Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Dipaksa Menjauh
Pagi itu, meja makan keluarga Pak Hasan terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara sendok beradu dengan piring yang riang, tidak ada obrolan ringan seperti hari-hari sebelumnya. Yang terdengar hanya helaan napas tertahan dan sesekali bunyi kursi bergeser pelan.
Iqbal duduk tegak, berusaha terlihat tenang meski sorot matanya jelas menyimpan sesuatu. Di sampingnya, istrinya hanya menunduk, sesekali melirik dengan cemas. Hakim pun tak jauh berbeda—rahangnya mengeras, tangannya menggenggam gelas terlalu kuat seolah menahan emosi. Istrinya mencoba mencairkan suasana dengan menuangkan teh, tapi tak satu pun berani benar-benar membuka percakapan.
Pak Hasan, yang sejak tadi memperhatikan satu per satu wajah anak-anaknya, akhirnya angkat bicara. Nada suaranya tenang, tapi tegas—nada seorang ayah yang tahu ada sesuatu yang disembunyikan.
"Semalam, papa tidak melihat kalian ada di tahlilan mama. Pada ke mana?”
Pertanyaan itu membuat udara seakan membeku.
"Emmmh… tiba-tiba ada urusan mendadak, Pa.”
Kamil yang menjawab. Suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya, tidak setegas seperti yang sering ia tunjukkan.
Pak Hasan menyipitkan mata. “Urusan apa sampai meninggalkan tahlilan mamamu?”
Kamil terdiam. Ia melirik Iqbal sekilas. Iqbal membalas tatapan itu, sama-sama kebingungan menentukan jawaban yang aman.
"Emmhh…” Kamil kembali menggantungkan kalimatnya.
Keheningan itu justru mempertegas kecurigaan.
"Jawab!” Kali ini suara Pak Hasan sedikit meninggi. “Apa karena adikmu bikin ulah lagi? Soalnya pergi pagi, malam belum ada. Sekarang papa juga gak lihat sepeda yang dia bawa kemarin di garasi.”
Hakim menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Ia tahu, semakin ditutup-tutupi, semakin panjang masalahnya.
"Iya… ada hubungannya sama Kamil. Tapi… udah beres kok, Pa.”
"Masalah apa?” tanya Pak Hasan cepat, tanpa memberi celah.
Hakim terdiam sesaat. Ia menatap ayahnya, lalu berpindah ke Kamil yang kini menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah di bawah meja. Belum sempat Hakim menjawab, Iqbal buru-buru memotong.
"Sudahlah, Pa. Papa gak usah banyak pikiran.”
Nada suaranya terdengar dipaksakan ringan, tapi justru terasa janggal.
Iqbal lalu menoleh ke arah Kamil, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh ya… kamu kok belum pakai setelan kantor, Mil? Emang cuti berapa lama?”
Semua mata langsung tertuju pada Kamil.
Kamil terdiam.
Untuk sesaat, ia seperti kehilangan kata-kata. Wajahnya yang biasanya santai kini terlihat kaku. Ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan, tapi terlalu besar untuk ditutupi dengan alasan sederhana.
Ia menelan ludah, lalu memaksakan senyum tipis.
"Masih… ada urusan sedikit lagi, Bang.”
Jawaban yang menggantung.
"Kamil sudah dipecat dari kantornya.”Ucapan Pak Hasan jatuh begitu saja di atas meja makan—tenang, tapi menghantam keras.
Semua yang duduk di sana langsung menoleh. Iqbal mengernyit, Hakim mengangkat kepala cepat, sementara istri-istri mereka saling pandang dengan wajah tegang.
"O ya? Papa kata siapa?” tanya Iqbal, nadanya setengah tak percaya.
Pak Hasan menyandarkan punggungnya, matanya tetap tertuju pada Kamil. “Ada yang bilang. Waktu temannya takziah ke sini.”
Kali ini, tidak ada yang langsung membantah. Semua mata perlahan beralih pada Kamil.
"Tapi alasannya apa, Mil?” Hakim akhirnya bertanya, suaranya lebih rendah, tapi penuh tekanan.
Kamil yang sejak tadi menunduk, tiba-tiba mengangkat wajahnya. Sorot matanya tajam, emosinya jelas tidak lagi bisa ditahan.
"Gegara aku menceraikan Raya dan viral,” katanya ketus. “Dasar aja perusahaan katro, mencampuradukkan urusan pribadi dengan kantor.”
Suasana langsung memanas.
Iqbal menghela napas panjang, menutup mata sejenak seolah menahan komentar yang ingin keluar. Hakim justru menatap Kamil lebih dalam—bukan marah, tapi kecewa.
Namun yang paling tajam adalah reaksi Pak Hasan.
"Ya mana ada perusahaan yang mau memperkerjakan karyawan yang tak punya hati dan tak berperikemanusiaan.”
Kalimat itu diucapkan tanpa emosi berlebihan, tapi justru terasa lebih menusuk.
Kamil terdiam seketika.
Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di bawah meja. Untuk sesaat, ia seperti ingin membalas—ingin membela diri, ingin menyangkal. Tapi tidak ada kata yang keluar.
Pak Hasan melanjutkan, suaranya tetap datar, tapi penuh makna.
"Kamu pikir ini cuma soal cerai?” Ia menggeleng pelan. “Ini soal cara kamu memperlakukan orang lain. Kamu lupa, kamu hidup di tengah masyarakat, bukan di dunia kamu sendiri.”
Kamil menatap ayahnya, napasnya memburu.
"Semua orang bikin kesalahan, Pa,” balasnya akhirnya, nadanya mulai meninggi. “Tapi bukan berarti harus dihukum sampai kehilangan kerjaan juga.”
Hakim langsung menyela, suaranya lebih tegas.
"Kesalahan ada tingkatannya, Mil. Dan yang kamu lakukan… itu bukan hal kecil.”
Iqbal menambahkan pelan, tapi jelas, “Apalagi sampai viral. Kamu gak cuma bawa nama diri sendiri, tapi juga keluarga.”
Kamil tertawa sinis, meski jelas itu lebih mirip bentuk pelampiasan emosi.
"Jadi sekarang semua nyalahin aku?”
"Bukan nyalahin,” jawab Pak Hasan cepat. “Tapi kamu harus sadar.”
Sunyi kembali menggantung.
Tak ada lagi suara sendok atau gelas. Hanya napas yang terasa berat di antara mereka.
Pak Hasan berdiri perlahan dari kursinya.
"Kalau kamu terus merasa benar, kamu gak akan pernah belajar,” ucapnya sebelum melangkah pergi meninggalkan meja makan.
Kamil tetap duduk di tempatnya.
Diam.
Tapi kali ini bukan karena tidak punya jawaban—melainkan karena untuk pertama kalinya, semua orang di meja itu tidak lagi berada di pihaknya.
***
Aroma antiseptik memenuhi ruangan. Mesin monitor di samping tempat tidur berdetak pelan, seirama dengan detak jantung yang masih belum sepenuhnya stabil. Aldo bersandar di ranjang rumah sakit, wajahnya masih lebam, bibirnya sedikit pecah, dan perban melilit di beberapa bagian tubuhnya.
Cahaya pagi masuk dari jendela, tapi tidak cukup mengusir tegangnya suasana di dalam kamar itu.
Di samping ranjang, maminya berdiri dengan wajah tegas, sementara papi berada tak jauh, tangan terlipat di dada.
"Aldo, pokoknya mami gak mau tahu, kamu harus memutuskan Amanda!”
Suara itu memecah keheningan, tajam dan tanpa kompromi.
Aldo mengerjap pelan, menahan nyeri saat mencoba sedikit menegakkan tubuhnya. “Kok mami gitu sih… Aldo cinta dia, Mi.”
"Ah, bohong banget,” balas maminya cepat. "Pacar kamu banyak juga.”
Aldo menggeleng lemah, wajahnya meringis bukan hanya karena luka, tapi juga karena ucapan itu. "Tapi… cinta Aldo ke Amanda yang paling besar, Mi…”
"Enggak. Tetap enggak.” Nada maminya tak berubah. “Lagian mami dan papi sudah memutuskan untuk berangkat ke Jerman lebih cepat.”
Aldo langsung menoleh, terkejut. “Lebih cepat? Kenapa tiba-tiba?”
"Karena keadaan ini,” jawab maminya, menunjuk tubuh Aldo yang penuh luka. “Dan sebelum kita berangkat, putuskan Amanda. Jangan di-PHP.”
Aldo menarik napas dalam, yang justru membuat dadanya terasa nyeri. “Tapi, Mi…”
"Gak ada tapi-tapian!” potong maminya. “Kamu bisa lebih parah dari ini kalau masih sama Amanda.”
Aldo terdiam, rahangnya mengeras.
"Laki-laki yang menghajar kamu itu… dia bisa datang lagi,” lanjut maminya, suaranya sedikit bergetar kali ini. “Mami gak mau kehilangan kamu.”
Untuk sesaat, Aldo hanya menatap selimut yang menutupi kakinya. Ingatan tentang pukulan Kamil masih terasa nyata di tubuhnya.
"Tapi itu bukan salah Amanda…” suaranya melemah, hampir seperti bisikan.
"Ini bukan soal salah siapa!” balas maminya. "Ini soal kamu tetap hidup dengan aman!”
Suasana kembali sunyi, hanya suara beep alat medis yang terdengar.
Aldo mengepalkan tangan di atas selimut. “Aldo gak mau ninggalin dia cuma karena takut…”
"Dengarkan apa yang mami katakan, Do!”
Suara papi kali ini lebih dalam, lebih tenang, tapi justru terasa lebih berat.
Aldo menoleh. Papi melangkah mendekat, menatapnya lurus.
"Ini bukan sekadar larangan,” katanya. “Ini keputusan.”
Aldo tertawa kecil, pahit. “Keputusan siapa, Pi? Hidup Aldo atau hidup papi dan mami?”
Papi tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap luka-luka di wajah anaknya, lalu menghela napas panjang.
"Kami hampir kehilangan kamu,” ucapnya pelan. "Dan kami tidak mau itu terjadi lagi.”
Kata-kata itu membuat Aldo terdiam.
Maminya ikut melunak, duduk di tepi ranjang, tapi tetap menggenggam keputusan itu erat.
"Kalau kamu tetap bersama Amanda… kamu akan terus berada di lingkaran bahaya itu,” katanya lirih.
Aldo menutup mata sejenak. Rasa sakit di tubuhnya seolah kalah dengan beratnya pilihan yang harus ia ambil.
"Kalau Aldo putusin Amanda…” ucapnya perlahan, suaranya serak, “itu bukan karena Aldo gak cinta.”
Ia membuka mata, menatap kedua orang tuanya.
"Tapi karena Aldo dipaksa.”
Tak ada yang langsung menjawab.
Hanya suara monitor yang terus berdetak, menjadi saksi bahwa di balik tubuh yang terluka, hati Aldo sedang retak—pelan, tapi dalam.
mantappp