NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Dewi

Sistem Penakluk Dewi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUESIONER TANPA BASA-BASI

Cahaya fajar menyusup samar melalui celah angin-angin di atas pintu kamar kontrakan Enzo. Suara ayam jantan bersahut-sahutan dari halaman belakang rumah Bu Salmah, beradu dengan bising deru sepeda motor warga yang mulai berangkat kerja menembus sisa dingin sisa hujan semalam. Enzo terbangun dari posisi duduknya dengan leher kaku dan kepala seberat batu. Ia tidak benar-benar tidur sepanjang sisa malam. Setiap kali matanya terpejam, bayangan deretan kalimat dari aplikasi misterius itu kembali membakar pikirannya, membuat kantuknya terbuang sia-sia.

Enzo bangkit berdiri, merenggangkan badannya yang berbunyi gemertak, lalu berjalan canggung menuju kamar mandi umum di ujung lorong kontrakan. Air dingin yang menyiram wajahnya cukup untuk menyadarkan Enzo dari rasa lelah yang mengendap. Saat mematut diri di cermin kaca tua yang berkerak di atas bak air, ia menatap bayangannya sendiri: mata merah kurang tidur, rambut berantakan yang mulai panjang, serta lingkaran hitam tebal di bawah matanya. Pemandangan itu adalah gambaran nyata dari seorang pemuda dua puluh lima tahun yang kelelahan, bingung, dan pelan-pelan tergerus kerasnya kehidupan kota besar.

Kembali ke kamar sempitnya, Enzo mengenakan kemeja kain lusuh yang sudah agak pudar warnanya di bagian bahu dan celana jins hitam yang ujungnya mulai terurai. Ia membuka dompet kulit tipisnya, menghitung tiga lembar uang sepuluh ribuan yang lecek dan beberapa keping uang logam yang tersisa di balik lipatan.

"Tiga puluh lima ribu," gumam Enzo seraya menghembuskan napas panjang.

Uang itu harus cukup untuk makan seharian ini dan ongkos angkutan umum jika ada panggilan kerja lepas. Ia mengantongi dompetnya, mengambil kunci kontrakan berselot besi tua, lalu melangkah keluar. Begitu kakinya melewati ambang pintu dan jemarinya memutar anak kunci di lubangnya, ponsel tua di saku celananya bergetar hebat. Bukan sekali, melainkan dengung panjang yang memaksa otaknya berdenyut.

Enzo menghentikan langkahnya tepat di koridor sempit kontrakan yang temaram. Ia menarik keluar ponselnya dengan gerakan enggan. Layar yang tadinya gelap mendadak berubah menjadi putih bersih dengan tampilan kuesioner sederhana tanpa hiasan visual yang mencolok, sangat mirip dengan lembar tes psikologi dasar.

[Akses Terverifikasi: Subjek telah melangkah keluar dari zona nyaman.]

[Sebelum Misi Pertama dimulai, jawab kuesioner konfirmasi karakter berikut ini dengan jujur.]

Enzo mengerutkan keningnya, menatap layar dengan rasa jengkel yang mulai naik ke permukaan. Ia bersandar pada dinding lorong semen yang dingin, menoleh ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada tetangga kontrakan yang memperhatikannya berdiri sendirian seperti orang bingung.

"Gue kira udah selesai semalam," bisik Enzo seraya mengusap tengkuknya.

Di layar, pertanyaan pertama muncul dengan ketikan huruf yang meluncur cepat dan rapi.

[Pertanyaan 1: Ketika melihat orang lain berhasil mendapatkan apa yang Anda inginkan, apa reaksi pertama dalam pikiran Anda?]

A. Mengagumi perjuangan mereka dan belajar dari prosesnya.

B. Merasa dunia tidak adil dan diam-diam mencari keburukan atau faktor keberuntungan mereka.

C. Tidak peduli sama sekali.

Jempol Enzo menggantung beberapa sentimeter di atas layar kaca yang retak. Otaknya secara refleks ingin menekan opsi A agar terlihat sebagai pria dewasa yang matang dan berjiwa besar. Namun, sebelum jarinya sempat menyentuh permukaan layar, tombol opsi A mendadak redup dan terkunci dengan warna abu-abu mati.

[Sistem Menolak Jawaban Palsu. Kejujuran tingkat dasar diperlukan untuk melanjutkan.]

"Lah, kalau udah tahu jawabannya, kenapa pakai nanya segala?" protes Enzo seraya menggertakkan giginya.

Dengan perasaan dongkol yang tertahan di tenggorokan, ia menekan opsi B. Seketika centang hijau muncul di samping jawaban itu, diikuti pertanyaan berikutnya tanpa memberi jeda bagi Enzo untuk bernapas atau mengatur emosinya.

[Pertanyaan 2: Apa alasan utama Anda belum memiliki pekerjaan tetap atau usaha mandiri hingga hari ini?]

A. Kurangnya modal finansial dan tidak punya koneksi orang dalam.

B. Belum menemukan kesempatan kerja yang benar-benar cocok dengan kualifikasi.

C. Takut gagal, takut ditolak saat wawancara, dan enggan keluar dari rasa nyaman meski hidup serba kekurangan.

Enzo terpaku menatap opsi C. Kalimat panjang itu terasa seperti sembilu tajam yang menelanjangi kepalanya sampai ke dasar. Selama dua tahun terakhir, setiap kali ibunya di kampung menanyakan perkembangan pekerjaannya, Enzo selalu mengambinghitamkan krisis ekonomi, persaingan yang tidak sehat, atau nasibnya yang selalu sial. Ia tidak pernah berani mengakui bahwa jauh di dalam hatinya, ia memang terlalu takut menghadapi lembar penolakan dari perusahaan, sehingga memilih mengambil pekerjaan lepas serabutan yang tidak menuntut tanggung jawab besar.

"Nggak semua orang punya kesempatan yang sama, tahu!" cetus Enzo dengan nada membela diri pada ponselnya.

Namun, layar tidak berubah sedikit pun. Kalimat di opsi C tetap berada di sana, menunggunya menekan tombol yang paling menyakitkan bagi harga dirinya sebagai seorang pria. Enzo memejamkan mata sejenak, mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat sampai buku jarinya memutih, lalu menekan opsi C dengan ketukan kasar.

[Pertanyaan 3: Apa yang Anda lakukan ketika menghadapi masalah rumit yang membutuhkan keputusan cepat?]

A. Menganalisis situasi dan berani mengambil risiko terbaik.

B. Menunda-nunda sampai masalah itu membesar atau selesai sendiri karena bantuan orang lain.

C. Minta bantuan orang lain tanpa berusaha terlebih dahulu.

Kali ini Enzo tidak memprotes lagi. Rasa amarahnya mendadak surut, berganti menjadi kepahitan yang dingin. Tanpa ragu, ia menekan opsi B dengan helaan napas pasrah.

Layar ponsel berkedip tiga kali secara berurutan. Tampilan kuesioner menghilang, berganti menjadi lembaran laporan ringkas dengan huruf-huruf tebal berwarna merah tua yang tegas.

[Analisis Karakter Subjek: Enzo]

Penakut: Selalu memilih mundur sebelum bertarung karena terlalu fokus pada potensi kegagalan daripada peluang berhasil.

Ragu-ragu: Memiliki kebiasaan buruk menunda keputusan kritis hingga momentum terbaiknya hilang begitu saja.

Pengeluh Kronis: Cenderung menyalahkan keadaan, lingkungan, dan keberuntungan orang lain untuk menutupi ketidakberdayaan diri sendiri.

[Kesimpulan: Karakter saat ini berada di tingkat paling bawah dari standar seorang pria yang layak diandalkan.]

Enzo menatap kata-kata di layarnya dengan rahang mengencang rapat. Ada rasa panas yang merambat cepat dari dadanya hingga ke telinga. Seandainya yang menyampaikan penilaian itu adalah manusia berdarah daging di hadapannya, Enzo yakin ia sudah melayangkan pukulan atau setidaknya memaki orang itu habis-habisan. Tetapi yang ada di hadapannya hanyalah sebuah aplikasi misterius di layar ponsel tua—sebuah benda mati yang justru menyuarakan kebenaran pahit yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik alasan-alasan rasional.

"Brengsek," umpat Enzo pelan seraya memalingkan wajahnya ke arah gang kontrakan.

Pagi makin terang. Bu Salmah terlihat keluar dari rumah utamanya sambil membawa sapu lidi, mulai menyapu halaman depan dengan gerakan bersungut-sungut. Enzo refleks menyembunyikan ponselnya ke dalam saku celana, khawatir pemilik kontrakan itu melihatnya dan kembali menagih uang sewa yang menunggak satu bulan.

Namun, sebelum layar ponselnya benar-benar padam, sebuah pesan teks baru muncul di bar notifikasi atas:

[Kuesioner Selesai.]

[Misi Pertama Aktif: Berjalanlah menuju Toko Kelontong Berkah di ujung jalan raya.]

[Target Bantuan: Nadira.]

[Batas Waktu: 15 Menit.]

Enzo memandangi notifikasi itu dengan perasaan campur aduk. Amarah karena dikritik secara brutal bertabrakan dengan rasa penasaran yang tak bisa ia bendung lagi. Ia mengenali Toko Kelontong Berkah—toko grosir kecil milik Pak Haji Ramli yang berjarak sekitar sepuluh menit berjalan kaki dari gang kontrakannya. Dan Nadira? Enzo mengingat-ingat gadis muda pemalu yang sering menjaga kasir di toko itu, gadis sederhana yang jarang bicara dan selalu menundukkan kepala bila disapa pembeli.

"Kenapa harus ke sana?" tanya Enzo pada ponselnya yang sudah kembali terkunci rapat.

Tidak ada jawaban dari layar hitam itu. Hanya ada ketukan detik jam digital di layar depan yang mulai menghitung mundur dari angka empat belas menit lima puluh detik. Enzo mengusap mukanya dengan kasar, merapikan kerah kemeja lusuhnya, lalu melangkah cepat menyusuri gang sempit menuju jalan raya. Udara pagi yang dingin menusuk kulit kemeja tipisnya, tetapi pikirannya kini berpacu kencang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ada sesuatu yang memaksanya bergerak cepat tanpa sempat berlama-lama meragukan dirinya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!