NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:363
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Dua Garis Merah di Tengah Pesta

Tiga bulan telah berlalu sejak malam hujan badai itu, malam di mana segalanya runtuh, malam yang mengubah hidup Clara menjadi puing-puing kepedihan tanpa akhir. Bagi sebagian orang, sembilan puluh hari mungkin terasa begitu cepat berlalu, namun bagi Clara, setiap detiknya bagaikan siksaan neraka tanpa ujung yang membakar kewarasannya perlahan-lahan.

Clara duduk meringkuk di lantai ubin yang sedingin es di dalam kamar mandi kontrakannya yang lembap dan sempit. Aroma apak dari dinding yang berjamur bercampur dengan bau lembap mendominasi ruangan kecil itu. Ia mengabaikan piyama usangnya yang kusut dan basah oleh keringat dingin. Kantung matanya menghitam legam, membingkai mata sayu yang kehilangan binar kehidupannya. Tubuhnya kini kurus kering, menyisakan tulang-tulang yang menonjol di balik balutan kain tipis.

Di tangannya yang gemetar hebat, terdapat sebuah benda plastik kecil berwarna putih. Sebuah alat tes kehamilan mandiri.

Clara menatap layar pipih itu tanpa berkedip. Matanya yang kosong perlahan dipenuhi oleh keputusasaan yang absolut, merobek sisa-sisa pertahanan terakhir yang masih ia miliki.

Dua garis merah.

Tegas. Nyata. Tidak terbantahkan.

Perutnya seketika bergejolak hebat, gelombang mual yang luar biasa menghantam ulu hatinya. Ia memuntahkan sisa cairan lambungnya ke dalam wastafel yang retak dan bernoda kuning, tubuhnya gemetar begitu hebat hingga ia harus berpegangan kuat pada pinggiran marmer yang dingin dan kotor untuk menopang berat badannya. Air mata yang selama tiga bulan ini ia simpan rapat-rapat di balik senyum kepedihan akhirnya pecah, luruh membasahi pipinya yang tirus tanpa bisa dicegah lagi.

Di dalam tubuhnya, di dalam rahimnya yang sunyi, sedang tumbuh darah daging dari pria yang paling ia benci di muka bumi ini. Pria yang telah mengkhianati cinta dan kepercayaannya dengan begitu keji.

Sehari setelah malam hujan terkutuk itu, Clara memutuskan pertunangan secara sepihak tanpa ragu. Ia hanya mengirimkan kembali cincin berlian tanda ikatan mereka ke kantor Daniel tanpa air mata, tanpa teriakan amarah, tanpa penjelasan panjang lebar yang melelahkan. Hanya secarik kertas kecil berisi satu kalimat dingin: Aku tahu bau parfum siapa yang ada di kamarmu.

Kalimat singkat itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Daniel dan Vera bungkam dalam ketakutan dan rasa malu yang mendalam. Mereka tidak berani mencari Clara, seolah kehadiran Clara adalah ancaman yang bisa menghancurkan kedok suci mereka. Mereka membiarkan Clara pergi menghilang dari lingkaran sosial mereka. Namun, alih-alih merasa bersalah, terbebas dari bayang-bayang Clara justru membuat dua pengkhianat itu dengan tidak tahu malunya meresmikan hubungan kotor mereka ke permukaan publik.

Hari ini. Tepat di hari yang sama ini.

Tepat saat Clara menatap dua garis merah yang menghancurkan sisa masa depannya, Vera sedang mengenakan gaun pengantin sutra putih berhiaskan permata yang harganya setara dengan biaya hidup Clara selama sepuluh tahun penuh di kota besar ini.

Kabar yang beredar di lingkaran sosial elit yang perlahan-lahan ditinggalkan Clara begitu jelas terdengar di telinga: Vera dan Daniel terpaksa mempercepat pernikahan mewah mereka karena Vera tengah mengandung anak dari Daniel.

Clara merosot kembali ke lantai kamar mandi yang dingin, mencengkeram perutnya sendiri dengan kuat, seolah ingin meremukkan dan mencabut apa pun yang sedang tumbuh di dalamnya. Tawa sumbang yang pecah, kering, dan terdengar begitu garing serta gila meluncur begitu saja dari bibirnya yang pucat, diakhiri dengan isak tangis tertahan yang merobek pita suaranya hingga terasa perih.

"Kenapa...?" teriaknya parau pada dinding berjamur yang bisu dihadapannya. Suaranya menggema di ruangan sempit itu. "Tuhan, kenapa Kau begitu kejam kepadaku?! Kenapa harus ada darah pengkhianat ini di dalam tubuhku?!"

Takdir sedang mempermainkannya dalam lelucon paling kelam dan menyakitkan di dunia. Ia hamil. Di saat yang sama, musuh abadi sekaligus wanita yang menghancurkan hidupnya, juga sedang mengandung anak dari rahim yang sama, dari benih pria yang sama.

Vera merayakan kehamilannya dengan pesta pernikahan termegah tahun ini, disaksikan ratusan tamu undangan dari kalangan atas, dikelilingi bunga-bunga impor yang harum dan senyum kemenangan yang memuakkan. Sementara Clara, di sisi lain kota yang kumuh ini, meratapi nasib dan kehamilannya di lantai kamar mandi yang membeku, tanpa uang sepeser pun, tanpa keluarga tempat bersandar, dan tanpa secercah harapan untuk esok hari.

Pikiran paling gelap langsung menghantam benaknya: Membunuhnya. Membuang beban ini sebelum ia terikat selamanya.

Clara bangkit dengan langkah terhuyung. Ia mencuci wajahnya yang kacau di bawah kran air yang mengalirkan air keruh, mengenakan mantel tebalnya yang sudah mulai tipis, dan berjalan keluar menembus udara pagi bulan Desember yang menusuk tulang. Ia berjalan kaki berkilo-kilometer menembus jalanan kota yang abu-abu menuju sebuah klinik kecil yang tersembunyi, gelap, dan kumuh di sudut distrik lama. Tempat terlarang di mana perempuan-perempuan putus asa membuang masa depan mereka dalam kerahasiaan.

Ia duduk di ruang tunggu klinik itu dengan gemetar. Bau tajam obat-obatan murahan, cairan pembersih, dan antiseptik menusuk hidungnya, menciptakan rasa mual yang berulang. Di sebelah kanannya, beberapa wanita muda duduk dengan kepala tertunduk dalam-dalam, menangis dalam diam tanpa suara, memikul beban aib yang sama beratnya.

Ketika perawat bermasker putih memanggil nomor urutnya, Clara berdiri dengan lutut yang terasa lemas. Langkah kakinya terasa begitu berat, bagaikan menyeret beban berton-ton. Ia berjalan menyusuri lorong remang-remang menuju ruang tindakan yang berbau klorin. Di atas meja operasi panjang berlapis kain steril yang usang itu, segala penderitaan, rasa malu, dan mimpi buruknya bisa berakhir malam ini juga. Ia hanya perlu memejamkan mata, menahan rasa sakit fisik beberapa jam saja, dan gumpalan daging hasil pengkhianatan itu akan lenyap selamanya. Setelah itu, ia bisa mengemasi tas kecilnya, pergi ke luar kota, dan memulai hidup baru yang bersih dari noda masa lalu.

Namun, tepat saat Clara hendak merebahkan tubuhnya yang lemas di atas meja dingin itu, tangan kanannya tanpa sadar bergerak menyentuh perutnya yang masih rata.

Ada sesuatu yang berdenyut di dalam relung batinnya. Sebuah ikatan purba yang amat kuat, yang tidak bisa dijelaskan oleh logika atau kebencian seterang apa pun. Ini bukan sekadar darah Daniel. Ini juga darahnya sendiri. Ini adalah satu-satunya keluarga sedarah yang ia miliki di dunia yang terasa sangat dingin dan kejam ini. Anak ini tidak pernah meminta untuk diciptakan dari sebuah pengkhianatan. Anak ini sama tidak berdosanya dengan dirinya yang malang.

Tiba-tiba, bayangan wajah Vera yang tersenyum penuh kemenangan di pelaminan mewah berkelebat liar di benaknya, mencemooh kelemahannya.

Jika Clara menggugurkan anak ini, Vera menang sepenuhnya. Vera mendapatkan Daniel, mendapatkan harta kekayaan, mendapatkan pengakuan sosial, dan mendapatkan keluarga utuh, sementara Clara akan pulang sebagai pecundang sejati yang bahkan membunuh darah dagingnya sendiri karena ketidakberdayaan.

Napas Clara memburu. Kesadaran itu menghantam dadanya bagaikan terjangan ombak besar.

Clara perlahan menarik kembali langkahnya dari meja tindakan, menjauh dari alat-alat bedah yang berkilau di bawah lampu neon kuning.

"Maaf," bisiknya dengan suara tercekat dan parau kepada dokter paruh baya yang menatapnya dengan pandangan dingin penuh kebingungan. "Aku tidak bisa. Aku berubah pikiran."

Tanpa menunggu jawaban sang dokter, Clara berbalik dan berlari sekencang-kencangnya keluar dari klinik kumuh itu. Ia menembus udara dingin pagi hari yang menusuk wajah, membiarkan butiran air matanya beterbangan tertiup angin jalanan. Ia berlari sekuat tenaga yang tersisa di tubuh kurusnya, sampai napasnya habis dan membakar tenggorokannya, sampai kakinya sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri, hingga akhirnya ia jatuh berlutut di atas rerumputan basah sebuah taman kota yang sepi dan terisolasi.

Clara memeluk perutnya erat-erat dengan kedua lengannya, menenggelamkan wajahnya yang sembab ke permukaan lututnya, dan menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh rasa sakit yang tertahan selama berbulan-bulan.

"Maafkan ibu..." isaknya pilu, suaranya pecah di antara tiupan angin dingin yang mendesir di pepohonan. "Maafkan ibu karena hampir berpikir untuk membunuhmu. Ibu tidak akan melakukannya. Ibu bersumpah demi hidup ibu sendiri, ibu akan melindungimu dan membesarkanmu apapun taruhannya."

Di tengah tangisannya yang memilukan, jemarinya mengelus permukaan perutnya dengan penuh kelembutan yang teramat sangat, sebuah kontras yang menyakitkan dari kebencian yang baru saja ia rasakan. Sebuah cinta yang murni, lahir dari rahim keputusasaan yang paling dalam, perlahan mekar memenuhi rongga dadanya, menghangatkan jiwanya yang nyaris mati.

"Namamu Maya," bisik Clara lirih, memberikan sebuah identitas penuh kasih untuk bayi yang bahkan belum memiliki bentuk pasti di dalam sana. "Mulai hari ini, kau adalah milikku seorang. Hanya milikku, dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa merebutmu dariku."

Clara tidak tahu, dan mungkin tidak akan pernah peduli, bahwa di detik yang sama, di sebuah gedung pencakar langit megah berhiaskan ribuan kristal berkilau dan hamparan bunga mawar putih impor, Daniel tengah mencium bibir Vera di hadapan ratusan tamu undangan terhormat. Diiringi alunan musik klasik yang megah, Daniel dengan penuh kelembutan mengelus perut Vera yang kini terbalut gaun sutra mahal, lalu berbisik mesra di telinga istrinya, "Elena. Kita akan menamainya Elena kelak."

Dua bayi mungil. Dua ibu dengan latar belakang seperti langit Dan bumi. Dua takdir yang kini mulai berputar pada poros kebencian, luka masa lalu, dan ambisi yang kelak akan menghancurkan segalanya tanpa sisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!