Menjalankan sebuah pernikahan rahasia dan dengan terpaksa pula, tidak pernah ada dalam bayangan Aura Aneshka. Ia hanya memimpikan untuk membina
rumah tangga yang sederhana dengan seorang lelaki yang sholih dan bertanggung jawab. Tapi semua impian yang sudah tampak di depan mata itu hancur berantakan ketika pemilik kekuasaan di tempatnya bekerja masuk begitu saja dalam kehidupannya dan mengacaukan hari-harinya.
Damaresh Willyam, penguasa tertinggi PRAMUDYA CORP. Tak pernah tau kalau akibat perbuatannya mengikat Aura Aneshka dalam pernikahan yang hanya di maksudkan untuk menunjukkan kekuasaannya pada bawahannya yang di anggapnya terlalu pembangkang itu, justru membawanya pada masalah baru yang tak pernah ingin di temuinya selama ini. Yaitu cinta.
Dapatkah sebuah ikatan yang awalnya hanya di maksudkan untuk permainan itu, menjadi sebuah ikatan yang sebenarnya.
Bagaiamana jika pada akhirnya, Damaresh harus memilih antara cintanya atau tahtanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Ancaman
Aura kini mengakui kecerobohannya atau lebih tepatnya kebodohannya, karna terlalu cepat percaya pada dua orang lelaki yang mengaku orang suruhan Damaresh Willyam itu, hingga ia mau saja mengikuti ajakan mereka dan disinilah kini Aura berada.
Dihadapan seorang lelaki tinggi besar yang meski berpakaian stelan jas rapi, tapi tak menghilangkan kesan menakutkan pada dirinya. Dan dua lelaki yang membawa Aura tadi mereka berdiri di belakang gadis itu berjaga-jaga jikalau Aura mencoba melarikan diri.
Ahh ini namanya penculikan apa bukan ya,?
Dikata penculikan, Aura sendiri yang mau mengikuti mereka. Terserah lah apa istilahnya.
"Dimana berkas itu?" lelaki di depan Aura bertanya dingin, pandangannya mengarah tajam pada Aura yang jujur saat ini berada dalam ketakutan dan kekawatiran
yang nyata terlihat di wajahnya.
"Berkas apa?" kendati begitu gadis itu berusaha tenang bertanya.
"Jangan berlagak tidak tau, cepat berikan!, kami tidak punya waktu lama," lelaki di depannya menaikkan nada bicaranya di sertai penekanan dalam setiap kata.
"Sama, aku juga tidak punya waktu lama, aku sudah terlambat masuk kerja sekarang, jadi jika aku faham berkas yang kau maksud, aku tentu tak akan bertanya."
Bukan bermaksud mengulur waktu, tapi memang demikian adanya, Aura belum paham kemana arah pembicaraan orang tak di kenal di depannya itu.
Lelaki itu menatap lekat netra gadis di depannya dengan seksama dan seperti dapat terbaca kalau Aura berkata jujur, ia segera menjelaskan berkas yang di maksud.
"Berkas tentang pelimpahan proyek RS Medika pada yayasan L&D."
Aura terdiam, dia kini mulai bisa memahami situasinya.
"Jadi kalian suruhan pak Edgard Willyam," tebak Aura langsung. Lelaki itu diam, menyembunyikan identitas majikan tentu adalah kewajiban mereka. Walaupun sudah tertebak sihh.
"Berkas itu sudah berada di tangan Pak Damaresh,"
"Jangan bohong!" lelaki itu langsung membentak.
"Kalian boleh tanyakan sendiri pada pak Damaresh kalau tidak percaya, atau bisa minta pak Edgard telfhon
langsung pada pada Pak Damaresh, mereka kan saudara." Aura menjawab dengan polosnya, entah itu adalah strateginya atau karna dia benar-benar tak tau adanya permainan seperti itu.
Yang jelas kini, ia paham bahwa dampak kejujurannya ketika berbicara di Mediatama Corp berakibat tak menyenangkan pada dirinya sendiri saat ini.
Tapi bukankah kejujuran itu harus di tegakkan dan kejujuran itu harus di sampaikan walaupun pahit adanya, demikian salah satu tuntunan baginda nabi.
Aura bermonolog dalam hati.
"Jangan main-main dengan kami," ucapan lelaki itu kini bukan lagi berupa bentakan tapi sebuah ancaman.
Aura menggeleng cepat "Aku tidak mau main-main dengan siapapun, apalagi kalian yang sudah bukan anak kecil, main-main itu hanya kelakuan anak kecil,"
Sahut Aura sekenanya.
Brakk
Lelaki di depannya menggebrak meja yang sempat membuat Aura bergidik. "kau tau kan akibatnya, jika melawan bos kami?"
"Sudah dapat di bayangkan," sahut Aura setelah sejenak berpikir. Edgard bahkan menyuruh orang untuk mengintimidasi dirinya hanya karna pengakuannya. Benarlah sebuah ungkapan kalau dekat dengan penguasa itu bak memegang mata pisau.
Tapi mengingat tentang penguasa, bukankah bosnya sendiri justru lebih berkuasa dari Edgard Willyam.
"Tapi kau juga tau kan bagaimana pak Damaresh itu?"
Aura mau balik mengancam.
Kita lihat saja ya, apa gadis yang sama sekali tak punya pengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini akan berhasil?
Bahkan lelaki di depannya tersenyum meremehkan.
"Pak Damaresh itu paling tidak suka bila karyawannya bekerja tidak tepat waktu, dan dia juga tak mudah percaya begitu saja pada para pekerjanya, apalagi padaku yang masih orang baru, karna itu, ... " Aura meraih ponsel dalam tasnya, namun tangannya segera di cekal oleh orang di depannya.
"Mau apa?" ia bertanya garang.
"Mau nunjukin ponsel," sahut Aura dengan polosnya
"Jangan macam-macam!"
Aura menggeleng. "Orang suruhan Pak Damaresh pasti sudah menuju kemari, karna begitu tak percayanya ia padaku, ia meletakkan pelacak di ponselku," ucap Aura di serta raut kawatir. Bagus juga kan actingnya.
Dengan serta merta lelaki di depannya merebut ponsel
di tangan Aura dan siap membantingnya.
"Jangan di banting!" Aura cepat mencegah. Walaupun itu bukan ponsel yang mahal-mahal banget tapi kalau di banting sayang juga kan, mana Aura membelinya dengan uang gajinya dari L&D dulu, dan terlebih lagi ada kontak Kak Akhtar disana. Sayang sekali kalau ia tak dapat lagi bertelefhonan ria dengan sang calon imam yang rutin membangunkannya untuk sholat malam. Sayang banget kann.
"Ya kalupun ponselnya di banting, tempat ini sudah terdeteksi sihh," menyadari posisinya sudah selangkah di depan, Aura melancarkan aksinya lagi.
Dan sukses, lelaki itu meletakkan ponsel Aura dengan kasar di atas meja. Gadis itu sampai meringis.
Lelaki itu memberi isyarat pada kedua rekannya dan lalu pergi dari tempat itu. Tentu saja mereka tak mau berurusan dengan Damaresh Willyam, karna mereka di
tugaskan untuk bekerja bersih, jangan sampai tercium oleh sang singa Pramudya Corp.
Aura menghela nafas lega. Harus dia akui kini betapa berkuasanya Damaresh Willyam, hanya dengan mengada-ada dengan embel-embel namanya saja, Aura terlepas dari ketiga orang tak di kenal itu.
Lalu apakah Aura benar-benar telah lepas dari ancaman Edgard Willyam?, tentu tidak. Karna tanpa sepengetahuan Aura lelaki yang di depannya tadi mendapat intruksi langsung dari pimpinan Mediatama Corp itu.
"Berikan gadis itu pelajaran yang tak kan terlupakan!"
lalu
Apakah nanti yang akan terjadi pada Aura.
****
Allah sebaik-baik tempat berlindung. Aura menegaskan keyakinan itu dalam dirinya setelah sadar bahwa mungkin dirinya kini sedang ada dalam pusaran bahaya. Hanya kepada Allah aku memohon perlindungan. Batinnya lagi.
"Kenapa terlambat?" Tanya Clara yang sedang duduk cantik di kursinya.
"iya mbak, masih ada insiden barusan," sahut Aura sambil menghela nafasnya.
"Duduk sini!" Clara menunjuk kursi di depan mejanya.
"Saya mau masuk dulu mbak," Aura menunjuk ruangan CEO yang tertutup rapat. Ia kawatir bosnya akan memarahinya bila tak segera menampakkan diri di depannya.
"Gak usah, Bos sedang keluar sama mas Kai, jadi kau bebas, tapi tau nanti kalau dia sudah datang," ucap Clara sambil senyum.
Aura terlihat menahan nafasnya setelah duduk di kursi yang di tunjuk oleh Clara.
"Gak usah terlalu kawatir, kau kan sudah tau caranya menghadapi pak Damaresh,"
"Cara apa mbak?" Aura malah merasa tak punya trik apa-apa untuk menghadapi Damaresh Willyam. Dia hanya melawan bila ada yang tak sesuai dengan dirinya, tapi kenyataannya Aura tak pernah menang.
"Yahh seperti biasa yang kau lakukan, itu cukup ampuh ku rasa," Clara berucap sambil terkekeh.
"Ah itu bukan sebuah bagian trik yang terencana, mbak. Saya hanya melawan bila memang tidak sesuai dengan diri saya," Aura menjelaskan seadanya.
Clara nampak mengerutkan kening, entahlah ia merasa tak sesederhana itu, dilihat dari Damaresh yang sepertinya tak terganggu dengan sikap pembangkang Aura, malah terlihat CEO Pramudya Corp itu betah berdekatan dengan seseorang yang bisa dikata tak begitu patuh padanya. Padahal setau Clara, Damaresh adalah sosok yang kekuatannya harus di akui, jangan coba-coba meremehkan apalagi melawan, maka bak Raja hutan, Damaresh akan segera menunjukkan taringnya yang tajam.
Jikalau benar apa yang di katakan Aura bahwa ia bertindak apa adanya bila menghadapi Damaresh, mungkinkah lelaki yang ketampanan wajahnya bak pahatan patung dewa yunani itu telah merasakan pesona seorang Aura Aneshka, si gadis berhijab itu.
Lalu haruskah Clara merubah penampilannya menjadi tertutup seperti Aura untuk bisa mendapatkan perhatian Damaresh juga.
Aah. Clara menggeleng-geleng. Tidak, itu bukan dirinya.
"Kenapa mbak?" tanya Aura demi di lihatnya expresi wajah Clara.
"Ah tidak apa-apa, tadinya ku pikir bolehlah aku belajar triknya padamu, tapi bila ternyata begitu," Clara mengedikkan bahunya.
"Aku terlalu takut untuk melawan pak Damaresh, atau mungkin terlalu takluk." Clara mengahiri ucapannya dengan kekehan kecil. Aura juga ikut tertawa. Namun ghibahan mereka yang menjadikan sang atasan tampan sebagai topik utama itu harus berakhir karna kehadiran Kaivan dan Damaresh sendiri.
"Aura, kau sudah datang?" Kaivan menyapa Aura dengan wajah sumringah.
"Ya pak," Aura segera berdiri dari duduknya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kaivan lagi, yang membuat Clara memicingkan mata melihat sikap Kaivan yang sepertinya menunjukkan perhatian pada Aura, bukannya memberi teguran pada Aura karna terlambat datang, Kaivan justru menghadiahi Aura dengan perhatian.
"Alhamdulillah, pak." sahut Aura tanpa merasa ada yang aneh dari cara bertanya Kaivan, walaupun hal itu memang baru pertama kalinya sih.
Lain halnya dengan Damaresh, lelaki yang masih betah berexpresi datar itu (entah siapa yang akan bisa membuat Damaresh menghiasi wajahnya dengan senyuman) menghampiri Aura dan menatap gadis itu dari atas sampai ke bawah dengan seksama.
Risih mendapat tatapan demikian Aura segera bertanya "kenapa bapak menatap saya begitu?"
"Untuk memastikan apakah kau masih utuh atau tidak," Damaresh menjawab santai.
"Maksudnya?"
"Ya siapa tau, kau sudah kehilangan sebelah kakimu atau sebelah tanganmu mungkin,"
"Bapak menyumpahi saya begitu?" Aura langsung terbakar emosi dengan jawaban santai ala di pantai bos besarnya itu.
"Tentu tidak, karna aku tidak akan suka bekerja dengan orang cacat. Hanya saja bisa jadi anak buah Edgard sudah melakukan itu padamu," Ucap Damaresh sambil melangkah hendak masuk ke dalam ruangannya.
Aura sejenak terpekur, dan setelah ia paham maksudnya, gadis itu segera mengejar Damaresh
"Bapak tau itu?" ia bertanya.
"Apa yang tidak aku ketahui, Arra?" Damaresh menjawab sesumbar. "Tapi aku suka, karna kau cukup cerdas bisa menghadapi mereka sendiri," ucapnya lagi.
"Apa jangan-jangan pak Damaresh benar-benar meletakkan alat pelacak di ponsel saya?" Aura bertanya curiga. Sumpah lho, tadi Aura hanya mengada-ada saat mengatakan kalau ada alat pelacak di ponselnya, bila kenyataan kini Damaresh benar-benar tau kejadian tadi, bukan tak mungkin jika hal itu memang benar kan,
"Bukan di ponselmu, Arra. Tapi di pikiranmu, agar kau selalu memikirkan aku," jawab Damaresh dan segera menghilang di balik pintu ruang kerjanya.
Eeh apa itu maksudnya tadi?
Tenang-tenang jangan keburu berasumsi, Damaresh itu bukan lelaki yang gampang terpesona apalagi jatuh cinta. Ia bahkan sudah berikrar untuk tak akan pernah jatuh cinta setelah melihat akibat tragis yang di alami oleh orang-orang dekatnya gara-gara mencintai.
Apakah ia mengucapkan itu hanya untuk membuat Aura baper saja. Ayo Aura kuatkan imanmu ya, ada Kak Akhtar yang menunggumu.
Eeh gimana-gimana sudah eps 11 nih, ayo tunjukkan eksistensimu para pembacaku..like-like ya..kalau ada gift juga ya. jangan lupa tekan love..dan kalau ikhlas kasih vote juga..gimana mau kannnnnnnn