Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (2)
Penulis: Linda Lubi
Mbak kunti merubah posisi untuk tiduran di lantai sambil tidur miring kiri, menghadap Nurdin yang mulai tarik selimut.
"Udah dapat jawaban-nya?" Tanya Mbak Kunti sambil senyum-senyum seram.
"Kalo senyum makin serem. Biasa aja ngomongnya." Nurdin menatap ke langit-langit kamarnya yang kecil. Rumah bantuan tsunami, karena rumah orang tuanya hancur.
Ayah dan kedua kakaknya juga hilang saat tsunami 2004 yang lalu. Sedangkan Nurdin masih kecil dan sedang dibawa Emak-nya ke Panggoi, Lhokseumawe. Jadi Nurdin dan Emak, selamat dari tsunami.
Lalu Nurdin dibawa merantau ke Jakarta bersama miceknya. Baru dua tahun Nurdin kembali ke kampungnya. Rumah ini sebelumnya ditempati oleh Pakwa dan Emak-nya. Abang dari Emak-nya.
"Mau tau apa mau tau banget? Agak menjauh dikit deh, kita bukan muhrim." Tangan Nurdin menepis-nepis.
"Elah... ama setan aja bilang-bilang bukan muhrim? Sejak kapan setan jadi muhrim. Ahahaha....." Mbak Kunti cuma bergeser 5 centi doang.
Pakwa sudah meninggal dua tahun yang lalu dikarena-kan diabetes. Sedang-kan istri dan anak-anak Pakwa juga menjadi korban tsunami. Emak kesepian tanpa Pakwa. Makanya Nurdin disuruh pulang ke Aceh.
"Hatiku sudah mantep, Mbak. Besok aku harus jadi laki-laki tulen. Gak mau jadi Inur lagi. Gkgkgk....."
Nurdin dan Mbak Kunti tertawa bareng. Lalu mereka tidur pulas. Sebenarnya Mbak Kunti pengen ditanya oleh Nurdin. "Kok kagak gentayangan?" Tapi Nurdin-nya malah pulas. Zzz.....
*** Nurdin memutuskan untuk membuka usaha 'Kopi Getir' di halaman rumahnya. Ia juga sambilan ngonten. Kopi Getir hanyalah usaha sampingan agar terlihat jika Nurdin itu punya pekerjaan tetap. Takut dikira punya pesugihan. Pengangguran kok bisa bertahan hidup. Kalau hanya mengharapkan PKH, ya hidup ngenes.
Kalau masalah per-ghibahan, di kampung justru lebih sadis daripada di kota. Kalau di Jakarta orang cuek. Lu siapa, gue siapa. Di kampung apa-apa dikepo-in. Diomongin.
Hari pertama Nurdin membagi-bagikan gratis kopi getirnya. No sugar. Anti diabetes. Ia tidak memakai mesin kopi seperti warkop-warkop kekinian. Ia ingin mempertahankan warkop yang estetik dan autentik.
Selain kopi getir, Nurdin juga mempekerjakan 3 orang karyawan wanita yang masih termasuk saudaranya, untuk menjual cemilan blasteran. Ada pisang kribo spicy, ubi saos coklat, mie pedas tewas. Untuk sementara 3 cemilan handalan Nurdin. Untuk kopi getir, ia mempercayakannya kepada Cekni, pamannya yang hanya beda usia 8 tahun darinya. Adik bungsu Emak Nurdin.
Emak suka bepergian. Gak kerasan lama-lama di kampungnya. "Emak sudah tua, Din. Pengennya temu ramah terus sama keluarga besar Emak. Gini-gini Emak kan juga pengin gaul, Din. Sekalian Emak juga promosiin warkop kamu kepada saudara dan tetangga-tetangga di sana. Siapa tau ada yang mau healing ke kampung ini."
Warkop Nurdin termasuk hidden gem. Terpelosok. Namun pemandangannya estetik. Banyak jemuran di mana-mana. Heran deh sama emak-emak di sini. Harusnya bikin jemuran di belakang rumah, dong. Ini malah di depan rumah. Kadang pembeli ampe rela selfie di bawah jemuran. Yang lebih terharunya lagi, pas banget di antara cd-cd emak-emak. Ngenes mules. Hacimmm. Ihihihi.....
*** Gadis-gadis di warkop Nurdin, begitu ramai. Tetap aja pelototin Nurdin sampai mimisan. Padahal Nurdin udah bikin butek wujud-nya. Warkop Kopi Getir juga diminati emak-emak. Bikin Nurdin kewalahan. Nurdin meminta Cekni untuk me-rekrut karyawan cowok untuk bantuin Cekni. Nurdin cuma mengontrol dari kamar pake hp. Ia memasang CCTV di warkop-nya.
Nurdin pun bisa sambil ngonten di Te-te, aplikasi ter upto date yang digunakannya. Ia bisa live dan berjualan Kopi Getir khusus di seputaran kampungnya. Bisa diantar torbut (motor ngebut) andalan warkop-nya. Karyawan Nurdin juga di bagian delivery. Ia memang harus menyediakan kurir khusus antar kopi getir dan cemilan2 dari warkopnya.
Mbak Kunti dengan setia menemani Nurdin, live di Te-te. Mbak Kunti cuma nyempil di pojokan sambil ngitung kutu. Malu kalau sampe terlihat netizen. Nurdin, tampan. Mbak Kunti, jelek tak ter-maaf-kan.
Tiba-tiba Mbak Kunti resah. Bagaimana kalau per-bestiannya dengan Nurdin kandas karena perbedaan ini? Bisa-bisa Nurdin bosan dan mengusirnya dari kamar Nurdin? Tidakkk.....
"Idihhh...jangan berisik, Mbak Kun. Entar Netizen pada kaget. Tuh kan...mereka pada nanya itu." Bisik Nurdin panik.
["Perempuan mana tuh? Kok teriakkk?"]
["Cieee...aku juga mau bang, ikut Live di sampingmu."]
["Bisa kena hukum cambuk lu, bro. Lu tinggal di Aceh kan?]
Bla bla bla...sampe Nurdin menutup matanya kala membaca komen-komen Netizen. Sampe keringat dingin. Nurdin pun mematikan live-nya lalu plototin Mbak Kunti.
"Apa ku bilang tadi? Rame Netizen kepoin suara Mbak Kun. Aku kelimpungan jadinya."Nurdin pasrah.
Belum sempat dijawab, tiba-tiba gawainya berbunyi.
"Din...ada ibu-ibu hamil yang perutnya pengen dielus-elus sama kamu. Katanya permintaan bayi. Daripada kamu berdosa, menyentuh perut istri orang, mending kamu pergi dulu sampai keadaan benar-benar kondusif. Lari dari pintu belakang!" Perintah Cekni.
Tanpa sempat menjawab, Mbak Kunti sudah meng-genggam tangan Nurdin. Tiba-tiba mereka sudah berada di sebuah warung mie aceh. Nurdin seperti pernah ke sini.
"Kenapa kita bisa ke sini, Mbak Kun? Bisa bubar orang-orang melihat Mbak Kunti." Nurdin protes.
Mbak Kunti menggenggam tangan Nurdin lagi. Mereka sudah berada diantara monyet-monyet.
"Ini kita di Seulawah? Bareng monyet-monyet? Entar bisa hilang ketampanan-ku Mbak Kun, kalo dikeroyok monyet-monyet itu." Nurdin lemas.
"Tenang...monyet-monyet itu gak berani mendekati-mu. Mereka minder dengan ketampananmu. Lagian mereka takut melihat-ku. Mending sekarang, pikirkan cara, bagaimana supaya aku terlihat sepadan denganmu." Mbak Kunti terlihat frustasi.
"Sepadan gimana maksud Mbak Kunti?" Nurdin mengalihkan pandangannya ke gerombolan monyet. Apa mereka punya komunitas sampe bisa ngumpul rame-rame begitu? Negeri...eh ngeri.....
Para monyet saling berbisik. Mereka sepertinya ghibahin Nurdin dan Mbak Kunti pakai bahasa monyet.
"Cowoknya ganteng, nyet. Aku jadi minder. Tapi kok mau ya pacaran sama Mbak Kunti?" Monyet-monyet ber-ghibah.
"Coba aja kalo Abang seganteng cowok itu, tentunya aku gak bakalan poliandri begini, Bang. Aku jadi meragukan kesetiaan-ku. Ya udah Bang, kamu menjauh aja dari hidupku. Aku mau cuci mata dulu." Ujar monyet betina tercantik versi monyet.
"Mereka menggosipin kamu. Sekarang lebih baik kamu kuajak ke tempat tongkrongan favoritku. Tanpa ada manusia mau pun monyet."
*** Nurdin kelimpungan. Ia di bawa Mbak Kunti nongkrong di atas tower telepon seluler ternama. Mana di sebuah lahan perkampungan yang benar-benar jauh dua kilo dari rumah penduduk.
"Aaaaaaaaaa....." Nurdin berteriak kenceng sakin ketakutan.
Ia fhobia ketinggian. Ia mau pingsan tapi takut jatuh dan mati konyol.
"Mbak Kunnn...kau mau bikin aku mati ya?" Nurdin memegang besi tower erat-erat. Mereka bergelantungan di ketinggian
40 meter. Nurdin menutup matanya sakin takutnya.
Mbak Kunti sendiri kebingungan. Maksud hati mau bawa Nurdin ke roof top Lemes Palace Hotel, kenapa malah ke atas tower telephone seluler? Apakah seekor kunti bisa menderita Atropi Cerebri Senelis juga?
"Baiklah Mbak Kun, kalo gitu aku pingsan aja." Nurdin beneran pingsan namun Mbak Kunti dengan sigap menangkap tubuh Nurdin yang hampir jatuh dari tower.
Mbak Kunti kembali membawa Nurdin ke rumahnya. Mungkin saja ibu hamil itu sudah tidak ada di warkop lagi.
Mbak Kunti memperhatikan wajah Nurdin yang terlihat pucat. "Cakep banget nih orang. Pantes ia lelah dengan ketampanannya."
Nurdin menggeliat. Masih bingung dengan apa yang barusan dialaminya. Ia tabok-tabok wajahnya. Sakit.
"Udah bosan hidup, ya?" Tanya Mbak Kunti sambil memegang perut. Lapar.
Ia curiga dengan dirinya. " Aku kunti apa bukan, ya? Kok bisa lapar begini?"
"Mbak Kunti perkosa aku, ya?" Nurdin masih linglung dan curiga sama Mbak Kunti. Ia menutupi selangkangannya pakai tangan.