Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Ponsel Satoshi berdering ketika ia masih duduk di ruang kerjanya. Sejak mengetahui bahwa Lily telah meninggalkan Amerika dan terbang ke Jepang, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Berbagai kemungkinan terus berputar di kepalanya, terlebih setelah ia menerima laporan bahwa seseorang telah mengirimkan pesan misterius kepada Lily.
Nama Kakek muncul di layar ponselnya.
Satoshi mengembuskan napas panjang, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut sebelum mengangkat panggilan tersebut.
“Ya, Kek?”
“Di mana kau sekarang?” Suara Mahito terdengar keras dari seberang telepon.
“Di kantor. Ada apa?”
“Masih sempat bertanya ada apa?” bentak Mahito. “Apa kau tahu bahwa Lily sekarang berada dalam bahaya?”
Satoshi langsung menegakkan tubuhnya.
“Aku tahu dia sudah tiba di Jepang. Aku sedang meminta orang-orang mencari alamatnya.”
“Jangan bertindak gegabah dengan mengirim orang ke sembarang tempat!” Mahito menarik napas untuk mengendalikan emosinya. “Dengarkan aku baik-baik. Kau harus pergi ke Jepang.”
Satoshi mengernyit.
“Untuk apa aku harus pergi ke sana? Aku bisa mengirim anak buah untuk mengawasinya.”
“Karena kali ini bukan hanya masalah rumah tanggamu!”
Nada suara Mahito membuat Satoshi terdiam.
“Pergilah ke Jepang dan datang ke kediaman utama keluarga Katagiri. Ada sesuatu yang harus kau ketahui sebelum mengambil tindakan lebih jauh. Setelah itu, kau akan menyusul Lily ke tempat persembunyian kita.”
Satoshi memandang dokumen di atas meja tanpa benar-benar membacanya.
“Apakah Lily dalam bahaya?”
“Aku belum mengetahui seberapa jauh ancaman itu telah berkembang. Karena itulah aku memintamu segera datang. Jangan membuang waktu.”
Panggilan berakhir setelah Mahito menyebutkan bahwa ia akan mengirimkan informasi penerbangan melalui asistennya.
Satoshi meletakkan ponsel di atas meja. Ia sebenarnya tidak membutuhkan perintah kakeknya untuk pergi ke Jepang. Sejak mengetahui Lily telah meninggalkannya, ada sesuatu dalam dirinya yang terus mendesak agar ia menyusul perempuan itu.
Namun, ia tidak lagi dapat menyangkal satu kenyataan: Lily pergi karena dirinya.
Ia telah membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung terasa seperti penjara bagi istrinya sendiri. Sekarang, ketika Lily akhirnya berhasil melarikan diri, Satoshi bahkan tidak mengetahui apakah perempuan itu masih bersedia mendengar penjelasannya.
“Siapkan pesawat,” perintahnya kepada sekretaris melalui sambungan telepon. “Aku akan berangkat ke Jepang secepat mungkin.”
---
Setelah turun dari pesawat dan mendapatkan pesan misterius itu, Lily langsung pergi kewc lalu ponselnya kembali berdering.
Nama Mahito muncul pada layar.
Ia segera mengangkatnya.
“Kakek?”
Suara Lily terdengar pelan. Panggilan itu membuatnya teringat pada masa ketika Mahito menjadi satu-satunya orang dewasa yang memberinya rasa aman setelah tragedi yang menghancurkan keluarganya.
“Lily, dengarkan Kakek baik-baik,” ujar Mahito. Kali ini suaranya terdengar lebih lembut. “Kau tidak boleh pergi ke rumah yang sudah kau beli di desa itu untuk sementara waktu.”
Lily menggenggam ponselnya lebih erat.
“Karena pesan yang mereka kirimkan kepada saya?”
“Benar. Kakek belum mengetahui siapa yang mengirimkannya. Namun, selama identitas orang tersebut belum diketahui, kau tidak boleh mengambil risiko.”
“Lalu, saya harus pergi ke mana?”
“Pergilah ke kediaman persembunyian keluarga Katagiri di Jepang. Tempat itu masih aman. Kakek akan mengirim seseorang untuk menjemputmu di bandara.”
Lily terdiam sejenak.
Kediaman itu menyimpan banyak kenangan masa kecilnya. Setelah kehilangan ibunya, tempat tersebut menjadi salah satu lokasi pertama yang memberinya kesempatan untuk bernapas tanpa terus-menerus dihantui ketakutan.
“Apakah Kakek akan datang ke sana?”
“Ada urusan mendesak yang harus Kakek selesaikan di Amerika. Kau harus tinggal di sana selama lima hari. Jangan keluar tanpa izin, jangan menerima tamu yang tidak dikenal, dan jangan memberikan alamat tempat itu kepada siapa pun.”
“Baik, Kek.”
“Lily,” panggil Mahito sebelum mengakhiri percakapan. “Apa pun yang terjadi, jangan bertindak sendiri. Kau tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”
Mata Lily memanas mendengar kalimat itu.
“Terima kasih, Kakek.”
Mahito tidak memberitahunya bahwa Satoshi juga sedang bersiap menuju Jepang. Ia ingin memastikan terlebih dahulu bahwa cucunya memahami besarnya rahasia yang selama ini disimpan oleh keluarga Katagiri.
Setelah panggilan berakhir, Mahito segera menghubungi orang kepercayaannya di Jepang.
“Jemput Lily di bandara. Pastikan kendaraan yang digunakan tidak mudah dikenali. Bawa dia langsung ke kediaman persembunyian dan tingkatkan penjagaan di sekitar bangunan.”
“Baik, Tuan Mahito.”
“Dan satu hal lagi. Jangan biarkan siapa pun mengetahui bahwa Lily berada di sana.”
Cukup lama dia duduk diwc sebelum akhirnya melangkah keluar dari area kedatangan bandara, ia melihat seorang pria berjas gelap berdiri sambil memegang papan kecil bertuliskan nama yang digunakannya selama ini.
“Apakah Anda Nona Lily Valley?” tanyanya sopan.
Lily mengangguk.
“Saya diperintahkan Tuan Mahito untuk menjemput Anda. Kendaraan sudah menunggu di luar.”
Lily mengikuti pria itu tanpa banyak bertanya.
Sepanjang perjalanan, ia memandang pemandangan di balik jendela. Jepang merupakan tempat yang pernah disebutnya sebagai rumah, tetapi kenangan yang tersimpan di dalamnya tidak seluruhnya indah.
Ada bagian masa kecilnya yang masih ia ingat dengan jelas. Ada pula bagian yang seolah terkunci di tempat paling gelap dalam pikirannya.
Wajah ayahnya, misalnya.
Ia tahu bahwa Suzuki Yahiko adalah ayah kandungnya. Ia tahu bahwa pria itu pernah menggendongnya, mengajarinya membaca, dan berjanji akan selalu melindunginya. Namun, semakin ia berusaha mengingat wajah sang ayah, semakin kabur bayangan itu.
Yang masih tersisa justru pemandangan ibunya yang tergeletak di lantai, dikelilingi darah.
Lily memejamkan mata.
Ia tidak ingin mengingatnya lagi.
Setelah perjalanan panjang, kendaraan akhirnya memasuki kawasan yang jauh dari keramaian. Jalan menuju kediaman itu masih sama seperti dahulu, melewati pepohonan tinggi dan pagar yang membatasi kawasan tersebut dari dunia luar.
Bangunan utama berdiri di balik gerbang kokoh. Bentuknya tidak banyak berubah sejak terakhir kali Lily datang ke sana bertahun-tahun lalu.
Tempat itu pernah menjadi perlindungan bagi seorang gadis kecil yang melarikan diri dari orang-orang yang ingin membunuhnya.
Kini, perempuan yang sama kembali dengan nama berbeda, membawa luka lama dan ancaman baru.
Di dalam kediaman, hanya seorang pelayan perempuan yang menyambutnya. Beberapa penjaga terlihat berjaga di luar bangunan.
“Selamat datang kembali, Nona,” ucap pelayan itu sambil membungkuk. “Saya akan menunjukkan kamar yang telah disiapkan untuk Anda.”
Lily mengikuti pelayan tersebut menuju lantai dua.
Kamar itu bersih dan tertata rapi. Seprai putih terpasang di ranjang besar, tirai berwarna krem menutupi jendela, dan sebuah meja kecil diletakkan di dekat lemari.
Semuanya terasa familier.
“Jika Nona membutuhkan sesuatu, silakan panggil saya,” ujar pelayan itu.
“Terima kasih.”
Setelah pelayan tersebut pergi, Lily meletakkan tasnya di atas ranjang. Ia kemudian berjalan menuju jendela dan menatap halaman yang dipenuhi pepohonan.
Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Amerika, ia merasa sedikit lebih aman.
Namun, ketenangan itu tidak menghapus pertanyaan yang terus menghantuinya.
Siapa yang mengirimkan pesan-pesan tersebut?
Bagaimana orang itu mengetahui rumah yang baru dibelinya?
Dan siapa sosok yang terlihat di dalam foto itu?
Lily belum mengetahui jawabannya.
Ia hanya tahu bahwa selama lima hari ke depan, ia harus mengikuti perintah Mahito dan tidak keluar dari kediaman tersebut.
---
Pada waktu yang hampir bersamaan, Satoshi tiba di kediaman utama keluarga Katagiri sebelum pergi kebandara.
Mahito telah menunggunya di ruang kerja pribadi. Di atas meja terdapat beberapa map dokumen lama, foto-foto, serta sebuah berkas yang dibungkus sampul hitam.
“Kau datang lebih cepat daripada yang Kakek perkirakan,” ujar Mahito.
“Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Satoshi duduk di hadapan kakeknya. “Mengapa Lily harus bersembunyi? Siapa yang mengancamnya?”
Mahito menatap cucunya cukup lama sebelum menjawab.
“Sebelum membicarakan ancaman itu, ada sesuatu tentang Lily yang harus kau ketahui.”
Ia mengambil sebuah foto lama dan meletakkannya di hadapan Satoshi.
Foto tersebut memperlihatkan seorang gadis kecil berambut hitam yang berdiri di antara seorang pria dan seorang perempuan. Meski masih anak-anak, wajah gadis itu memiliki kemiripan yang sulit diabaikan dengan Lily.
Satoshi mengerutkan kening.
“Siapa mereka?”
“Pria itu adalah Suzuki Yahiko. Perempuan di sampingnya adalah Siumei Suga, istrinya. Dan anak perempuan yang mereka peluk adalah putri tunggal mereka.”
Mahito berhenti sejenak.
“Nama asli Lily bukan Lily Valley. Nama yang diberikan kepadanya ketika lahir adalah Yahiko Nariku.”
Satoshi membeku.
“Apa?”
“Dia adalah cucu perempuan Rengku Yahiko, sahabat lama Kakek. Suzuki Yahiko merupakan putra Rengku sekaligus ayah kandung Lily. Keluarga mereka memiliki kekayaan dan pengaruh yang luar biasa besar. Sebagian besar aset Suzuki bahkan telah didaftarkan atas nama putrinya.”
Satoshi menatap foto itu, lalu kembali memandang Mahito.
“Jadi, Lily adalah pewaris keluarga Yahiko?”
“Benar. Pewaris tunggal.”
Untuk beberapa saat, Satoshi tidak mampu berkata-kata.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, ia memperlakukan Lily seolah-olah perempuan itu tidak memiliki siapa pun yang akan membelanya. Ia mengira Lily hanyalah perempuan sederhana yang dipilih oleh kakeknya untuk menjadi istrinya.
Ia tidak pernah membayangkan bahwa perempuan yang berkali-kali ia rendahkan itu merupakan pewaris sebuah keluarga yang pernah begitu berkuasa.
Mahito kemudian menceritakan tragedi yang menimpa keluarga Yahiko, mulai dari pertemuan yang diracuni, serangan terhadap kediaman utama, hingga kematian Siumei dan hilangnya Suzuki. Ia juga menjelaskan bagaimana dirinya menyelamatkan Lily dan memberinya identitas baru demi melindunginya dari para pemburu warisan.
“Selama bertahun-tahun, Kakek merahasiakan identitasnya agar ia bisa tumbuh tanpa terus-menerus diburu,” kata Mahito. “Namun, sekarang seseorang telah menemukan alamat rumah yang dibelinya di desa. Itu berarti rahasia yang kita jaga selama ini mungkin telah terbongkar.”
Satoshi mengepalkan tangan di atas lututnya.
“Apakah orang yang mengirim pesan itu berasal dari kelompok yang membunuh keluarganya?”
“Kita belum tahu. Itulah yang sedang Kakek selidiki.”
Satoshi berdiri mendadak.
“Aku harus menemuinya.”
Mahito mengangkat wajah.
“Jangan bertindak gegabah. Lily tidak membutuhkan seseorang yang datang hanya untuk memaksakan kehendaknya.”
Kalimat itu membuat Satoshi terdiam.
Ia tahu siapa yang dimaksud kakeknya.
Dirinya sendiri.
“Aku tidak akan memaksanya kembali ke Amerika,” jawab Satoshi akhirnya. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”
Mahito tidak langsung menjawab. Ia memandang cucunya dengan tatapan tajam, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata tersebut bukan sekadar alasan untuk memuaskan rasa takut kehilangan.
“Kalau begitu, buktikan melalui tindakanmu. Jangan membuatnya semakin takut kepadamu.”
Satoshi mengangguk singkat, lalu mengambil ponselnya dan menghubungi pilot pribadi keluarga.
“Siapkan pesawat sekarang. Aku berangkat ke Jepang.”
Ia tidak menunggu jawaban lebih lanjut. Setelah mengambil berkas perjalanan yang disiapkan asistennya, Satoshi segera meninggalkan ruang kerja.
Beberapa saat kemudian, ia berjalan cepat menuju bandara pribadi keluarga Katagiri.
Pintu pesawat telah terbuka ketika ia tiba. Satoshi menaiki tangga tanpa menoleh ke belakang, lalu duduk di dalam kabin dengan pikiran yang dipenuhi bayangan wajah Lily.
Kini ia mengetahui siapa perempuan yang selama ini menjadi istrinya.
Namun, rahasia terbesar yang baru saja terbongkar bukanlah kekayaan atau nama keluarga Lily.
Melainkan kenyataan bahwa ia telah menyakiti seseorang yang bahkan ketika kehilangan seluruh keluarganya, masih berusaha bertahan hidup seorang diri.
Pesawat mulai bergerak meninggalkan landasan.
Satoshi menatap cahaya kota yang perlahan menjauh dari jendela.
Ia akan menyusul Lily ke Jepang, tetapi kali ini bukan untuk menyeretnya pulang.
Setidaknya, itulah janji yang berusaha ia pegang.
Sementara itu, di kediaman persembunyian keluarga Katagiri, Lily sama sekali tidak mengetahui bahwa pria yang paling ingin dijauhinya sedang terbang menuju negara yang sama.
Lima hari yang dijanjikan Mahito baru saja dimulai.
Dan sebelum lima hari itu berakhir, rahasia keluarga Yahiko mungkin akan kembali menyeret Lily ke dalam bahaya yang selama ini berusaha dihindarinya.
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁