NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Rumah keluarga Wijaya berdiri di balik pagar tinggi dan deretan cemara yang dipangkas serupa. Gerbangnya dibuka dua penjaga yang menunduk sebelum mobil benar-benar berhenti.

Elang turun dengan kemeja putih yang masih terasa baru di bahunya. Ia melirik sekeliling halaman, dan Insting Dewa yang baru ia punya berdenyut pelan di tengkuk, bukan karena ancaman. Tidak ada satu pun. Sejauh yang bisa ia rasakan, tidak ada niat membunuh di sini, bahkan di jalan di balik pagar.

'Bersih.' Ia mengangguk kecil. 'Orang kaya yang aman memang ada.'

Seorang pelayan perempuan menuntunnya melewati ruang tamu berlantai marmer abu-abu dan lorong berpotret keluarga. Di salah satu potret, seorang gadis kecil dengan pita biru berdiri di sebelah Pak Wijaya muda, tersenyum lebar dengan gigi depan yang ompong.

"Nona Lastri menunggu di taman belakang, Tuan."

Pintu kaca bergeser. Aroma melati dan rumput basah masuk bersama cahaya sore.

Taman itu luas, dengan kolam ikan kecil di tengah dan bangku kayu di bawah pohon kamboja. Lastri duduk di bangku itu dengan kedua kaki menekuk ke atas, gaun pastel yang jatuh sampai mata kaki, dan pita biru yang sama di rambutnya. Ponsel tergenggam di dua tangan, dan matanya tidak lepas dari layar.

Ia mengangkat kepala ketika mendengar pintu.

Wajahnya berubah sebelum ia sadar. Ponselnya jatuh ke pangkuan. "Kamu datang."

"Aku bilang datang." Elang berhenti dua langkah di depan bangku. "Hanya terlambat satu hari."

"Satu hari." Lastri melipat tangan di dada, pura-pura cemberut. "Aku menunggu seharian kemarin. Aku bahkan memilih baju dua kali."

"Aku punya pekerjaan."

"Menghajar perampok?"

"Itu hanya selingan." Elang menjatuhkan diri di sampingnya, menyilangkan kaki, dan menyandarkan lengan di punggung bangku. "Pekerjaanku lebih besar dari itu."

Lastri tertawa. Tawanya kecil dan jernih, seperti sesuatu yang sudah lama tidak digunakan. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, lalu menurunkannya lagi seakan baru ingat tidak ada yang melarang.

"Aku melihatmu di televisi," katanya. "Tiga kali. Ayah sampai mematikannya karena aku terus menonton."

"Dan?"

"Dan kamu terlihat seperti tidak takut apa-apa."

"Takut itu urusan orang yang tidak tahu hasilnya." Elang mengangkat bahu. "Aku tahu."

"Kamu sombong sekali," kata Lastri. Ia tersenyum, dan itu tidak terdengar seperti keluhan.

Elang melirik ke samping. Gadis itu menatap kolam, ke ikan koi oranye yang berenang malas di antara teratai. Cahaya sore menempel di pipinya, dan pipi itu sudah kembali berwarna, bukan pucat tembus pandang seperti terakhir ia melihatnya.

"Bagaimana badanmu?"

"Baik." Lastri menggerakkan bahu, memutar pergelangan, seperti menguji sesuatu yang baru. "Dokter keluarga datang tadi pagi. Katanya semua hasilnya normal. Dia bahkan memeriksa dua kali karena tidak percaya."

"Dokter itu memang terlalu banyak tidak percaya."

"Dokter Hendra?" Lastri mengerutkan hidung. "Dia sudah dua kali minta maaf pada Ayah. Aku mendengarnya dari balik pintu."

"Seharusnya tiga kali."

Lastri tertawa lagi, lalu diam. Jari-jarinya memainkan ujung pita di rambutnya.

"Aku tidak ingat apa-apa," katanya pelan. "Setelah Ayah menyuruh semua orang keluar. Aku hanya ingat bau antiseptik dan sesuatu yang hangat. Seperti air. Kamu yang melakukannya?"

Elang menimbang pertanyaan itu selama satu helaan napas. "Kau tidak perlu tahu caranya."

Lastri menoleh. Ia menatap wajahnya lama, seperti orang membaca halaman yang sulit.

"Ayah juga bilang begitu," katanya akhirnya. "Jangan banyak bertanya, yang penting aku sembuh."

"Ayahmu pintar."

"Dia memang pintar." Lastri tersenyum. "Hanya tidak tahu kamu seperti ini."

Angin bertiup, dan kelopak kamboja jatuh satu-satu ke rumput. Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat. Di kejauhan, seorang tukang kebun memangkas pagar dengan gunting, dan bunyinya terdengar seperti jam yang berdetak jauh.

Elang menegakkan punggung. "Kau sudah berapa bulan tidak keluar rumah?"

"Lima." Lastri menghitung dengan jari. "Hampir enam."

"Kalau begitu berdiri."

"Apa?"

"Berdiri." Ia bangkit lebih dulu, merapikan kerah kemejanya, dan mengulurkan tangan kanannya yang bersarung ke arahnya. "Aku bosan di mansion. Ikut aku."

Lastri menatap tangan itu. Dua detik, tiga. Sepertinya ia menimbang sesuatu, dan jawabannya ternyata tidak sulit.

"Boleh?" tanyanya. "Maksudku, Ayah..."

Seorang pelayan yang berdiri tidak jauh dari pintu kaca melangkah maju sedikit. "Tuan Wijaya sudah memberi izin, Nona. Asal Nona pulang sebelum larut."

"Bagaimana kamu mau ikut?" tanya Elang menatap mata Lastri.

Lastri memandang tangannya lagi. Lalu ia meletakkan telapaknya di atas sarung tangan hitam itu dan berdiri.

"Mau," katanya. "Aku mau."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!