Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keheningan
Mobil keluar dari area parkir apartemen Alya dan mulai melaju di jalanan. Siang itu, jalanan cukup sepi, sama seperti suasana di dalam mobil.
Nadira terus merapatkan bibirnya. Arga pun tidak berani bersuara. Membayangkan Nadira mengetahui kenyataan dengan sendirinya tanpa penjelasan yang baik membuat nyalinya ikut menciut.
“Sayang…” panggil Arga pelan, berusaha mencairkan suasana.
Namun, Nadira sama sekali tidak menyambut panggilan itu. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Arga dan hanya menatap keluar jendela, memperhatikan bangunan-bangunan tinggi yang mereka lewati.
Marah? Tentu saja. Hanya saja, Nadira belum tahu harus melampiaskan kemarahannya dengan cara seperti apa. Ia masih berusaha mengendalikan diri agar tidak mengatakan sesuatu yang mungkin akan disesalinya nanti. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tetapi ia memilih menunggu sampai mereka tiba di apartemen.
Ia ingin mendengar penjelasan Arga secara langsung. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, jauh di dalam hatinya, ada ketakutan yang terus berusaha ditepisnya. Bagaimana jika penjelasan Arga justru membenarkan semua pikiran buruk yang sejak tadi berusaha ia singkirkan?
Biasanya, panggilan sayang dari Arga akan membuat hatinya menghangat. Ada perasaan nyaman yang selalu muncul setiap kali laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan tersebut. Akan tetapi, kali ini panggilan yang sama justru membuat dadanya terasa sesak.
Nadira membuka kaca jendela mobil, lalu memejamkan mata. Angin dari luar menerpa wajahnya, menggerakkan beberapa helai rambut yang jatuh di dekat pipi. Ia tidak peduli rambutnya menjadi berantakan. Untuk saat ini, ia hanya ingin menenangkan diri sebelum kembali berhadapan dengan Arga.
“Maafkan aku, Ra…” suara Arga kembali terdengar.
Nadira mengembuskan napas perlahan. Ia membuka mata, lalu menutup kembali kaca jendela mobil. “Kita bicara nanti di apartemen,” ucapnya tanpa menoleh.
Arga akhirnya memilih diam. Ia kembali berkonsentrasi pada kemudi dan jalanan di depannya. Tidak ada lagi suara, hanya deru mesin mobil dan sesekali helaan napas yang terdengar di antara mereka.
Beberapa menit kemudian, ponsel Arga yang terletak di konsol tengah bergetar. Layar menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan. Arga sempat meliriknya, tetapi segera mengalihkan pandangan kembali ke jalan.
Nadira melihat gerakan itu dari sudut matanya.
Entah mengapa, hal sederhana tersebut membuat kekesalannya bertambah. Bahkan sekarang, ketika mereka sedang berada dalam situasi seperti ini, masih ada hal lain yang menyita perhatian Arga. Ia tidak tahu siapa yang mengirim pesan itu, dan ia juga tidak ingin bertanya. Kalau memang ada sesuatu yang perlu dijelaskan, seharusnya Arga sendiri yang memiliki kesadaran untuk mengatakannya.
“Kenapa tidak dibaca?” tanyanya tiba-tiba.
Arga sedikit terkejut. “Apa?”
“Ponselmu bergetar.”
“Ah, nanti saja.”
“Ya, terserah kamu.”
Jawaban Nadira terdengar datar, tetapi cukup membuat Arga merasa tidak nyaman. Ia tahu perempuan itu sedang marah. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak bisa menenangkan Nadira hanya dengan menggenggam tangan atau memanggil wanita di sampingnya ini dengan sebutan sayang.
Arga ingin mengatakan bahwa ia tidak pernah berniat menyakiti Nadira. Ia ingin menjelaskan bahwa perasaannya kepada istri pertamanya ini masih sama.
Tidak ada yang berubah. Namun, bagaimana ia bisa mengatakan semua itu ketika Nadira baru saja melihatnya bersama perempuan lain? Ia sendiri yang membuat keadaan menjadi seperti ini.
Selama ini, Arga selalu berpikir bahwa selama ia masih mencintai Nadira dan tetap memperlakukannya dengan baik, semuanya akan baik-baik saja. Ia merasa mampu mengatur dua kehidupan yang telah dijalaninya, seolah-olah kebohongan yang disimpannya tidak akan pernah terbongkar.
Namun, kejadian di lobi tadi menunjukkan betapa kelirunya ia. “Ra, aku benar-benar ingin menjelaskan semuanya kepadamu,” katanya lagi setelah beberapa saat.
“Dari tadi aku tidak mengatakan apa-apa, kan? Aku juga tidak memaksamu menjelaskan di depan orang banyak. Aku hanya ingin kita sampai di rumah, lalu kamu bisa mengatakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi.”
Nada suara Nadira mulai meninggi di akhir kalimat. Ia segera berhenti bicara, menahan dirinya agar tidak melanjutkan kata-kata yang sudah menumpuk sejak tadi.
Arga menatapnya sekilas. “Baiklah, aku tahu.” Laki-laki itu menghembuskan nafas pelan.
“Kalau kamu tahu, seharusnya kamu tidak perlu terus meminta maaf tanpa menjelaskan apa pun.”
Arga kembali terdiam. Kali ini, ia tidak mencoba membela diri atau menjelaskan apapun lagi. Ia akan menjelaskan nanti saat mereja tiba di rumah.
Nadira menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia masih kesal, bahkan jauh lebih kesal daripada yang ingin diperlihatkannya. Namun, ia tidak mau menghabiskan perjalanan dengan berdebat tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Ia ingin Arga bicara. Bukan meminta maaf berulang kali, bukan memanggilnya dengan sebutan sayang seolah-olah semuanya masih sama, dan bukan pula memberinya janji yang belum tentu bisa dipercaya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bersama, Nadira merasa tidak ingin mendengar kata-kata manis dari laki-laki itu. Ia hanya membutuhkan kejujuran.
Mobil mulai memasuki kawasan apartemen mereka. Arga memperlambat laju kendaraan, kemudian berbelok menuju pintu masuk basement. Petugas keamanan memeriksa kendaraan sebelum mengizinkan mereka masuk.
Nadira merapikan rambutnya sekadarnya, lalu mengambil tas yang sejak tadi diletakkan di pangkuan. Wajahnya kembali tenang, tetapi bukan berarti kemarahannya sudah mereda.
Arga memarkir mobil di tempat biasanya. Setelah mesin dimatikan, ia tidak langsung bergerak. Ia tahu begitu mereka keluar dari mobil, tidak ada lagi alasan untuk menunda percakapan yang sejak tadi berusaha dihindarinya.
Nadira membuka sabuk pengaman, lalu menoleh kepadanya. “Aku tunggu penjelasanmu di rumah, Ga.”
Setelah mengatakan itu, Nadira membuka pintu dan turun dari mobil.
Sedangkan Arga masih duduk beberapa detik di balik kemudi. Ia memandangi pintu mobil yang baru saja tertutup, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia mencintai Nadira. Itu tidak pernah berubah. Namun, cinta saja tidak cukup untuk memperbaiki sesuatu yang telah dirusaknya sendiri.