NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BELAJAR MENJADI WANITA

Setelah kepergian Lohan, Alu langsung memeluk Clara sambil tertawa. Namun, Clara justru memasang wajah tidak suka. Dia menunjuk Afu yang masih berada di luar ruangan dengan wajah kusut, seolah sedang menahan kekecewaan.

Awen, Lo ga lihat Afu diluar ya?"

Alu mengernyit melihat Ekspresi Clara.

“Kenapa sih, muka lo kusut begitu? Santai aja. Dia cuma saudara kembar gue.”

Clara tidak langsung menjawab. Tiba-tiba, matanya membelalak ketika menyadari sesuatu dari penampilan Alu. Dia hampir menjerit, tetapi buru-buru menutup mulutnya sendiri.

“Ya ampun, Awen! Lo nggak pakai pakaian dalam, ya?!”

Alu ikut terkejut. Barulah dia teringat bahwa selama ini dirinya hanya memiliki pakaian pria. Bahkan, pakaian yang dikenakannya sekarang pun milik Afu karena pakaian lamanya sudah tidak muat.

Dengan wajah malu-malu, Alu menjelaskan, “Clara, pakaian wanita gue udah nggak ada. Mungkin semuanya dibakar waktu gue meninggal.”

Clara membelalakkan mata, seolah tidak percaya.

“Jadi, selama ini lo pakai mantel buat nutupin pakaian yang lo pakai sekarang?”

Alu mengangguk pelan.

Dalam hati, dia mulai menyadari betapa rumitnya menjadi wanita. Bahkan, urusan berpakaian saja ternyata tidak sesederhana yang selama ini dia bayangkan.

Clara kembali bertanya dengan nada curiga.

“Jangan bilang lo mau kencan sama Lohan tanpa pakai pakaian dalam!”

Alu buru-buru menyilangkan kedua tangannya di depan dada, lalu menggeleng.

“No, no! Setelah ini gue mau minta ditemenin beli pakaian dalam sama Afu.”

Jawaban itu justru membuat Clara semakin terkejut.

“Awen, lo gila, ya?! Lo mau kencan sama Lohan, tapi malah minta ditemenin beli pakaian dalam sama Afu?”

“Emangnya kenapa? Dia kan cuma saudara kemb—”

Alu langsung menghentikan ucapannya sendiri. Dia hampir saja membocorkan rahasia yang selama ini mereka tutupi. Setelah berdeham kecil, dia buru-buru mengoreksi perkataannya.

“Maksud gue, dia cuma teman gue.”

Clara menyipitkan mata.

“Teman? Jadi, selama ini kalian tinggal bersama, makan bersama, tidur bersama, bahkan dia nemenin lo mandi, itu cuma teman?”

Alu terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa.

Namun, tiba-tiba muncul perasaan aneh di dalam dadanya. Ada sesuatu yang membuatnya merasa bersalah terhadap Afu. Bukan sekadar rasa bersalah karena sudah merepotkannya, melainkan perasaan lain yang jauh lebih sulit dijelaskan.

Alu mencoba mengabaikannya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa pertanyaan Clara membuat pikirannya mendadak kacau.

Sore harinya, setelah pulang dari kampus, Alu duduk di ruang tamu sambil memandangi gaun pemberian Lohan.

Tak lama kemudian, Afu keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan celana pendek tanpa baju, sementara tangan kanannya memegang handuk untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.

Entah mengapa, Alu mendadak terpaku.

Matanya memperhatikan tubuh Afu yang berotot, terutama bagian dadanya yang terbentuk dengan jelas.

Ya ampun, kok Afu keren banget, sih? Badannya bagus banget!

Alu terus memandangi Afu selama beberapa saat sampai akhirnya Afu menyadari tatapan itu.

“Alu, ngapain lo ngeliatin gue? Lo suka lihat tubuh gue, ya?”

“Ih, gila aja! Dari kecil gue udah lihat lo kayak gitu. Nggak usah geer, deh!”

Afu hanya tersenyum geli, lalu melemparkan handuk yang agak basah ke wajah Alu.

Namun, hal berikutnya justru membuat Alu sendiri terkejut.

Tanpa sadar, dia mendekatkan handuk itu ke wajahnya dan menghirup aromanya.

Aroma yang biasanya terasa biasa saja mendadak tercium berbeda. Ada bau maskulin yang begitu kuat, membuat Alu merasa aneh sekaligus nyaman.

Dia sampai terdiam beberapa saat, seolah pikirannya melayang entah ke mana.

Apaan, sih? Kok bau handuk Afu jadi seenak ini?

Belum sempat memahami perasaannya sendiri, Alu mendadak merasakan nyeri pada bagian dadanya. Dia spontan menunduk dan memperhatikan bentuk tubuhnya yang kini berbeda.

Namun, rasa aneh itu segera dia abaikan. Dia menganggap semua perubahan tersebut hanyalah bagian dari penyesuaian dirinya terhadap tubuh baru.

Alu bangkit, membersihkan diri, lalu masuk ke kamar untuk mencoba gaun pemberian Lohan di depan cermin.

Setelah mengenakannya, dia memiringkan kepala sambil mengamati penampilannya.

“Aneh banget. Kok rasanya masih kurang menarik, ya?”

Dia teringat perkataan Clara tentang pakaian dalam.

“Ya ampun, kenapa bagian dada gue kelihatan lepek begini? Apa gue harus pakai bra supaya bentuknya lebih bagus?”

Alu mengamati pantulan dirinya sekali lagi. Baru kali ini dia memikirkan hal-hal semacam itu dengan serius.

Kemudian, dia mengambil botol parfum dan menyemprotkannya sedikit.

Namun, hidungnya langsung mengernyit.

“Ya ampun, parfum gue kok baunya aneh banget, sih?”

Dia memandangi botol itu dengan heran.

“Tapi, ini bener parfum gue.”

Alu meletakkan botol tersebut, lalu kembali menatap wajahnya di cermin.

“Kenapa wajah gue kelihatan pucat banget? Aduh, apa gue harus pakai bedak? Tapi, gue nggak punya bedak.”

Dia menyentuh bibirnya sendiri.

“Bibir gue juga pucat banget.”

Alu belum menyadari bahwa perubahan yang dirasakannya bukan hanya terjadi pada fisiknya. Cara dia memandang penampilannya, hal-hal yang menarik perhatiannya, bahkan cara dia berbicara perlahan mulai berubah.

Pikiran-pikiran itu muncul begitu saja, seolah ada seseorang yang terus membisikkan kekurangan apa saja yang perlu dia perbaiki.

Tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi, Alu akhirnya meninggalkan kamar untuk mencari Afu.

Saat itu, Afu sedang memasak mi instan di dapur sambil bersiul santai.

Tiba-tiba, sebuah tepukan mendarat di pundaknya.

Afu menoleh. Namun, begitu melihat sosok wanita cantik berwajah pucat dengan gaun merah muda yang indah berdiri di belakangnya, dia langsung tertegun.

“Astaga, Alu! Lo kok cantik bang—”

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Alu langsung menutup mulut Afu dengan kedua tangannya.

Wajah Alu memerah karena malu. Meski pujian Afu terpotong, dia tahu betul apa yang hendak dikatakan saudara kembarnya itu.

“Afu, lo! Jangan godain gue! Gue ini saudara kembar lo!”

Afu hanya mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Setelah itu, dia kembali sibuk mengaduk mi di dalam panci.

Namun, belum lama dia melanjutkan pekerjaannya, suara Alu kembali terdengar.

“Afu, temenin gue, yuk! Gue mau beli pakaian. Gue juga pengin beli alat makeup!”

Tangan Afu langsung berhenti mengaduk.

Dia menoleh perlahan, memastikan dirinya tidak salah dengar.

“Apa? Lo mau beli pakaian dalam sama makeup?”

“Iya.”

“Gue nggak salah dengar, kan?”

Alu mengangGuk sambil tersenyum manis.

Afu justru semakin gelisah. Suara Alu terdengar lebih lembut dari biasanya, bahkan sedikit manja. Entah mengapa, mendengarnya saja sudah membuat jantung Afu berdebar tidak karuan.

“Alu, lo jangan begitu, dong. Lo tahu kan,gue ini saudara kembar lo, tapi gue juga nggak bisa membiarkan citra Awen hancur di depan teman-temannya.”

Afu menatap Alu dengan heran.

“Maksud lo, harga diri Awen yang lo khawatirin, atau lo mulai menikmati menjadi Awen?”

Alu tidak langsung menjawab. Sebaliknya, dia malah merangkul Afu dengan manja.

“Afu, temenin gue, ya. Biar bagaimanapun, gue ini saudara lo. Masa lo tega membiarkan gue pergi sendirian?”

Afu menelan ludah.

“Tapi, selama ini lo nggak pernah minta ditemenin beli pakaian. Lo itu Alu yang macho, percaya diri, dan penuh pesona. Sejak kapan lo jadi begini?”

Alu sendiri tidak tahu jawabannya.

Tanpa sadar, dia terus merengek dengan nada yang semakin manja.

“Afu, please, dong. Temenin gue, ya.”

Dia bahkan mencubit kedua pipi Afu dengan lembut.

Afu terdiam, tidak mampu segera menolak.

Biasanya, Alu akan mengajak berdebat atau mengejeknya habis-habisan. Namun, sekarang saudara kembarnya itu justru bersikap manja, dengan wajah cantik dan suara lembut yang sulit diabaikan.

Akhirnya, Afu menghela napas panjang.

“Iya, iya. Gue temenin.”

Alu langsung tersenyum lebar.

“Makasih, Afu!”

Namun, ketika Alu kembali merangkulnya dengan gembira, jantung Afu justru semakin berdebar.

Tanpa bisa dicegah, bayangan Awen yang selama ini dia sukai kembali muncul di benaknya.

Ada sesuatu dari Alu yang sekarang mengingatkannya pada gadis itu. Bukan hanya wajah cantik yang kini di milikinya dalam tubuh Awen, melainkan juga kelembutan sikapnya yang perlahan muncul tanpa disadarinya sendiri.

Afu buru-buru memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan kegugupannya.

Sementara itu, Alu sama sekali tidak menyadari perubahan yang terjadi pada saudara kembarnya.

Baginya, dia hanya sedang meminta bantuan untuk membeli beberapa barang yang dibutuhkannya.

Namun, bagi Afu, perubahan kecil dalam diri Alu itu perlahan mulai mengusik perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!