NovelToon NovelToon
Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Dikhianati di Usia Senja, Dipinang Miliarder

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Selingkuh / Pelakor jahat / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.9
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25 - Telepon dari Masa Lalu

Tiga hari tanpa kabar dari Arman membuat Ratna kesal pada dirinya sendiri.

Ia yang meminta jarak.

Ia yang menolak rumah.

Ia yang berkata tidak ingin bergantung.

Tetapi setiap kali ponsel bergetar, matanya tetap melirik. Setiap kali mobil lewat di depan gang, telinganya tetap menangkap suara mesin. Setiap kali Bu Rini berkata, "Ada mobil hitam," Ratna harus menahan diri agar tidak menoleh terlalu cepat.

Ini memalukan.

Ratna, enam puluh tahun, sedang menunggu pesan laki-laki.

Ia menertawakan dirinya sendiri saat mencuci gelas di wastafel klinik.

"Tua-tua begini masih bodoh," gumamnya.

"Siapa yang bodoh?"

Ratna hampir menjatuhkan gelas.

Bu Rini berdiri di pintu belakang, membawa kantong kerupuk.

"Bu Rini, kalau masuk bilang salam."

"Sudah. Bu Dokter yang melamun."

"Ada apa?"

"Kerupuk. Tadi goreng kebanyakan."

Ratna menerima kantong itu. "Terima kasih."

Bu Rini menatapnya penuh selidik. "Tidak ada kabar dari Pak Arman?"

Ratna menatap balik.

"Saya tanya karena wajah Bu Dokter seperti orang menunggu kurir."

"Saya tidak menunggu siapa-siapa."

"Bagus. Nanti kalau beliau datang, saya usir?"

Ratna diam.

Bu Rini tertawa puas. "Nah, kan."

Ratna mengusirnya dengan tatapan, tetapi Bu Rini pergi sambil tertawa.

Siang itu, saat klinik sepi, ponsel Ratna berdering dari nomor lama yang tidak tersimpan. Ia hampir mengabaikan, tetapi entah kenapa mengangkat.

"Halo?"

"Ratna? Ini benar Ratna Wulandari?"

Suara perempuan di seberang terdengar ceria, agak serak, dan anehnya akrab.

"Iya. Ini siapa?"

"Ya ampun, suaramu masih sama. Ini aku, Wulan. Wulan Prameswari. Teman SMA."

Ratna terdiam beberapa detik.

Nama itu membuka pintu lain dalam ingatannya. Wulan, teman sebangku kelas dua, yang dulu selalu membawa bekal mi goreng dan bercita-cita jadi penyiar radio. Setelah lulus, mereka sempat berkirim surat, lalu hidup menarik mereka ke arah berbeda.

"Wulan?"

"Iya! Akhirnya ketemu nomormu. Aku dapat dari grup alumni, katanya kamu masih praktik di Sukamaju."

Ratna tersenyum tanpa sadar. "Masih."

"Kamu datang reuni kecil Sabtu ini, ya."

"Reuni?"

"Bukan reuni besar. Cuma makan siang di restoran Sari Laut Purnama, dekat alun-alun kabupaten. Ada aku, Nining, Harjo, beberapa teman lain. Kita semua sudah tua, Rat. Kalau nunggu reuni resmi, keburu ada yang pakai tongkat."

Ratna tertawa.

"Aku tidak tahu bisa atau tidak."

"Harus bisa. Aku dengar kamu sedang... ada masalah."

Senyum Ratna memudar. "Dengar dari siapa?"

Wulan mendesah. "Rat, zaman sekarang berita jalan lebih cepat dari bus. Tapi aku tidak menelepon untuk mengorek. Aku cuma ingin kamu keluar sebentar. Ketemu teman lama. Makan enak. Tidak perlu cerita kalau tidak mau."

Ratna diam.

Keluar lagi?

Setelah Yogyakarta, ia tidak yakin ingin bepergian. Tetapi reuni kecil di kota kabupaten bukan perjalanan jauh. Dan Wulan, dengan suaranya yang ramai, mengingatkan Ratna pada masa sebelum Bambang, sebelum anak-anak, sebelum semua keputusan hidupnya dipersempit menjadi kewajiban.

"Sabtu jam berapa?"

"Jam dua belas. Aku kirim alamat. Pakai baju yang cantik, ya. Jangan baju dokter terus."

"Mulai cerewet lagi."

"Dari dulu aku cerewet. Kamu saja yang dulu terlalu pendiam."

Setelah telepon selesai, Ratna menatap layar ponsel cukup lama.

Masa lalu tidak selalu datang dalam bentuk Sari dan foto tua.

Kadang masa lalu datang sebagai teman lama yang mengingatkan bahwa dulu ia pernah tertawa tanpa merasa bersalah.

Jumat sore, Melati datang ke klinik membawa vitamin untuk Ratna.

"Bu, Sabtu aku mau antar ke pengadilan kalau ada urusan."

"Tidak ada. Ibu mau makan siang dengan teman SMA."

Melati tampak terkejut. "Teman SMA?"

"Wulan. Kamu tidak kenal."

"Ibu mau pergi sendiri?"

"Ke kota kabupaten saja."

Melati duduk. "Bu, hati-hati. Setelah kejadian di Jogja..."

"Ibu akan hati-hati."

"Mau aku antar?"

"Tidak perlu."

Melati menggigit bibir. "Ibu sekarang sering pergi sendiri."

Ratna menatap putrinya. "Itu mengganggumu?"

"Bukan. Aku cuma belum terbiasa."

"Ibu juga."

Melati tersenyum kecil, lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah lipstik warna merah bata.

"Ini untuk Ibu."

Ratna mengangkat alis. "Untuk apa?"

"Katanya mau ketemu teman. Pakai sedikit. Jangan cuma bedak tipis."

Ratna hampir menolak, tetapi melihat wajah Melati yang sungguh-sungguh, ia menerimanya.

"Terima kasih."

Melati tersenyum lega. "Aku dulu sering kesal Ibu tidak mau dandan. Sekarang... aku ingin Ibu merasa cantik."

Ratna membuka tutup lipstik. Warnanya hangat, tidak terlalu mencolok.

"Ibu sudah tua."

"Tua bukan berarti tidak boleh cantik."

Ratna menatap anaknya.

Kalimat itu sederhana, tetapi dari Melati, artinya banyak.

Sabtu pagi, Ratna memakai blus hijau tua dan celana hitam. Ia menyematkan selendang batik yang dibeli di Yogyakarta. Setelah ragu cukup lama, ia memakai lipstik dari Melati tipis-tipis.

Bu Rini melihatnya saat Ratna keluar.

"Waduh."

"Kenapa?"

"Bu Dokter mau kondangan?"

"Makan siang."

"Dengan Pak Arman?"

"Dengan teman SMA."

Bu Rini tampak sedikit kecewa. "Oh."

"Kenapa kamu yang kecewa?"

"Saya sudah siap cerita besar."

Ratna menggeleng, lalu naik motor.

Restoran Sari Laut Purnama ramai saat ia tiba. Wulan berdiri di depan pintu, tubuhnya lebih gemuk dari ingatan Ratna, rambutnya dicat cokelat, tawanya masih sama keras.

"Ratna!"

Wulan memeluknya sebelum Ratna sempat siap.

"Ya ampun, kamu masih tinggi dan anggun. Menyebalkan."

Ratna tertawa. "Kamu masih berisik."

"Bagus, berarti kita sama-sama konsisten."

Di meja besar, beberapa wajah lama menoleh. Ada yang langsung mengenali, ada yang butuh beberapa detik. Mereka memanggil namanya dengan suara hangat.

Untuk satu jam pertama, Ratna hampir lupa pada gugatan cerai, Bambang, Sari, Arman, dan kamar klinik. Mereka bicara soal guru galak, kantin lama, teman yang dulu paling tampan sekarang botak, lutut yang mulai nyeri, cucu yang sulit makan.

Lalu seorang teman bernama Harjo berkata, "Rat, aku dengar kamu sekarang kenal orang penting."

Meja sedikit sunyi.

Wulan langsung menendang kaki Harjo di bawah meja. "Mulutmu itu tidak pernah lulus sekolah."

Ratna tersenyum tipis.

Sebelum ia menjawab, pelayan datang ke meja.

"Maaf, Bu Ratna?"

"Iya?"

"Ada tamu mencari Ibu."

Ratna menoleh ke arah pintu.

Arman Wibisana berdiri di sana.

Kemeja batik abu-abu, wajah tenang, mata langsung menemukannya di antara keramaian.

Wulan berbisik, terlalu keras, "Kalau itu bukan orang penting, aku mau pingsan."

Ratna merasakan jantungnya berdetak tidak wajar.

Arman berjalan mendekat.

"Selamat siang, Bu Ratna."

Ratna menatapnya, separuh terkejut, separuh curiga.

"Pak Arman. Kebetulan?"

Arman menatap kursi kosong di samping meja, lalu menjawab dengan sangat tenang.

"Kali ini, tidak."

Wulan langsung menepuk meja pelan.

"Saya suka jawaban jujur."

Ratna menatapnya. "Wulan."

"Apa? Aku cuma jadi penonton."

"Penonton biasanya diam."

"Sejak kapan?"

Teman-teman lain tertawa, membuat suasana tidak terlalu kaku. Arman tetap berdiri sampai Ratna menunjuk kursi kosong di ujung meja, bukan di sebelahnya.

"Duduk di sana kalau memang mau duduk."

Arman mengikuti tanpa protes.

Harjo berbisik pada Nining, tetapi cukup keras untuk terdengar, "Orang kaya juga bisa disuruh-suruh ya."

Nining menyikutnya.

Ratna merasa wajahnya panas, tetapi ada bagian kecil dari dirinya yang menikmati keadaan itu. Bukan karena Arman datang seperti pahlawan, melainkan karena ia tidak mengambil alih. Ia datang, mengaku tidak kebetulan, lalu tetap menunggu izin.

Hal-hal semacam itu kecil bagi orang lain.

Bagi Ratna, itu baru.

Makan siang yang tadi santai berubah lebih hidup. Wulan mulai bertanya pada Arman apa ia dulu satu sekolah dengan Ratna. Arman menjawab tidak, ia baru mengenalnya ketika Ratna "menolak dirawat padahal lututnya berdarah".

"Itu sangat Ratna," kata Wulan.

Ratna memprotes, "Kamu baru bertemu aku lagi hari ini."

"Tapi sifat keras kepala itu tidak hilang dimakan umur."

Arman menatap Ratna dengan senyum tipis. "Saya mulai paham."

Ratna pura-pura minum agar tidak perlu menjawab.

Di bawah meja, Wulan menepuk lutut Ratna pelan.

"Santai," bisiknya. "Kami temanmu. Bukan hakim."

Ratna menoleh. Wulan tersenyum, matanya hangat.

Setelah bertahun-tahun menjadi orang yang selalu dinilai sebagai istri, ibu, dokter, dan perempuan yang harus sabar, kalimat itu terasa seperti kursi kosong yang disediakan khusus untuknya.

Teman.

Ia hampir lupa rasanya punya orang yang mengenalnya sebelum semua gelar melekat.

1
Fris
Lucu banget. Ternyata ada ya penulis yang gak hapal latar belakang tokoh & latar yang dia buat sendiri. Tokoh utama pindah rumah, tapi tetangga-tetangga dari rumah lama ada di situ. Padahal tetangganya gak pindah rumah & jaraknya 15 menit. Jarak yang cukup jauh untuk latar belakang lokasi yang bukan kota besar. Anak dari tokoh utama pada awal cerita digambarkan sedang hamil anak kedua & sering menitipkan anaknya. Tetiba tokoh utama bilang anaknya belum punya anak di salah satu dialog. Curiga ini cerita buatan AI. Soalnya bahasanya AI banget di beberapa bagian. Dan penulisnya lupa total latar belakang tokoh & lokasi padahal tokoh & lokasinya kebanyakan itu-itu aja. Kalo tokoh & lokasi baru atau jarang muncul sih jarang ya. Dan ini bukan sekali 2 kali tapi sering. Banyak juga yang bahas dikomen.
Fris
Gak jelas nih. Latar di rumah baru, tapi tetiba ada Bu Rini & tetangga-tetangga di rumah lama. Katanya Melati sering nitipin anaknya & lagi hamil anak ke2. Sekarang jadi belum punya anak. Aneh. Kalo jadi penulis harus inget latar belakang tokoh & latar belakang tempat. Manggatoon juga dilolosin aja yang begini
Hilma Abubakar
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Elshanum
jadi gemes 🤣🤭
Hariyanti
cerita yg bagus Thor 🥰🙏 penuh pesan moral utk belajar lebih baik ttg hidup 🙏🙏🙏
Hilma Abubakar
Yook bingung barengan.
hi hi hi.
Hariyanti
😭😭😭😭😭😭😭
Hariyanti
aku suka part ini🤗 kereen banget buat yg mau belajar ttg hidup itu punya batas👍👍👍
Hariyanti
warisan yang terbaik adalah ilmu
Hariyanti
keren......👍👍👍 hubungan darah yg dibalut batas yg tegas.tapi itu terjadi karena orang tua yg kaya.gimana kalau kondisi orang tua yg tak mampu 🤔🤔🤔......... mungkin harus bikin batas versi lain yg tidak menggunakan istilah berbakti sebagai senjata pamungkas.karena byk orang tua yg menggunakan senjata itu untuk menekan anaknya.
Hariyanti
aku salut dgn prinsip dan mental Bu Ratna 👍👍👍👍mampu menjaga harga diri sendiri dari kepungan parasit berkedok anak dan keluarga.karena byk orang yang takut hilang validasi yg beralibi keluarga.
Hariyanti
sudah resmi bercerai kah.....🤔
Hariyanti
ada yaa anak iri dgn kehidupan ibunya sendiri 🤔🤔🤔 padahal anak perempuan yg sdh menikah tanggung jawab suaminya 😏😏
Hariyanti
lah .....sudah satu rumah😏😏😏
Hariyanti
kok bisa ya 🤭🤭🤭 status masih dlm proses tp sdh mengembangkan diri.tp utk budaya barat itu bukan masalah 🤔🤔yg jadi masalah ini backgroundnya budaya timur🤭🤭
Hariyanti
kalo usia senja mencari cinta🤔 apa yang dicari sihhhhh🤔🤔🤔
Hariyanti
asli....! kyknya author pelupa yaaa🤭kan katanya melati suka nitipin anak ke Bu Ratna, tapi mendadak LG planning anak buat masa depan

🤔🤔🤔
Hariyanti
kok aneh sih🤔🤔 ktnya sdh pindah ke perumahan tp tetangga lama masih tetap bisa kepoin urusan Bu Ratna 🤔🤔 mungkin author lupa dgn konsep lingkungan yg sdh dibuat🤭🤭
Lina Ina
bagus bu rini banyak membantu bu ratna...kelurga mcm apa bila tahu adik ada calon suami kaya semua seperti semut
Lina Ina
melati kamu sepatutnya sedar diri..kalau mahu apa2 minta sama suami bukan minta sama ibu kamu,kamu sudah berkawin sudah ada suami..apa guna suami ada tp tak boleh pakai,ibu kamu sudah tua ibu kamu pergi ketenangan hidup sebb masa muda sudah lelah membesarkan kamu dan anak2 yg lain,dan kalau kehidupan kamu enggak mampu harus kamu ukur diri kamu terlebih dahulu,dan jgn beban kan kepada ibu kamu yg menjelang senja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!