas, Yati... bukan, kau adalah Widya sekarang, bisikku pada diri sendiri. Yati sudah mati di dasar tangga itu. Widya lahir untuk membalasnya.
Ting!
Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar dengan dagu terangkat. Di depan ruang CEO, aku melihat sesosok wanita yang sangat kukenali. Maya. Dia duduk di meja sekretaris, mengenakan gaun yang terlalu ketat untuk ukuran kantor, dan di jari manisnya melingkar cincin berlian yang seharusnya menjadi milikku.
Dia menatapku dengan tatapan menilai, ada binar kecemburuan sekaligus kekaguman saat melihat penampilanku yang jauh lebih berkelas darinya. Dia tidak mengenaliku. Sahabat yang dulu berbagi rahasia denganku, kini menatapku sebagai orang asing.
"Nona Widya? Silakan masuk, Tuan Stevanus sudah menunggu," ucap Maya dengan nada yang dibuat-buat manis.
Aku mengangguk tanpa kata, tidak ingin suaraku mengkhianati emosiku. Aku mendorong pintu kayu jati yang besar itu.
Stevanus sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota dari jendela kaca besarnya. "Selamat datang, Nona Widya. Saya sudah mendengar banyak hal luar biasa tentang konsorsium Anda," ucapnya sambil berbalik.
Langkahku terhenti. Jantungku serasa berhenti berdetak saat matanya bertemu dengan mataku. Untuk sesaat, ada kilatan di matanya sebuah kebingungan, seolah dia merasa familiar dengan sesuatu. Namun, dengan operasi plastik kecil pada hidungku, perubahan gaya rambut, dan riasan yang tajam, dia tidak menemukan Yati di sana.
"Tuan Stevanus, suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda," suaraku keluar dengan tenang, lebih dalam dan penuh percaya diri. Aris benar-benar melatihku dengan baik.
Stevanus berjalan mendekat, mengulurkan tangannya. Tangannya yang dulu mencekikku. Tangannya yang dulu mendorongku menuju maut.
Aku mengulurkan tanganku, menjabat tangannya. Sentuhan kulitnya membuat bulu kudukku berdiri, tapi aku tetap mempertahankan senyumanku. Aku bisa merasakan tatapannya yang mulai berubah dari tatapan profesional menjadi tatapan penuh nafsu yang sudah sangat kuhapal. Dia terpesona.
"Silakan duduk, Nona Widya. Anda jauh lebih cantik dari yang digambarkan di profil perusahaan," pujinya sambil duduk di hadapanku. Dia bersandar di kursinya, menunjukkan dominasi.
"Terima kasih. Saya di sini bukan untuk membicarakan kecantikan, Tuan Stevanus. Saya di sini untuk membicarakan bagaimana perusahaan Anda bisa selamat dari krisis likuiditas yang sedang Anda sembunyikan dari publik," ucapku sambil meletakkan map hitam di atas mejanya.
Wajah Stevanus seketika menegang. "Apa maksud Anda? Perusahaan saya sangat stabil."
"Benarkah?" Aku memajukan tubuhku, menatapnya tepat di mata. "Kita berdua tahu bahwa tanpa suntikan dana segar dalam tiga bulan ke depan, proyek tol Anda akan mangkrak dan bank akan menyita aset Anda. Termasuk... rumah megah Anda yang baru saja 'berduka' itu."
Aku sengaja menekan kata 'berduka'. Aku ingin melihat reaksinya.
Stevanus terdiam, rahangnya mengeras. Dia menatapku dengan intens, mencoba mencari tahu siapa wanita di hadapannya ini yang tahu begitu banyak rahasia dapurnya. "Anda sangat berani, Nona Widya. Dan sangat teliti."
"Saya hanya melakukan riset saya, Tuan. Saya tidak suka berinvestasi pada pria yang tidak jujur," jawabku dingin.
Selama satu jam berikutnya, kami bernegosiasi. Aku menikmati setiap detik saat melihatnya mulai terpojok secara finansial. Aku memberinya syarat-syarat yang terlihat menguntungkan, padahal itu adalah jebakan yang akan menjerat lehernya perlahan-lahan.
Saat pertemuan berakhir, Stevanus berdiri dan mengantarku sampai ke pintu.
"Nona Widya," panggilnya saat aku hendak keluar. "Apakah Anda punya waktu untuk makan malam besok? Saya rasa kita perlu membahas ini di suasana yang lebih... santai."
Aku berhenti, memutar tubuhku perlahan. Di balik pintu, aku bisa melihat Maya sedang memperhatikan kami dengan wajah tidak senang. Ini sempurna.
"Makan malam? Saya pikir itu ide yang bagus, Tuan Stevanus. Saya sangat suka mengenal rekan bisnis saya lebih dekat... sampai ke akar-akarnya," jawabku dengan senyum penuh misteri.
Aku melangkah pergi meninggalkan ruangannya. Begitu sampai di dalam lift dan pintu tertutup, aku jatuh terduduk di lantai lift. Seluruh tubuhku gemetar hebat. Aku menangis tanpa suara, namun bukan karena sedih. Aku menangis karena puas.
Iblis itu baru saja mengundang penghancurnya untuk makan malam.
Saat aku berjalan keluar dari gedung, sebuah pesan masuk ke ponsel rahasiaku dari Aris: "Kerja bagus, Widya. Tapi hati-hati, Maya baru saja menyewa detektif swasta untuk menyelidiki latar belakangmu. Dia curiga karena Stevanus menatapmu dengan cara yang sama seperti saat dia pertama kali melihat Yati."
Aku menatap ke arah jendela kantor Stevanus di lantai atas. "Selidikilah sepuasmu, Maya. Kamu hanya akan menemukan kuburan yang sudah kalian gali sendiri."
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...