Nabila tidak pernah menyangka jika putri yang selama enam tahun ia besarkan dengan kemewahan ternyata adalah anak palsu. Darah dagingnya yang asli, Luna Wegan, diam-diam ditukar saat lahir oleh keluarga suaminya sendiri dan terpaksa hidup menderita sebagai pengemis jalanan. Takdir akhirnya mempertemukan Nabila dengan seorang gadis kecil penuh luka memar di depan mall, di mana sebuah tahi lalat di balik telinga membongkar pengkhianatan keji masa lalu. Bersama suaminya, sang CEO kejam Leon Wegan, Nabila kini siap menghancurkan siapa pun yang telah berani menyiksa putri kandung mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Nabila menyandarkan kepalanya ke dada Leon dengan perasaan yang sangat lega karena dendamnya akhirnya terbalaskan.
"Kamu hebat sekali Leon, hukumanmu jauh lebih menyakitkan dari sekadar kematian untuk wanita serakah itu," ucap Nabila memeluk pinggang suaminya.
"Ini semua untuk menebus kesalahanku yang tidak bisa melindungi kalian enam tahun lalu, Sayang," balas Leon mengecup kening istrinya.
Sementara di luar gerbang kediaman Wegan, Rosalina sedang berjalan tanpa arah di pinggir jalan raya dengan wajah kacau balau.
Rambutnya acak-acakan, riasannya luntur, dan pakaian mewahnya terlihat sangat kusut.
Orang-orang yang lewat menatapnya dengan pandangan aneh, mengira dia adalah orang kaya yang mendadak gila.
"Ini semua salah perawat bodoh itu! Kalau saja dia kerja lebih rapi, Leon tidak akan pernah tahu rahasia ini!" gerutu Rosalina menyalahkan Suster Rini.
Tiba-tiba perut Rosalina berbunyi nyaring meminta diisi karena dia belum makan siang akibat terlalu sibuk mengurus perusahaannya yang hancur.
Dia merogoh saku bajunya berniat mencari uang receh untuk membeli minum, tapi dia baru sadar bahwa semua tas dan uangnya disita oleh pengawal Leon tadi.
"Sialan! Aku bahkan tidak punya uang untuk naik taksi pulang," rutuknya marah menendang kaleng kosong di jalanan.
Kaleng kosong itu terlempar dan mengenai kaki seorang anak kecil berbaju kotor yang sedang duduk meringkuk di depan sebuah minimarket.
Anak kecil itu mendongak dengan wajah marah dan mata merah karena habis menangis.
"Berani-beraninya kau melempar kaleng padaku! Kau tidak tahu aku siapa?!" bentak anak kecil itu yang tak lain adalah Bianca.
Rosalina memicingkan matanya menatap wajah dekil anak pengemis di depannya itu.
Walaupun wajahnya tertutup debu, Rosalina langsung mengenali pakaian sutra merah jambu yang sudah kotor tersebut.
Itu adalah gaun mewah yang sering dipakai oleh Bianca saat dia masih tinggal di rumah Leon.
"Bianca? Kau Bianca kan?!" tanya Rosalina mendekati gadis kecil itu dengan langkah cepat.
Bianca menatap wanita tua berantakan di depannya dan butuh beberapa detik untuk mengenalinya.
"Tante Rosalina? Tante Rosalina kan?!" balas Bianca langsung berdiri dan berlari memeluk kaki wanita itu.
"Tante, tolong aku! Papa jahat padaku! Papa mengusirku dari rumah!" tangis Bianca sejadi-jadinya menemukan harapan baru.
"Tante punya uang kan? Tolong belikan aku roti dan es krim, aku lapar sekali Tante," mohon Bianca menengadahkan tangannya.
Rosalina menatap wajah anak kandung Siska dan Herman itu dengan perasaan yang sangat campur aduk.
Anak inilah penyebab utama seluruh rencana sempurnanya hancur berantakan hari ini.
Kalau saja Bianca tumbuh jadi anak yang penurut dan tidak suka membuat keributan di mall, Nabila mungkin tidak akan pernah bertemu dengan Luna yang asli.
Semua kehancuran bisnisnya dan ancaman kemiskinan yang membayanginya adalah karena kelakuan anak bodoh ini.
Plak!
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi kiri Bianca.
Itu adalah tamparan ketiga untuk hari ini, tamparan yang benar-benar menghancurkan sisa kesombongan anak kecil itu.
Bianca jatuh tersungkur memegangi pipinya yang memanas dengan mata membelalak tidak percaya.
"Tante kenapa memukulku? Tante juga mau jadi orang miskin jahat ya?!" teriak Bianca menangis keras.
"Tutup mulut kotormu, anak haram!" bentak Rosalina menunjuk wajah Bianca dengan jari gemetar.
"Gara-gara kebodohanmu dan kesombonganmu yang memalukan itu, rencanaku hancur berantakan!" lanjut Rosalina menyalahkan anak berumur enam tahun itu sepenuhnya.
"Kau sama bodoh dan menjijikkannya seperti kedua orang tua gembelmu itu!" tambah wanita tua itu meludahi aspal di dekat Bianca.
"Tante gila! Aku ini anak CEO! Papaku yang asli kaya raya!" bantah Bianca masih tidak mau menerima kenyataan siapa ayah kandungnya.
"Ayah kandungmu itu pemabuk miskin bernama Herman! Dan sekarang dia pasti sudah mati membusuk di penjara bawah tanah Wegan!" balas Rosalina menghancurkan harapan terakhir Bianca.
"Mulai sekarang jangan pernah memanggilku Tante! Aku tidak sudi punya keponakan gembel sepertimu!" Rosalina membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan Bianca.
Bianca hanya bisa duduk menangis meraung-raung di pinggir jalan raya itu tanpa ada satu pun orang yang peduli padanya.
Matahari sore mulai condong ke ufuk barat, menandakan hari pertama dari kehidupan neraka bagi anak palsu yang sombong tersebut.
Sementara itu di dalam kediaman utama Wegan, Luna sedang tertawa riang bermain kejar-kejaran dengan Leon di ruang keluarga.
"Awas ya, Papa tangkap kau monster kecil!" seru Leon berlari pelan mengejar putrinya.
"Hahaha! Papa lambat sekali! Luna lari cepat seperti angin!" tawa Luna berlari sembunyi di balik sofa.
Nabila duduk di sofa sambil menyeruput teh hangatnya, menikmati pemandangan keluarga kecilnya yang akhirnya utuh kembali.
"Cepat mandi kalian berdua, kita akan makan malam bersama sebentar lagi," panggil Nabila dengan senyum bahagia.
"Siap komandan Mama!" jawab Luna berlari memeluk ibunya.
Kehidupan baru keluarga Wegan yang dipenuhi cinta dan kasih sayang baru saja dimulai.
Penderitaan masa lalu telah dibayar tuntas dengan kehancuran mutlak bagi para pelaku kejahatan.
Dan Leon Wegan akan memastikan, tidak akan ada lagi orang yang berani mengusik kedamaian keluarga kecilnya ini selama dia masih bernafas.
baru mulai baca
Cerita nya bagus banget