Dari seorang pangeran yang diagungkan, Jiang Yui kini beralih profesi menjadi "makcomblang sakti" keliling dunia.
Mulai dari pendekar pedang wanita yang dingin dari sekte es, pangeran dari faksi musuh, hingga siluman rubah yang galau—semuanya harus ia satukan dalam ikatan cinta.
Ditemani oleh layar sistem magis yang mengejek setiap kegagalannya, mampukah Jiang Yui merajut kisah cinta orang lain demi menyelamatkan takdir cintanya sendiri, atau ia justru terjebak selamanya sebagai perjaka tua terkuat di dunia kultivasi?
Jangan lupa like,komen dan subscribe ya kakak, biar author ya semangat ,,dukungan kalian sangat berharga... makasih 🫶🫶🫶🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. M yanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Mei Lan yang berada di sofa perlahan turun, lalu berlutut di hadapan Jiang Yui dengan penuh rasa hormat dan air mata bersyukur yang tak terbendung.
"Yang Mulia..." ucap Mei Lan terbata-bata, menyembunyikan keningnya di lantai kayu.
"Anda mengorbankan segalanya untuk menyelamatkan ingatanku dan hidupku, kebaikan ini tidak akan pernah kubalas seumur hidupku."
Jiang Yui mencoba menegakkan duduknya dibantu oleh Bai Ling. Ia tersenyum ramah, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan menenangkan.
"Bangunlah, Mei Lan," kata Jiang Yui lembut.
"Sudah kubilang, tidak ada cinta yang boleh dihancurkan oleh kutukan. Tugas seorang makcomblang bukan cuma menyatukan dua hati, tapi juga memastikan kenangan mereka tetap abadi."
Ia melirik Murong Chen yang masih terduduk lemas di lantai.
"Heh, pemuda malas! Jangan rebahan terus di lantai yang kotor itu. Cepat ambilkan semangkuk sup ginseng hangat dari dapur untuk Nona Mei, lalu siapkan satu mangkuk besar untukku!"
"Siap, Paman!" seru Murong Chen buru-buru bangkit sambil nyengir lebar, rasa khawatirnya seketika menguap digantikan oleh kelegaan yang luar biasa.
Di bawah langit pagi Kota Qing yang kembali cerah, Paviliun Damai sekali lagi membuktikan bahwa sehebat apa pun badai kutukan dan penderitaan yang datang, ketulusan cinta dan empati sejati akan selalu menemukan jalan pulang untuk menyatukan kembali jiwa-jiwa yang terluka.
Suara deru angin malam berembus kencang melintasi atap Paviliun Damai, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam kamar utama, lampu pelita minyak berkedip-kedip lemah, memantulkan bayangan panjang di dinding kayu.
Jiang Yui berbaring tenang di atas ranjang bambu. Meskipun warna kulitnya berangsur pulih berkat sup ginseng dan energi spiritual yang disalurkan Bai Ling sepanjang hari, sisa-sisa benturan energi dari kutukan maut itu masih mengunci sebagian besar meridian utamanya.
Ia memejamkan mata, menikmati detak jantungnya yang berangsur stabil di tengah keheningan malam.
Pintu kamar berderit pelan terbuka. Langkah kaki ringan mendekat, disusul oleh aroma harum bunga plum segar yang menguar di udara.
Mei Lan berdiri di sisi ranjang, membawakan mangkuk kecil berisi ramuan pemulih jiwa terakhir.
Wajahnya kini tampak jauh lebih segar, tidak ada lagi bayangan kutukan hitam yang mengerikan, yang tersisa hanyalah kecantikan alami seorang wanita yang baru saja terlahir kembali dari neraka penderitaan.
"Yang Mulia..." bisik Mei Lan lirih, suaranya bergetar menahan haru. Ia meletakkan mangkuk di atas meja kecil, lalu perlahan berlutut di sisi ranjang.
"Bagaimana keadaan Anda? Apakah rasa sakitnya masih menusuk dada?"
Jiang Yui membuka matanya perlahan. Ia tersenyum tipis, menatap wanita yang baru saja ia pertaruhkan nyawanya untuk diselamatkan.
"Jangan khawatir, Mei Lan," jawab Jiang Yui dengan suara parau namun menenangkan.
"Tulang-tulang tua milik Makcomblang Agung ini tidak akan patah semudah itu hanya karena sisa kutukan murahan dari dimensi utara. Aku hanya... perlu sedikit tidur lelap."
Mei Lan menunduk, air mata hangatnya kembali menetes membasahi punggung tangan Jiang Yui yang terulur lemah.
"Anda mempertaruhkan inti jiwa Anda sendiri demi aku... seorang gadis tak dikenal yang hampir mati... Kenapa Anda berbuat sejauh itu?"
Jiang Yui menatap langit-langit kamar yang gelap, helaan napasnya terdengar berat namun sarat makna.
"Karena aku tahu rasanya kehilangan, Mei Lan," ucap Jiang Yui pelan, suaranya bagai angin malam yang menusuk relung hati.
"Dulu, aku terjebak dalam kesepian abadi, dikutuk oleh sistem yang tidak punya perasaan, merindukan seseorang yang bahkan belum kutemukan. Aku tahu betapa sakitnya ketika dunia merampas hakmu untuk mencintai dan diingat."
Bai Ling yang berdiri di ambang pintu kamar dengan nampan kosong di tangannya melangkah mendekat. Ia meletakkan tangannya di atas pundak Mei Lan, memberikan kehangatan yang menenangkan.
"Jiang Yui benar, Mei Lan," kata Bai Ling lembut.
"Di dunia ini, kekuatan terhebat bukanlah pedang yang bisa membelah langit, melainkan keberanian untuk tetap mencintai di tengah dunia yang kejam. Dan pengorbanan suamiku malam tadi... adalah bukti nyata dari janji suci kami."
Mei Lan mendongak, menatap Bai Ling dan Jiang Yui bergantian. Rasa hormat dan rasa terima kasih yang tak terhingga membuncah di dalam dadanya. Ia membungkuk dalam-dalam hingga keningnya menyentuh lantai kayu.
"Jika bukan karena kalian berdua, aku mungkin sudah mati sebagai jiwa yang terlupakan di sudut dunia yang gelap," ucap Mei Lan dengan suara bergetar penuh ketulusan.
"Tapi sekarang... aku ingin memenuhi janjiku yang lain."
Jiang Yui mengerjap pelan, mengangkat alisnya.
"Janji yang lain?"
Mei Lan mengangkat kepalanya, tersenyum lembut di tengah air mata. "Sebelum aku datang ke sini... aku sempat berpikir untuk mengakhiri hidupku jika ingatannya benar-benar hilang.
Tapi sekarang, kutukan itu sudah musnah, dan ingatanku tentang Feng Yi telah kembali seutuhnya."
Ia berdiri perlahan, merapikan jubahnya, lalu menatap ke arah jendela kamar yang terbuka, memperlihatkan rasi bintang di langit malam Kota Qing yang bersinar terang.
"Aku akan pergi ke lembah utara, menemukannya kembali," lanjut Mei Lan dengan tekad bulat yang terpancar jelas di matanya.
"Aku ingin menemuinya di bawah pohon plum tempat kami berjanji dulu.
Aku ingin memberitahunya bahwa cinta kami tidak pernah mati, meski dihantam oleh kutukan paling kejam sekalipun."
sistem kultivasi perjaka/NosePick/ 🤧