NovelToon NovelToon
Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Aku, Sang Mafia, dan Bintang

Status: tamat
Genre:Mafia / Rumah Tangga-Anak Genius / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Afrodite 18

Nadira cuma ingin satu hal: menjadi ibu. Setelah dikhianati kekasihnya dan divonis hanya punya waktu tiga tahun untuk hamil, dokter relawan itu memilih jalan sendiri, inseminasi di sebuah klinik di Albania, ditemani sahabatnya, Pierre.

Yang tak ia tahu, di klinik yang sama ada seorang pria yang sedang mengamuk mencari istrinya. Satu botol sampel tertukar, dan setahun lebih kemudian, dua puluh pria bersenjata mendobrak pintu rumah orang tua Nadira.

Drilon Meksi, eksekutor mafia Albania yang ditakuti, datang untuk mengambil apa yang menurutnya miliknya: perempuan itu, dan bayi mungil yang mirip sekali dengannya.

Nadira diculik, dibawa ke mansion penuh anak buah bersenjata, dan dijanjikan satu hal yang tak bisa ia terima: menikah dengan pria yang bahkan tak ia kenal. Tapi pria yang bisa membuat seorang musuh bertekuk lutut itu ternyata tak berdaya di hadapan satu makhluk kecil bernama Bintang.

Antara pisau yang menancap di bahu, ibu mertua yang lebih galak dari seluruh anak buah, dan kakek bertato bekas luka yang luluh oleh senyum ompong seorang bayi, Nadira harus memutuskan: terus melawan, atau belajar menghadapi seorang mafioso dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afrodite 18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Sore turun tenang di properti. Anak-anak bermain di taman di bawah pengawasan Hana dan beberapa pegawai.

Bintang berbaring di atas selimut, berusaha menjangkau mainan berwarna-warni, sementara Vania, Ayu, dan Bimo melakukan segala cara untuk membuatnya tertawa.

Di dalam rumah, Nadira memanfaatkan momen putrinya sedang asyik dan pergi ke ruang duduk. Ratna sudah duduk di sana sambil minum teh.

Sinta membolak-balik majalah, sementara Intan memandangi pemandangan lewat jendela. Begitu Nadira masuk, ketiganya langsung sadar ia tampak termenung.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Intan.

Nadira menghela napas.

"Entahlah."

"Ada apa?" tanya Ratna.

Nadira duduk di samping ibunya dan diam beberapa saat.

"Sekarang kamu bikin kami penasaran," kata Sinta.

Nadira menutup wajah dengan kedua tangan, menggeleng.

"Drilon benar-benar nggak adil."

Ketiga perempuan itu saling pandang.

"Nggak adil?" tanya Intan.

"Banget."

"Dia ngapain?" tanya Sinta.

Nadira bersedekap.

"Dia nggak berhak begitu."

Ratna mengangkat sebelah alis.

"Nak..."

"Aku serius."

"Kalau begitu ceritakan," kata Intan.

Nadira menarik napas dalam.

"Di malam pernikahan..." Ia berhenti sebentar. "Dia bilang ada tradisi keluarga."

"Iya..."

"Aku mengizinkan."

"Terus?"

"Terus dia datang dengan sopan sekali..." Ia mengayunkan tangan saat bercerita. "Berdiri di belakangku..." Ketiganya menunggu dalam diam. "Menyibakkan rambutku..." Sinta tersenyum tertahan. "Mengelus..." Intan mulai terkikik. "Terus menciumi leherku harum-harum..." Sinta menggigit bibir supaya tidak tertawa. "Lalu mengecup..." Ia meringis. "Lumayan terasa."

Ketiganya tertawa.

"Jangan ketawa."

"Lanjut," kata Ratna.

"Lalu dia memelukku."

"Hmm..." gumam Intan.

"Dan waktu aku pikir..."

Ia berhenti lagi.

"Kamu pikir...?" tanya Sinta.

Nadira mengembuskan napas.

"Kalian tahu kan apa yang kupikir dia akan lakukan." Ketiga perempuan itu meledak tertawa. "Kalian menyebalkan."

"Lanjut," kata Intan.

"Dia cuma mengucapkan selamat malam." Sinta tertawa sampai harus menyeka air mata. "Lalu pergi."

"Aku nggak percaya," kata Intan.

"Tidur di kamar lain." Tawa mereka makin keras. "Dan tadi subuh malah berangkat bepergian tanpa memberitahuku." Ia memonyongkan bibir. "Itu nggak pantas."

Ratna masih tertawa.

"Jadi kamu marah karena suamimu menghormatimu?"

"Bukan itu."

"Itu persis," kata Intan.

"Bukan."

"Memang," kata Sinta.

"Dia bikin aku bingung sekali."

"Kurasa efeknya malah kebalikan dari yang dia mau," kata Intan.

"Aku bangun dengan tekad mengajaknya bicara."

"Dan dia sudah pergi," kata Sinta.

"Persis." Ia kembali bersedekap. "Ini pukulan di bawah sabuk. Aku benar-benar ingin bicara dengannya."

"Kamu tahu kan, bukan obrolan yang sebenarnya kamu inginkan, Nak," kata Ratna.

Keempatnya tertawa lagi. Setelah tawa mereda, Ratna menggenggam lembut tangan putrinya.

"Boleh Mama tanya sesuatu?"

"Boleh."

"Apa yang kamu rasakan pada Drilon?"

Pertanyaan itu membuat senyum Nadira hilang. Ia memandangi tangannya sendiri. Keheningan memenuhi ruang duduk.

Intan dan Sinta juga menunggu jawabannya. Setelah beberapa saat, Nadira bicara.

"Aku... nggak tahu."

"Tidak tahu?"

"Nggak tahu." Ia menarik napas dalam. "Aku benar-benar bingung."

"Bingung kenapa?" tanya Sinta.

"Karena dia bukan laki-laki yang kubayangkan."

Intan mengangguk.

"Waktu baru sampai di sini..." Ia tersenyum tipis. "Aku cuma melihat seorang mafioso."

"Dan sekarang?" tanya Ratna.

"Sekarang kulihat laki-laki yang merawat putrinya dengan penuh kasih, yang menghormati waktuku dan ruangku, yang bersikeras mengembalikan profesiku, yang memberiku kebebasan, walau dialah yang dulu mengurungku, tapi yang tak pernah lagi mencoba memaksaku." Ia diam beberapa detik. "Dan itu mengusik hatiku."

Sinta tersenyum.

"Kurasa itu ada namanya." Nadira menoleh padanya. "Kekaguman."

Intan setuju.

"Dan mungkin ada sesuatu yang lebih."

Nadira menunduk.

"Mungkin."

Ratna membelai tangan putrinya.

"Sayang..."

"Iya."

"Tak ada pernikahan yang dimulai dengan sempurna." Nadira mendengarkan dengan saksama. "Tapi rasa hormat adalah fondasi yang sangat penting." Ia tersenyum. "Dan dari yang Mama lihat beberapa hari ini, anak muda itu menghormatimu."

Nadira mengangguk.

"Dia juga mencintai Bintang."

"Cinta sekali."

"Itu tampak dari caranya memandang dia." Nadira tersenyum tanpa sadar. "Mama tidak akan menyuruhmu mencintai siapa pun tiba-tiba." Nadira diam. "Tapi menurut Mama, pantas memberi kesempatan pada pernikahanmu."

"Mama pikir begitu?"

"Iya." Ia meremas tangan putrinya lembut. "Karena kalau melihatmu sekarang..." Ia tersenyum. "Mama merasa sudah ada ketertarikan pada suamimu."

Nadira sama sekali tak bisa bereaksi.

"Aku juga pikir begitu," kata Intan.

"Aku yakin," kata Sinta.

"Kalian berlebihan."

"Benarkah?" tanya Intan.

"Kamu seharian mencarinya sepanjang pagi," kata Sinta.

"Dan mengeluh karena dia pergi," kata Ratna.

Nadira menghela napas.

"Mungkin..." Ia tersenyum malu. "Mungkin aku mulai menyukainya."

Ketiga perempuan itu bertukar tatapan penuh persekongkolan.

"Kalau begitu jangan takut," kata Ratna.

Nadira terdiam merenung. Di luar, tawa anak-anak memenuhi rumah dengan kegembiraan, dan ia sadar mungkin ibunya benar.

Drilon memasuki hidupnya dengan cara paling buruk yang mungkin, tapi hari demi hari ia merebut tempatnya dengan rasa hormat, kesabaran, dan perhatian-perhatian kecil.

Dan seiring hari berlalu selagi suaminya bepergian, Nadira menemukan bahwa rindu yang ia rasakan tak lagi sekadar untuk ayah Bintang, melainkan juga untuk lelaki yang, perlahan, merebut hatinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!