Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 15
Hari-hari berikutnya di kediaman Reyden dan Misya berubah drastis, menyisakan atmosfer dingin yang perlahan-lahan merayap masuk tanpa diundang. Sejak kejadian unggahan media sosial itu, secercah keraguan telah berakar kuat di benak Misya, setiap kali jarum jam menunjukkan pukul delapan malam, lalu sembilan, hingga bergeser ke angka sepuluh.
Dua hari berlalu, lalu menjadi empat hari, dan kini memasuki hari keenam. Pola kepulangan Reyden yang tadinya disiplin dan selalu menepati janji kini berantakan total, kembali seperti sebelumnya.
Pukul sepuluh malam di ruang keluarga, lampu sorot utama dipadamkan, hanya menyisakan pijar kuning temaram dari lampu sudut ruangan. Misya duduk bersimpuh di atas karpet berbulu halus, punggungnya bersandar pada sofa. Matanya menatap lurus ke arah pintu utama, sementara di atas meja di hadapannya, semangkuk sup jamur hangat yang baru saja ia panaskan kembali mulai mengepulkan uap tipis yang perlahan mendingin.
Ceklek.
Suara kunci berputar di anak pintu. Pintu utama terbuka, menampilkan sosok Reyden yang melangkah masuk dengan langkah gontai. Dasi kantornya sudah hilang entah ke mana, kerah kemejanya terbuka dua kancing, dan jas hitamnya disampirkan begitu saja di lengan kiri. Guratan kelelahan yang luar biasa tercetak pekat di wajah pria itu.
Mendengar suara itu, Misya langsung bangkit dari duduknya. Senyuman tipis seketika terukir di bibirnya, menepis segala rasa cemas dan overthinking yang seharian ini mengerumuni kepalanya.
"Mas Rey... sudah pulang?" sambut Misya lembut, bergegas mendekati suaminya dan mengambil alih jas serta tas kerja dari tangan Reyden.
Reyden menghentikan langkahnya, memijat pelan batang hidungnya yang terasa kaku. Matanya menatap Misya sekilas, sayu dan tanpa binar.
"Ya, Misya. Maaf... saya baru bisa pulang jam segini," suara Reyden terdengar serak, berat, dan sarat akan keletihan.
"Kenapa belum tidur? Sudah malam."
Misya menggeleng pelan, membawa tas dan jas suaminya ke atas meja konsol.
"Aku belum ngantuk, Mas. Aku tahu Mas Rey pasti sibuk banget di kantor belakangan ini. Tapi, makan malamnya sudah aku siapin ya... Masih hangat, tinggal dihangatkan sedikit kalau mau."
Reyden menghela napas panjang, napas berat yang terdengar begitu lelah. Pria itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap manik mata istrinya terlalu lama, seolah ada beban tak kasat mata yang membuatnya merasa bersalah.
"Tidak usah, Misya. Saya sudah makan malam bersama klien di restoran tadi," jawab Reyden datar.
"Kamu tidak perlu repot-repot menunggu saya selarut ini. Tidurlah lebih dulu, jangan sampai kamu sakit karena setiap malam begadang."
Jantung Misya berdegup nyeri mendengar kalimat itu. Sudah makan malam bersama klien... Kalimat yang terdengar biasa, namun di telinga Misya, kalimat itu berdampak ganda.
Apakah saat Reyden sibuk hingga larut malam, ia duduk semeja dengan wanita itu? Apakah tatapan penuh kenangan di foto-foto lama itu kini terulang kembali di ruang-ruang rapat mewah? Pikiran Misya benar-benar di penuhi dengan ketakutannya sendiri.
Misya menelan ludah, berusaha keras menjaga agar suaranya tidak bergetar.
"Oh... begitu ya, Mas," ucap Misya pelan, senyuman di bibirnya terasa kian kaku.
"Kliennya penting sekali, ya? Sampai beberapa hari ini Mas Rey selalu pulang larut malam dan kelihatan lelah banget."
Reyden yang tadinya hendak melangkah menaiki anak tangga seketika menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap istrinya dengan kening berkerut tipis. Ada nada protes yang samar di balik kalimat Misya, sesuatu yang sangat jarang ia dengar dari wanita itu.
"Memang ada beberapa proyek baru dan sebagian juga ada masalah di proyek lainnya..." jawab Rey sambil berjalan ke arah kamar utama.
"Apa Mas perlu bantuan aku? Kalau Mas mau, aku bisa bantu tanpa harus terikat di perusahaan..." tawar Misya.
Reyden menghentikan langkahnya tepat di anak tangga kedua. Tawaran tulus yang meluncur dari bibir Misya justru menghantam ulu hatinya seperti sebuah tamparan tak kasat mata.
Bukan karena ia meragukan kemampuan istrinya, melainkan karena ia tahu persis bahwa masalah terbesar yang sedang menggerogoti pikirannya bukanlah sekadar angka-angka di laporan keuangan kantor, melainkan bayang-bayang Aurelia dan ketidakjujurannya sendiri.
Reyden membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Misya yang berdiri kaku di dekat meja konsol dengan sorot mata penuh harap sekaligus cemas.
"Tidak perlu, Misya," jawab Reyden dengan nada yang terdengar kaku, berusaha menutupi gejolak di dadanya.
"Urusan perusahaan adalah tanggung jawab saya di kantor. Kamu tidak perlu ikut memikirkan atau bahkan turun tangan mengurusnya. Rumah ini sudah cukup menyita perhatian dan energimu."
Di telinga Misya, kalimat itu tidak terdengar seperti bentuk perlindungan. Kalimat itu justru terdengar seperti sebuah penolakan halus, sebuah sekat tegas yang membatasi dunianya agar tidak terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan profesional sang suami.
'Dia tidak mau aku ikut campur... Karena urusan itu melibatkan wanita itu, ya?' batin Misya pilu.
Senyuman kaku di bibir Misya perlahan lenyap, digantikan oleh tatapan kosong yang menyiratkan luka mendalam. Ia menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan genangan air mata yang kembali mendesak di pelupuk matanya.
"Ah... begitu," balas Misya pelan, suaranya terdengar begitu rapuh dan nyaris tak bergeming.
"Maaf kalau aku terkesan lancang mau ikut campur urusan kantor Mas."
Melihat perubahan ekspresi dan mendengar nada suara istrinya yang sarat akan keputusasaan, dada Reyden terasa sesak. Pria itu menyadari bahwa ia baru saja salah bicara. Ia ingin meralat ucapannya, ingin mendekap wanita itu dan mengatakan yang sebenarnya tentang beban kerjanya, namun egonya dan ketakutannya akan kekacauan yang lebih besar kembali menahan lidahnya.
"Bukannya lancang, Misya..." ralat Reyden dengan nada suara yang melunak, mencoba melangkah turun satu anak tangga mendekati istrinya.
"Hanya saja, saya ingin kamu fokus pada diri kamu sendiri. Jangan terlalu membebani pikiran dengan hal-hal di luar rumah."
Misya mendongak, menatap mata suaminya lurus-lurus dengan tatapan yang membuat Reyden terhenyak melihat mata Misya memerah.
"Fokus pada rumah..." ucap Misya mengulang kata-kata suaminya dengan senyum getir.
"Tapi rumah ini rasanya makin sunyi, Mas. Setiap malam aku nungguin kamu pulang dengan harapan kita bisa ngobrol, makan bareng, atau sekadar cerita hari-hari kita. Tapi yang aku dapet cuma kelelahan kamu, jawaban-jawaban singkat, aku tau kamu capek karena banyak urusan kantor. Maaf kalau menurut kamu aku kekankan..."
Skakmat.
Kalimat itu menohok langsung ke titik terlemah Reyden. Pria itu terpaku di tempatnya, kehabisan kata-kata untuk membela diri.
"Misya..." panggil Reyden parau.
Namun Misya mengangkat sebelah tangannya, memberi gestur agar suaminya tidak perlu melanjutkan kalimatnya. Wanita itu membuang muka, menarik napas panjang untuk menegakkan kembali sisa-sisa harga dirinya yang terasa runtuh berkeping-keping.
"Udah malam, Mas. Istirahatlah. Mas pasti cape," ucap Misya datar, suaranya terdengar begitu dingin, nada suara yang sama sekali belum pernah ia tunjukkan kepada Reyden selama dua tahun pernikahan mereka.
Tanpa menunggu balasan dari suaminya, Misya berbalik melangkah pelan meninggalkan ruang keluarga, berjalan menuju kamar tidur tamu di lantai bawah alih-alih naik ke kamar utama tempat biasa mereka berbagi ranjang.
Ceklek.
Pintu kamar tamu tertutup rapat dari dalam.
Reyden berdiri seorang diri di tengah temaram lampu ruang keluarga yang sunyi. Tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya bergetar hebat. Untuk pertama kalinya sejak ia memutuskan menerima perjodohan itu, Reyden merasakan ketakutan yang luar biasa nyata. Bhakan sekarang Misya malah memilih tidur di kamar tamu.
"Astaga! Apa yang sudah kamu ucapkan kepada Misya, Rey!" Reyden mengusap wajahnya kasar dan berjalan menuju kamar tamu.