NovelToon NovelToon
OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

OUTPLAYED BY YOU : He Wins Every Game. She Wins Every Argument

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

OUTPLAYED BY YOU

He wins every game. She wins every argument.

"Aku tidak akan menikah denganmu kalau kamu masih menyembunyikan sesuatu dariku!"

Raka Adhitama memijat pelipisnya. Di hadapannya, Nadira Prameswari berdiri dengan piyama biru dan ekspresi siap membatalkan pernikahan mereka, padahal pria itu bahkan belum selesai menjelaskan.

"Aku belum mengatakan apa-apa."

"Tepat! Kamu selalu begitu. Diam, menghindar, lalu memasang wajah tampan seolah semuanya akan selesai sendiri."

"Aku tidak pernah menggunakan wajahku untuk menyelesaikan masalah."

Nadira mendengus. "Sayang sekali. Padahal itu satu-satunya kemampuanmu yang kuakui di luar permainan."

Raka hampir tersenyum. Hampir.

Di arena esports, ia dikenal sebagai Vex, pemain profesional yang mampu mengalahkan lawan terkuat tanpa kehilangan ketenangan. Namun, menghadapi calon istrinya sendiri ternyata membutuhkan keterampilan yang tidak tersedia dalam buku strategi mana pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13

Pukul sembilan pagi, Raka Adhitama sudah duduk di ruang rapat Adhitama Global dengan wajah seseorang yang lebih memilih menghadapi lima pertandingan final berturut-turut daripada berada di sana.

Di hadapannya, beberapa anggota direksi memeriksa dokumen. Di ujung meja, Adrian Adhitama membaca laporan keuangan tanpa terlihat terganggu oleh keterlambatan sekretaris yang baru saja masuk.

“Setidaknya kamu datang tepat waktu,” kata Adrian.

“Jangan terdengar terlalu terkejut, Yah.”

Adrian meletakkan dokumennya. “Saya tidak punya waktu untuk candaanmu hari ini.”

“Bagus. Saya juga tidak punya waktu untuk rapat yang sebenarnya bisa diringkas menjadi satu pesan.”

Salah satu direktur berdeham pelan. Adrian tidak memedulikannya.

“Pengumuman kemarin membuat publik kembali memperhatikan keluarga kita. Saya ingin kamu mulai terlibat lebih aktif dalam perusahaan.”

“Saya sudah menjelaskan bahwa saya masih memiliki kontrak profesional dengan ASTRAL.”

“Dan saya sudah menjelaskan bahwa kontrak itu bukan alasan untuk mengabaikan tanggung jawabmu.”

Raka menyandarkan punggung ke kursi.

“Kalau tanggung jawab ini memang milik saya, seharusnya saya diberi kesempatan menentukan bagaimana saya menjalankannya.”

“Kamu belum memahami besarnya tanggung jawab tersebut.”

“Mungkin karena Ayah selalu membicarakannya seolah-olah saya tidak punya pilihan.”

Tatapan Adrian mengeras.

“Jangan membuat keputusan berdasarkan emosi.”

Raka hampir tertawa. Ironis sekali mendengar kalimat itu dari seseorang yang telah mengatur sebagian besar hidupnya sejak kecil.

“Saya tidak sedang membuat keputusan berdasarkan emosi. Saya hanya tidak ingin meninggalkan sesuatu yang sudah saya bangun.”

“Esports bukan sesuatu yang akan bertahan selamanya.”

“Begitu juga perusahaan. Semuanya bisa berubah kalau orang-orang yang menjalankannya berhenti beradaptasi.”

Keheningan memenuhi ruangan.

Adrian menutup map di depannya.

“Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti. Untuk sekarang, pelajari laporan yang sudah dikirimkan sekretaris saya. Kamu harus mulai memahami bisnis keluarga.”

Raka mengangguk singkat.

Ia tidak menolak dokumen yang disodorkan kepadanya. Namun, ketika meninggalkan ruang rapat, pikirannya justru tertuju pada satu hal yang tidak berhubungan dengan angka, investasi, ataupun masa depan Adhitama Global.

Sudah hampir dua belas jam sejak ia mengirim pesan kepada Nadira.

Dan perempuan itu belum membalas.

Anehnya, menunggu satu pesan terasa jauh lebih melelahkan daripada menunggu pengumuman hasil pertandingan.

Di kantor Media Arena, suara keyboard dan percakapan para jurnalis bercampur dengan dering telepon yang datang silih berganti.

Nadira duduk di depan laptop, menyunting artikel mengenai pengumuman resmi Adhitama Global.

Judul sementaranya berbunyi:

RAKA ADHITAMA: KAPTEN ASTRAL ATAU PEWARIS KERAJAAN BISNIS?

Ia membaca judul itu berulang kali, lalu menghapus kata kerajaan.

Terlalu dramatis.

Ia menggantinya dengan konglomerasi, kemudian menghela napas karena hasilnya terdengar seperti laporan ekonomi yang membosankan.

“Kalau kamu menatap layar lebih lama lagi, laptopmu mungkin akan mengundurkan diri.”

Keisha menjatuhkan diri ke kursi kosong di sebelahnya sambil membawa dua gelas minuman.

Nadira menerima satu gelas. “Laptopku tidak punya pilihan. Dia dibayar untuk bekerja.”

“Kalau begitu, semoga dia mendapat tunjangan kesehatan. Wajahmu kelihatan seperti orang yang belum tidur.”

“Aku tidur.”

“Berapa lama?”

Nadira diam.

Keisha menyipitkan mata. “Dua jam?”

“Tiga.”

“Wah, kemajuan besar. Tinggal tambah lima jam dan kamu bisa kembali menjadi manusia.”

Nadira mengabaikan komentar itu, lalu melanjutkan membaca artikelnya.

Keisha melirik layar.

“Jadi, kamu benar-benar akan menulis tentang dia?”

“Ini berita yang relevan. Raka baru saja diperkenalkan sebagai calon penerus Adhitama Global. Publik perlu tahu dampaknya terhadap karier profesionalnya dan potensi konflik kepentingan.”

“Benar. Tapi kamu juga perlu memastikan bahwa tulisanmu tidak berubah menjadi cara untuk melampiaskan rasa kesal.”

Nadira berhenti mengetik.

“Aku tahu bedanya pekerjaan dan urusan pribadi.”

“Aku tidak bilang kamu tidak tahu. Aku cuma mengingatkan karena kamu sedang terluka.”

Kalimat itu membuat Nadira memandang temannya.

Keisha tidak sedang menggoda. Tidak ada senyum jahil atau nada bercanda seperti biasanya.

“Aku bukan terluka karena dia kaya,” kata Nadira akhirnya. “Aku tidak pernah menganggap uang sebagai masalah.”

“Lalu?”

“Karena aku pikir dia mempercayaiku.”

Suara Nadira melemah di ujung kalimat.

Ia teringat makan malam mereka, percakapan panjang tanpa kamera, dan bagaimana Raka pernah mengatakan bahwa di dunia esports, ia bisa menyalahkan dirinya sendiri ketika kalah.

Waktu itu, Nadira mengira ia sedang melihat sisi Raka yang tidak diperlihatkan kepada banyak orang.

Sekarang, ia bertanya-tanya berapa banyak hal lain yang belum ia ketahui.

“Aku tidak menuntut dia menceritakan seluruh hidupnya,” lanjut Nadira. “Dia punya hak menyimpan hal pribadi. Tapi ada perbedaan antara menjaga privasi dan membiarkan seseorang membangun pemahaman yang salah tentang dirimu.”

Keisha mengangguk.

“Jadi, apa yang akan kamu lakukan?”

“Bekerja.”

“Itu bukan jawaban untuk pertanyaanku.”

“Itu jawaban yang paling aman untuk sekarang.”

Keisha mengangkat kedua tangan, menyerah.

“Baiklah. Tapi kalau kamu butuh teman untuk makan atau mengumpat tentang laki-laki menyebalkan, aku tersedia.”

Nadira kembali tersenyum tipis.

“Kalau aku mengumpat, kamu tidak boleh merekamnya.”

“Sayang sekali. Itu bisa menjadi podcast yang bagus.”

Pukul dua siang, Nadira mengirimkan artikel tersebut kepada Dimas.

Editor Media Arena itu membacanya dengan kening berkerut, lalu memanggil Nadira ke ruangannya.

“Analisisnya bagus,” katanya sambil menunjuk layar. “Kamu membahas pengaruh nama keluarga terhadap persepsi publik, potensi konflik kepentingan, dan kemungkinan dampaknya terhadap ASTRAL.”

“Karena semuanya relevan.”

“Betul. Tapi ada satu masalah.”

Nadira duduk lebih tegak.

“Apa?”

“Beberapa bagian terlalu berhati-hati. Kamu punya sumber yang cukup untuk membahas posisi Raka di perusahaan, tetapi belum punya konfirmasi langsung tentang bagaimana perannya akan memengaruhi keputusan ASTRAL.”

“Aku bisa menghubungi manajer timnya.”

“Bagus. Lakukan itu. Dan jangan menyimpulkan bahwa dia mendapat keuntungan kompetitif dari perusahaan keluarganya kalau kamu belum punya bukti.”

Nadira mengangguk. “Aku tidak akan menulis sesuatu yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.”

Dimas menatapnya sejenak.

“Ini juga bukan waktunya membuktikan bahwa kamu lebih pintar daripada narasumbermu.”

“Aku selalu lebih pintar daripada narasumberku.”

“Nadira.”

“Baik. Aku akan menjaga objektivitas.”

Dimas menghela napas, tetapi sudut bibirnya terangkat.

“Bagus. Kirim versi revisinya sebelum sore.”

Ketika kembali ke mejanya, Nadira membuka kontak Arman, manajer ASTRAL. Ia mengirim pesan profesional untuk meminta waktu wawancara mengenai status Raka di tim setelah pengumuman tersebut.

Balasan datang beberapa menit kemudian.

Arman: Bisa besok pagi. Saya akan mengatur jadwalnya.

Nadira mengetik ucapan terima kasih, lalu menutup percakapan.

Ia tidak menghubungi Raka secara langsung.

Bukan karena ia ingin menghukumnya, melainkan karena untuk saat ini, batas profesional adalah satu-satunya hal yang masih terasa jelas.

Sore harinya, ruang latihan ASTRAL dipenuhi suara permainan dan instruksi dari para pemain.

Raka duduk di depan monitornya, berusaha memusatkan perhatian pada pertandingan latihan. Namun, sejak awal permainan, ia sudah melakukan dua kesalahan yang biasanya tidak akan ia buat.

Pada kesalahan ketiga, Bima melepas headset.

“Kapten, kalau kamu mau menyumbangkan kemenangan untuk lawan, bilang dari tadi. Biar kami sekalian latihan menangis.”

“Fokus bermain.”

“Gue fokus. Yang tidak fokus itu orang yang barusan masuk ke area musuh sendirian.”

Raka mengusap wajah.

“Ulang.”

Bima menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.

“Serius? Lo bahkan belum menjelaskan kesalahan tadi.”

“Gue tahu kesalahan gue.”

“Kalau tahu, jangan diulang.”

Ucapan itu membuat Raka terdiam.

Bima benar. Ia sedang melakukan hal yang paling tidak disukainya: mengetahui ada masalah, tetapi membiarkan pikirannya menguasai keputusan.

Raka melepas headset dan berdiri.

“Sepuluh menit istirahat.”

Ia berjalan menuju balkon kecil di sisi ruang latihan. Dari sana, gedung-gedung Jakarta tampak berlapis kabut tipis di kejauhan.

Ponselnya masih tidak menunjukkan balasan dari Nadira.

Raka membuka percakapan mereka, membaca kembali pesannya semalam, lalu mengunci layar.

Ia ingin menelepon. Ingin menjelaskan bahwa ia tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain saat bersama Nadira. Bahwa tawanya tulus, makan malam itu bukan permainan, dan semua percakapan mereka berarti baginya.

Namun, ia juga tahu bahwa menjelaskan niatnya tidak akan otomatis memperbaiki akibat tindakannya.

Untuk pertama kalinya, Raka memahami bahwa meminta maaf bukan berarti ia berhak langsung dimaafkan.

Pintu balkon terbuka. Bima muncul sambil membawa sebotol air.

“Masih memikirkan dia?”

“Tidak.”

“Kalau begitu, kenapa ponsel lo sudah dibuka empat kali dalam lima menit?”

Raka menoleh tajam.

“Lo menghitung?”

“Gue kapten kedua. Tugas gue mengamati pergerakan lawan.”

“Dia bukan lawan.”

Bima mengangkat alis. “Nah. Akhirnya ada satu hal yang benar hari ini.”

Raka mengambil botol air dari tangannya.

“Gue tidak tahu bagaimana memperbaikinya.”

“Mulai dengan berhenti menganggap semuanya bisa diperbaiki sesuai jadwal lo.”

Raka terdiam.

Bima melanjutkan, kali ini tanpa nada bercanda.

“Kasih dia waktu. Kalau dia mau bicara, dengarkan. Jangan sibuk menyiapkan jawaban sebelum dia selesai ngomong.”

Setelah Bima kembali masuk, Raka tetap berdiri di balkon.

Ia tidak tahu berapa lama Nadira akan menjauh. Ia bahkan tidak tahu apakah hubungan mereka akan kembali seperti sebelumnya.

Namun, satu hal mulai jelas baginya.

Ia tidak bisa terus meminta orang lain memahami dirinya, sementara ia sendiri belum cukup berani memberi mereka kesempatan untuk mengenalnya secara utuh.

Ponselnya bergetar.

Raka segera melihat layar.

Bukan Nadira.

Pesan dari Arman muncul dengan singkat.

Arman: Besok pagi Nadira akan datang untuk wawancara tentang dampak pengumuman keluarga lo terhadap ASTRAL. Jadwalnya sudah dikonfirmasi.

Raka membaca pesan itu sekali, lalu dua kali.

Besok, ia akan bertemu Nadira lagi.

Bukan dalam suasana makan malam, bukan di antara candaan mereka, dan bukan sebagai dua orang yang diam-diam mulai saling mencari.

Besok, Nadira akan datang sebagai wartawan.

Dan Raka harus menerima kenyataan bahwa untuk sementara, hanya itulah dirinya di mata perempuan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!