NovelToon NovelToon
Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Ceraikan Aku? Kau Pikir Aku Cuma Kodok?

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Dua tahun lamanya Arya jadi suami yang diinjak dan diremehkan. Ketika istrinya, aktris papan atas **Bella**, berpaling ke cinta lamanya, Arya rela pergi tanpa sepeser pun—tapi begitu surat cerai diteken, "si kodok buangan" itu berbalik jadi pewaris rahasia **Grup Adiwangsa**, dan diam-diam adalah **Tuan Besar**, otak di balik sindikat yang paling ditakuti di Surabaya.

Terjebak dalam pernikahan kontrak dengan **Anindya**—CEO cantik berhati es yang justru jadi orang pertama yang membelanya di depan umum: *"Berani sentuh suamiku sekali lagi, kurobek kau!"*—Arya mulai membalas satu per satu orang yang pernah menginjaknya. Dari tamparan balik di pesta ulang tahun, perang media sosial, duel bisnis melawan konglomerat, sampai sindikat bertopeng **Sindikat Trisula** dan klub rahasia para taipan **Istana Merah**—setiap kali Arya naik satu tingkat, satu misteri lama makin dekat: *siapa yang membunuh ibunya, sang ilmuwan jenius, sepuluh tahun lalu?*

Semakin dalam ia menggali, semakin banyak topeng yang jatuh. Sampai semua petunjuk—sebuah jempol kaki yang hilang, sebuah foto di balik bingkai—menuntun pada satu nama yang paling tak ingin ia percayai... orang yang selama ini memanggilnya "cucu".

Mereka pikir dia cuma kodok. **Mereka salah besar.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 2: Panggilan dari Masa Lalu

"Ada yang ingin bicara dengan Anda."

Lelaki besar itu menahan ponsel hitam di antara mereka. Hujan menetes dari ujung jaketnya ke lantai teras, membentuk genangan kecil yang tak seorang pun berani tegur.

Arya tidak langsung mengambilnya.

"Namamu?"

"Belum waktunya saya memperkenalkan diri."

Jawaban itu sopan, tetapi bahunya tetap siap. Kedua kakinya terbuka selebar bahu, berat badan seimbang. Bukan kurir. Bukan pula pengawal biasa.

Arya melirik layar gelap di telapak lelaki itu. "Kalau orang yang mengirimmu benar-benar mengenalku, dia tahu saya tidak menerima perintah dari telepon anonim."

"Dia juga bilang Anda pasti mengatakan itu."

Lelaki tersebut menekan tombol daya. Layar menyala, lalu satu panggilan masuk muncul tanpa nomor. "Dan dia berpesan, kalau Anda menolak, saya harus menyebut satu nama."

Arya menunggu.

"Prof. Sri Handayani."

Suara orang-orang yang mengaji pelan di ruang depan seolah menjauh. Jari Arya berhenti di sisi pahanya.

Nama itu tidak pernah ia sebut di rumah Bella. Tidak pernah ia masukkan ke dokumen yang bisa ditemukan orang biasa. Dalam tujuh tahun terakhir, hanya beberapa orang dalam lingkaran terdalamnya yang tahu ia terus memburu jejak kematian perempuan tersebut.

Ibunya.

Arya mengambil ponsel.

"Beri saya ruang."

Lelaki besar itu mengangguk, lalu mundur sampai halaman. Ia berdiri di bawah pohon mangga, cukup jauh untuk tidak mendengar, cukup dekat untuk bereaksi bila diperlukan.

Arya berjalan ke samping rumah, ke sebuah bangku bambu yang terlindung atap seng. Setelah memastikan tak ada orang di sekitarnya, ia menggeser ikon hijau.

"Siapa?"

Tawa rendah terdengar dari seberang. Bukan tawa ramah. Lebih seperti seseorang yang baru memastikan bidak lama masih berada di papan.

"Suaramu mirip ibumu ketika marah."

Rahang Arya mengeras. "Saya bertanya siapa."

"Wisnu Adiwangsa."

Nama keluarga itu pernah muncul di banyak pintu yang tertutup baginya: dokumen kepemilikan, catatan rumah sakit, transaksi perusahaan, dan berita lama yang lenyap beberapa jam setelah Kevin menemukannya. Salah satu konglomerasi tertua di Jawa Timur. Pelabuhan, properti, teknologi. Sebuah keluarga yang bisa membuat arsip hidup atau mati.

"Nama itu seharusnya berarti sesuatu bagi saya?"

"Seharusnya." Pria di seberang berhenti sejenak. "Saya ayah kandungmu."

Arya tidak terkejut. Setidaknya tidak dengan cara yang diharapkan Wisnu. Ia pernah sampai pada dugaan itu tiga tahun lalu melalui potongan akta kelahiran dan transfer biaya rumah sakit yang disamarkan. Yang belum ia punya adalah pengakuan.

"Ayah datang ketika anaknya berusia hampir tiga puluh tahun," ujar Arya. "Tepat setelah perempuan yang membesarkannya meninggal. Waktu yang mengagumkan."

"Saya tahu kau berhak marah."

"Jangan bicara seolah kamu memberi izin."

Di seberang, sunyi sesaat.

"Baik," kata Wisnu akhirnya. Nada suaranya kehilangan sedikit lapisan ramah. "Kita bicara sebagai dua orang yang sama-sama menginginkan satu hal. Kebenaran tentang Sri."

Arya memandang dinding rumah yang lembap. Di baliknya terbaring Nenek Ratna, satu-satunya orang yang selalu melarangnya mengejar kematian ibunya terlalu jauh.

"Apa yang kamu tahu?"

"Lebih banyak daripada yang berhasil kau gali selama tujuh tahun. Saya tahu kau mengikuti tiga mantan pegawai laboratorium Sri. Saya tahu dua di antaranya menghilang sebelum sempat bicara. Saya tahu kau mengirim orang ke Tanjung Perak bulan lalu untuk mencari manifest kargo berusia sepuluh tahun."

Arya menekan ponsel ke telinga. "Kalau orang-orangmu mengikuti saya selama itu, kenapa baru sekarang menelepon?"

"Karena sekarang waktunya kau pulang."

"Saya tidak punya rumah di keluargamu."

"Kau punya darah Adiwangsa. Mau kau sukai atau tidak, itu memberimu pintu yang selama ini tidak bisa kau buka. Arsip perusahaan. Jaringan lama. Orang-orang yang hanya akan bicara kepada anggota keluarga."

"Dan harganya?"

Wisnu tertawa kecil. "Kau memang putra saya."

Arya tidak membalas.

"Datang ke Puri Adiwangsa dalam satu minggu," lanjut Wisnu. "Masuk ke keluarga secara resmi. Ada satu pernikahan yang sudah diatur. Kau selesaikan itu, lalu saya beri akses yang kau butuhkan."

"Kamu menghilang sepanjang hidup saya, lalu muncul membawa calon istri?"

"Saya membawa jalan menuju pembunuh ibumu. Pernikahan itu hanya gerbangnya."

"Nama perempuan itu?"

"Anindya Prawira."

Nama itu tak asing. Direktur sebuah perusahaan hiburan yang belakangan terseret masalah ayahnya. Arya pernah melihat wajahnya di sampul majalah bisnis: tatapan dingin, senyum yang tampak dipinjam khusus untuk kamera.

"Kenapa dia?"

"Datang dan tanyakan langsung. Saya tidak bernegosiasi lebih jauh lewat telepon."

Arya mengembuskan napas perlahan. "Kalau kematian Ibu ada hubungannya denganmu, semua gerbang milik keluargamu tidak akan menyelamatkanmu."

Wisnu tidak marah. Justru terdengar puas.

"Bagus. Bawa kecurigaanmu. Keluarga kami terlalu lama dikelilingi orang yang hanya bisa mengangguk."

"Satu minggu," kata Arya. "Saya akan memberi jawaban."

Ia memutus panggilan.

Di saat yang sama, beberapa kilometer dari sana, Bella duduk di sofa kulit vila milik keluarga Halim. Rambutnya masih lembap setelah mandi. Gaun yang ia pakai di hotel diganti dengan kaus putih milik Reno, sementara ponselnya tertelungkup di atas meja.

Bu Wulan berjalan mondar-mandir di depan sofa.

"Delapan belas kali dia menelepon, lalu diam begitu saja? Bagus. Mungkin akhirnya dia sadar diri."

Bella menatap layar gelap. "Neneknya sakit."

"Lalu? Kamu dokter?" Bu Wulan mendengus. "Kamu sedang bersama Reno. Jangan rusak kesempatan ini hanya karena laki-laki yang tujuh tahun hidup dari namamu."

Reno membawa dua cangkir teh dari dapur. Ia duduk di samping Bella, cukup dekat hingga lutut mereka bersentuhan.

"Tante benar," katanya lembut. "Gue sudah kembali. Gue juga sudah bicara dengan Papa. Kalau lo bebas dari Arya, kita bisa mulai lagi tanpa sembunyi-sembunyi."

Bella menggigit bibir. "Aku belum bilang mau cerai."

"Tapi lo juga enggak bahagia."

Reno menyelipkan rambut di belakang telinganya. Sentuhan itu membuat Bella menutup mata sesaat, terbawa ingatan tentang masa sebelum Arya, sebelum kontrak film, sebelum hidupnya menjadi milik publik.

Ketika Reno mencondongkan wajah, Bella menahan dadanya.

"Jangan."

Reno berhenti.

"Sebelum semuanya selesai," kata Bella, "aku masih istri orang."

Bu Wulan mendecakkan lidah. "Besok hubungi pengacara. Jangan seret-seret lagi."

Reno tersenyum dan menggenggam tangan Bella. "Gue akan bantu. Minggu ini selesai."

Bella tidak menarik tangannya. Namun ketika ponselnya bergetar, ia buru-buru membalik layar.

Pesan dari pengurus kampung muncul di grup keluarga.

Innalillahi. Nenek Ratna sudah berpulang. Pemakaman besok pagi.

Wajah Bella memucat.

"Ada apa?" tanya Reno.

Bella mengunci layar. "Tidak apa-apa."

Di rumah tua Nenek Ratna, Arya masih berdiri di samping bangku bambu. Ponsel hitam baru itu berada di tangan kirinya. Ponsel lamanya di tangan kanan menampilkan foto Bella dan Reno untuk terakhir kali.

Ia membuka kartu memori, memastikan semua bukti sudah tersalin ke penyimpanan terenkripsi yang terhubung dengan R. Setelah tanda unggah selesai muncul, Arya menggenggam ponsel lama itu.

Krak.

Layar retak di bawah ibu jarinya. Ia membanting perangkat tersebut ke lantai semen. Casing terlepas, baterai terpental, dan kepingan layar berhenti di dekat selokan.

Lelaki besar di bawah pohon bergerak satu langkah, lalu berhenti ketika Arya mengangkat tangan.

Tidak ada ledakan amarah. Hanya keputusan.

Arya memasukkan ponsel baru ke saku dan kembali menatap kain putih di ruang depan.

"Satu minggu," gumamnya. "Saya akan memberi jawaban."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!