Di tengah masa kelaparan parah yang melanda desa, seorang bayi perempuan dibuang begitu saja ke dalam hutan terlarang oleh orang tua kandungnya.
Takdir membawanya ke pelukan keluarga pemburu sederhana bernama Arga dan Mira yang kemudian menamainya Natasya.
Tujuh tahun berlalu, Natasya tumbuh menjadi anak ceria yang menyimpan rahasia ajaib karena ia mampu memahami dan berbicara dengan hewan.
Ketika Mira jatuh sakit parah dan membutuhkan tanaman obat langka, Natasya menggunakan kemampuannya untuk menjelajahi hutan terlarang demi menyelamatkan ibunya dan membawa kemakmuran bagi desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Empat tahun berlalu begitu saja sejak kejadian burung kecil di halaman belakang itu.
Kini Natasya sudah berumur tujuh tahun.
Gadis kecil itu tumbuh menjadi anak yang sangat lincah dan tidak bisa diam.
Rambut hitamnya selalu dikepang dua oleh Mira setiap pagi agar tidak mengganggu saat dia bermain.
Sreng.
Sreng.
Suara spatula kayu yang bergesekan dengan wajan tanah liat terdengar dari arah dapur.
Asap tipis beraroma sedap menyebar ke seluruh ruangan gubuk sederhana itu.
Mira sedang sibuk menumis sayur kangkung hasil petikannya di kebun belakang.
"Ibu, apa masakannya sudah matang?"
Natasya berlari kecil dari arah pintu depan dan langsung mengintip ke dalam wajan.
"Perutku sudah bunyi terus dari tadi, Ibu."
Mira hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang selalu bersemangat jika menyangkut makanan.
"Sebentar lagi matang, anak manis."
"Tolong kamu ambilkan piring di rak bambu itu ya."
"Siap, Ibu."
Natasya mengambilkan tiga buah piring bersih dan meletakkannya di atas tikar pandan.
"Ayah pasti sebentar lagi pulang dari ladang, kan?"
Kriet.
Suara pintu depan yang terbuka menjawab pertanyaan gadis kecil itu.
Arga melangkah masuk sambil meletakkan cangkulnya di sudut ruangan.
Wajah pria itu terlihat lelah dan dipenuhi keringat.
"Aku pulang."
Arga menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
"Ayah pulang."
Natasya langsung berlari dan memeluk kaki ayahnya dengan sangat erat.
"Ayah bau keringat sekali hari ini."
Arga tertawa lepas mendengar ucapan jujur dari putrinya itu.
"Tentu saja bau keringat, Ayah kan baru selesai mencangkul tanah yang keras."
"Bagaimana hari anak ayah yang cantik ini?"
"Hari ini aku melihat banyak sekali kupu-kupu di kebun belakang."
Natasya mendongak menatap ayahnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Ada yang warnanya biru dan ada juga yang kuning cerah."
"Sudah, sudah, jangan diganggu terus ayahnya."
Mira datang membawa sewajan sayur kangkung dan meletakkannya di tengah tikar.
"Ayo kita makan dulu selagi sayurnya masih hangat."
Mereka bertiga duduk melingkar di atas tikar pandan yang sudah agak usang itu.
Arga mengambil nasi dalam porsi besar karena sangat kelaparan.
Suasana makan siang keluarga kecil itu selalu dipenuhi dengan obrolan ringan.
"Panen tahun ini sepertinya tidak akan terlalu bagus, Mira."
Arga berkata sambil mengunyah makanannya dengan perlahan.
"Tanah di ladang terasa sangat kering padahal belum masuk puncak musim kemarau."
"Tidak apa-apa, Mas."
Mira menuangkan air minum ke dalam gelas tanah liat untuk suaminya.
"Kita masih bisa mengandalkan hasil sayuran di kebun belakang untuk makan sehari-hari."
Natasya mendengarkan obrolan kedua orang tuanya dalam diam.
"Ibu, Ayah, setelah makan aku boleh main di luar tidak?"
Natasya bertanya dengan nada memelas setelah menghabiskan suapan terakhirnya.
Arga menghentikan makannya sejenak dan menatap putrinya dengan serius.
"Boleh saja, tapi jangan pernah melewati pohon mangga besar di batas desa itu."
"Kamu mengerti kan, Natasya?"
"Kenapa memangnya, Ayah?"
"Hutan di sana terlihat sangat sejuk karena banyak pohon yang rindang."
"Di dalam sana banyak binatang buas yang sangat berbahaya."
Arga menjelaskan dengan nada suara yang sedikit ditekan agar putrinya mengerti.
"Kadang ada serigala atau macan yang turun sampai ke pinggir hutan untuk mencari makan."
"Iya, Natasya."
Mira ikut menimpali ucapan suaminya dengan raut wajah khawatir.
"Kamu main di dekat rumah saja ya, jangan jauh-jauh dari pohon mangga itu."
"Aku janji, Ibu, Ayah."
Natasya menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Aku cuma mau mencari bunga di sekitar pohon mangga saja kok."
Setelah selesai makan siang, Natasya langsung berlari keluar rumah.
Angin siang itu berhembus cukup sejuk menerpa wajahnya.
Natasya berjalan riang menuju batas Hutan Larangan yang berjarak tidak jauh dari rumahnya.
Pohon mangga besar itu berdiri kokoh tepat di pinggir batas antara desa dan hutan.
Daunnya yang lebat membuat area di bawah pohon itu menjadi tempat yang nyaman untuk berteduh.
Natasya duduk bersila di bawah pohon sambil merangkai beberapa bunga liar yang dia temukan di jalan.
Krasak.
Krasak.
Terdengar suara daun kering yang terinjak dari atas dahan pohon.
Natasya mendongakkan kepalanya ke atas.
Ia melihat seekor tupai berbulu cokelat sedang duduk santai sambil memegang sebuah biji kenari.
"Halo, Tuan Tupai."
Natasya menyapa tupai itu dengan santai.
Ia melambaikan tangan kecilnya ke arah atas pohon.
Tupai itu berhenti mengunyah biji kenarinya.
Hewan kecil itu menunduk dan menatap Natasya dengan pandangan aneh.
"Kamu anak manusia yang sering main di sini itu ya?"
Suara cicitan tupai itu terdengar jelas di telinga Natasya sebagai sebuah kata-kata.
"Iya, namaku Natasya."
"Biji kenari yang kamu makan itu kelihatannya enak sekali."
"Tentu saja enak, aku susah payah mencarinya sedari pagi."
Tupai itu melompat ke dahan yang lebih rendah agar bisa mengobrol lebih dekat.
"Lebih baik kamu cepat pulang saja, anak kecil."
"Kenapa aku harus pulang?"
Natasya mengerutkan keningnya karena merasa kebingungan.
"Aku kan baru saja sampai di sini."
"Angin dari dalam hutan membawa bau yang tidak enak."
Tupai itu mengendus-endus udara di sekitarnya dengan hidung kecilnya yang berkedut.
"Ada bau darah yang sangat menyengat dari arah semak belukar di depan sana."
"Bau darah?"
Natasya ikut mengendus udara, tapi hidung manusianya tidak mencium apa-apa.
"Apa ada hewan yang terluka di dalam sana?"
"Sepertinya begitu."
Tupai itu kembali mengunyah biji kenarinya dengan cepat.
"Lebih baik jangan ke sana, sepertinya itu hewan buas berukuran besar yang sedang marah."
Mendengar hal itu, rasa penasaran Natasya justru semakin membesar.
"Aku harus melihatnya ke sana."
Natasya langsung berdiri dan membuang rangkaian bunganya ke tanah.
"Hei, aku kan sudah bilang jangan ke sana."
Tupai itu mencicit panik dari atas dahan.
"Anak manusia memang sangat keras kepala ya."
Natasya tidak mempedulikan peringatan dari tupai tersebut.
Ia melupakan janjinya pada Arga dan Mira begitu saja.
Langkah kaki kecilnya mulai memasuki area rumput ilalang yang tumbuh tinggi di perbatasan.
Tap.
Tap.
Udara seketika terasa lebih dingin saat Natasya masuk lebih dalam melewati pepohonan besar.
Kini hidungnya mulai bisa mencium bau anyir darah yang dikatakan oleh tupai tadi.