Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26: Kakak Polisi
Yang pertama dia lihat adalah langit-langit putih, dan yang pertama dia rasakan adalah kakinya yang berat seperti terbuat dari batu.
Nala mengangkat kepala sedikit. Kaki kanannya terbungkus gips dari pergelangan sampai bawah lutut, ditopang dua bantal. Di lengannya ada selang infus. Di jendela besar di sebelah kanan, langit Jakarta abu-abu seperti biasa, dan di bawahnya atap-atap gedung berjajar sampai ke kabut.
Jakarta.
Dia tidak ingat bagaimana dia sampai di sini.
"Kak Nala! Kak Nala sudah bangun!"
Laras melompat dari sofa di sudut kamar, menjatuhkan bantal kecil dan ponselnya ke lantai sekaligus. Dia berlari ke sisi ranjang, lalu berhenti, seolah takut menyentuh, lalu menyentuh juga, menggenggam tangan Nala yang tidak diinfus dengan kedua tangannya.
"Jangan gerak dulu. Kata dokter tulang pergelangan kaki Kakak retak. Gipsnya tiga minggu." Dia menoleh ke pintu dan berteriak, "Suster! Suster, pasiennya bangun!" Lalu kembali ke Nala, matanya berkaca-kaca. "Kakak tidur hampir sehari penuh. Aku kira Kakak nggak bangun-bangun."
"Ini hari apa?"
"Rabu. Dua puluh empat."
Nala memejamkan mata sebentar. Pertigaan itu. Bunyi logam yang bertemu logam. Jeritan dari dalam parit. Ponsel di rumput.
Dia membuka mata dan melirik ke lemari kecil di sudut kamar. Jaketnya tergantung di sana, di balik pintu lemari yang setengah terbuka. Masih jaket yang sama. Masih kotor oleh lumpur.
"Damar di mana?"
Laras menggigit bibirnya.
***
Dokter yang datang sepuluh menit kemudian adalah perempuan paruh baya dengan kacamata berbingkai merah. Dia memeriksa jari-jari kaki Nala, menekan kuku-kukunya satu per satu, menanyakan apakah terasa kesemutan.
"Retak, bukan patah total. Tiga minggu gips, lalu fisioterapi." Dia mencatat sesuatu di papan klip. "Beruntung. Kalau benturannya sedikit lebih ke atas, bisa lain cerita."
"Dan laki-laki yang datang bersama saya?"
Dokter itu mengangkat alis ke arah Laras, lalu kembali ke Nala. "Pak Damar? Lukanya di rusuk kami buka dan bersihkan ulang tadi pagi. Jahitan lama sudah lepas dan ada infeksi ringan." Dia diam sebentar. "Siapa pun yang mengeluarkan pelurunya di lapangan, dia tahu apa yang dia kerjakan. Pelurunya dangkal, untung tidak kena tulang. Tapi seharusnya pasien tidak berlari-lari setelah dijahit."
"Dia tidak mau dengar," kata Nala.
Dokter itu nyaris tersenyum. "Begitulah kata semua orang yang merawatnya."
***
Setelah dokter pergi, Laras duduk di kursi di sebelah ranjang dan mulai bercerita. Laras selalu bercerita, seperti keran yang tidak bisa dimatikan.
"Mas sewa pesawat," katanya. "Pesawat pribadi. Dari Batam langsung ke Halim. Waktu aku sampai di Halim, Mas turun dari tangga pesawat sambil gendong Kakak. Nggak mau dibantu. Petugas bandara udah siapin kursi roda dan tandu, Mas nggak mau. Dia gendong Kakak sendiri sampai ke ambulans."
Nala menatap langit-langit.
"Padahal lukanya sendiri udah berdarah lagi. Kemejanya merah semua di sini." Laras menunjuk rusuk kanannya sendiri. "Terus di rumah sakit dia nggak mau diperiksa. Dia duduk di sini, di kursi ini, nungguin Kakak. Dari siang sampai malam. Nggak makan. Tengah malam dia tiba-tiba jatuh dari kursi. Pingsan. Baru deh dokter bisa bawa dia ke ruang tindakan."
"Dia di mana sekarang?"
"Kamar sebelah. Tadi pagi habis dibersihin lukanya, disuruh tidur. Tapi tadi aku lihat dia udah duduk lagi di ranjang sambil telepon-telepon." Laras mendengus. "Nggak bisa diam."
Nala tidak menjawab.
Dia tidak mau memikirkannya. Laki-laki yang menggendongnya turun dari pesawat dengan jahitan yang robek. Laki-laki yang sama yang menilainya di dalam hutan. Dua laki-laki itu orang yang sama, dan dia tidak tahu harus melakukan apa dengan kenyataan itu.
"Mas emang begitu," kata Laras pelan. Suaranya berubah. Lebih kecil. "Dari dulu. Mama sama Papa meninggal waktu aku masih kecil banget. Aku nggak ingat muka mereka, cuma dari foto. Yang aku ingat cuma Mas." Dia memainkan ujung selimut Nala. "Mas yang ngajarin aku naik sepeda. Mas yang datang ke sekolah waktu ambil rapor. Mas yang dimarahin guru waktu aku berantem sama teman sekelas." Dia tertawa kecil. "Eyang ngurusin rumah, ngurusin perusahaan. Tapi yang ngebesarin aku, Mas."
Nala menatap gadis itu. Dua puluh tahun, dengan pita rambut warna pastel dan kuku yang dicat warna-warni, dan dia membicarakan kakaknya seperti seseorang membicarakan satu-satunya pohon di tengah lapangan.
"Kamu sayang dia," kata Nala.
"Dia satu-satunya yang aku punya." Laras mengangkat bahu, lalu tersenyum lebar lagi, seperti biasanya. "Makanya Kakak jangan bikin dia pingsan lagi. Satu kali cukup."
***
Ketukan di pintu. Lalu pintu terbuka sebelum ada yang menjawab.
Seikat besar mawar putih masuk lebih dulu. Lalu laki-laki yang membawanya, dengan kemeja biru muda yang rapi dan senyum yang sudah Nala kenal.
"Sekretaris Nala. Aku dengar kamu mencuri mobil sewaan dan menabrakkannya ke hutan."
"Mobilnya tidak aku tabrakkan. Mobilnya tenggelam."
"Oh, kalau begitu tidak apa-apa." Arka meletakkan mawar itu di meja samping ranjang. "Asuransinya menanyakan apakah aku punya musuh. Aku bilang, aku punya satu, dan dia sedang dirawat di rumah sakit."
Laras sudah berdiri dari kursinya.
Nala menoleh ke arahnya, dan melihat sesuatu yang aneh. Gadis itu menatap Arka dengan mulut sedikit terbuka. Wajahnya pucat, lalu merah, lalu pucat lagi. Tangannya mencengkeram pinggiran ranjang.
"Kak Polisi," kata Laras.
Arka berhenti tersenyum.
"Kak Polisi, kan?" Laras melangkah mendekat. Suaranya gemetar. "Gunung Salak. Tujuh tahun lalu. Aku diculik waktu pulang les, terus dibawa ke hutan di kaki gunung. Malam itu ada bulan. Ada orang pakai seragam yang nemuin aku di bawah pohon, terus gendong aku turun. Lima kilo. Dia gendong aku lima kilo sambil nyanyi supaya aku nggak takut." Matanya berkaca-kaca. "Aku ingat suaranya. Aku ingat bahunya. Kak Polisi, itu Kakak, kan?"
Arka menatapnya lama.
Lalu senyum itu kembali. Pelan. Ringan. Senyum yang biasa dia pakai untuk menutup semua pintu.
"Salah orang, Dik," katanya. "Aku bukan polisi. Aku cuma pengusaha yang suka mawar."
Laras membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi.
Pintu terbuka untuk kedua kalinya.
Damar berdiri di ambang pintu dengan baju pasien rumah sakit yang tertutup jas hitam, perban terlihat di balik kerah. Wajahnya pucat dan matanya cekung, tapi dia berdiri tegak. Dia melihat Nala lebih dulu. Lalu dia melihat Laras, dan mawar di atas meja, dan laki-laki di sebelah ranjang.
Suhu di kamar itu turun beberapa derajat.
"Pak Ardana," katanya.
"Pak Damar. Saya dengar Bapak juga dirawat. Semoga lekas sembuh."
Damar tidak menjawab. Dia menoleh ke pintu, ke salah satu orangnya yang berjaga di koridor. "Bawa bunga itu keluar."
Orang itu masuk, mengambil mawar putih itu dari meja, dan membawanya keluar tanpa sepatah kata pun.
Arka tertawa kecil. Dia tidak terlihat tersinggung. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan berjalan ke pintu.
"Lekas sembuh, Sekretaris Nala. Kamu masih punya utang mobil satu."
Di ambang pintu, dia berhenti. Dia menoleh ke belakang. Matanya menatap Laras, yang masih berdiri di tempatnya dengan wajah merah dan tangan terkepal. Lama. Terlalu lama untuk tatapan seorang pengusaha kepada adik kliennya.
Lalu tatapannya bergeser ke Nala. Dan di mata itu, Nala melihat sesuatu yang tidak bisa dia namai. Bukan godaan. Bukan senyum. Sesuatu yang lebih tua dan lebih berat.
Pintu tertutup di belakangnya.
***
Laras pergi tidak lama kemudian, dengan alasan harus kuliah. Nala tahu itu bohong. Gadis itu hanya tidak ingin menangis di depan kakaknya.
Damar duduk di kursi yang ditinggalkannya. Dia mengambil sebuah apel dari keranjang buah di meja, dan pisau kecil dari laci.
Dia mengupasnya. Kulit apel itu turun dalam satu pita panjang yang tidak putus, melingkar-lingkar di atas pangkuannya. Tangannya pelan dan hati-hati, seperti tangan orang yang tidak terbiasa mengupas apel dan takut melakukan kesalahan.
Nala menatapnya. Dia tidak bertanya. Damar juga tidak menjelaskan.
Dia tidak minta maaf. Nala tahu dia tidak akan minta maaf. Laki-laki ini tidak pernah mengucapkan kata itu kepada siapa pun. Tapi dia memotong apel itu menjadi potongan-potongan kecil, membuang bijinya satu per satu dengan ujung pisau, dan menyodorkan potongan pertama ke mulut Nala.
Nala memakannya.
"Aku bukan orang baik, Anala," kata Damar tanpa mengangkat wajah dari apel di tangannya. "Kamu tidak takut?"
Nala mengunyah pelan. Apel itu manis dan sedikit asam.
"Kamu saja tidak takut mati," katanya. "Aku takut apa?"
Damar mengangkat wajahnya. Dan untuk sesaat, dia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar jawaban yang tidak pernah dia harapkan.
Dia menyodorkan potongan berikutnya.
Nala memakannya juga. Tapi pikirannya sudah tidak di sana. Pikirannya masih di ambang pintu, pada tatapan laki-laki berkemeja biru muda yang menoleh ke belakang.
Arka Ardana, pikirnya. Kamu sebenarnya siapa?