hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍
Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?
Itulah yang terjadi sama Ema.
Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.
Tapi ternyata, Ema salah besar.
Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.
Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.
Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
Tanpa menunggu lebih lama, Emma langsung berbalik dan bergegas masuk ke dalam kamar vila. Bahkan, ia hampir lupa bahwa kakinya masih terluka.
Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada Damian yang terbaring tak berdaya di atas ranjang.
“Damian!”
Emma segera menghampiri suaminya. Matanya membelalak melihat wajah Damian yang pucat, taringnya yang masih terlihat, serta urat-urat hitam yang menjalar di kulitnya.
“Ya Tuhan, Damian! Apa yang terjadi padamu?” tanyanya panik sambil menggenggam tangan suaminya.
“Kau akhirnya datang, Nak,” ucap Leonardo yang berdiri di sisi ranjang. Wajahnya tampak serius saat menatap Emma. “Sekarang, suamimu membutuhkan darahmu.”
Emma sontak menoleh.“Darahku? Untuk apa, Ayah?” tanyanya bingung.
“Peluru yang melukai Damian mengandung air suci. Racunnya terus menyebar di tubuhnya dan membuat luka-lukanya semakin parah,” jelas Leonardo. “Kami sudah mencoba berbagai cara, tetapi kondisinya tidak kunjung membaik.”
Emma kembali menatap Damian. Air matanya mulai menggenang ketika melihat suaminya masih belum sadarkan diri.
“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanyanya lirih.
Leonardo terdiam sejenak sebelum menjawab, “Darah pasangan hidupnya bisa membantu menyelamatkannya. Karena itulah kami membutuhkanmu, Emma.”
Emma menggenggam tangan Damian semakin erat.
“Kalau begitu, ambil darahku!” jawabnya tanpa ragu. “Asalkan Damian bisa sembuh, aku tidak keberatan.”
Raina yang berdiri di dekat Leonardo langsung menghampiri menantunya. Ia mengusap bahu Emma dengan lembut.
“Terima kasih, Sayang,” ucap Raina dengan mata berkaca-kaca. “Mami tahu kau sangat menyayangi Damian.”
Emma menunduk. Pipinya mulai basah oleh air mata.
“Aku memang belum tahu sejak kapan perasaan ini muncul, Mami,” akunya dengan suara bergetar. “Tapi aku tidak mau kehilangan dia. Aku bahkan belum sempat mengatakan kepadanya bahwa aku mulai jatuh cinta padanya.”
Emma kembali menatap wajah Damian, lalu mengusap pipinya dengan lembut.
“Damian, kau dengar aku, kan? Aku sudah datang. Jadi, sekarang giliranmu untuk berjuang. Jangan membuatku menunggu lebih lama lagi.”
Namun, Damian tetap tidak memberikan jawaban
“Cepatlah bangun, Tuan Galak. Aku masih punya banyak hal yang ingin kukatakan kepadamu.”
Leonardo mengangguk pelan mendengar kesediaan Emma untuk membantu menyelamatkan Damian. Tanpa membuang waktu lagi, ia segera berbalik menghadap para anak buahnya yang berdiri tidak jauh dari pintu.
“Siapkan semuanya untuk ritual sekarang juga!” perintah Leonardo dengan suara tegas.
“Baik, Tuan!” jawab mereka serempak.
Tanpa menunggu perintah kedua, beberapa anak buah Leonardo segera meninggalkan kamar untuk mempersiapkan segala keperluan ritual. Sebagian lainnya mulai menata ruangan khusus yang akan digunakan untuk melakukan ritual tersebut.
Leonardo kemudian menoleh kepada Raina.
“Pastikan semuanya berjalan sesuai aturan. Kita tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun,” ucapnya serius.
Raina mengangguk, meskipun kecemasan masih terlihat jelas di wajahnya. Ia kembali melirik Damian yang terbaring lemah di atas ranjang, lalu menggenggam tangan Emma dengan lembut.
“Tenanglah, Sayang. Kita akan melakukan segala cara untuk menyelamatkannya,” ujar Raina berusaha menenangkan menantunya.
Emma mengangguk kecil. Namun, pandangannya tidak pernah lepas dari wajah Damian.
“Damian pasti akan sembuh, kan, Mami?” tanyanya lirih.
Raina terdiam sesaat sebelum mengusap rambut Emma dengan penuh kasih sayang.
“Kita akan berusaha, Sayang.”
Tak lama kemudian, seorang anak buah Leonardo kembali memasuki kamar dan menundukkan kepalanya dengan hormat.
“Tuan, semua persiapan hampir selesai. Kami hanya perlu menunggu perintah Anda untuk memulai ritual.”
Leonardo mengangguk tegas.
“Baik. Setelah semuanya siap, segera beri tahu aku.”
“Baik, Tuan.”
Setelah anak buahnya pergi, Leonardo kembali menatap Damian. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran yang mendalam.
Ia sudah melihat banyak hal selama hidupnya, tetapi melihat putranya sendiri terbaring tak berdaya seperti ini tetap menjadi salah satu hal paling menyakitkan baginya.
Sementara itu, Emma terus menggenggam tangan Damian seolah takut kehilangan pria itu jika ia melepaskannya.
“Bertahanlah, Damian,” bisiknya pelan. “Sebentar lagi kita akan mencoba menyelamatkanmu.”
Leonardo yang berdiri di dekat meja ritual kemudian memberikan isyarat kepada seorang pelayan untuk mendekat.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanyanya tegas.
“Sudah, Tuan. Kami bisa memulainya sekarang,” jawab pelayan itu sambil menundukkan kepala.
Leonardo mengangguk, kemudian menoleh kepada Emma.
“Emma, ritual ini membutuhkan darahmu sebagai pasangan hidup Damian. Darahmu akan digunakan untuk membantu tubuhnya melawan efek air suci yang masih menjalar di dalam dirinya.”
Emma menatap Leonardo dengan serius, lalu mengangguk tanpa ragu.
“Kalau itu bisa menyelamatkan Damian, aku bersedia, Ayah.”
Raina menggenggam tangan Emma lebih erat. “Kau yakin, Sayang?”
Emma mengangguk lagi, kali ini dengan tatapan penuh keyakinan.
“Aku yakin, Mami. Aku tidak mau kehilangan suamiku.”
Setelah mendapatkan persetujuan Emma, seorang pelayan yang bertugas memimpin ritual mulai mempersiapkan peralatan yang diperlukan. Emma kemudian duduk di kursi yang telah disediakan, sementara Raina tetap berada di sisinya untuk memberikan dukungan.
“Tarik napas perlahan, Nyonya,” ujar pelayan itu dengan lembut. “Kami akan mengambil sedikit darah dari tangan Anda untuk memulai ritual.”
Emma mengangguk, lalu mengulurkan tangannya.
Ketika luka kecil dibuat pada tangannya untuk mengambil darah, Emma sedikit meringis. Namun, ia tidak menarik tangannya kembali. Pandangannya justru terus tertuju kepada Damian yang terbaring di hadapannya.
Darah Emma ditampung dalam sebuah wadah khusus yang telah disiapkan untuk ritual tersebut.
“Sudah selesai, Nyonya,” ujar pelayan itu setelah mengambil jumlah darah yang diperlukan. Ia segera merawat luka di tangan Emma agar tidak terus mengeluarkan darah.
Emma mengangguk kecil, lalu kembali menatap suaminya.
“Sekarang, apa yang harus kulakukan?” tanyanya kepada Leonardo.
Leonardo memberi isyarat kepada pemimpin ritual untuk melanjutkan.Pelayan itu membawa wadah berisi darah Emma ke tengah lingkaran simbol di lantai, lalu mulai melafalkan rangkaian kata kuno. Cahaya lilin di sekeliling ruangan tampak bergetar, seolah-olah tersentuh oleh embusan angin yang tidak terlihat.
Perlahan, cahaya kemerahan muncul dari simbol-simbol yang terukir di lantai.
Raina menahan napas, sementara Leonardo mengamati setiap perubahan dengan saksama.
Emma sendiri tidak berani mengalihkan pandangannya dari Damian.
“Damian, kau harus sembuh,” bisiknya dengan mata berkaca-kaca. “Aku sudah melakukan bagianku. Sekarang, giliranmu untuk kembali kepadaku.”
Tiba-tiba, jari Damian bergerak sedikit Emma sontak berdiri dari kursinya.
“Damian?!”
Namun, sebelum siapa pun sempat mendekat, cahaya di dalam lingkaran ritual mendadak berdenyut semakin kuat.Pemimpin ritual menghentikan bacaannya sejenak, lalu menatap Damian dengan ekspresi terkejut.
“Yang Mulia ... ada sesuatu yang terjadi!”
Leonardo segera melangkah mendekat.
“Apa maksudmu?”
Pemimpin ritual menatap urat-urat hitam yang masih terlihat di tubuh Damian, lalu menjawab dengan suara tegang.
“Ritualnya mulai bereaksi, tetapi kita harus menunggu untuk mengetahui apakah tubuh Tuan Damian dapat menerima darah pasangannya.”
Emma kembali menggenggam tangan Damian, kali ini dengan kedua tangannya.
“Damian, kumohon ....”
Setelah rangkaian ritual selesai dilakukan, pemimpin ritual mengangkat wadah berisi darah Emma yang telah dipersiapkan sebelumnya.
“Yang Mulia, sekarang kita harus memberikan darah ini kepada Tuan Damian,” ucapnya sambil menoleh kepada Leonardo.
Leonardo mengangguk tegas.
“Lakukan sekarang.”
Pemimpin ritual kemudian menghampiri ranjang tempat Damian terbaring. Dengan hati-hati, ia membantu mengangkat kepala pemuda itu agar darah tersebut dapat diberikan kepadanya.
Namun, Damian masih belum sadarkan diri. Bibirnya tertutup rapat, sementara napasnya terdengar lemah.
“Damian, Nak, minumlah,” bisik Raina dengan mata berkaca-kaca. Ia mengusap rambut putranya, berharap Damian bisa mendengar suaranya.
Emma berdiri di sisi ranjang sambil menggenggam tangan suaminya. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Damian.
“Damian, ini darahku,” ucap Emma lirih. “Kau harus meminumnya, ya? Aku sudah datang jauh-jauh untuk menemuimu. Jadi, jangan membuat semua usahaku sia-sia.”
Pemimpin ritual mulai memberikan darah itu sedikit demi sedikit ke bibir Damian. Awalnya, tidak ada reaksi apa pun. Darah tersebut bahkan sempat mengalir melewati bibirnya tanpa ditelan.
“Kenapa dia tidak meminumnya?” tanya Emma panik. Ia menoleh kepada Leonardo dengan wajah pucat. “Ayah, kenapa Damian tidak bereaksi?”
“Tenanglah, Emma,” jawab Leonardo, meskipun ia sendiri mulai diliputi kecemasan. “Biarkan mereka melanjutkannya.”
Pemimpin ritual kembali mencoba memberikan darah itu dengan hati-hati.Kali ini, tenggorokan Damian bergerak sedikit Ia menelannya.
“Dia meminumnya!” seru Raina spontan. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan seketika menunjukkan sedikit harapan.
Emma langsung mendekat.
“Damian? Kau bisa mendengarku?” tanyanya sambil mengusap pipi suaminya dengan lembut.
Damian kembali menelan sedikit demi sedikit darah yang diberikan kepadanya. Meski matanya masih tertutup, tubuhnya mulai menunjukkan reaksi.
Urat-urat hitam yang menjalar di kulitnya perlahan berhenti menyebar semua orang yang berada di mengamati perubahan itu dengan saksama Namun, beberapa saat kemudian, tubuh Damian mendadak menegang.
“Ahh ...!” erangnya tertahan.
“Damian!” pekik Emma sambil mencengkeram tangan suaminya.
Pemimpin ritual segera meletakkan wadah itu dan memeriksa keadaan Damian.
“Jangan panik! Tubuh Tuan Damian sedang bereaksi terhadap darah pasangannya,” jelasnya cepat.
Emma menatap Damian dengan air mata yang mulai mengalir kembali.
“Bertahanlah, Sayang. Kumohon, bertahanlah ....”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di vila itu, Emma tidak lagi memikirkan apakah Damian mencintainya atau tidak Saat ini, ia hanya ingin pria itu membuka mata dan kembali memanggil namanya seperti biasa Karena bagi Emma, tidak ada yang lebih penting daripada melihat Damian kembali sehat.
eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭