NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Pertemuan Tanpa Nama dan Janji yang Ditepati

​Malam setelah pengakuan jujur namun brutal dari Adrian tersebut, rasa cemburu yang membakar nyaris membuat Elena kehilangan akal sehatnya. Ia tidak bisa memejamkan mata selama berhari-hari. Ia terus berputar-putar di atas ranjang mewahnya, disiksa oleh ribuan pertanyaan yang berdengung di kepalanya. Bayangan tentang siapa sebenarnya sosok little girl itu terus menghantuinya bagaikan hantu di siang bolong. Seperti apa rupa perempuan itu? Apakah ia seorang putri bangsawan dari keluarga konglomerat lain? Apakah ia seorang model papan atas? Atau seorang jenius lulusan universitas bergengsi yang setara dengan kecerdasan Adrian?

​Elena merasa ia harus tahu. Ia merasa berhak untuk tahu. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa rupa perempuan yang berhasil menaklukkan hati seorang Adrian—pria yang bagi Elena adalah sosok paling sempurna dan tak tergapai. Ia ingin membandingkan dirinya, mencari celah kekurangan perempuan itu, atau setidaknya mencari pembenaran atas kekalahannya.

​Kesempatan yang ditunggu-tunggu Elena akhirnya tiba saat akhir pekan. Sore itu, matahari musim gugur bersinar keemasan, memberikan sedikit kehangatan di tengah udara London yang mulai menggigit. Adrian sedang duduk santai di balkon besar kamarnya yang menghadap langsung ke taman belakang yang luas. Ia duduk di kursi rotan yang nyaman, menikmati secangkir kopi hitam sambil memegang ponselnya dengan sudut kemiringan yang sangat familier. Senyum hangat yang menawan itu kembali terukir di wajahnya; ia sedang melakukan panggilan video.

​Elena yang sedang berjalan melewati koridor melihat pemandangan itu. Jantungnya kembali berpacu. Ia menarik napas panjang, merapikan gaun rumahan berbahan sutra mahal yang membalut tubuhnya, memastikan rambutnya jatuh sempurna di bahunya, dan memasang senyum paling anggun, polos, dan bersahabat yang ia miliki. Ia melangkah masuk ke balkon itu dengan langkah ringan, merancang gestur tubuhnya seolah-olah kehadirannya di sana adalah sebuah ketidaksengajaan murni.

​"Oh, maaf Kak, aku tidak tahu Kakak sedang sibuk di sini," ucap Elena dengan nada bersalah yang dibuat-buat dengan sangat apik. Namun, alih-alih mundur dan pergi, kakinya justru melangkah semakin mendekat ke arah kursi Adrian, hingga ia bisa mengintip ke arah layar ponsel pemuda itu. "Aku hanya ingin mengantarkan beberapa camilan... Apakah ini teman yang sering Kakak ceritakan padaku itu?"

​Adrian mendongak menatap Elena sejenak. Sorot matanya setajam elang, seolah mampu menguliti sandiwara kecil yang sedang dimainkan Elena. Namun, Adrian sama sekali tidak terlihat panik, marah, atau berusaha menyembunyikan layar ponselnya. Sebaliknya, ia merasa mungkin ini adalah saat yang paling tepat untuk menegaskan kembali batasannya dengan Elena secara langsung, sebuah konfrontasi halus yang akan mengakhiri semua ilusi gadis itu untuk selamanya.

​"Tidak apa-apa, kau tidak mengganggu," ucap Adrian dengan nada santai dan terkendali.

​Tanpa ragu sedikit pun, Adrian menggeser posisi duduknya dan memutar layar ponselnya agar kamera depan bisa menangkap wajah mereka berdua secara bersamaan. Ia menghadapkan layar itu pada sosok di seberang benua. Di layar tersebut, terlihat seorang gadis dengan rambut yang sedikit berantakan karena angin dari kipas angin murahan di kamarnya. Gadis itu sedang menatap ke arah kamera dengan kening berkerut bingung karena tiba-tiba melihat wajah asing yang sangat cantik dan glamor muncul di samping Adrian.

​"Gadis Kecil, kebetulan sekali ada seseorang di sini yang ingin menyapamu," ujar Adrian dengan nada suara yang hangat, santai, dan membuka sesi perkenalan itu tanpa ada sedikit pun kecanggungan di wajahnya. Ia lalu menoleh sedikit dan menunjuk Elena yang berdiri kaku di sebelahnya. "Kenalkan, ini Tuan Putri yang sering kuceritakan dari rumah keluargaku di London ini. Dan Tuan Putri..."

​Adrian kini menoleh sepenuhnya ke arah Elena. Sorot matanya berubah, suaranya menjadi lebih dalam, beresonansi dengan sebuah kebanggaan dan kasih sayang yang tidak bisa disembunyikan. "...kenalkan, ini Gadis Kecil sahabat terbaikku, orang yang paling berharga bagiku."

​Tidak ada satu pun nama asli yang terucap dari bibir Adrian. Hanya Gadis Kecil dan Tuan Putri.

​Di layar ponsel yang terang itu, sang Gadis Kecil tampak sedikit terkejut, namun dengan cepat menguasai dirinya. Ia memberikan senyum yang sangat sopan, mengangguk sedikit dengan canggung namun memancarkan ketulusan yang luar biasa. "Halo, selamat sore waktu London, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, Tuan Putri," sapanya dari kejauhan dengan suara yang ramah dan rendah hati.

​Elena berdiri membeku. Ia membalas sapaan itu dengan anggukan yang sangat kaku, bibirnya memaksakan sebuah senyuman kecil, sementara matanya menatap tajam bagaikan pisau ke arah layar kecil tersebut. Ia memindai setiap detail dari perempuan di hadapannya. Gadis di layar itu sama sekali tidak memakai perhiasan mahal berhiaskan permata. Ia tidak berada di dalam ruangan berpanel kayu atau berhiaskan lampu kristal mewah, melainkan sebuah kamar yang sangat biasa dengan pencahayaan seadanya. Bahkan pakaiannya hanyalah kaus katun polos yang tidak memiliki merek ternama. Secara visual, gadis itu adalah kebalikan total dari segala standar kemewahan yang selalu mengelilingi kehidupan Adrian.

​Namun, di saat tatapan Elena beralih mengintip wajah Adrian dari samping, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan hatinya berkeping-keping. Ia melihat bagaimana mata Adrian tidak pernah lepas dari layar tersebut. Sorot mata pemuda itu begitu memuja, begitu penuh cinta yang murni dan tulus. Dan ketika kata sandi itu diucapkan, serpihan teka-teki di kepala Elena menyatu menjadi sebuah kesimpulan yang menakutkan. Panggilan Gadis Kecil yang meluncur dari bibir Adrian tadi langsung membunyikan lonceng kesadaran yang memekakkan telinga di dalam benak Elena.

​Sang little girl. Gadis Kecil.

​Napas Elena tercekat di tenggorokan. Kakinya tiba-tiba terasa selemas jeli. Teka-teki yang selama ini menyiksanya akhirnya terjawab dengan cara yang paling menyakitkan, paling telanjang, dan paling tak terbantahkan. Perempuan biasa di dalam layar ponsel dengan senyum sederhana itulah satu-satunya ratu yang bertahta tak tergoyahkan di hati Adrian. Ia, Elena, yang dipanggil dengan sebutan agung Tuan Putri dan didandani dengan segala kemewahan dunia, pada akhirnya hanyalah sebuah pajangan indah di istana yang dingin ini. Sementara sang pangeran pewaris takhta telah menyerahkan seluruh kerajaannya, seluruh jiwa raganya, kepada Gadis Kecil di seberang lautan sana.

​Waktu adalah hakim yang paling adil dan penyembuh luka yang paling kejam. Tiga tahun berlalu sejak hari perkenalan yang menyesakkan dada itu. Musim salju yang membeku dan musim gugur yang meluruhkan daun di London silih berganti menemani tempaan tanpa henti yang dijani Adrian. Tiga tahun itu bukanlah waktu yang mudah. Adrian bekerja layaknya mesin tak kenal lelah, menghadapi pengkhianatan bisnis, krisis finansial, dan persaingan global yang mematikan. Pengalaman itu membentuknya dengan sempurna, mengubah pemuda pewaris yang dulunya menyamar menjadi petugas kebersihan itu menjadi sosok pemimpin puncak, seorang CEO muda yang kemampuannya tak terbantahkan, ditakuti oleh lawan, dan dihormati oleh kawan.

​Di sisi lain, Elena pun berproses. Setelah menyadari posisinya di hari itu, menangis semalaman meratapi kekalahannya, ia perlahan mulai mundur dengan teratur. Kedewasaan mengubah kepahitan hatinya menjadi sebuah penerimaan yang bijaksana. Ia belajar menerima kenyataan bahwa ada sebuah dinding tak kasatmata yang melindungi ikatan batin antara Adrian dan Gadis Kecilnya, dinding suci yang tak akan pernah bisa ia tembus sekeras apa pun ia mencoba. Ia akhirnya berdamai dengan posisinya, memilih untuk tetap berada di sisi Adrian murni sebagai keluarga, sebagai seorang adik yang mendukung kakaknya.

​Sementara itu, panggilan video di sela-sela malam pergantian hari yang melelahkan tetap menjadi jangkar kewarasan tunggal bagi Adrian. Rutinitas itu menjaga api janjinya tetap hidup menyala di seberang lautan, tidak pernah padam sedikit pun dihempas badai kesibukan.

​Kini, masa hukuman, pembuktian diri, dan pembuangan eksklusif itu telah usai secara paripurna.

​Di landasan pacu pribadi VIP yang membentang luas di Bandara Heathrow, deru mesin jet eksekutif Gulfstream terbaru berwarna perak bersiap membelah langit. Angin kencang meniup rambut Adrian saat ia berdiri di dekat tangga pesawat. Ia mengenakan setelan jas potongan Bespoke berwarna biru malam yang melekat sempurna di tubuh atletisnya, memancarkan aura kekuasaan absolut. Ia menatap langit Inggris yang kembali kelabu untuk terakhir kalinya, namun kali ini dadanya terasa ringan dan penuh dengan antisipasi yang meledak-ledak.

​Elena berdiri tak jauh darinya, mengenakan mantel musim dingin yang elegan, bersiap untuk ikut pulang kembali ke tanah air mereka karena tugasnya mendampingi sang pewaris juga telah selesai.

​"Sudah waktunya, Kak," ucap Elena pelan sambil tersenyum tulus. Suaranya kini diwarnai oleh kedewasaan, keikhlasan, dan rasa hormat yang terbangun selama tiga tahun terakhir melihat perjuangan keras Adrian.

​Adrian menoleh dan membalas senyuman Elena, kali ini dengan kehangatan nyata dari seorang kakak kepada adiknya. Ia mengangguk mantap. Ia menyentuh saku bagian dalam jasnya, tepat di dekat jantungnya, merasakan bentuk ponsel yang menyimpan ribuan pesan, tawa, dan harapan dari sang Gadis Kecil. Tiga tahun telah berlalu, dan ia tidak pernah melupakan janjinya barang sedetik pun.

​Dengan langkah panjang yang dipenuhi determinasi baja, Adrian menaiki anak tangga jet tersebut satu per satu. Pintu kabin ditutup, dan sesaat kemudian pesawat mewah itu lepas landas dengan suara gemuruh yang menggetarkan landasan. Burung besi itu menembus awan putih yang tebal, meninggalkan Benua Eropa di belakang, melesat membawa sang raja muda pulang ke Indonesia untuk menagih satu-satunya gadis yang membuat jantungnya berdetak kencang tanpa ia sadari. Obsesi terhadap Little girl telah menutup hati Dan perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!