Sejak kecil, Alkina selalu tahu bahwa dirinya berbeda di mata kedua orang tuanya. Di rumah, Sisil selalu mendapatkan apa pun yang diinginkan. Ketika Sisil meminta uang, orang tua mereka memberikannya tanpa banyak bertanya. Ketika Sisil melakukan kesalahan, mereka selalu mencari alasan untuk membelanya. Bahkan ketika Alkina berprestasi dan berusaha membuat orang tuanya bangga, keberhasilannya dianggap biasa saja. Berbeda dengan Sisil, Alkina justru selalu dituntut untuk mengalah. "Kamu itu jangan egois... Apa susahnya sih mengalah." Kalimat itu sudah terlalu sering ia dengar. Alkina terbiasa melihat hadiah mahal diberikan kepada Sisil, sementara dirinya hanya mendapatkan barang bekas. Ia terbiasa bekerja membantu pekerjaan rumah, sementara Sisil bebas menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Sampai Alkina berada di titik dimana ia berhenti berharap. Ia tidak lagi meminta dibelikan sesuatu. Tidak lagi menceritakan prestasinya. Tidak lagi menunggu ucapan bangga dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fianaqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 2 anak yang tak diinginkan
Alkina duduk sendirian di gudang sambil memeluk album foto itu sangat erat. Debu memenuhi udara, tetapi pikirannya jauh lebih sesak dibanding ruangan sempit tersebut.
Matanya terus menatap satu foto Ranti muda sedang tertawa sambil mencium pipi bayi Alkina.
Tatapan itu penuh cinta, hangat, penuh kasih sayang. Sangat berbeda dengan wanita yang sekarang selalu memukul dan membencinya.
“Apa yang sebenarnya terjadi…” bisik Alkina pelan.
Dalam hidupnya, ia merasa bingung terhadap keluarganya sendiri. Ia bukan anak yang tidak diinginkan.
Kalau memang mamanya membenci dirinya sejak awal, kenapa ada foto-foto ini?
Kenapa dulu Ranti terlihat begitu menyayanginya?
Brak!
Suara pintu gudang terbuka kasar membuat Alkina tersentak. Ranti berdiri di ambang pintu dengan wajah tajam.
“Kamu ini selalu saja lama mengerjakan pekerjaan kamu?”
"Apa kamu tidur dulu hah?" Marah Ranti dengan menunjuk Alkina.
Alkina buru-buru menutup album itu.
“Ta, tadi aku bersihin rak…”
Namun mata Ranti langsung tertuju pada kotak di lantai. Wajah wanita itu berubah pucat. Ia berjalan cepat lalu merebut kasar album dari tangan Alkina.
“Siapa suruh kamu buka ini hah?”
Suara Ranti terdengar panic dan marah.
“Aku tidak sengaja menemukan...”
Plak! Plak!
Dua tamparan keras kembali mendarat di pipi Alkina.
“Kamu lancang sekali!
"Kamu itu memang suka mengacak barang orang! Dasar tidak sopan, tidak punya etika sama sekali kamu!”
Album itu dipeluk Ranti erat seolah benda berharga yang tak boleh disentuh siapa pun dan ini pertama kalinya Alkina tidak sakit hati, untuk pertama kalinya ia melihat mata mamanya berkaca-kaca.
Namun hanya sesaat, Ranti segera membuang muka lalu berkata dingin.
“Cepat lanjut bersih-bersih. Jangan sentuh barang ini lagi. Jika kamu masih lancang, saya akan hukum berat kamu.”
perempuan itu pergi membawa album tersebut. Meninggalkan Alkina yang semakin dipenuhi tanda tanya.
Malam harinya, Alkina tidak bisa tidur ia terus memikirkan ekspresi Ranti tadi.
Itu bukan tatapan benci, itu lebih seperti ketakutan.
Perlahan Alkina keluar kamar dan berjalan menuju dapur untuk minum namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara pertengkaran dari ruang kerja papanya.
“Kamu terlalu keras sama Alkina!”
Suara Setiawan terdengar marah.
“Lalu aku harus bagaimana?” balas Ranti emosional.
“Alkina anak kita!”
“Hentikan!” ucap Ranti menutup telinga, ia tidak ingin mendengar suaminya menyebutkan nama Alkina.
"Jangan sampai kamu menyesal saat dia tidak lagi bersama kita, jangan sampai kamu kehilangan untuk kedua kalinya!"
"Cukup aku..."
Suara benda jatuh terdengar keras. Namun pasangan suami istri itu sama sekali tidak terusik dan terus bertengkar.
Alkina refleks bersembunyi di balik dinding, jantungnya berdebar.
“Aku sudah mencoba!” suara Ranti mulai bergetar. “Tapi setiap lihat wajah Alkina… aku selalu ingat kejadian itu!”
Setiawan terdiam, Ranti menangis.
Tangis yang belum pernah Alkina dengar sebelumnya.
“Kalau waktu itu dia tidak keras kepala… Arkan tidak akan meninggal!”
Tubuh Alkina membeku. Siapa Arkan?
“Sudah bertahun-tahun berlalu...” ucap Setiawan lirih. “Itu bukan salah Alkina.”
“Tapi dia penyebabnya!”
Kalimat itu menghantam dada Alkina tanpa ampun, air matanya langsung jatuh. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, namun satu hal terasa jelas…
mamanya menyalahkannya atas kematian seseorang dan sejak saat itu, semuanya berubah.
Keesokan harinya suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya.
Ranti mengabaikan Alkina sepenuhnya. Sementara Sisil tampak sibuk mencoba gaun baru sambil terus memamerkan barang-barang mahalnya.
“Kak, lihat tas aku bagus kan? Limited edition loh.”
Alkina hanya mengangguk pelan sambil menyapu hal yang sudah sering ia dengar dan lihat.
Sisil mendekat lalu berbisik pelan di telinganya, “Kamu tahu tidak? mama sebenarnya benci banget sama kamu.”
Alkina diam, sementara Sisil semakin menjadi, “Aku sering dengar dia bilang hidupnya lebih bahagia kalau cuma ada aku.”
Senyum Sisil melebar, “Kasihan ya… anak kandung malah tidak dianggap... hanya di anggap babu”
Hati Alkina terasa diremas namun ia terlalu lelah untuk melawan.
Sisil memang selalu seperti itu. Menusuk diam-diam sambil berpura-pura manis di depan orang lain.
“Oh iya,” lanjut Sisil santai, “minggu depan ulang tahunku. Daddy mau kasih aku mobil keluaran terbaru loh.” Sisil semakin memanas mamansi.
Langkah Alkina berhenti.
Mobil?
Sementara dirinya bahkan harus berjalan kaki atau naik angkutan umum untuk berpergian. Bahkan saat dirinya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan pun tidak diizinkan.
Alasan mamanya, hanya buang-buang uang untuk menguliahkan Alkina. Setiawan lagi dan lagi diam-diam mengkuliahkan putrinya dan Alkina pun diam-diam pergi kuliah.
“Hebat ya aku?” Sisil tertawa kecil. “Padahal aku cuma anak angkat.”
Ucapan itu terasa sengaja dan berhasil menghancurkan sisa harga diri Alkina.
Sore harinya, Setiawan mengetuk kamar Alkina.
Pria itu tampak ragu masuk.
“Kamu baik-baik saja?”
Alkina duduk di pinggir ranjang kecilnya.
“papa…”
Suara gadis itu lirih.
“Siapa Arkan?”
Wajah Setiawan langsung berubah.
“Aku dengar semuanya tadi malam.”
Pria itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya duduk perlahan.
“Arkan… kakak laki-lakimu.”
Mata Alkina membesar.
“A, aku punya abang?”
Setiawan mengangguk pelan.
“Dulu...”
Dada Alkina terasa sesak.
Selama ini ia bahkan tidak pernah tahu dirinya punya kakak.
“Waktu kamu masih kecil, Arkan sangat sayang sama kamu,” lanjut Setiawan lirih. “Dia selalu menjaga kamu.”
“Terus… kenapa dia meninggal?”
Setiawan memejamkan mata sebentar. Ia sudah tidak ingin mengingat hal itu lagi.
“Waktu itu kamu sakit keras, demam tinggi...”
Alkina mendengarkan dengan napas tertahan.
“Obatmu habis, mama kamu panik. Arkan yang pergi membeli obat malam-malam…”
Suara Setiawan mulai bergetar.
“…dan dia mengalami kecelakaan.”
Air mata langsung mengalir di pipi Alkina, tubuhnya melemas.
“Sejak hari itu…” Setiawan menunduk. “Mama kamu berubah.”
Alkina menggigit bibir kuat-kuat menahan tangis.
“Jadi… dia menyalahkanku?”
Setiawan tidak menjawab, namun diamnya kembali menjadi jawaban paling menyakitkan.
“papa sudah mencoba membuat Mama sadar...” katanya pelan. “Tapi rasa kehilangan membuat dia hancur... dan menyalahkan kamu.”
“Tapi aku juga kehilangan abang…”
Suara Alkina pecah. “Aku bahkan tidak sempat mengenalnya…”
Tangis itu akhirnya pecah sepenuhnya. Semua luka yang selama ini dipendam seperti runtuh sekaligus.
Ia dibenci karena sesuatu yang bahkan tidak pernah ia minta. Ia dihukum atas kematian yang bukan kesalahannya dan yang paling menyakitkan tak seorang pun pernah benar-benar membela dirinya.
"Aku ingin sendiri pa."
Tanpa kata Setiawan pergi dari kamar anaknya.
"Maafkan papa nak." batin Setiawan menangis.
Malam itu Alkina duduk sendirian di depan jendela kamar.
Ia menatap jalanan gelap dengan pikiran kosong lalu perlahan membuka laci meja kecilnya.
Di sana hanya ada beberapa pakaian lama, dan sedikit uang tabungan hasil diam-diam bekerja membantu tetangga dan juga uang yang diam-diam di berikan oleh papanya.
Tatapan Alkina berubah sendu.
"Mungkin… Rumah ini memang tidak pernah menginginkan aku, apa mungkin ini… Sudah waktunya aku pergi?" Alkina dipenuhi kebimbangan.
Apakah ia harus tetap bertahan dan berharap papanya benar-benar menempati janjinya atau ia harus pergi karena sudah tidak ada lagi yang membuat ia terus bertahan di rumah itu. Ia sudah sangat lelah.