Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
Mereka tiba di rumah sakit jiwa. Namun, saat nama Annabella diperiksa, petugas jaga tampak pucat dan kebingungan. Ada kekacauan besar dan pergerakan mencurigakan di ruang isolasi baru-baru ini.
“Apa maksudmu?” tanya Lucian tajam.
Petugas itu menelan ludah, suaranya bergetar hebat. “Kami... kami sedang memeriksanya, Tuan.”
Tanpa menunggu lebih lama, Lucian dan Faisal berlari menuju ruang isolasi. Pintu sel terbuka sedikit. Di dalam, ruangan itu kosong melompong. Hanya sehelai kain kumal yang tergeletak di lantai dan sebuah gelas plastik di dekat dinding.
Rahang Lucian mengeras, wajahnya berubah gelap gulita.
“Periksa seluruh gedung! Tutup semua akses keluar. Jangan biarkan satu pun jiwa meninggalkan tempat ini tanpa pemeriksaan ketat!”
Faisal mengangguk tegas dan langsung bergerak. Sementara itu, pandangan Lucian menyapu seisi kamar sel, terkunci pada kain yang terjatuh dan jejak roda kecil yang samar di dekat ambang pintu.
“Tuan, sepertinya seseorang telah menyelundupkannya keluar,” ucap Faisal mendesis di sampingnya.
Lucian berjongkok. Jari-jarinya menyentuh debu, menelusuri jejak roda yang mengarah lurus ke lorong samping. Otaknya langsung berputar, merajut kepingan-kepingan kejadian. Seseorang telah menyamar sebagai perawat, membawa meja dorong, lalu menyembunyikan Annabella di baliknya. Kain itu digunakan untuk menutupi tubuh sang istri.
Namun, bukan hanya itu yang menarik perhatiannya.
Lucian menemukan jejak sepatu lain yang jauh lebih kecil di lantai.
Ia mengangkat wajahnya, menatap Faisal tajam. “Seorang perempuan dan anak kecil.”
“Faisal, orang yang membawa Annabella bukan staf rumah sakit, melainkan seseorang yang menyamar sebagai perawat. Dan anak kecil itu... dia ikut bersama mereka, kemungkinan besar bersembunyi di bawah meja dorong.”
“Bagaimana Anda bisa menyimpulkan itu seakurat ini, Tuan?”
“Gunakan matamu, Faisal,” geram Lucian menunjuk jejak roda di lantai. “Meja dorong itu keluar menuju lorong, tapi tidak pernah ditarik kembali ke ruang perawatan. Mereka sengaja menggunakannya sebagai kendaraan pelarian.”
Lucian berdiri, napasnya memburu. Ia belum tahu siapa dalangnya, tetapi petunjuk ini sudah cukup membuat kepalanya mendidih. “Siapa pun pelakunya, bajingan ini sudah merencanakan semuanya dengan matang.”
Faisal buru-buru mengeluarkan ponsel. “Saya akan instruksikan pihak keamanan memeriksa rekaman CCTV.”
“Lakukan sekarang juga! Jangan buang waktu!”
Lucian melangkah keluar sel, menyusuri lorong yang sama. Instingnya mengatakan mereka sudah terlambat. Annabella pasti sudah berada jauh dari jangkauan rumah sakit ini.
“Lacak semua kendaraan yang keluar dalam satu jam terakhir. Periksa kamera pengawas di setiap gerbang dan jalan tikus di sekitar sini,” perintah Lucian tanpa menoleh.
“Baik, Tuan.”
“Hubungi tim IT kita. Aku mau setiap jengkal sinyal atau petunjuk digital yang mengarah pada Annabella harus ditemukan malam ini.”
Faisal segera memberikan instruksi lewat sambungan telepon. Di ujung lorong, Lucian berdiri di depan pintu keluar, menatap jalanan luar yang basah dan gelap. Ia datang untuk menyeret Annabella kembali ke nerakanya, tetapi kenyataan bahwa istrinya telah dicuri orang lain membuatnya murka.
Yang paling mengusik benaknya bukanlah pelarian itu, melainkan kondisi fisik Annabella yang masih rapuh.
“Annabella...” gumam Lucian, suaranya terdengar dingin bergetar, terselip kilat amarah sekaligus kegelisahan yang coba ia sembunyikan. “Jangan berani-berani mati sebelum urusan kita benar-benar selesai.”
Ia tidak peduli seberapa besar dendamnya, tapi Lucian tidak rela orang lain lancang mengambil alih kendali atas nasib istrinya.
Ia kembali menghadap Faisal. “Kerahkan seluruh orang kita. Sisir jalanan di sekitar rumah sakit ini—klinik terdekat, motel murah, terminal, sampai sudut kota yang paling busuk sekalipun.”
“Baik, Tuan. Kami tidak akan kehilangan jejaknya.”
Lucian kembali menatap jalanan yang lengang, membiarkan malam menyembunyikan seringai dingin di wajahnya.
Sementara itu, jauh dari cengkeraman Lucian, mobil yang dikemudikan Maya melesat membelah kepekatan malam, menjauhi kawasan rumah sakit jiwa.
__
Tak lama kemudian, Maya membelokkan mobil masuk ke halaman sebuah rumah dua lantai yang tampak sepi. Catnya mulai mengelupas, tapi strukturnya masih kokoh. Rumah itu sudah lima tahun dibiarkan mangkrak.
Maya membantu Annabella keluar, sementara tangan kecil Yumna dengan erat menggenggam jemari mereka.
“Kita sampai,” ucap Maya lembut.
Annabella mendongak, menatap rumah itu dengan ragu. “Maya... ini rumahmu?”
“Iya. Memang sudah lama tidak kuhuni, jadi terlihat horor di luar. Tapi tenang, kita bisa membereskannya bersama,” balas Maya sambil merogoh tasnya untuk mencari kunci.
Begitu pintu utama didorong terbuka, dahi Annabella mengernyit kaget. Di balik tampilannya yang luar biasa sepi dari luar, bagian dalam rumah itu ternyata sangat modern. Berbagai perangkat elektronik canggih terpajang rapi, televisi layar datar, pendingin ruangan, komputer berperforma tinggi, hingga perlengkapan rumah tangga mewah.
“Tunggu dulu,” potong Annabella heran. “Kau bilang rumah ini sudah lima tahun kosong? Kenapa fasilitasnya selengkap ini?”
Maya melempar tasnya ke atas sofa empuk dengan santai. “Karena aku memang tidak pernah berniat mengosongkannya.”
“Dari mana kau dapat uang membeli semua barang mahal ini?” tanya Annabella penasaran, menatap sekeliling.
Maya menyeringai bangga, menepuk dadanya pelan. “Aku seorang hacker, Bel. Klienku tersebar di berbagai belahan dunia, dan bayarannya tidak main-main. Sebagian uangnya kubelikan properti di beberapa kota. Rumah ini salah satunya.”
Mata Annabella membelalak sempurna. “Kau... seorang hacker? Sungguhan?”
“Memangnya kenapa? Kau pikir keahlianku cuma sebatas merampok brankas bank?”
“Kalau kau bisa meretas sistem, kenapa harus repot-repot melakukan kejahatan itu?”
“Halah, aku cuma ingin mencoba sensasi profesi baru...” jawab Maya santai sambil terkekeh.
Tiba-tiba, Yumna melepaskan genggaman tangan mereka. Bocah itu melompat-lompat kegirangan di tengah ruang tamu, matanya berbinar menatap sekeliling.
“Wahhh! Onty Maya kaya laya! Cultan banget!”
Maya tergelak mendengar celotehan polos itu. “Emangnya Yumna tahu apa artinya Sultan?”
Yumna mengangguk mantap, rambut kuncirnya ikut bergoyang. “Tahu! Punya banyak uang, lumah becal, balang-balang bagus! Onty Maya kayak celeb di tipi!”
“Ya ampun, anak pintar ini...” Maya berjongkok, mencubit pipi Yumna gemas.
Annabella yang tadinya tegang akhirnya tersenyum kecil melihat kehangatan itu.
“Baiklah, pujiannya cukup sampai di sini. Saatnya kita membereskan markas baru kita," ucap Maya.
Yumna langsung mengangkat sebelah tangannya penuh semangat. “Yumna mau ikutan bantu!”
“Bagus! Tapi ingat, jangan angkat barang-barang berat, ya, Neng Cantik.”
“Ciaappp, Bos!”
Maya membagikan beberapa kain lap bersih. Ia melirik Annabella yang tampak masih menyangga tubuhnya. “Kau duduk saja kalau masih lelah, Bel. Kondisimu belum benar-benar pulih.”
“Tidak, Maya. Aku juga ingin membantu. Aku tidak mau hanya menjadi beban di sini,” ucap Annabella tulus.
Maya menghela napas pasrah sebelum akhirnya menyerahkan kain lap itu. “Baiklah. Tapi kalau pusing, langsung berhenti, mengerti?”
Mereka pun mulai bergerak. Maya menyapu lantai dengan cekatan, Annabella membersihkan debu di atas meja, sementara Yumna dengan gaya lucunya ikut mengelap kaki kursi menggunakan serbet kecil.
Sesekali, Yumna bersin karena debu, memancing tawa renyah dari kedua wanita dewasa itu. Rumah yang tadinya terasa pengap dan mati perlahan berubah menjadi tempat yang hangat dan manusiawi.
Malam itu, mereka memang tidak memiliki kemewahan istana keluarga Winston. Namun, bagi Annabella, tempat ini jauh lebih berharga dari emas, sebuah tempat di mana ia bisa bernapas lega tanpa rasa takut.
Di belahan kota yang lain, kemewahan kediaman Winston sama sekali tidak mencerminkan kedamaian.
Di halaman belakang, Lucian tampak merendam tubuhnya di kolam renang pribadi. Rambut hitamnya basah, menempel di dahi, sementara otot-otot perutnya yang kencang terekspresikan sempurna di bawah temaram lampu kolam saat ia bersandar di tepi dinding air.
Pemandangan itu sukses membuat beberapa pelayan yang kebetulan melintas berhenti sejenak, gagal menyembunyikan kekaguman mereka.
Ranti mencuri-curi pandang, sama sekali tidak memedulikan perban putih yang masih melilit kepalanya akibat insiden sebelumnya.
“Ya ampun... Tuan Muda benar-benar seperti dewa Yunani,” bisiknya kepada pelayan di sebelahnya.
“Ssst! Ih, tapi beneran! Apalagi badannya, atletis banget kayak model majalah!” sahut yang lain berbisik-bisik genit.
“Andai saja malam ini Tuan Muda sudi melirik ke arahku... aku rela tidak tidur semalaman,” gumam Ranti penuh harap, matanya berbinar penuh angan.
Di sudut lain, Minah yang tengah membawa keranjang cucian hanya bisa melirik sekilas ke arah kolam. Namun, pikirannya sama sekali tidak terseret pada pesona fisik sang tuan muda. Kepala wanita itu justru dipenuhi bayangan Annabella dan Yumna.
Ke mana mereka melarikan diri? Apakah Annabella mendapatkan perawatan yang layak sekarang? Dan bagaimana nasib Yumna jika sampai jatuh ke tangan orang yang salah?
Minah mendongak, menatap langit malam yang kelam dengan sejuta kecemasan di dada, berdoa dalam diam agar ibu dan anak itu kini berada di tempat yang aman dari cengkeraman si iblis berwajah tampan.
___
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???