Pria Terbuang, Topeng Hitam, dan Kekuatan Kuno yang Mengguncang Alam Kultivasi!
Dibuang oleh keluarga sendiri karena dianggap sampah tanpa masa depan, Lu Mingseng bangkit bersama warisan tiga pembimbing kuno. Dengan topeng hitam separuh wajah dan anomali struktur energi di tubuhnya, ia siap menuntaskan dendam masa lalu dan membakar jalurnya menuju puncak keabadian!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Lelang Kota Awan Agung dan Gema dari Masa Lalu
Pusat Kota Awan Agung — Pagi Hari
Pagi menyelimuti Kota Awan Agung dengan selimut kabut tipis.
Di jalanan utama, kereta-kereta perdagangan mewah mulai lalu-lalang, para penjaja membuka kedai, dan ratusan kultivator keluar dari penginapan untuk berburu pil serta bahan tempaan.
Di sebuah kamar penginapan yang sederhana, Lu Mingseng mengakhiri meditasi paginya.
Energi spiritual perlahan meresap kembali ke dalam pori-pori fisiknya. Setelah menata napas, ia membuka mata dan mengembuskan napas panjang.
Sepanjang malam, ia berusaha membedah rahasia cakram kelabu yang dibelinya dari pasar barang loak. Namun, selain kilatan simbol merah yang muncul sekilas kemarin, ia tidak menemukan petunjuk tambahan.
Tiga pembimbing kuno di dalam jiwanya pun tidak memberikan jawaban pasti. Kaisar Abadi hanya dapat merasakan jejak energi yang hampir pudar, penjaga Balai Penempaan Darah mengenali bahwa logam tersebut terbuat dari bahan tempaan tingkat tinggi namun polanya telah hancur, sementara kesadaran wanita misterius berpesan agar tidak memaksakan takdir.
Mingseng merapikan pakaiannya, menyelipkan cakram kelabu itu ke dalam kantong tersembunyi di balik jubah hitam sederhananya, lalu memastikan topeng hitam separuh wajahnya terpasang rapi.
Hari ini, ia berniat mendatangi rumah lelang terbesar di kota itu untuk mencari bahan kultivasi atau obat pemulihan fisik.
......................
Rumah Lelang Awan Agung berdiri megah di pusat kawasan perdagangan.
Bangunan lima lantai itu disangga pilar-pilar batu putih yang dihiasi ukiran awan dan formasi pelindung spiritual yang berkilauan samar. Di depan gerbang utama, dua barisan pengawal bersenjata berdiri tegap, memancarkan aura yang jauh melampaui murid biasa Sekte Pedang Awan.
Kereta-kereta mewah berkuda roh datang silih berganti. Para bangsawan yang turun mengenakan jubah sutra mahal, dikawal oleh pengawal pribadi berwajah garang.
Mingseng berjalan santai mendekati pintu masuk tanpa pengawal maupun simbol keluarga besar.
Seorang pengawal gerbang langsung mengulurkan tangan, menahannya dengan tatapan menilai dari atas ke bawah. "Undangan atau tanda masuk?"
"Apakah pengunjung biasa tidak diizinkan masuk?" tanya Mingseng tenang di balik topeng.
"Boleh, selama membayar biaya masuk dan tidak membuat kekacauan," cetus pengawal itu sinis, melirik topeng Mingseng. "Tapi kalau tidak punya uang, sebaiknya pergi saja ke pasar loak di pinggiran. Tempat ini bukan untuk pengemis bertopeng."
Beberapa bangsawan muda di sekitar tempat itu tertawa kecil mendengar ejekan tersebut.
Mingseng tidak terpancing emosi. Ia mengeluarkan sepuluh keping batu spiritual tingkat rendah dan menyerahkannya. "Aku datang untuk membeli barang, bukan meminta belas kasihanmu."
Wajah pengawal itu sedikit mengeras, namun karena Mingseng membayar biaya masuk dengan sah, ia terpaksa memberi jalan.
***
Bagian dalam rumah lelang sangatlah luas. Aula utama dipenuhi deretan kursi bertingkat, sedangkan lantai atas merupakan bilik-bilik VIP privat.
Mingseng memilih duduk di barisan belakang yang redup agar tidak menarik perhatian.
Tak lama berselang, seorang juru lelang wanita anggun berpakaian biru muda bernama Lin Yue naik ke panggung utama.
"Selamat datang di Lelang Bulanan Awan Agung!" seru Lin Yue dengan suara berbalut energi spiritual yang menggema mulus ke seluruh penjuru ruangan.
Lelang dimulai. Berbagai barang berharga dipamerkan—mulai dari Pil Pengumpulan Qi kualitas murni, pedang besi hitam tempaan master, hingga jimat pertahanan tingkat tinggi.
Mingseng mengamati jalannya lelang dengan cermat. Batu spiritual tingkat rendah adalah mata uang mutlak di sini.
Hingga akhirnya, Lin Yue memperkenalkan barang berikutnya.
"Barang ini ditemukan oleh kelompok pemburu di kawasan luar Pegunungan Pemakaman Abadi," terang Lin Yue saat dua pelayan membawakan sebuah nampan tertutup kain merah. "Bahan utamanya diduga merupakan sisik binatang dari era lampau, namun asal-usul pastinya belum teridentifikasi. Harga pembukaan: sepuluh batu spiritual tingkat rendah!"
Kain ditingkapkan, memperlihatkan sepotong pecahan sisik berwarna merah kehitaman yang tampak kusam dan tidak menunjukkan fluktuasi energi berarti.
Para tamu di aula mulai berbisik meremehkan.
"Barang tak berguna!"
"Auranya sudah mati, buat apa dibeli?!"
Namun pada saat yang bersamaan, cakram kelabu di dalam kantong Mingseng bergetar halus!
Bahkan tablet hitam di ruang kesadarannya ikut menyalurkan denyut hangat yang intens. Mingseng terhenyak. Benda ini punya keterikatan!
"Sepuluh batu spiritual," tawar Mingseng mengangkat tangannya.
Lin Yue tersenyum. "Sepuluh batu spiritual dari pemuda bertopeng di barisan belakang!"
Tiba-tiba, seorang pemuda berjubah hijau di barisan depan yang membawa jubah berhiaskan lambang burung perak menoleh dan mengangkat tangannya. "Dua puluh batu spiritual!"
"Tiga puluh," balas Mingseng tenang.
Pemuda itu mengerutkan dahi, menatap Mingseng dengan pandangan merendahkan. "Empat puluh batu spiritual! Siapa kau berani bersaing denganku?"
Mingseng mengukur jumlah batu spiritual di kantongnya. Ia tahu jika terus menaikkan harga, ia tidak akan punya sisa uang untuk membeli obat pemulihan yang dibutuhkannya.
Suara Kaisar Abadi berbisik halus di batinnya:
'Jangan terbawa emosi, Mingseng. Jika benda itu memang ditakdirkan untukmu, kau akan menemukan jalurnya kelak.'
Mingseng menarik napas panjang dan menurunkan tangannya, membiarkan pemuda berjubah hijau itu memenangkan lelang pecahan sisik tersebut seharga empat puluh batu spiritual.
Pemuda berjubah hijau itu menoleh pada Mingseng sambil berseringai ejek. "Kalau miskin, jangan sok berani ikut menawar! Tempat ini bukan untuk sampah bertopeng sepertimu."
Gelak tawa pecah di sekitar aula.
Mingseng menatapnya lurus dari balik celah topengnya. "Uangmu mungkin bisa membeli barang lelang, tapi sayang tidak bisa membeli sedikit tata krama."
"Kau...!" Pemuda itu berdiri berang, hendak memerintahkan dua pengawalnya yang berada di ranah Fondasi Spiritual.
TAK! TAK!
Lin Yue mengetuk palunya keras di panggung. "Dilarang membuat keributan di dalam rumah lelang!"
Pemuda itu terpaksa menahan amarahnya, lalu menunjuk Mingseng dingin. "Namaku Fang Zhenyu dari Keluarga Fang Kota Awan Agung! Ingat namaku, pemuda bertopeng! Kita lihat berapa lama kau bisa bersikap sombong di kota ini!"
Mingseng mencatat nama itu dalam batinnya. Keluarga Fang... apakah ada hubungan dengan Fang Rui dari sekte?
Di akhir acara lelang, Mingseng berhasil mendapatkan satu botol cairan pemulihan tubuh berkualitas sedang yang sangat berguna untuk menempa fisiknya.
Malam harinya, Mingseng kembali ke kamar penginapan. Ia mengeluarkan cakram kelabu dan meletakkannya di samping tablet hitam peninggalan Balai Penempaan Darah.
Ia memperhatikan dengan cermat. Di tepi cakram kelabu itu, terdapat tiga cekungan sangat kecil yang jika disatukan membentuk posisi yang sama persis dengan tiga titik kecil pada lambang merah misterius yang pernah muncul!
Mingseng tertegun. "Guru, ini bukan kebetulan!"
Kaisar Abadi dan sang penjaga balai terdiam mengamati fenomena tersebut.
Tiba-tiba, permukaan tablet hitam bergetar hebat. Tanpa pendar cahaya, sebaris tulisan merah darah terukir di permukaannya:
JEJAK PERTAMA TELAH DITEMUKAN.
Mingseng membeku menatap kalimat itu. Jejak pertama?
Sebelum ia sempat bertanya, tulisan itu perlahan memudar kembali menjadi hitam pekat. Baik Kaisar Abadi, penjaga balai, maupun wanita misterius, ketiganya terhenyak dalam keheningan—bahkan para legenda tua itu tidak tahu pasti takdir apa yang sedang dibangun oleh tablet tersebut.
Sementara itu, jauh ribuan li dari Kota Awan Agung...
Di kedalaman reruntuhan bawah tanah Lembah Kabut Kelabu yang telah terkubur dan sunyi selama ribuan tahun, sebuah pilar batu hitam raksasa mendadak memancarkan pendar merah dari dalamnya.
Krrrrk...!
Retakan-retakan halus menjalar di permukaan pilar kuno tersebut. Tiga titik cahaya merah menyala terang di puncaknya.
Sebuah gema suara tua yang teramat berat berbisik memecah kegelapan bawah tanah:
"Siapa... yang telah membawa jejak itu kembali ke dunia ini...?"
Suara itu bergema sekilas sebelum pilar tersebut kembali padam perlahan.
Di kamar penginapannya, Lu Mingseng memadamkan lampu minyak dan duduk bersila, mengedarkan energi spiritualnya dengan tenang.
Masa depan yang jauh lebih besar, penuh misteri dan bahaya tak terduga, kini telah resmi menanti langkah pemuda bertopeng itu di hadapan sana.
Jan lupa vote nya 🥳🥳🥳