NovelToon NovelToon
Tubuhku Milik Sang Mafia

Tubuhku Milik Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / One Night Stand / Single Mom / Anak Genius / Hamil di luar nikah / Dokter / Teman lama bertemu kembali / Tamat
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Karina Garcia

Satu malam yang tak pernah ia inginkan mengubah seluruh hidupnya.

Saras Danuarta—putri sebuah dinasti perhiasan ternama, calon dokter yang hanya bermimpi menyelamatkan nyawa orang lain—dikhianati oleh keluarganya sendiri. Demi menyelamatkan sang adik, ia terpaksa menyerahkan diri semalam kepada pria paling ditakuti di Paris: Nael Hendarto, raja bawah tanah berjuluk "Bayangan Maut". Pria yang kejam, dingin, dan tak mengenal kata cinta.

Pagi itu Saras pergi tanpa menoleh, membawa satu rahasia yang akan ia jaga dengan nyawanya.

Tujuh tahun kemudian, ia telah menjelma menjadi dokter yang dipuja seantero rumah sakit—seorang ibu tunggal yang membesarkan si kembar dengan tangannya sendiri di sudut kota yang keras. Sampai takdir kembali mempertemukannya dengan pria itu. Dan kali ini, Nael menemukan sesuatu yang tak pernah ia tahu ia miliki: sepasang mata cokelat keemasan yang sama persis dengan matanya.

Pria yang selama ini hanya mengenal darah dan kuasa kini bertekad merebut kembali segalanya—istrinya, anak-anaknya, keluarga yang tak pernah ia impikan. Tapi cinta tak bisa dibeli, tak bisa dipaksa, dan tak bisa direbut dengan ancaman. Untuk memiliki hati Saras, sang mafia harus belajar menjadi sesuatu yang jauh lebih sulit daripada seorang penguasa: seorang pria yang layak dicintai.

Di antara dendam masa lalu, musuh yang mengintai, dan rahasia keluarga yang mematikan, mampukah luka yang dulu berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karina Garcia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Nael memerintahkan agar langsung menuju gudang. Sesampainya di sana, ia melihat Aldo berdiri dengan kedua tangan terikat ke langit-langit, dan di sisinya perempuan itu duduk terikat di sebuah kursi. Ia memulai dari perempuan itu. Ia tak peduli soal jenis kelamin; ia hanya teringat apa yang telah perempuan itu lakukan pada putrinya. Ia memerintahkan agar perempuan itu diberdirikan dan diikat ke langit-langit, lalu saat itu mulai mencambuknya. Ia menikmati mendengarnya menjerit, memohon agar dilepaskan. Selepas cambukan, ia menyayat wajah perempuan itu hingga rusak tak berbentuk, memotong tangannya, dan agar tak mati kehabisan darah, ia membakar lukanya dengan besi panas.

Nael tanpa ampun terhadap perempuan itu. Ia membiarkannya tetap hidup, dan ketika selesai ia berkata.

"Nyonya Maroni, ini akan jadi pelajaran agar seumur hidupmu kau tak lagi menganiaya seorang anak, dan terutama agar kau tak lagi menyentuh anak-anakku. Kuharap ke depan kau berpikir tiga kali sebelum menghina atau merendahkan siapa pun. Nyonya Maroni, kuharap kau sudah berpamitan pada putrimu, karena kau tak akan pernah melihatnya lagi. Aku akan menjualnya ke salah satu rumah bordil milik musuh-musuh ayahmu; ia akan jadi pemuas yang baik bagi para lelaki di sana. Itu akan mengajarinya sopan santun, mengajarinya rendah hati, dan terutama agar ia tak lagi berani mengganggu putriku. Aku juga ingin kau menyampaikan pada ayahmu, bahwa kapan pun ia mau, aku menantinya. Akan jadi kesenangan bagiku untuk membunuhnya, meninggalkanmu sendirian."

Perempuan itu mulai menjerit putus asa, memohon agar putrinya dikembalikan, memohon ampun, mengaku sudah menyadari kesalahannya, berjanji tak akan mengulanginya, dan bahwa ayahnya pasti akan memaklumi—tetapi tolong, kembalikan putrinya. Ia memohon dan berteriak meratapi anaknya. Nael tetap murka. Terlepas dari semua yang telah ia lakukan pada perempuan itu, ia masih marah, dan di benaknya masih terpampang bayangan perempuan itu memukuli putrinya. Ia teringat bibir Lia yang pecah, lengannya yang membekas, pipinya yang bengkak. Karena itulah perintahnya lugas dan tak berubah.

Nael memerintahkan agar perempuan itu dibawa keluar dari sana, dibuang di depan pintu rumah keluarga Maroni, disertai papan bertuliskan "ini terjadi karena menyentuh anak-anak Bayangan Maut. Kalau kau ingin balas dendam, aku menantimu. Lupakan cucumu." Setelah memperjelas apa yang harus dilakukan, dua anak buahnya menyeret perempuan itu keluar.

Nael dan Peni keluar dari gudang. Peni ingin tahu apa yang akan dilakukan terhadap si anak. Nael memerintahkan agar bocah itu dibawa ke salah satu panti asuhan miliknya. Ia ingin gadis kecil itu dibesarkan jauh dari keluarganya, sampai ia dewasa nanti. Jika keluarganya masih hidup, biarlah mencarinya sendiri. Bagi Nael, apa pun yang terjadi pada anak itu sama saja; ia hanya ingin perempuan itu membayar atas perbuatannya terhadap putrinya.

Ia kembali ke dalam, menghampiri dokter Aldo. Begitu melihatnya mendekat, dengan putus asa sang dokter berkata.

"Kenapa Anda menahan saya di sini? Bos, katakan, apa kesalahan saya? Saya dokter yang baik dan selalu bekerja dengan benar. Tak ada satu pasien pun yang mengeluh. Tolong katakan, apa salah saya sampai pantas mengalami hal seperti ini?"

Nael menatapnya penuh kebencian. Terjadi keheningan, dan setelah beberapa menit, dengan suara tegas ia berkata.

"Peni, katakan apa yang kau temukan."

Peni berdiri di sampingnya, tak acuh pada jeritan sang dokter, lalu dengan suara geli berkata.

"Nael, kau boleh tenang. Dia tak menyentuhnya sampai sejauh itu. Dia memang mencoba memperkosanya, tapi perempuan kita itu seorang pejuang, dia tak menyerah, dia tahu cara menempatkan si dokter pada tempatnya. Tapi yang pasti, pelecehan yang dia lakukan selama tujuh tahun ini sudah keterlaluan."

Dokter Aldo mendengar ucapan Peni, tetapi ia tak tahu siapa yang dimaksud, karena Saras bukan satu-satunya yang ia lecehkan. Dengan putus asa ia mulai berteriak.

"Bos, jangan percaya pada perempuan itu. Saya tak berbuat salah. Dia yang menawarkan diri pada saya, dan saya cuma bereaksi. Saya bisa pastikan dia memfitnah saya, karena saya tak menggubrisnya, karena saya tak mau bersamanya. Tapi bukan seperti yang dia katakan, saya bisa jamin itu."

Nael yang marah meninju wajahnya dan dengan murka berkata.

"Berani-beraninya kau berkata begitu tentang istriku. Aku sudah melihat rekaman saat dia berlari keluar dari ruanganmu sambil menangis. Itu benar-benar membuatku murka. Aku sama sekali tak akan membiarkan siapa pun mengganggu istriku. Tapi yang paling kubenci dari semua ini adalah kau berani menatapnya—kau tak pantas punya mata. Aku benci kau berani menyentuhnya, karena itu aku akan membuatmu kehilangan kedua tanganmu, dan yang terakhir, lidahmu, agar aku tak lagi mendengarmu mencemarkan nama baiknya. Aku ingin kau paham: istriku tak punya kewajiban memberitahumu siapa ayah dari si kembar. Kau seharusnya membiarkannya sejak awal saat dia bilang tak bisa bersamamu. Kau seharusnya paham bahwa dia sudah ada yang memiliki. Kini kau salah langkah, dan kau seharusnya tak pernah menginginkannya sebagai perempuanmu."

Nael tak membiarkannya bicara lebih lanjut. Begitu sang dokter membuka mulut, dengan penjepit besi Nael mencengkeram lidahnya dan tanpa ragu memotongnya, lalu Peni memerintahkan agar lukanya dibakar untuk menutup pendarahan. Nael memang bisa menjadi kejam, tak berbelas kasih, dan sadis, tetapi hari itu ia benar-benar bengis. Ia membuat sang dokter kehilangan kedua tangan, kehilangan lidah, dan membakar kedua matanya. Terakhir, di keningnya ia menorehkan kalimat "aku pantas menerima ini karena melecehkan orang." Ketika selesai, ia merasa sedikit lebih tenang, meski sekujur tubuhnya berlumuran darah.

Peni membawakan air, dan Nael mulai membasuh tangannya. Saat itu ia memerintahkan agar sang dokter dibawa dan dibuang di jalan-jalan paling ramai di kota; ia ingin semua orang melihatnya, melihatnya terhina. Peni menuruti perintah itu dan tanpa ragu pergi membawa sang dokter, meninggalkan Nael bersama dua anak buahnya. Nael sering kali terlalu mengandalkan keberuntungannya dan tak memikirkan musuh-musuhnya. Meski Peni selalu mengingatkannya agar tak tinggal hanya dengan sedikit orang, ia tak pernah mengindahkannya. Ia selalu berusaha menyendiri. Sering kali alam bawah sadarnya justru mencari kematian, dan itulah sebabnya ia mengambil keputusan-keputusan semacam itu. Tetapi kini berbeda—kini ia ingin hidup, terutama demi anak-anaknya.

Nael hampir selesai membasuh tangannya ketika mendengar sepucuk senjata meletus dua kali. Saat itu ia merasakan sesuatu yang panas di bahu kanannya, disusul rasa sakit. Saat menoleh ke bahunya, ia melihat darah mulai mengalir. Melihat itu, ia sadar seseorang baru saja menembaknya—seseorang baru saja mengkhianatinya, dan itu benar-benar membuatnya berang. Sesaat ia terpaku menatap ember berisi air itu, lalu ia mendengar.

"Diam di tempat. Biar aku menyerahkanmu dalam keadaan hidup, Bos. Rekanmu akan membayarku tiga kali lipat dari yang dijanjikan kalau aku menyerahkanmu hidup-hidup."

Nael bukan pria yang mudah ditaklukkan, dan si pengkhianat terlalu percaya diri melihatnya terluka. Begitu mendengar orang itu menyebutkan lokasinya lewat telepon, Nael meraih senjata yang terselip di kakinya, dengan cepat melempar tubuhnya ke samping sambil berputar dan menembak. Ia tak ingin membunuhnya, tetapi tak ada pilihan lain. Satu peluru bersarang di kepala orang itu, satu lagi di dadanya.

Ia cepat-cepat bangkit dan menatap si pengkhianat—salah satu anak buahnya di kota ini, orang yang mengendalikan segala urusan di sana. Dari yang ia lihat, hanya orang itulah pengkhianatnya. Ia merobek kemeja mayat itu dan menutup lukanya sendiri. Saat itu ia mendengar beberapa mobil mendekat ke lokasi. Ia bergegas keluar dan naik ke mobilnya untuk melarikan diri. Kejar-kejaran pun dimulai. Dengan senjata yang ia bawa, ia berhasil menembak ban salah satu mobil pengejar hingga tertinggal, tetapi dua mobil lagi masih membuntutinya. Tanpa disengaja, ia sampai di kawasan tempat apartemen Saras dan anak-anaknya berada.

Tiga blok sebelum apartemen, mobilnya menabrak salah satu rumah, menerobos hingga separuh badan mobil masuk ke dalam rumah itu. Saat itu ia cepat-cepat keluar lewat salah satu jendela, berusaha kabur dari para pengejarnya. Ia mulai melompat dari satu jalan ke jalan lain, bersembunyi di sela-sela bangunan, sampai ia yakin tak ada lagi yang mengikutinya. Saat itu ia teringat Saras. Apartemennya hanya satu blok dari situ. Tanpa ragu ia mulai berjalan ke arahnya.

Sebelum sampai di gedung, ia melihat seorang pria berjalan. Ia mengacungkan senjatanya dan meminta jaket pria itu. Setelah jaket diserahkan, ia memerintahkannya untuk lari. Ia mengenakan jaket itu, berjalan menuju gedung, menunggu sampai tak ada seorang pun yang melihatnya untuk masuk. Saat itu pukul dua dini hari. Ia bersyukur pada Tuhan dan keberuntungannya bahwa pintu gedung tak terkunci, sehingga lebih mudah masuk. Tanpa terlihat siapa pun, ia mulai menaiki tangga, teringat kata-kata Peni bahwa Saras tinggal di sebuah apartemen kecil di lantai atap gedung. Ia menaiki anak tangga tanpa henti, meski tubuhnya mulai terasa lemah, sampai akhirnya ia tiba di lantai atap. Ia berdiri di depan pintu dan mengetuknya keras-keras.

Saras dan si kembar sedang tidur ketika mendengar ketukan keras di pintu, dan mereka bertiga terbangun ketakutan. Saras menyuruh anak-anaknya bersembunyi di kolong ranjang, sementara ia pergi melihat siapa yang datang. Ia mengambil pisau dapur dan, gemetar ketakutan, membuka pintu.

Begitu membuka pintu, Saras terperangah melihatnya. Ia tak percaya. Ketakutan langsung membanjirinya. Ia mengingat pria itu—sejak hari ketika ia bersamanya, bayangan pria itu terpatri dalam ingatannya bagaikan tato. Saat menatapnya, ia menjatuhkan pisau ke lantai. Rasa takutnya begitu hebat. Ia mundur tiga langkah, lalu dengan suara gemetar berseru.

"Ini tak mungkin nyata. Kau tak mungkin menemukanku. Ini tak mungkin terjadi padaku. Ya Tuhan, dosa apa yang telah kuperbuat sampai Kau terus menghukumku seperti ini."

Nael bisa melihat ketakutan Saras, dan apa yang perempuan itu serukan justru membuatnya kesal. Ia masuk ke apartemen, menutup pintu, lalu terdiam menatapnya. Ia begitu mendambakan Saras menatapnya, dan kini akhirnya mereka berdiri berhadap-hadapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!