Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Srek srek srek.
Suara kapur bergesekan dengan papan tulis menggema di dalam kelas XI-7 yang sunyi.
Husen menuliskan dua buah bagan besar dengan huruf kapital yang sangat jelas terbaca.
"Divisi Sains dan Divisi Debat."
Husen membalikkan badannya dan menatap seluruh muridnya dengan tatapan yang tajam.
"Olimpiade ini bukan sekadar lomba cerdas cermat biasa yang mengandalkan hapalan teks dari buku."
"Mereka akan menguji logika tingkat tinggi, analisis data, dan kemampuan mempertahankan argumen di bawah tekanan."
Nisa langsung mengangkat tangannya dengan cepat tanpa ragu sedikit pun.
"Saya ambil alih Divisi Sains sepenuhnya mulai hari ini, Pak Husen."
"Saya tidak mau ada orang yang kurang teliti menghambat ritme kerjaku saat merakit alat eksperimen nanti."
Husen mengangguk setuju karena itu memang sudah menjadi bagian dari rencananya sejak awal.
"Tentu saja, Nisa, kamu adalah otak dan ujung tombak kita di bidang itu."
"Dan untuk Divisi Debat, ketua timnya adalah Bara, ditemani oleh Rico sebagai pencari data."
Bara yang sedang minum air dari botol plastiknya langsung tersedak hebat mendengar namanya disebut.
Uhuk uhuk uhuk!
"Bapak gila ya, nyuruh mantan preman terminal kayak gue buat ikut lomba adu mulut pakai bahasa baku?"
"Mending gue adu jotos beneran di ring tinju daripada disuruh pidato kaku di depan pejabat kota!"
Seluruh kelas menahan tawa melihat wajah panik ketua geng mereka yang biasanya selalu terlihat garang itu.
Rico bahkan sampai harus menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan agar tawanya tidak meledak.
"Ini bukan pidato membosankan membaca teks yang sudah disiapkan, Bara."
Husen berjalan mendekati meja Bara dan menatap mata murid bertubuh besar itu dalam-dalam.
"Debat adalah pertarungan mental di mana kamu membantai lawanmu menggunakan fakta dan logika telak."
"Kekuatan fisikmu mungkin bisa membuat satu orang pingsan terkapar di jalanan."
"Tapi lidah yang tajam bisa menghancurkan reputasi satu sekolah elite seketika dalam hitungan menit."
Bara menelan ludah mendengar deskripsi mengerikan yang baru saja diucapkan oleh wali kelasnya itu.
Entah kenapa, perumpamaan Husen tadi terdengar sangat memancing insting petarungnya untuk bangkit.
Ting!
Suara sistem berbunyi pelan di dalam kepala Husen memberikan notifikasi baru secara tiba-tiba.
[Target Bara memiliki potensi tersembunyi dalam intimidasi verbal dan orasi publik]
[Sistem menyarankan Pelatihan Ekstrem: Simulasi Debat Tekanan Tinggi]
Husen tersenyum tipis menerima saran cerdas dari sistem yang sangat brilian itu.
"Mulai siang ini, kamu dan Rico akan masuk ke dalam menu latihan khusus dariku setiap pulang sekolah."
"Aku akan membuat kalian terbiasa berdebat di bawah tekanan yang jauh lebih parah dari sekadar tatapan mata juri."
Bara mendengus kasar namun akhirnya mengangguk pasrah menerima nasib yang dipaksakan padanya itu.
"Terserah Bapak deh, tapi kalau gue kelepasan mukul anak orang di atas panggung nanti, jangan salahin gue."
Latihan keras pun langsung dimulai tepat setelah jam pelajaran reguler sekolah selesai hari itu juga.
Nisa memisahkan diri ke laboratorium sekolah yang sudah berdebu untuk mulai memperbaiki alat-alat yang rusak.
Sementara itu, Bara dan Rico disuruh berdiri di tengah lapangan basket sekolah yang cuacanya sangat panas terik.
Husen berdiri di depan mereka berdua sambil memegang sebuah pengeras suara merah berukuran kecil.
"Topik perdebatan hari ini adalah tentang efektivitas sistem zonasi pendidikan di kota kita."
"Bara, kamu ada di pihak yang menolak, dan aku akan menjadi lawan debatmu dari pihak pro pemerintah."
Husen menekan tombol sirine di pengeras suaranya dengan sangat keras dan tiba-tiba.
Ngiu ngiu ngiu!
"Waktu berpikirmu hanya sepuluh detik dari sekarang, mulai bicara Bara!"
Bara langsung panik dan otaknya mendadak kosong seketika mendengar suara sirine yang memekakkan telinga itu.
"Eh, anu, sistem zonasi itu jelek karena bikin anak yang pintar malah masuk ke sekolah yang jelek!"
"Argumen yang sangat dangkal dan tidak memiliki landasan data pendukung sama sekali."
Husen membalas ucapan Bara dengan nada suara datar yang terdengar sangat merendahkan.
"Sistem zonasi bertujuan memeratakan kualitas agar tidak ada sekolah yang memonopoli murid berprestasi."
"Silakan bantah dataku dengan argumen yang masuk akal, Bara, sisa waktumu tinggal lima detik dari sekarang."
"Gue... gue beneran nggak tahu harus jawab apa, Pak!"
Bara berteriak frustrasi sambil mengacak-acak rambutnya sendiri karena merasa sangat bodoh berdiri di sana.
Husen menggelengkan kepalanya pelan dan menatap Rico yang berdiri sedikit gemetar di sebelah ketuanya.
"Rico, tugasmu adalah mencari data pendukung di ponselmu untuk membantu Bara secepat mungkin."
"Kalau dalam sepuluh detik kalian berdua tidak bisa membalas argumenku, kalian berlari keliling lapangan sepuluh kali."
Rico langsung mengetik dengan sangat panik di layar ponselnya mencari artikel berita tentang sistem zonasi.
Tak tak tak tak.
"Bos, ini ada artikel yang ngebahas fasilitas sekolah belum merata, jadi zonasi malah merugikan murid daerah pinggiran!"
Rico membacakan layar ponselnya dengan suara yang terengah-engah dan terbata-bata.
Bara langsung menangkap inti informasi itu dan menatap Husen dengan sorot mata berapi-api.
"Gimana caranya mau meratakan pendidikan kalau fasilitas sekolah pinggiran kayak tempat kita aja dibiarin hancur?!"
"Itu namanya bukan pemerataan kualitas, tapi pemaksaan nasib buruk buat anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi!"
Husen tersenyum lebar mendengar serangan balik yang sangat tajam dan sangat logis dari Bara tersebut.
"Bagus sekali, itu baru yang namanya argumen mematikan yang tidak bisa dibantah dengan mudah."
"Tapi perdebatan ini belum selesai sama sekali, bersiap untuk masuk ke ronde kedua sekarang."
Latihan gila itu terus berlangsung selama tiga hari berturut-turut tanpa henti di bawah terik matahari.
Bara dan Rico dipaksa memeras otak mereka mencari celah dari berbagai topik sosial ekonomi secara cepat.
Kemampuan bicara Bara yang tadinya kaku perlahan berubah menjadi jauh lebih tajam, runtut, dan sangat mengintimidasi.
Di sisi lain sekolah, Nisa berhasil menyulap laboratorium rongsokan itu menjadi tempat eksperimen yang cukup layak pakai.
Dia menghabiskan malamnya membaca jurnal penelitian tingkat universitas tanpa merasa mengantuk atau lelah.
Bahkan Siska dan beberapa siswi lainnya ikut membantu Nisa mencatat data pengukuran dengan sangat tertib.
Dinamika kelas XI-7 benar-benar telah berubah menjadi mesin belajar kolektif yang sangat menakutkan.
Hingga pada suatu siang, saat matahari sedang bersinar sangat terik tepat di atas Kota Arunika.