NovelToon NovelToon
Anomali Sang Pewaris

Anomali Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Sci-Fi
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Rjm10

Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran.
Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rjm10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh ke Dasar Dunia

Belasan bilah pedang berlapis api melesat menembus udara, mengurung Kaelen dari segala penjuru. Suhu di Aula Kebangkitan mendadak melonjak, membakar oksigen di sekitarnya.

Insting bertarung Kaelen, yang ditempa selama belasan tahun oleh para guru militer terbaik, mengambil alih. Ia menunduk menghindari sabetan horizontal pertama, menggunakan momentum itu untuk menyapu kaki sang ksatria, lalu merebut gagang pedangnya.

Namun, Kaelen tahu ia tidak akan menang. Ini adalah Pasukan Ignis, ksatria elit klan yang sihir apinya bisa melelehkan tameng baja dalam hitungan detik. Tanpa sihir pelindung, satu tebasan saja akan membakarnya menjadi abu.

Tiga ksatria secara serentak melontarkan tombak api dari jarak dekat. Kaelen terpojok di depan sisa-sisa pilar altar. Kematian berjarak kurang dari satu jengkal.

Tiba-tiba, rasa dingin yang mencekam itu kembali meledak dari dadanya.

Tanpa sadar, Kaelen mengangkat tangan kirinya. Pusaran kabut ungu kehitaman bermanifestasi seketika, berputar liar menyerupai perisai hisap. Saat tiga tombak api itu menghantam pusaran tersebut, tidak ada ledakan. Tidak ada suara benturan.

Api-api itu meredup, tersedot ke dalam lubang tak kasat mata di telapak tangannya, menyisakan udara kosong yang hampa.

Para ksatria tertegun. Mulut mereka ternganga dari balik helm pelindung. Di dunia ini, sihir hanya bisa dilawan dengan sihir yang setara atau lebih kuat. Menghilangkan sihir secara mutlak adalah hal yang mustahil.

Kaelen tidak menyia-nyiakan sepersekian detik keterkejutan mereka. Meski kepalanya mendadak pusing akibat "menelan" mana yang bukan miliknya, ia bergerak cepat. Ia melemparkan pedang pinjamannya ke arah lampu gantung raksasa yang menahan kristal pencahayaan di atas para ksatria.

TRANG!

Rantai penyangga putus. Lampu gantung raksasa runtuh dan menimpa barisan depan ksatria, menciptakan kekacauan debu dan pecahan kaca. Memanfaatkan kebutaan sesaat itu, Kaelen berbalik dan berlari menerobos jendela kaca patri raksasa di sayap barat aula.

Kaca pecah berhamburan saat tubuhnya melayang menembus udara malam yang membeku, mendarat dengan gulingan sempurna di atap batu koridor luar.

"Tutup seluruh gerbang utama! Jangan biarkan kutukan itu keluar hidup-hidup!" Suara Paman Varian bergema dari dalam aula, diperkuat oleh sihir angin.

Kaelen berlari menyusuri atap kastil. Jantungnya bergemuruh keras. Kastil Adiwangsa berada di atas tebing raksasa. Di depan adalah gerbang utama yang kini pasti sudah dipenuhi ratusan penjaga bersenjata lengkap. Di belakang adalah Jurang Pembuangan—jurang tak berdasar yang diselimuti kabut beracun, pembatas alami yang memisahkan wilayah bangsawan di atas dan Distrik Bawah di dasar bumi.

Tidak ada jalan keluar yang logis. Tapi Kaelen selalu berpikir melampaui logika.

Ia memutar arah, berlari menuju Balkon Penghakiman, tempat yang menjorok langsung ke arah Jurang Pembuangan. Jika ia melompat ke sungai bawah tanah yang berarus deras di dasar jurang, peluang selamatnya hanya sepuluh persen. Tapi sepuluh persen jauh lebih baik daripada mati ditebas di halaman rumahnya sendiri.

Namun, langkah Kaelen terhenti tepat sepuluh meter sebelum ujung balkon.

Sesosok pria berjubah mewah berdiri menghalanginya, diterangi cahaya bulan purnama yang pucat. Paman Varian. Di tangan kanannya, meliuk sebuah cambuk api putih—sihir tingkat tinggi yang suhu panasnya membuat batu pualam di sekitarnya mulai meleleh.

"Aku selalu tahu kau berbeda, Kaelen," ucap Varian, suaranya tenang, kontras dengan kekacauan di sekitarnya. "Tapi menjadi sebuah Anomali? Sesuatu yang menelan sihir? Sayang sekali. Jika saja kekuatanmu itu adalah api, kau mungkin bisa membunuhku malam ini."

"Paman sudah merencanakan ini," desis Kaelen, matanya memicing tajam. "Bahkan jika Batu Suar itu menyala emas, Paman akan tetap mencari cara untuk menyingkirkanku."

Varian tertawa pelan. "Kekuasaan tidak diwariskan kepada anak kecil yang kebetulan lahir dari rahim yang tepat, Kaelen. Kekuasaan itu direbut."

Cambuk api putih itu melecut tanpa peringatan. Kecepatannya melampaui kilat.

Kaelen mengangkat tangannya, mencoba memanggil kembali pusaran penelan itu. Kabut gelap muncul, namun kali ini terasa sangat berat. Saat cambuk itu menghantam pusarannya, Kaelen memang berhasil menyerap elemen sihir apinya. Namun, gaya kinetik murni dari lecutan itu tidak bisa ditelan.

BAM!

Daya dorong cambuk itu menghantam dada Kaelen seperti hantaman palu godam. Tulang rusuknya berderak. Tubuhnya terlempar ke udara, melayang melewati pagar pembatas balkon.

Waktu seakan melambat. Kaelen melihat wajah pamannya yang tersenyum puas dari atas tebing, semakin menjauh, dan menjauh.

Gravitasi menarik tubuhnya dengan kejam. Angin menderu kencang di telinganya saat ia jatuh menembus kabut tebal menuju kedalaman Jurang Pembuangan. Gelap mulai menguasai pandangannya, diiringi rasa sakit yang meremukkan tulang.

Sesaat sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang, satu kalimat terukir tajam di benak Kaelen:

Takhta itu milikku. Dan aku akan kembali untuk menagihnya.

Lalu, punggungnya menghantam sesuatu yang keras dan dingin. Gelap total.

Bau anyir darah dan besi berkarat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Kaelen.

Ia terbatuk keras, memuntahkan cairan hitam berbau busuk dari paru-parunya. Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja digiling oleh roda kereta kuda. Ia mencoba membuka mata, namun hanya melihat kegelapan remang-remang yang diterangi cahaya neon hijau dan merah yang berkedip dari kejauhan.

Suara tetesan air menggema di sekelilingnya, disusul oleh decit tikus-tikus raksasa yang berlarian di tumpukan sampah besi.

Ia tidak lagi berada di atas tebing. Ia berbaring di atas tumpukan rongsokan basah, diselimuti lumpur dan sisa-sisa hujan limbah.

"Oi, lihat ini." Suara parau seorang pria terdengar dari arah bayang-bayang. "Ada daging segar jatuh dari atas. Jubahnya... sutra asli. Sepertinya kita dapat jackpot malam ini, Kawan-kawan."

Kaelen memaksa tubuhnya yang gemetar untuk duduk. Tiga sosok pria berbadan besar dengan modifikasi logam berkarat di lengan dan wajah mereka melangkah maju. Salah satu dari mereka memegang pisau bergerigi yang meneteskan cairan beracun.

Selamat datang di Distrik Bawah. Tempat di mana gelar bangsawan tidak bernilai sepeser pun, dan nyawa manusia lebih murah dari sekerat roti.

Kaelen mengusap darah dari sudut bibirnya, menatap tajam ketiga preman itu. Kutukannya membuat ia jatuh, tapi kini, kutukan yang sama adalah satu-satunya alat yang ia miliki untuk mendaki kembali.

1
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
hai outhor salam kenal . mau masuk grup ku gak saling support
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮: ayo saling folow
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!