Seorang istri yang dijadikan hanya sebagai pemuas nafsu oleh suaminya. Dia adalah Sinta seorang mahasiswa di sebuah universitas swasta. Kesulitan ekonomi membuat dia menjadi istri simpanan
dosennya.
Hingga Sinta hamil, suaminya menolak kehamilan Sinta dan menceraikannya di saat Sinta hamil muda.
Sinta tetap mempertahankan kehamilannya. Dengan perut membuncit, Sinta harus bekerja dan kuliah. Beruntung, Sinta mempunyai sahabat yang mendukungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasar
Sinta masih menangis sambil memeluk Andre. Cukup lama Sinta mendekap sendiri tubuh suaminya. Merasa pelukannya tidak dibalas dan Andre hanya diam saja. Sinta merasa malu akhirnya Sinta melepas pelukannya. Hatinya hampa. Tidak ada pelukan hangat seperti biasanya saat ini.
"Maafkan aku mas, aku mohon." Sinta menangis terisak dan duduk di sofa. Andre mengikutinya duduk di sofa. Mereka duduk berhadapan. Sinta semakin menundukkan kepalanya. Terhina, sakit hati dan juga malu bercampur di hatinya. Sejujurnya Sinta takut Andre pergi apalagi menceraikannya. Tidak hanya karena materi semata. Tapi Sinta sudah teramat mencintai Andre. Andre masih diam. Andre menatap Sinta yang masih menangis. Andre menjadi kesal. Dia tidak menyangka Sinta sampai memohon dan bahkan menangis hanya untuk mengharapkan cintanya.
"Sinta, hentikan tangis mu!" bentak Andre masih kesal.
"Mas, aku mohon. Buka hatimu sedikit saja untukku."
"Sinta, sudah aku peringatkan, jangan berharap lebih. Pernikahan ini terjadi menguntungkan kita berdua. Kamu butuh uang dan aku dapat kepuasan." Andre berkata marah dan tegas. Matanya menatap tajam ke Sinta. Kini Andre bukan hanya merasa kesal dengan sikap Sinta yang seperti ini. Andre justru merasakan hatinya mendidih karena marah.
"Mas, aku istrimu. Aku mencintaimu. Jangan anggap aku seperti ****** yang hanya pemuas nafsumu. Apa aku salah jika aku menuntut dicintai oleh suamiku sendiri?" sahut Sinta sedih. Andre semakin tajam menatap Sinta. Dia tidak suka dengan kata kata yang penuh tuntutan itu.
"Terserah kamu menilai dirimu seperti apa Sinta. Kamu cukup jelas mengetahui motif aku menikahi kamu. Dan kamu juga pasti belum lupa karena apa kamu bersedia menjadi istri simpanan aku. Jadi seberapa apapun kamu mencintaiku. Itu tidak berpengaruh kepada aku. Dan aku tidak bisa melarang kamu untuk itu. Tapi satu hal yang kamu ingat. Cinta tidak dapat dipaksakan. Aku hanya mencintai Cindy."
"Mas, kamu kejam. Kau perlakukan aku dengan baik dan lembut seolah olah kamu mencintaiku nyatanya itu semua hanya topeng," kata Sinta semakin sedih.
"Topeng?. Berarti Kamu lupa apa yang menjadi penyebab kita menikah. Atau jangan jangan kamu pura pura lupa. Kamu yang menganggap pernikahan ini terlalu berlebihan Sinta."
"Mas?.
"Apa?. Jadi kamu tidak mau di perlakukan dengan lembut?. Oke, Ayo!"
Andre menarik tangan Sinta kasar, tanpa bisa melawan Sinta diseret menuju ke kamar. Sesampai di kamar Andre menghempaskan tubuh Sinta ke ranjang. Sinta ketakutan tapi ketakutan itu tidak berarti apa apa bagi andre. Dengan kasar dan masih marah Andre melepaskan paksa semua pakaian Sinta , kemudian Andre melepas pakaiannya. Tanpa menghiraukan tangisan Sinta Andre melakukan hubungan suami-istri dengan kasar. Sinta yang merasakan sangat sakit di tubuhnya hanya bisa menangis.
Andre tidak perduli dengan suara suara Sinta yang memohon supaya Andre menghentikan gerakannya. Andre justru mempercepat gerakan sehingga Sinta merasakan kesakitan yang luar biasa. Kesakitan itu tidak sebentar. Mungkin karena tanpa pemanasan membuat Andre harus memakan waktu lama untuk menuntaskan permainan.
Sinta sudah pasrah. Memohon tidak berarti apa apa bagi Andre. Sinta akhirnya hanya terdiam menerima setiap gerakan Andre dengan merintih. Andre seperti orang yang buta yang tidak dapat melihat air mata Sinta. Andre juga seperti orang tuli yang tidak dapat mendengar setiap rintihan yang memenuhi ruangan itu.
Setelah Andre berhasil menuntaskan permainan sepihak itu. Andre terkulai lemas di samping Sinta. Tidak ada pelukan hangat seperti biasanya mereka selesai bercinta.
Sinta merasakan remuk hati dan remuk tubuh. Andre tidak hanya membentak dan menganggap dirinya rendah. Andre bahkan melecehkan dirinya. Sinta menarik selimut hingga menutup seluruh tubuhnya. Sinta menangis dalam diam. Badannya terguncang. Suami yang beberapa bulan ini memperlakukan dengan baik ternyata tidak menganggapnya sama sekali. Andre hanya butuh tubuhnya saja.
Andre jelas mengetahui jika istrinya menangis. Tapi Andre tidak berusaha untuk membujuk Sinta supaya diam. Bahkan Andre tidak merasa bersalah. Andre turun dari ranjang, tanpa pakaian dia langsung masuk kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhnya .Andre menghampiri Sinta yang masih terisak di bawah selimut.
"Bagaimana rasanya Sinta?. Seperti inikah yang kamu harapkan?. Diperlakukan dengan baik bukannya terima kasih malah ingin lebih. Satu lagi Sinta jangan coba coba membocorkan pernikahan siri ini. Kamu menurut, maka apa yang kamu terima selama akan tetap kamu terima," kata Andre masih marah sambil berlalu dari hadapan Sinta. Sebelum membuka pintu kamar Andre berhenti dan berkata. Sakit hati yang baru saja ditorehkan kini Andre kembali menyakiti hati Sinta. Sinta masih bersembunyi dibalik selimut itu.
"Aku tidak pulang beberapa hari, kunci rumah dari dalam."
Andre kemudian membuka pintu dan membantingnya dengan kasar. Sinta tidak menjawab. Sinta semakin menangis. Sinta menyingkapkan selimut itu dan mencoba duduk tapi bagian bawah perutnya terasa sakit dan perih. Dengan tertatih Sinta mengumpulkan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi.
Di kamar mandi Sinta bukannya mandi malah menangis sekencang-kencangnya. Dia memukuli dadanya yang terasa sesak dan terbayang semua perkataan Andre yang menyakitkan. Sinta patah hati. Ini pertama kali dia mencintai lawan jenis tetapi tidak berbalas. Mencintai suami sendiri tetapi tidak dianggap sebagai istri.
Setelah puas menangis, Sinta segera membersihkan dirinya. Seperti biasa Sinta duduk di depan meja riasnya. Sinta bisa melihat wajahnya di cermin, wajah sembab dengan mata yang merah. Sinta mengasihi dirinya sendiri. Demi uang Sinta rela jadi simpanan dan kemudian jatuh cinta tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Sinta tersenyum kecut.
"Aku sudah memohon kepadamu mas untuk mencintaiku, yang kudapat bukan cintamu tapi perlakuan kasar mu malam ini," batin Sinta.
Sinta membuka pintu kamar dan mengunci pintu utama. Sinta masuk ke dapur mengambil buah lalu memakannya. Sinta menuju ruang tamu dan menonton tv, Sinta tidak mau larut dalam kesedihannya. Sinta berjanji dalam hatinya akan membuang perasaan cintanya dan berperan hanya simpanan pemuas nafsu. Hanya itu yang mungkin bisa dilakukan untuk membunuh rasa cinta yang terlanjur muncul.
Sementara itu, Andre sejak ke luar dari rumah, dia masih di dalam mobil yang ada di halaman rumah Sinta. Dia menunggu Sinta untuk mengunci pintu dari dalam. Setelah mendengar suara pintu yang di kunci, akhirnya Andre membawa mobilnya keluar dari halaman. Andre memastikan bahwa Sinta benar benar mengunci pintu dari dalam. Walaupun dalam keadaan marah Andre masih khawatir dan perduli akan keselamatan Sinta.
Andre tiba di rumah orangtuanya, tanpa salam Andre langsung masuk ke rumah. Mendengar suara sendok, bisa di pastikan keluarganya sedang makan malam. Andre langsung menuju meja makan dan benar kedua orangtuanya dan Agnes sedang makan malam.
"Seperti hantu saja, datang tanpa salam," kata Agnes yang melihat kakaknya langsung ambil piring dan menyendok nasi. Permainan ranjang tadi membuat perut sangat kelaparan.
"Tumben kamu datang nak, kebetulan mama masak udang asam manis kesukaan mu. Makan yang banyak nak!" kata Mama Ningsih senang sambil menyendok kan udang asam manis ke piring Andre.
"Enak ma, tempenya juga mau," kata Andre sambil mengunyah udangnya.
"Seperti anak kecil saja, jangan terlalu banyak makan udang, awas kolesterol. Belum kawin juga," sahut Sinta dan Papa Rahmat terkekeh. Mereka tidak mengetahui jika Andre baru saja kawin dalam arti yang sesungguhnya.
"Dengar tuh apa kata adikmu, umur dah 30 tahun masih aja melajang," kata pak Rahmat masih dengan terkekeh.
"Tenang ya pa. konsentrasi makan dulu, tentang pernikahan kita lanjut siap makan di ruang keluarga," jawab Andre santai dan papa Rahmat tersenyum. Dia benar-benar tidak merasa terbebani dengan apa yang sudah diperbuatnya ke Sinta tadi. Andre pun menyelesaikan makannya dan menyusul kedua Orangtuanya ke ruang tamu.
Andre duduk di sebelah adiknya Agnes, menyandarkan punggungnya ke sofa dan tangan kanannya ke pundak Agnes.
"Gimana kuliahmu adikku sayang?" tanya Andre.
"Lancar kak, sejauh ini belum ada kendala." Andre mengambil sesuatu dari sakunya dan memberinya ke Agnes.
"Apa ini kak?, waduh cantiknya pasti ini mahal kak," kata Agnes sangat senang dan membuka kotak perhiasan yang ternyata sebuah kalung yang indah.
Andre sangat menyayangi Agnes, ketika tadi di mall Cindy dibelikan sebuah cincin berlian yang cantik dan mewah, Andre teringat akan Agnes dan membelikan sebuah kalung yang pasti lebih mahal dari cincin Cindy. Sebenarnya Andre juga kepikiran membelikan perhiasan untuk Sinta tapi Andre berpikir ulang takut Cindy banyak bertanya dan curiga. Selain itu Andre juga berpikir Sinta lebih membutuhkan motor daripada perhiasan.
"Makasih kakakku yang baik," kata Agnes terharu dan memeluk Andre.
"Itu hadiah karena kamu bisa lolos ke perguruan tinggi negeri. Ga apa apa kan hadiah telat?.
"Ga apa apa kak." Andre mengusap rambut Agnes sedangkan mama Ningsih dan papa Rahmat tersenyum melihat bagaimana Andre sangat menyayangi Agnes. Bukan hanya Andre, Bayu dan Andy juga sangat menyayangi Agnes.
"Andre, bagaimana hubungan mu dengan Cindy?" tanya mama Ningsih.
"Baik mama."
"Andre, bagaimana kalau kita secepatnya melamar Cindy dan mempercepat pernikahan kalian? Kalian sudah sama sama dewasa, apa lagi yang mau ditunggu."
"Andre juga maunya begitu, nanti aku bicarakankan sama Cindy pa."
"Pa, jangan terburu-buru. Biarkan mereka pacaran dulu supaya lebih paham karakter masing masing," kata mama Ratih. Sebenarnya mama Ratih juga kurang senang dengan Cindy, Mengingat Cindy pernah menolak lamaran mereka dan datang sesukanya. Tapi karena Andre sangat mencintai Cindy dan sudah berumur tiga puluhan membuat mama Ratih pasrah.
"Ma, papa gak sabaran punya cucu dari Andre, lagian kalau Andre sudah menikah ada yang ngurus. Mama Giman sih."
"Terserah mu lah papa, mama hanya ingin tau lebih dalam lagi watak Cindy sebelum menjadi mantu kita."
"Maksud mama Cindy itu tidak baik?. Ma, aku mengenal nya sejak kecil sampai dewasa. Kebaikannya lah yang membuat aku jatuh cinta ma, Percaya lah ma, Cindy itu orang baik," kata Andre menyakinkan sang mama.
"Iya ma, semoga kebaikan Mbak Cindy tidak setipis tubuhnya," kata Agnes setelah mendengar Andre meyakinkan mama Ratih. Mama Ratih dan papa Rahmat terkekeh. Cindy memang kurus tapi wajahnya cantik dan manis.
"Apaan sih dek, itu bukan tipis tapi langsing," kata Andre membela bentuk tubuh Cindy.
"Ah... cinta memang bisa membutakan mata," kata Agnes lagi.
"Andre nginap di sini kan?" tanya mama.
"Iya ma, beberapa hari ini, aku menginap di sini." Mama sangat senang dan tersenyum. Andre sengaja akan bermalam di rumah orangtuanya untuk menghindari Sinta.
.huuuuu dasar pellet lele