Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Neraka dan Syarat Sang Mafia
Waktu berlalu seperti terseret beban yang amat berat.
Malam berganti pagi, pagi berganti malam, hingga hari keempat menjelma menjadi mimpi buruk yang paling nyata.
Kiai Ahmad tidak pernah kembali.
Ponselnya mati.
Tidak ada satupun pengurus pesantren yang berhasil menemukannya.
Dan puncak dari kehancuran itu terjadi ketika sebuah paket misterius dikirimkan ke depan gerbang ndalem pada tengah malam, diantar oleh seseorang berbadan tegap berjaket kulit hitam yang langsung menghilang dalam kegelapan.
Ketika paket itu dibuka oleh paman Aisyah bersama para pengurus pesantren, Ummi jatuh pingsan seketika.
Di dalam kotak kardus itu terdapat sebuah jas koko berlumuran darah kering, sebuah kopiah putih yang sobek, dan selembar rekaman video pendek berdurasi sepuluh detik.
Aisyah, dengan tangan gemetar hebat dan napas yang tercekat di tenggorokan, memaksa dirinya melihat layar ponsel yang memutar video tersebut.
Di dalam video remang-remang itu, terlihat sang Abah Kiai Ahmad yang mulia, pria renta yang sepanjang hidupnya mengajarkan kasih sayang dan ayat-ayat suci tengah duduk terikat di sebuah kursi besi tua.
Wajahnya babak belur, sudut bibirnya pecah mengeluarkan darah segar, dan napasnya tersengal-sengal parah.
Di belakangnya, sesosok pria berpostur tinggi tegap berdiri dengan seringai dingin.
Pria itu mencondongkan wajah ke dekat telinga Kiai Ahmad, berbisik dengan suara berat yang terdengar sangat kejam,
“Katakan pada putrimu yang suci itu...
tanda tangani surat penyerahan tanah, atau orang tua ini akan pulang dalam keadaan tanpa nyawa.”
Brak!
Video itu berhenti.
Aisyah terduduk lemas di lantai keramik yang dingin.
Dunia di sekelilingnya mendadak berputar hebat.
Suara tangisan Ummi yang histeris di kamar sebelah, suara ratapan para santriwati di luar, dan desau angin malam bergemuruh di dalam kepalanya menjadi satu suara bising yang memekakkan telinga.
Selama empat hari empat malam, rumah itu berubah menjadi lautan air mata.
Ummi tidak lagi mampu berdiri.
Ia terus meratapi nasib sang suami, menyebut nama Kiai Ahmad di setiap sujudnya hingga suaranya habis dan matanya bengkak.
Tidak ada makanan yang masuk ke mulut wanita malang itu.
Ia sekarat secara perlahan karena hancur secara mental.
Aisyah melihat semua itu.
Di balik cadarnya, bibirnya terus melafalkan ayat-ayat penenang jiwa, zikir, dan istighfar tanpa henti.
Namun, di dalam dadanya, ada sesuatu yang telah mati.
Hati nuraninya berteriak memberontak.
'Abah disiksa... Abah sekarat karena membela keyakinan... dan aku hanya duduk di sini meratapi keadaan?
Tidak!
Ini salah!'
batin Aisyah berteriak histeris, mencabik-cabik akal sehatnya.
Malam kelima.
Jam dinding menunjuk pukul dua malam.
Waktu di mana sebagian besar manusia terlelap dalam mimpi mereka.
Aisyah bangkit dari sajadah panjang tempat ia menghabiskan sepertiga malamnya bersimpuh bermunajat.
Air matanya telah kering, menyisakan tatapan mata biru yang menyala tajam penuh tekad baja.
Ia merapikan abayanya, memastikan cadarnya terikat kuat menutupi wajahnya, lalu berjalan perlahan menuju kamar sang Ummi.
Dilihatnya ibunya tertidur lelap akibat kelelahan setelah menangis seharian, ditemani oleh Fatimah sahabat setianya yang dengan setia menemani dan merawat Ummi selama beberapa hari terakhir.
Fatimah terbangun ketika mendengar derit pintu kamar.
Ia mendapati Aisyah berdiri di ambang pintu dengan tas kecil di tangannya dan sorot mata yang belum pernah ia lihat sebelumnya sorot mata seorang wanita yang siap menjemput kematian demi orang yang dicintainya.
"Aisyah...?
Kamu mau ke mana jam segini?"
tanya Fatimah dengan suara serak bercampur panik, segera beranjak dari sisi ranjang Ummi.
Aisyah menatap sahabat karibnya itu lekat-lekat.
Ia meraih tangan Fatimah, menggenggamnya erat-erat dengan telapak tangannya yang dingin.
"Fatimah... tolong jagakan Ummi,"
ucap Aisyah dengan suara pelan namun penuh penekanan yang mutlak.
"Jangan biarkan beliau bangun dan mencari aku."
"Kamu mau ke mana, Syah?
Jangan gila!"
Fatimah mencengkeram lengan Aisyah, firasat buruk langsung menghantam dadanya.
"Jangan bilang kamu..."
"Aku harus pergi, Fatimah,"
potong Aisyah tegas, meski air mata kembali menitik di sudut matanya.
"Abah sedang disiksa di neraka jahanam milik pria berdarah dingin itu.
Aku putrinya.
Adalah kewajibanku untuk menyelamatkannya, atau setidaknya... mati bersama Abah di sana."
"Aku ikut!"
seru Fatimah tanpa pikir panjang.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian ke sarang iblis itu!"
Aisyah sempat ragu, namun melihat ketegasan di mata Fatimah, ia akhirnya mengangguk pelan.
Dua gadis muda berselimut kain hitam itu bergerak dalam sunyi, melangkah keluar jendela kamar belakang pesantren, menembus kegelapan malam tanpa satupun orang lain yang tahu.
Mereka memanggil taksi online, meminta pengemudi mengantarkan mereka ke kawasan industri tua di pinggir kota sebuah kawasan terbengkalai yang dijuluki warga sekitar sebagai 'Tanah Mati'.
Tempat di mana singa-singa lapar bermarkas.
Tempat di mana Kenzie Al-Ghazali bertahta.
Sesampainya di gerbang kawasan industri tersebut, taksi berhenti jauh di luar batas aman karena pengemudi menolak mendekat setelah melihat pos penjagaan berlapis kawat berduri dan puluhan preman bertubuh kekar bersenjata api yang berjaga di gerbang.
Aisyah dan Fatimah turun.
Dengan langkah gontai namun dipaksa tegap, kedua gadis itu berjalan mendekati gerbang utama.
Angin malam berhembus kencang, menerbangkan ujung abaya mereka.
Belum sempat mereka melangkah masuk lebih jauh, sorot lampu sorot raksasa dari pos penjagaan tiba-tiba menyala terang, menyilaukan mata.
Seketika itu pula, selusin pria berbadan besar berbadan kekar, mengenakan pakaian serba hitam dengan tato melingkar di leher dan senjata laras pendek terselip di pinggang, berlari mengepung mereka.
"Wah, wah, wah... lihat apa yang kita temukan di sini,"
cibir pemimpin pengawal itu, tertawa meremehkan sambil memainkan pisau lipat di tangannya.
"Dua ekor anak kucing tersesat, datang sendiri mengantarkan nyawa ke sarang harimau."
Fatimah menjerit kecil, tubuhnya bergetar ketakutan hebat di belakang punggung Aisyah.
Ia meremas kain abaya sahabatnya erat-erat.
Aisyah tidak bergeming.
Ia mendongak, menatap tajam ke arah para pria berbadan kekar itu dengan sepasang mata birunya yang dingin di balik cadar.
"Bawa kami masuk,"
ucap Aisyah dengan suara lantang yang sama sekali tidak menunjukkan rasa takut.
"Katakan pada bos kalian... putri Kiai Ahmad sudah datang."
Pemimpin pengawal itu tertegun sejenak, lalu terbahak-bahak keras.
"Oh, jadi kau putrinya si dukun tua keras kepala itu?
Bagus!
Bos pasti sangat senang menerima tamu istimewa sepertimu.
Bawa mereka masuk!"
Dua orang pengawal bertubuh raksasa langsung menyergap lengan Aisyah dan Fatimah secara kasar, menyeret mereka berdua menyusuri lorong-lorong semen yang lembap, kotor, dan berbau anyir darah serta mesiu.
Suasana di dalam markas itu begitu mencekam, dipenuhi suara gemerincing rantai besi dan tawa sarkas para penjahat kelas kakap.
Mereka didorong hingga terjatuh di lantai sebuah sel bawah tanah yang dingin dan berkarat.
Pintu besi dibanting tertutup dengan suara dentuman keras yang memekakkan telinga.
"Tunggu di sini sampai Bos selesai dengan urusannya!"
bentak salah seorang pengawal sebelum langkah kaki mereka menjauh.
Fatimah langsung menangis sesenggukan di sudut sel, memeluk lututnya sendiri.
Namun Aisyah tidak peduli pada rasa sakit di lututnya akibat terjatuh.
Begitu ia mendongakkan kepala dan memfokuskan pandangannya ke dalam sudut remang-remang sel tersebut, napasnya seketika berhenti total.
Di sudut ruangan yang gelap, terikat di sebuah kursi besi tua dengan tali tambang kasar yang melilit tubuhnya, adalah Kiai Ahmad.
"A... Abah!"
teriak Aisyah histeris, menembus keheningan sel bawah tanah.
Gadis itu melompat bangkit, menerjang ke arah sang ayah tanpa mempedulikan apapun lagi.
Ia merosot jatuh di hadapan Kiai Ahmad, memeluk erat tubuh renta sang ayah yang penuh luka lebam, darah yang mengering di pelipis, dan pakaian robek-robek.
Tangis Aisyah pecah sejadi-jadinya, ratapan pilu yang keluar dari lubuk hati paling dalam, memecah kesunyian malam yang kejam.
"Abah... ya Allah... Abah buka mata Abah..."
rintih Aisyah menciumi tangan ayahnya yang penuh luka dengan air mata yang membasahi sekujur wajahnya di balik cadar.
"Aisyah di sini, Bah... Aisyah datang..."
Kiai Ahmad perlahan membuka kelopak matanya yang bengkak.
Napasnya tersengal-sengal, berat, dan berbunyi mengorok.
Ia menatap putrinya dengan pandangan yang nyaris kabur.
Tangannya yang lemas bergetar hebat saat berusaha mengangkat jari, menyentuh lembut kepala Aisyah yang tertutup kerudung.
"Ai... syah... ken... apa... kamu ke mari, Nak..."
bisik Kiai Ahmad terbata-bata, darah segar menetes dari sudut bibirnya.
"Tempat ini... neraka... jangan... di sini..."
"Aku tidak akan pernah biarkan Abah sendirian!"
teriak Aisyah di sela tangisnya yang sesenggukan.
"Mereka tidak punya peri kemanusiaan!
Jantung Abah bisa berhenti kapan saja!"
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat bertumit sepatu boots menghentak lantai semen di luar sel.
Suasana seketika berubah membeku.
Para pengawal di luar langsung berdiri tegak dan membungkuk hormat.
Pintu besi sel terbuka lebar dengan suara berdecit nyaring.
Sosok itu melangkah masuk.
Pria itu berdiri dengan postur tinggi proporsional bagaikan model papan atas.
Wajahnya sangat tampan rahang tegas terpahat sempurna, hidung mancung, dan bibir tipis yang menyunggingkan senyum sinis yang mematikan.
Namun, auranya begitu gelap, dingin, dan mematikan, memancarkan atmosfer psikopat berdarah dingin yang tidak memiliki rasa ampun di kamus hidupnya.
Kenzie Al-Ghazali.
Pria berusia 35 tahun itu mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh dan tato artistik yang mencuat.
Tatapan mata setajam elangnya langsung menghujam tepat ke arah Aisyah yang sedang mendekap Kiai Ahmad.
Kenzie berhenti beberapa langkah di hadapan mereka.
Ia menyelipkan kedua tangannya di saku celana bahan hitamnya, lalu terkekeh pelan—sebuah tawa rendah dan dingin yang membuat darah siapapun yang mendengarnya mendadak membeku.
"Menarik sekali pemandangan ini,"
suara Kenzie berat, bariton, dan penuh nada meremehkan.
"Putri suci sang Kiai, seorang Hafizah yang diagung-agungkan di desa, datang sendiri menyerahkan diri ke dalam kandang singa."
Aisyah melepaskan pelukannya dari sang Abah perlahan.
Ia berdiri, menegakkan tubuhnya meski kedua lututnya terasa lemas tak bertulang.
Ia mendongak, menatap tepat ke dalam manik mata pria di depannya.
Di balik cadarnya, tatapan mata biru Aisyah memancarkan kilau keberanian yang luar biasa—campuran antara kebencian yang mendalam dan ketulusan tanpa batas.
"Lepaskan Abah saya!"
suara Aisyah lantang, menggema di dinding sel bawah tanah.
"Anda sudah menyiksanya!
Anda bisa membunuhnya jika terus membiarkannya di sini!"
Kenzie menyipitkan matanya, menatap lekat-lekat sosok gadis bercadar di depannya.
Ada sesuatu yang sangat aneh yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya—tatapan mata biru jernih itu tidak menyiratkan ketakutan mutlak seperti wanita-wanita lain yang pernah ia temui.
Sebaliknya, mata itu memancarkan daya tarik misterius yang langsung menghujam jantungnya.
"Bunuh?"
Kenzie tersenyum miring, melangkah maju perlahan mendekati Aisyah hingga jarak di antara mereka tinggal beberapa senti saja.
Bau parfum maskulin yang mahal bercampur aroma mesiu langsung menyeruak.
"Aku belum sempat membunuhnya, gadis manis.
Tapi orang tua ini keras kepala.
Dia menolak menyerahkan tanah itu untuk proyekku.
Jadi, kenapa aku harus melepaskannya begitu saja?"
Aisyah menelan ludah basah, menahan sesak di dadanya.
Ia tahu persis apa taruhannya.
Dengan suara bergetar namun tegas tanpa keraguan sedikitpun, Aisyah berucap,
"Jika saya yang menjadi jaminannya... lepaskan Abah saya sekarang juga."
Kenzie tertegun sepersekian detik.
Alis tebalnya terangkat satu.
"Kamu?
Menjadi jaminan?
Apa menariknya tubuh dan nyawamu untuk menggantikan tanah jutaan dolar itu?"
"Ambil saya,"
ucap Aisyah penuh penekanan.
"Siksa saya, jadikan saya tawanan Anda.
Tapi bebaskan Abah saya malam ini juga!"
Kenzie terdiam, menatap lekat-lekat mata biru Aisyah yang berkaca-kaca namun menyembunyikan ketegaran sekuat baja.
Seringai dingin kembali terukir di bibirnya.
"Baiklah,"
bisik Kenzie tepat di dekat telinga Aisyah, membuat bulu kuduk gadis itu merinding hebat.
"Jika itu mau mu... aku lepaskan orang tua ini.
Tapi dengan satu syarat mutlak:
Kamu menjadi tawanan seumur hidupku.
Kamu milikku sepenuhnya, tubuh dan jiwamu."
"Jangan, Nak!"
teriak Kiai Ahmad dengan sisa-sisa tenaga yang amat lemah, air matanya tumpah deras.
"Hidupmu masih panjang...
jangan korbankan masa depanmu demi Abah...
biarkan Abah mati di sini!"
Aisyah menoleh sekilas ke arah sang Abah.
Ia menggeleng perlahan, memberikan senyuman tulus di balik cadarnya untuk menenangkan hati ayahnya yang hancur.
Ia mengabaikan teriakan sang ayah karena ia tahu, jika ia menolak, Kenzie tidak akan pernah ragu merenggut nyawa Kiai Ahmad malam ini juga.
"Oke, saya setuju dengan syarat Anda,"
ucap Aisyah mantap tanpa keraguan.
"Tapi... nikahi saya."
Kenzie terkesiap.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, seringai di wajah pria itu memudar, digantikan oleh kernyitan dahi penuh kebingungan.
"Nikah?
Kamu minta dinikahi oleh iblis sepertiku?"
"Ya.
Nikahi saya secara sah di hadapan Allah,"
jawab Aisyah tegas.
"Karena saya tidak mungkin hidup seatap dengan pria yang bukan mahram saya.
Saya menjaga kehormatan saya sampai mati, meskipun di sarang pembunuh sepertimu."
Kenzie mendengus, lalu tertawa terbahak-bahak—tawa sinis yang menggema di seluruh sudut sel bawah tanah.
"Nikah?
Baiklah!
Kalau itu mau mu!
Jangan pernah bayangkan pernikahan kita ini akan menjadi pernikahan yang indah, Aisyah.
Mulai detik ini, setiap hari dalam hidupmu di bawah atap rumahku akan berubah menjadi neraka jahanam yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan!"
"Nak!
Sadarlah!
Jangan berbicara sembarang!"
ronta Kiai Ahmad lemah di kursi besi, merasa putus asa atas keputusan nekat putrinya.
"Ini demi kebaikan semuanya, Bah,"
ucap Aisyah lirih, menahan badai emosi di dadanya.
Kiai Ahmad menarik napas panjang dengan susah payah.
Dengan sisa-sisa wibawanya sebagai seorang ulama besar, sang Kiai menatap tajam mata sang mafia dingin.
"Tuan Kenzie..."
panggil Kiai Ahmad dengan suara parau bergetar.
"Apa agama tuan?"
Kenzie menoleh, menjawab dengan sangat enteng dan tanpa beban sedikitpun,
"Saya tidak punya agama.
Tuhan tidak pernah ada dalam kamus hidupku."
Mendengar jawaban itu, Kiai Ahmad terbelalak kaget.
Napasnya memburu.
Dengan sisa kekuatan terakhirnya, sang Kiai menatap tajam mata sang mafia, mengucapkan kalimat yang mengubah jalan takdir mereka selamanya.
"Jika Anda ingin menikahi putri saya, Anda harus masuk ke dalam agama Islam!
Agama yang dianut oleh putri saya.
Syahadat harus diucapkan dengan kesadaran penuh di hadapan Allah.
Jika tidak... maaf, pernikahan itu tidak akan pernah terjadi di atas bumi ini!"
Kenzie terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang memberikan syarat mutlak kepadanya—bukan meminta ampun, bukan meminta harta, melainkan memintanya tunduk pada keyakinan yang selama ini ia abaikan.
Kenzie melirik sekilas ke arah Aisyah yang menunduk pasrah namun khusyuk memanjatkan doa di dalam hatinya.
Entah dorongan magis apa yang merasuki jiwa gelap sang mafia dingin itu.
Mungkin rasa penasaran yang teramat besar, atau mungkin ada bagian terdalam dari hatinya yang terpikat oleh keteguhan mata biru sang gadis.
Kenzie mendengus pelan, lalu berkata dengan suara dingin tanpa ekspresi,
"Baiklah.
Aku terima syarat itu.
Urus penghulunya sekarang juga."
Malam itu pula, di dalam markas bawah tanah yang kelam, di bawah todongan senjata dan aroma darah, Kenzie Al-Ghazali mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan Kiai Ahmad masuk Islam demi meminang seorang gadis penghafal Al-Qur'an.
Namun, akad itu terucap tanpa cinta.
Keesokan harinya, Aisyah resmi diboyong ke kediaman megah milik Kenzie sebuah istana mewah di atas bukit terpencil, dikelilingi pagar kawat berduri dan pasukan pengawal bersenjata.
Dan di situlah, babak paling mengerikan dalam hidup Aisyah resmi dimulai.
Sesuai sumpahnya, Kenzie mengubah rumah itu menjadi neraka nyata bagi Aisyah.
Pria itu tidak pernah menyentuh Aisyah sebagai istri yang dicintai, melainkan memperlakukannya bagaikan tawanan tak berharga.
Setiap malam, tatkala jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, Kenzie dengan sengaja membawa pulang wanita-wanita malam berpakaian minim dan pelacur kelas atas ke dalam rumah megah itu.
Suara tawa genit, musik menghentak, dan kemaksiatan yang terang-terangan sengaja dipertontonkan tepat di depan kamar Aisyah.
Aisyah terduduk di sudut kamarnya yang remang-remang.
Ia mendekap Al-Qur'an kecil di dadanya, membiarkan air matanya menetes membasahi cadar yang senantiasa ia kenakan bahkan di dalam rumah suaminya sendiri.
Suara-suara bising dari lantai bawah mencabik-cabik hatinya.
Rasa takut, cemas, dan sesak menghimpit rongga dadanya hingga ia nyaris kehilangan napas.
Namun, di tengah badai kehancuran itu, Aisyah tidak menyerah.
Ia merapatkan kedua tangannya, menengadah ke langit malam melalui celah jendela kamarnya yang berjeruji besi.
Dengan suara bergetar dan air mata yang menderas, ia berbisik lirih kepada Sang Pencipta, memohon kekuatan dan petunjuk.
“Ya Allah...
Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Jika ini adalah jalan ujian yang Engkau gariskan untukku, maka kuatkan lah tulang punggungku.
Lembutkan lah hati suamiku, atau lindungilah aku dari kebinasaan...
Sesungguhnya aku serahkan seluruh hidupku hanya kepada-Mu...”
Di lantai bawah, di tengah pesta liar bersama para wanita pelacur di pangkuannya, Kenzie tiba-tiba terdiam kaku.
Gelas wiski di tangannya berhenti di udara.
Dadanya mendadak terasa nyeri dan kosong secara misterius, seolah ada suara bisikan doa lirih yang menembus dinding kamar lantai atas, menghujam tepat ke relung hatinya yang paling dalam membuat sang mafia kejam terpaku dalam kebingungan yang mengerikan.