NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Terlahir Kembali : Era Baru Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mars Is Blue

Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...

​Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.

Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.

​Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.

​Bagaimana kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 — Seratus Dolar Pertama

Sabtu, 15 Oktober 2016.

Pukul delapan pagi, Arthur Sterling sudah duduk di meja kecil apartemennya di Queens. Sebuah cangkir kopi hitam berada di sebelah laptop tua, sementara beberapa lembar catatan memenuhi permukaan meja.

Malam sebelumnya, ia pulang cukup larut setelah pertemuannya dengan Richard Coleman. Namun, rasa lelah bukanlah alasan untuk menunda pekerjaan yang telah dijadwalkan.

Arthur membuka dokumen kosong dan mulai menyusun laporan analisis Aurelia Therapeutics.

Ia tidak menulis prediksi mengenai hasil uji klinis yang akan datang. Ia juga tidak mencoba membuat analisisnya terdengar lebih hebat daripada kenyataannya. Sebaliknya, ia membagi laporan tersebut menjadi beberapa bagian: gambaran perusahaan, kondisi keuangan, faktor yang dapat mendorong kenaikan harga saham, serta risiko yang bisa menghancurkan tesis investasinya.

Di bagian terakhir, ia menulis dengan tegas bahwa opsi yang dimilikinya dapat kehilangan seluruh nilainya.

Arthur berhenti sejenak, membaca kalimat tersebut, lalu mengangguk puas.

Ia tidak ingin membangun reputasi sebagai orang yang selalu mengaku benar. Ia ingin dikenal sebagai seseorang yang memahami apa yang sedang dilakukannya, termasuk ketika keputusan itu berakhir dengan kerugian.

Setelah menyimpan dokumen, ia memeriksa jam.

Pukul 09.05.

Ia harus segera berangkat.

Pagi ini, ia dan Daniel akan menemui Samuel Carter di restoran milik pria tersebut untuk membahas kelanjutan proyek pemasaran mereka.

Arthur menutup laptop, memasukkan buku catatan ke dalam tas, lalu meninggalkan apartemennya.

Di luar, udara musim gugur terasa sejuk. Daun-daun yang mulai menguning berjatuhan di sepanjang trotoar, sementara beberapa pemilik toko sibuk membuka usaha mereka.

Arthur berjalan menuju stasiun kereta bawah tanah.

Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah melewati jalan-jalan seperti ini tanpa benar-benar memperhatikan orang-orang di sekelilingnya. Saat itu, pikirannya selalu dipenuhi angka, kontrak, akuisisi, dan persaingan bisnis.

Sekarang ia mencoba melihat dunia dengan cara berbeda.

Di setiap toko kecil, ia melihat seorang pemilik yang berusaha mempertahankan usahanya. Di setiap restoran, ia melihat orang-orang yang harus memastikan pendapatan hari ini cukup untuk membayar biaya operasional besok.

Mereka bukan sekadar angka dalam laporan keuangan.

Mereka adalah manusia yang sedang berjuang.

Dan jika Arthur ingin membangun perusahaan yang besar, ia harus memahami masalah mereka sebelum menawarkan solusi.

Pukul 09.55, Arthur tiba di restoran Samuel Carter.

Restoran itu belum terlalu ramai. Beberapa pelanggan duduk menikmati sarapan, sementara Samuel berdiri di dekat meja kasir sambil memeriksa buku pesanan.

Ketika melihat Arthur masuk, pria paruh baya itu segera menghampirinya.

"Arthur! Bagus, kau datang."

"Selamat pagi, Pak Carter. Bagaimana keadaan restoran hari ini?"

"Seperti biasa. Ada pelanggan yang datang, ada yang hanya lewat, dan ada juga yang mengeluh karena harga kopi naik."

Samuel tertawa kecil sebelum menunjuk sebuah meja di dekat jendela.

"Duduklah. Daniel bilang kalian punya beberapa ide untukku."

Arthur meletakkan tasnya di kursi.

"Betul. Tapi sebelum membicarakan ide baru, kami ingin mendengar bagaimana hasil pembaruan yang kami lakukan beberapa hari terakhir."

Samuel menarik kursi dan duduk di hadapannya.

"Sejujurnya, aku cukup senang. Dua orang menelepon untuk menanyakan jam buka, dan kemarin ada pelanggan yang mengatakan dia menemukan restoran ini melalui pencarian di internet."

"Itu perkembangan yang bagus," jawab Arthur. "Namun, kita belum bisa memastikan bahwa semua peningkatan itu berasal dari pekerjaan kami. Kita perlu mengumpulkan data selama beberapa minggu."

Samuel mengangguk.

"Aku tidak berharap kalian membuat restoran ini penuh dalam semalam. Aku hanya ingin orang-orang di sekitar sini tahu bahwa tempat ini masih ada."

Arthur tersenyum.

"Itulah yang ingin kami bantu."

Tidak lama kemudian, Daniel tiba dengan laptop di tangannya.

"Maaf terlambat. Kereta tadi berhenti cukup lama."

"Kau terlambat tiga menit," kata Arthur.

Daniel menarik kursi.

"Kalau begitu, kurangi gajiku."

"Kau bahkan belum menerima gaji."

"Karena itulah aku harus mulai mengeluh sekarang."

Samuel tertawa mendengar percakapan mereka.

Setelah suasana kembali tenang, Daniel membuka laptop dan menunjukkan rancangan situs sederhana yang mereka siapkan.

Halaman utamanya menampilkan nama restoran, alamat, jam operasional, nomor telepon, foto beberapa hidangan, serta daftar menu pilihan.

Desainnya sederhana, tetapi mudah dibaca melalui komputer maupun ponsel.

Samuel memperhatikan layar dengan saksama.

"Ini benar-benar situs restoran saya?"

"Betul," jawab Daniel. "Pelanggan bisa melihat menu dan menemukan informasi penting tanpa harus mencari semuanya di tempat lain."

Samuel mengusap dagunya.

"Kelihatannya jauh lebih bagus daripada halaman lama yang dibuat keponakanku beberapa tahun lalu."

Daniel melirik Arthur.

"Kami tidak akan mengomentari pekerjaan keponakan Anda."

Arthur menyambung dengan nada serius yang dibuat-buat.

"Kami menghormati semua karya seni digital."

Samuel tertawa terbahak-bahak.

Setelah mereka menyelesaikan pembicaraan mengenai situs tersebut, Arthur mengeluarkan selembar kertas berisi rancangan promosi akhir pekan.

"Kami punya satu usulan tambahan," katanya. "Bagaimana kalau kita mencoba paket makan siang sederhana untuk pelanggan di sekitar restoran?"

Samuel mengerutkan dahi.

"Paket makan siang seperti apa?"

Arthur menjelaskan bahwa restoran itu dapat menawarkan kombinasi hidangan utama dan minuman dengan harga yang jelas. Mereka tidak perlu memberikan diskon besar. Tujuannya adalah membuat pelanggan lebih mudah memilih makanan sekaligus mendorong pembelian tambahan.

"Namun, sebelum menentukan harga, kita harus menghitung biaya bahan, kemasan jika diperlukan, dan waktu persiapan," lanjut Arthur. "Saya tidak ingin promosi yang meningkatkan jumlah pelanggan tetapi justru mengurangi keuntungan Anda."

Samuel tampak terkesan.

"Kebanyakan orang yang menawarkan promosi hanya berbicara tentang bagaimana membuat pelanggan datang."

"Karena mendatangkan pelanggan hanyalah satu bagian dari pekerjaan," jawab Arthur. "Yang lebih penting adalah memastikan bahwa pelanggan itu membantu bisnis Anda tetap sehat."

Daniel menambahkan beberapa pilihan desain untuk poster promosi yang bisa dipasang di depan restoran dan dibagikan melalui halaman daring.

Mereka kemudian menghabiskan hampir satu jam membahas biaya bahan makanan, jam paling ramai, dan jenis pelanggan yang paling sering datang.

Dari percakapan itu, Arthur mengetahui bahwa pelanggan restoran Carter sebagian besar terdiri atas pekerja lokal, mahasiswa, serta keluarga yang tinggal di sekitar lingkungan tersebut.

Informasi itu membuatnya mengubah satu bagian dari rencana promosi.

Alih-alih menawarkan paket makan siang setiap hari, mereka akan mengujinya pada hari kerja tertentu, ketika restoran membutuhkan tambahan pelanggan.

Mereka juga akan mencatat berapa banyak paket yang terjual, berapa biaya yang dikeluarkan, dan apakah pelanggan kembali membeli makanan lain.

Sederhana, tetapi dapat diukur.

Ketika pertemuan hampir selesai, Samuel mengeluarkan dompet dari saku celananya.

"Baiklah. Saya rasa kalian sudah bekerja cukup keras. Ini sisa pembayaran untuk proyek pertama."

Ia menyerahkan dua lembar uang lima puluh dolar kepada Arthur.

Seratus dolar.

Jumlah yang kecil bagi seseorang yang pernah mengendalikan perusahaan bernilai miliaran dolar.

Namun, ketika Arthur menerima uang tersebut, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan saat menandatangani kesepakatan bernilai ratusan juta dolar pada kehidupan pertamanya.

Kepuasan.

Uang itu bukan berasal dari investasi yang beruntung atau pergerakan pasar yang telah ia ketahui sebelumnya.

Uang itu diperoleh karena seseorang bersedia membayar mereka untuk menyelesaikan masalah nyata.

Arthur memasukkan uang tersebut ke dalam amplop dan menyimpannya di tas.

"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Pak Carter."

Samuel mengangguk.

"Seharusnya saya yang berterima kasih. Kalau hasil promosi ini bagus, saya punya beberapa teman yang mungkin membutuhkan bantuan serupa."

Arthur langsung menangkap peluang tersebut.

"Kalau Anda bersedia memperkenalkan kami, kami akan sangat menghargainya. Kami juga bisa memberikan laporan sederhana agar mereka mengetahui pekerjaan yang akan kami lakukan."

Samuel tersenyum.

"Aku akan menghubungi mereka minggu depan."

Arthur tidak mencoba memaksakan percakapan lebih jauh.

Sebuah rekomendasi dari pelanggan yang puas lebih berharga daripada janji yang dibuat karena tekanan.

Setelah berpamitan, Arthur dan Daniel berjalan keluar dari restoran.

Daniel memasukkan laptop ke dalam tas, lalu menatap Arthur dengan ekspresi puas.

"Seratus dolar pertama."

Arthur mengangguk.

"Seratus dolar pertama."

"Setelah dibagi dua, masing-masing lima puluh dolar."

"Jangan lupa kita masih harus memperhitungkan biaya operasional."

Daniel berhenti berjalan.

"Kau baru saja merusak momen bersejarah."

Arthur tertawa.

"Selamat datang di dunia bisnis."

Daniel menggeleng, tetapi senyum di wajahnya tidak hilang.

Bagi mereka, seratus dolar itu bukan akhir dari pekerjaan. Itu adalah bukti pertama bahwa usaha kecil mereka memiliki kemungkinan untuk berkembang.

Dan kemungkinan, jika dikelola dengan benar, dapat menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Mereka memilih duduk di sebuah kedai kopi tidak jauh dari restoran untuk membicarakan langkah berikutnya.

Daniel membuka laptop dan membuat daftar calon pelanggan. Ia memasukkan toko roti, salon, bengkel, toko pakaian, serta beberapa restoran kecil yang lokasinya tidak jauh dari tempat mereka berada.

"Kalau kita menawarkan layanan yang sama kepada semua orang, pekerjaan kita akan lebih mudah," kata Daniel.

Arthur menggeleng.

"Lebih mudah, mungkin. Tapi belum tentu lebih efektif."

Daniel menatapnya.

"Maksudmu?"

"Masalah setiap bisnis berbeda. Restoran membutuhkan foto makanan, menu yang mudah ditemukan, dan informasi jam buka yang akurat. Bengkel mungkin lebih membutuhkan nomor telepon yang mudah diakses dan daftar layanan yang jelas. Salon bisa memperoleh manfaat dari sistem pemesanan sederhana."

Arthur mengambil buku catatannya.

"Kita harus menawarkan solusi yang sesuai dengan masalah mereka, bukan menjual paket yang sama kepada semua orang."

Daniel berpikir sejenak, kemudian mulai mengetik lagi.

"Jadi, kita melakukan pemeriksaan singkat sebelum mengajukan penawaran."

"Tepat. Kita bisa membuat daftar masalah yang terlihat dari informasi publik, kemudian bertanya kepada pemilik usaha apakah masalah itu benar-benar mengganggu mereka."

"Dan kalau mereka tidak tertarik?"

"Kita berterima kasih dan mencari pelanggan lain."

Daniel bersandar di kursi.

"Kau tahu, aku mulai berpikir bahwa alasan kita bisa melakukan ini bukan karena kita paling pintar, melainkan karena kau cukup keras kepala untuk terus bertanya sampai menemukan masalah."

Arthur tertawa kecil.

"Itu cara yang sangat panjang untuk mengatakan bahwa aku menyebalkan."

"Setidaknya kau menyadarinya."

Mereka kembali membahas pembagian pekerjaan.

Daniel akan menangani pembuatan situs sederhana, pembaruan informasi daring, serta pengumpulan data dasar. Arthur akan bertanggung jawab atas pendekatan kepada calon pelanggan, strategi promosi, dan penyusunan laporan hasil.

Mereka sepakat untuk tidak menyewa kantor atau membeli peralatan baru sebelum pendapatan mereka cukup stabil.

Setiap dolar harus memiliki tujuan.

Setelah pembagian tugas selesai, Daniel menutup laptop.

"Aku punya satu pertanyaan."

"Tanyakan saja."

"Kalau bisnis ini benar-benar berkembang, apa yang ingin kau capai?"

Arthur terdiam.

Ia bisa saja menjawab bahwa ia ingin membangun perusahaan besar, memperoleh kekayaan luar biasa, atau menjadi salah satu pengusaha paling berpengaruh di dunia.

Semua itu memang benar.

Namun, ada jawaban lain yang jauh lebih pribadi.

"Aku ingin membangun sesuatu yang tidak mudah runtuh hanya karena satu keputusan buruk," katanya akhirnya. "Sebuah bisnis yang menghasilkan uang, memberikan manfaat bagi pelanggan, dan bisa bertahan meskipun kita tidak selalu berada di sana untuk mengawasinya."

Daniel mengangguk perlahan.

"Itu terdengar seperti tujuan yang masuk akal."

"Bagaimana denganmu?"

Daniel tersenyum.

"Aku ingin membuat perangkat lunak yang benar-benar digunakan orang. Bukan sekadar proyek kuliah yang dibuka sekali lalu dilupakan."

Arthur menatap sahabatnya.

Dalam kehidupan pertamanya, Daniel akhirnya berhasil membangun perusahaan perangkat lunak bersama seorang mitra bisnis. Perusahaan itu berkembang, lalu dijual dengan nilai yang mengubah hidupnya.

Arthur masih mengingat berita mengenai kesuksesan tersebut.

Ia juga mengingat kabar buruk yang datang bertahun-tahun kemudian.

Kecelakaan mobil.

Kematian yang terlalu cepat.

Pada kehidupan pertama, Arthur baru mengetahui kabar itu setelah bertahun-tahun kehilangan kontak dengan sahabatnya.

Kali ini, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Ia tidak dapat mengendalikan seluruh masa depan Daniel. Ia juga tidak tahu apakah semua peristiwa akan berlangsung persis seperti yang diingatnya.

Namun, ia dapat melakukan satu hal mulai sekarang.

Tetap hadir.

"Aku akan membantumu mewujudkannya," kata Arthur.

Daniel mengangkat alis.

"Perusahaan perangkat lunak?"

"Kalau itu yang ingin kau bangun, ya."

Daniel tersenyum lebar.

"Kalau begitu, aku akan mengingat janji itu."

Arthur membalas senyumnya.

"Silakan. Tapi jangan menagih bunga."

Sore harinya, Arthur kembali ke apartemennya.

Ia meletakkan amplop berisi uang pembayaran di atas meja, lalu membuka laptop untuk menyelesaikan laporan yang diminta Richard.

Ia menambahkan bagian mengenai skenario buruk, kebutuhan pendanaan, dan kemungkinan perubahan valuasi setelah pengumuman uji klinis.

Setelah membaca ulang seluruh dokumen, ia mengirimkannya melalui surel.

Pesannya singkat.

Pak Coleman, terlampir ringkasan analisis yang kita bicarakan kemarin. Dokumen ini mencakup dasar penilaian saya, asumsi utama, serta risiko yang menurut saya paling relevan. Saya menyadari bahwa analisis ini memiliki keterbatasan dan terbuka untuk menerima kritik.

Arthur menekan tombol kirim.

Satu pekerjaan selesai.

Ia kemudian membuka catatan keuangan pribadinya.

Modal yang dimilikinya masih sangat terbatas. Sebagian besar dana yang dapat ia gunakan untuk berinvestasi telah dialokasikan ke posisi opsi Aurelia Therapeutics. Sementara itu, uang dari proyek restoran akan membantu menutupi kebutuhan sehari-hari dan biaya kecil bisnis mereka.

Ia tidak berniat menggunakan seluruh pendapatan baru itu untuk membeli opsi tambahan.

Keuntungan potensial memang menggiurkan, tetapi ia membutuhkan cadangan uang tunai agar tidak terpaksa menjual aset pada waktu yang buruk hanya untuk membayar kebutuhan mendesak.

Arthur membagi pendapatan proyek ke dalam beberapa kategori sederhana: bagian untuk biaya bisnis, bagian untuk kebutuhan pribadinya, dan bagian untuk cadangan kas.

Angkanya belum besar.

Namun, kebiasaan itu penting.

Ia pernah melihat perusahaan yang tampak menguntungkan jatuh karena tidak memiliki likuiditas yang cukup. Ia tidak akan membiarkan bisnis kecilnya mengulangi kesalahan yang sama.

Ketika semuanya selesai, Arthur menutup laptop dan berdiri di dekat jendela.

Lampu-lampu mulai menyala di antara bangunan Queens.

Dalam waktu kurang dari seminggu sejak ia kembali ke masa lalu, ia telah memulai kembali hubungan dengan Daniel, berbicara lebih dekat dengan Clara, mendapatkan pelanggan pertama, dan menarik perhatian seorang profesional Wall Street.

Kemajuannya masih kecil.

Ia belum memiliki kekayaan, pengaruh, atau perlindungan yang cukup untuk menghadapi ancaman besar.

Tetapi ia tidak lagi hanya duduk diam menunggu masa depan datang kepadanya.

Ia sedang membangunnya.

Arthur mengambil ponsel ketika layar menyala karena sebuah surel baru.

Pengirimnya adalah Richard Coleman.

Arthur membuka pesan tersebut.

Arthur, saya sudah menerima dokumen Anda. Saya akan memeriksanya lebih teliti pada awal pekan depan. Ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan lebih lanjut, khususnya mengenai penilaian risiko dan dasar asumsi Anda.

Pesan itu berakhir dengan satu kalimat tambahan.

Jika Anda serius ingin mempelajari industri ini, saya sarankan Anda mulai membiasakan diri membedakan antara keyakinan dan bukti.

Arthur membaca kalimat itu dua kali.

Lalu ia tersenyum.

Richard belum mempercayainya.

Dan memang belum seharusnya.

Kepercayaan tidak dapat diminta hanya karena seseorang memiliki cerita yang menarik. Kepercayaan harus dibangun melalui keputusan, konsistensi, dan hasil yang dapat diperiksa.

Arthur membalas pesan tersebut dengan ucapan terima kasih.

Setelah itu, ia meletakkan ponselnya.

Di atas meja, amplop berisi seratus dolar masih berada di tempatnya.

Uang itu mengingatkannya pada satu hal sederhana yang pernah ia lupakan ketika kekayaannya mencapai puncak.

Sebelum seseorang bisa membangun kerajaan bisnis, ia harus terlebih dahulu belajar menciptakan nilai bagi orang lain.

Dan sebelum ia bisa melindungi orang-orang yang dicintainya, ia harus membangun kemampuan yang cukup untuk melakukannya.

Arthur mematikan lampu ruang tengah, lalu kembali ke meja untuk menyiapkan daftar pekerjaan esok hari.

Dua minggu lagi, sebuah pengumuman penting mungkin akan mengubah nilai investasinya.

Namun, masa depannya tidak akan bergantung pada satu pengumuman itu saja.

Ia akan terus bekerja.

Satu pelanggan.

Satu keputusan.

Satu langkah pada satu waktu.

Kerajaan besar tidak selalu dimulai dengan uang yang besar. Terkadang, semuanya dimulai ketika seseorang akhirnya berhenti menunggu dan berani membangun sesuatu dengan apa yang dimilikinya.

1
Fauziah Daud
trusemangattt
Fauziah Daud
mantap
Fauziah Daud
trusemangattt
saras
keren siiib ceritanya👍👍👍
saras
👍
saras
semangaaaaaat💪💪💪💪💪👍
saras
ssemangat tor
saras
🙏🙏💪
saras
👍
saras
👍💪
saras
👍
saras
novel yang bagus. lanjutkan tor semangat bikin cerita yang keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!