Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat di Atas Kertas
Pagi itu, Aira masih memikirkan kejadian semalam. Kartu nama yang diberikan Devan Mahendra tergeletak di atas meja kecil di kamarnya. Berkali-kali ia membaca nama yang tertera di sana, mencoba memahami alasan pria kaya itu ingin menjadikannya seorang istri.
Aira tidak pernah membayangkan masalah utang ayahnya akan membawanya pada situasi seperti ini.
Di ruang tengah, Ratih sedang membantu menyiapkan sarapan untuk Bima dan Maya. Sementara itu, ibu mereka masih berbaring di kamar karena kondisinya belum membaik.
Aira menghela napas. Ia harus memikirkan biaya pengobatan ibunya sekaligus memastikan adik-adiknya tetap bisa tinggal di rumah tersebut.
Namun, ia belum sempat menemukan jawaban ketika suara kendaraan terdengar dari halaman.
Aira melangkah menuju pintu depan. Sebuah sedan hitam terparkir di dekat pagar. Pria yang semalam datang menyelesaikan utang keluarganya kini berdiri di teras, ditemani asistennya.
Devan Mahendra datang kembali.
Aira membuka pintu dan mempersilakan mereka masuk. Meski masih diliputi keraguan, ia berusaha bersikap tenang.
"Selamat pagi, Tuan," sapanya singkat.
"Pagi." Devan menatapnya sekilas. "Kita perlu membicarakan sesuatu."
Aira mengangguk, lalu mengantar Devan dan Arga ke ruang tamu.
Setelah duduk, Devan meletakkan sebuah map di atas meja kayu. Sikapnya tetap tenang, seolah pertemuan itu hanyalah urusan bisnis biasa.
"Aku harap kau sudah memikirkan tawaranku."
Aira duduk di seberangnya. "Saya masih belum mengerti mengapa Tuan memilih saya."
Devan tidak langsung menjawab. Ia memberi isyarat kepada Arga, yang kemudian membuka map dan mengeluarkan beberapa dokumen.
"Sebelum membahas persyaratannya, ada baiknya kau mengetahui alasan aku membutuhkan seorang istri," ujar Devan.
Ia menatap Aira dengan ekspresi serius.
"Wasiat kakek menuntutku untuk segera menikah tahun ini jika aku ingin menduduki posisi penuh sebagai CEO Mahendra Group dan mengamankan warisan kakekku."
Aira terdiam.
Devan kemudian menjelaskan bahwa dirinya sedang menghadapi persaingan untuk mendapatkan posisi tersebut. Pernikahan menjadi salah satu syarat penting yang harus dipenuhinya sesuai wasiat sang kakek.
Ia tidak ingin membuang waktu mencari pasangan dari kalangan sosialita yang mungkin akan menuntut banyak hal darinya. Setelah mengetahui keadaan keluarga Aira, ia menilai gadis itu sebagai pilihan yang sesuai dengan kebutuhannya.
"Seperti yang ku katakan kemarin, aku sudah meminta Arga menyelidiki latar belakangmu," lanjut Devan. "Aku tahu ayahmu memiliki utang besar, ibumu membutuhkan pengobatan, dan kau berusaha mempertahankan sanggar tenun peninggalan kakekmu."
Aira mengerutkan kening.
"Jadi, Tuan memilih saya karena keadaan keluarga saya?"
"Aku memilihmu karena kita sama-sama memiliki sesuatu yang dibutuhkan." Devan menyandarkan punggungnya. "Kau membutuhkan bantuan untuk keluargamu, sedangkan aku membutuhkan seorang istri. Kita bisa menyelesaikan kepentingan masing-masing melalui pernikahan ini."
Aira menunduk, mencerna perkataan pria itu.
Sekarang ia mulai memahami bahwa Devan tidak datang untuk menolong keluarganya tanpa alasan. Ada kepentingan yang ingin dicapainya, dan ia menawarkan sebuah kesepakatan sebagai jalan keluar bagi mereka berdua.
Arga mendorong dokumen di atas meja ke arah Aira.
"Ini rancangan perjanjian pranikah dan kontrak pernikahan. Silakan Anda baca terlebih dahulu."
Aira membuka lembar pertama. Matanya menyusuri tulisan-tulisan di dalamnya dengan hati-hati.
Pernikahan itu akan berlangsung selama tiga tahun. Selama masa tersebut, ia harus menjalankan perannya sebagai istri Devan. Sebagai gantinya, utang keluarganya dinyatakan lunas, biaya pengobatan ibunya ditanggung, dan ia akan menerima kompensasi sesuai kesepakatan setelah kontrak berakhir.
Setelah tiga tahun, perceraian akan diproses sesuai perjanjian.
Aira terdiam cukup lama.
Tiga tahun.
Ia harus menjalani kehidupan bersama seorang pria yang baru dikenalnya, tanpa ikatan perasaan dan hanya berlandaskan kesepakatan di atas kertas.
Namun, ketika mengingat kondisi ibunya dan nasib ketiga adiknya, Aira merasa tidak memiliki banyak pilihan.
"Bagaimana?" tanya Devan. "Apa kau bersedia?"
Aira mengangkat wajah.
"Kalau saya menolak?"
"Aku tidak akan memaksamu." Devan menatapnya dingin. "Namun, jangan berharap aku akan terus menanggung masalah keluargamu. Aku sudah menyelesaikan utang ayahmu, tetapi keputusan untuk menerima tawaranku tetap berada di tanganmu."
Aira menggenggam ujung dokumen itu.
Ia tahu keputusan tersebut akan mengubah hidupnya. Namun, ia juga tahu bahwa keluarganya membutuhkan bantuan yang tidak sanggup ia berikan seorang diri.
Bayangan ibunya yang terbaring lemah kembali terlintas di benaknya. Ia teringat ketiga adiknya yang masih membutuhkan tempat tinggal dan masa depan yang lebih baik.
Aira menarik napas panjang.
"Saya terima syaratnya," ucapnya akhirnya.
Devan memperhatikannya tanpa berkata-kata.
Aira mengangkat wajah dan menatap pria itu tepat di matanya.
"Tapi camkan satu hal, Tuan Devan Mahendra. Anda boleh membeli pernikahan ini di atas kertas, dan Anda boleh memperlakukan saya sesuka hati Anda. Tapi Anda tidak akan pernah bisa membeli harga diri saya."
Untuk sesaat, Devan terdiam. Ia tidak menyangka gadis yang sedang berada dalam kesulitan itu masih berani berbicara setegas itu di hadapannya.
Setelahnya, Devan menyunggingkan senyum tipis.
"Silakan tanda tangani itu. Kita lihat seberapa lama harga dirimu itu bisa bertahan di rumahku."
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,