Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 1
"Mas, ini bekal makan siang dan airnya... Aku simpan di dalam mobil ya..." Misya terlihat sangat senang bisa membuatkan bekal makan siang untuk suaminya.
"Iya, terima kasih..." jawab Reyden yang terlihat sibuk dengan tabletnya.
"Apa hari ini akan pulang telat lagi, Mas?" tanya Misya.
"Sepertinya begitu, saya ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Ada apa? Apa ada yang kamu inginkan?" tanya Reyden. Misya menggelengkan kepalanya.
"Tidak, jangan lupa kabari kalau ada apa-apa dan jangan lupa makan siang juga di minum vitaminnya, Mas..."
"Baik, saya berangkat dulu..." jawab Reyden saat melihat Anggara sang asisten sudah datang.
"Hati-hati di jalan, Mas..." Misya mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya.
Reyden mengulurkan tangannya, kemudian pergi ke kantor bersama dengan Anggara. Misya berdiri di teras sampai mobil yang membawa suaminya pergi dan menghilang. Pernikahan Misya dan Reyden sudah berjalan selama dua tahun. Pernikahan yang terjadi tentunya karena perjodohan antara dua keluarga. Selama dua tahun ini, Misya selalu berusaha menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan baik.
Berharap Reyden membuka hati padanya, berharap pernikahan mereka pada akhirnya akan di penuhi dengan cinta, walau awalnya karena terpaksa. Misya juga yang awalnya tak mencintai Reyden kini belajar mencintai suaminya. Karena Reyden juga selama dua tahun bersikap baik padanya, bahkan tak pernah berkata atau memperlakukan dia dengan kasar. Hanya saja Misya sadar, kalau suaminya belum membuka hati dan menerima sepenuhnya pernikahan mereka. Tapi Misya selalu yakin suatu hari nanti, Reyden akan mencintainya dan melihat dirinya sebagai seorang istri. Mungkin dia masih butuh waktu menyesuaikan keadaan yang di paksakan ini.
"Bu, apa ibu mau di buatkan teh?" tanya Mbak Atin, asisten rumah tangga di rumah mereka.
"Boleh, Mbak... Saya sekalian mau ke taman belakang... Terima kasih, Mbak Atin..."
"Sama-sama, Bu..."
Kehidupan selama dua tahun ini memang terlalu monoton untuk pasangan pengantin seperti mereka. Misya yang berada di rumah, mengantar suami ke kantor dan menunggu dia pulang kerja. Rutinitas harian yang di jalani selama dua tahun terakhir. Mereka tidak pisah kamar, mereka tidur dalam satu kamar, satu ranjang yang sama walau tanpa adanya hubungan lebih di antara mereka. Misya tahu, kalau suaminya selalu menahan diri dengan alasan belum siap melakukannya. Dan Misya tak pernah memaksanya lagi. Toh Reyden juga selama ini selalu bersikap baik padanya.
"Mas jangan lupa makan siang dan minum vitaminnya..." pesan terkirim ke nomor Reyden menjelang jam makan siang.
'Nanti saya makan, saya masih ada sedikit pekerjaan. Saya mungkin akan pulang cukup larut. Kamu bisa tidur lebih dahulu dan jangan tunggu saya,' balasan dari Reyden beberapa menit berlalu.
"Sedang banyak proyek baru ya, Mas?"
'Iya dan ada sedikit kendala... Tapi semuanya aman dan terkendali...'
Reyden memang selalu membalas dan juga mengatakan setiap pekerjaan yang dia lakukan kepada Misya. Reyden tak pernah ketus atuu seperti suami lainnya yang berawal dari perjodohan. Dan bagi Misya, itu sudah lebih dari cukup. Reyden mau mengatakan kegiatannya setidaknya dia di hargai sebagai seorang istri. Malam menjelang, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan Misya masih menunggu Reyden di ruang tamu, walau Reyden mengatakan tak usah menunggu, Misya tetap saja tidak tenang kalau belum menyambut suaminya pulang.
Pukul sebelas malam lewat sepuluh menit. Suara deru mesin mobil yang familier akhirnya terdengar memasuki area halaman rumah. Misya yang sempat hampir terlelap di sofa ruang tamu langsung menegakkan duduknya. Rasa mengantuknya seketika menguap, berganti dengan senyuman kecil yang terukir di wajahnya.
Pintu utama terbuka. Reyden melangkah masuk sambil melonggarkan dasi di lehernya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya menenteng tas kerja. Wajahnya jelas menyuratkan kelelahan yang amat sangat setelah seharian bergelut dengan setumpuk pekerjaan dan kendala kantor yang sempat ia ceritakan lewat pesan siang tadi.
Langkah Reyden terhenti di ambang ruang tamu saat melihat sosok istrinya berdiri menyambut.
"Belum tidur?" tanya Reyden dengan suara baritonnya yang terdengar sedikit parau karena lelah. Ia melangkah mendekat, meletakkan tas kerjanya di atas meja sisi sofa.
"Belum, Mas... Kan aku sudah bilang, aku mau nungguin kamu pulang," jawab Misya lembut. Ia langsung mengambil alih jas kerja yang masih tersampir di lengan suaminya, lalu merapikannya dengan telaten.
"Kamu pasti lelah banget ya? Mau aku ambilkan air hangat dulu, atau mau langsung istirahat?"
Reyden menatap wanita di hadapannya itu dalam-dalam. Di tengah kepenatan dan tekanan pekerjaan yang luar biasa hari ini, pemandangan seorang istri yang dengan sabar menunggunya hingga larut malam, tanpa sedikit pun nada protes atau tuntutan memberikan ketenangan tersendiri yang tak ia sadari selalu ia nantikan setiap kali pulang ke rumah.
Reyden menghela napas pelan, lalu menggeleng pelan.
"Tidak usah repot-repot, Misya. Saya hanya ingin langsung membersihkan diri dan istirahat. Kamu juga... seharusnya tidak perlu menungguku selarut ini."
Meskipun ucapannya terdengar kaku seperti biasa, tatapan mata Reyden malam ini jauh lebih lembut dari biasanya. Tangannya terulur, secara spontan menyentuh puncak kepala Misya dan mengelusnya pelan, sebuah gestur kecil penuh kebiasaan yang selalu membuat jantung Misya berdegup sedikit lebih cepat.
"Gimana pekerjaannya? Kendalanya sudah beres, kan?" tanya Misya sambil menyerahkan segelas air putih yang sudah disiapkannya di atas meja kecil, mengabaikan rasa lelahnya sendiri.
Reyden menerima gelas itu, meneguknya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Sudah teratasi. Semuanya aman, seperti yang saya bilang tadi siang." Pria itu meletakkan kembali gelasnya, lalu menatap Misya lurus-lurus.
"Terima kasih... karena selalu menunggu dan perhatian sama saya."
Mendengar kalimat itu, senyuman di bibir Misya semakin melebar. Matanya berbinar hangat. Dua tahun pernikahan ini memang bukan perjalanan yang mudah, tapi mendengar suaminya berkata tulus seperti itu membuatnya yakin bahwa kesabarannya selama ini sama sekali tidak sia-sia.
"Sama-sama, Mas. Itu sudah kewajiban aku. Ya sudah, ayo kita ke kamar. Kamu butuh istirahat total malam ini."
Misya menunggu Reyden selesai membersihkan diri. Setelah pria itu merebahkan tubuhnya, seperti biasa Misya akan mendekat dan memeluk Reyden kemudian tidur. Dan Reyden tak pernah menolak hal yang di lakukan istrinya.
"Astaga! Kamu bandel sekali, Misya! Padahal saya sudah katakan untuk tidak menunggu, akhirnya kamu malah nagntuk kan? Baru beberapa menit saja sudah terlelap... Maaf membuat kamu menunggu setiap malam..." bisik Reyden. Tangannya terulur merapikan anak rambut Misya.
"Maaf... Maaf karena aku belum bisa mencintai kamu, Misya..." bisiknya kembali sebelum dia juga ikut terlelap menyusul Misya ke alam mimpi.